My Wife Is A Military

My Wife Is A Military
Terimakasih.



Mutia dan Gibran berjalan beriringan menuju supermarket, menghampiri satu counter handphone. Gibran meminta pelayan toko membuka satu kotak handphone terbaru, menunjukkan pada wanita hamil yang berdiri bersamanya.


"Bagaimana dengan ini, kamu suka?" Gibran memberi handphone berwarna putih ketangan Mutia.


Tia mengangguk setuju, wajah cantik alami sangat berbeda dari biasa, "aku mau nomor yang bagus."


Gibran menautkan kedua alisnya, "hmmm, yah."


Mutia mengalihkan pandangan pada seorang wanita dewasa, berwajah oriental, sahabat sekaligus teman sekolahnya masa SMA.


"Ratih," sapa Mutia melambaikan tangan.


"Mutia, Cut Mutia Atmaja?" Ratih menautkan kedua alisnya saat melihat Gibran mendekati mereka.


Gibran memberi handphone terbaru yang dia beli untuk Mutia. Wanita yang dicintainya dalam diam.


"Ya, aku Tia," Dia berteriak memeluk Ratih sangat erat.


"Wait, ini bukan suami kamu kan?" Ratih merenggangkan pelukannya melirik Gibran, menatap Tia meminta jawaban atas rasa penasaran.


"Hmmm, kenalkan ini temanku, Gibran. Dia militer disini. Mungkin kalian bisa saling mengenal," goda Tia ramah pada Ratih.


Ratih menggeleng, "enggak mungkin, karena aku sudah bertunangan dengan pria Swiss."


Kedua wanita itu berteriak, kembali berpelukan dengan sangat erat. Perasaan bahagia yang berbeda sangat terasa, sejak lulus sekolah baru kali ini mereka dipertemukan tanpa sengaja.


Gibran tanpa sengaja mengusap lembut punggung Mutia, tentu saja satu kejutan luar biasa bagi wanita berstatus istri perawat Bambang Sulistio.


Mutia menatap lekat kewajah Gibran, sontak kedua bola mata indah itu menunjukkan ketidak nyamanan atas perlakuan Gibran padanya, "jangan sentuh saya Tuan Gibran Stuard," geramnya.


"Uuups sory," Gibran menjadi salah tingkah, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, merutuki diri sendiri karena telah lancang menyentuh yang bukan miliknya.


Ratih semakin penasaran, "apa kalian saling mengagumi?"


Mutia menggelengkan kepalanya, "kami hanya ada keperluan disini sayang. Mungkin besok keluargaku akan tiba disini."


Ratih tersenyum, melirik kearah perut Mutia yang membuncit, menatap bergantian kearah Tia dan Gibran, "apakah ini anak dari pria tegap disampingmu?"


Mutia mencubit kecil perut sahabatnya, "ini anak suamiku, panjang ceritanya hingga aku sampai di negara ini. Lain kali kita bertemu kembali, aku minta nomor telepon kamu yah. Jika ada waktu luang kita bisa bertemu kembali."


Mereka saling bertukar nomor, kemudian berpisah.


Kegiatan Gibran yang tidak bisa ditunda untuk membicarakan kedatangan keluarga Jenderal Aditya esok hari, harus segera meninggalkan sahabat Mutia disupermarket.


Saat tiba diparkiran, Gibran membukakan pintu mobil untuk Mutia. Pemuda itu, menahan atas pintu, berjaga-jaga seandainya kepala wanita hamil itu terbentur.


Mutia tersenyum bahagia, merasakan kenyamanan sangat luar biasa yang tidak pernah dia dapatkan dari siapapun, "terimakasih."


Gibran tersenyum tipis, menutup pintu mobil, menuju stir kemudi. Pemuda berstatus duda sangat tampan, tersenyum lega melirik kearah Mutia, "ada yang mau dibeli lagi?"


Mutia menggelengkan kepalanya, enggan melihat kearah Gibran, merasakan deguban yang tidak biasa.


Pemuda berwajah tampan kembali fokus pada badan jalan menuju kesatuan militer Swiss yang berada cukup jauh dari kediaman keluarga Stuard.


"Terimakasih, aku suka handphone yang kamu berikan. Jadi aku bisa menghubungi keluarga melalui sosial media," Mutia mengotak atik benda mungil yang berada dalam genggamannya.


Tangan kekar Gibran, ingin sekali mengusap wanita manja disebelahnya, tapi tidak ingin dia lakukan karena status mereka yang berbeda, "jika ada apa apa jangan sungkan untuk menghubungi saya. Apalagi kalau kamu merindukan saya dan Lovely."


Mutia melirik aneh kearah Gibran, "mungkin saya hanya akan merindukan Lovely, bukan kamu," wanita cantik berpangkat Mayor itu menjulurkan lidahnya kearah Gibran.


Mutia mengalihkan pembicaraan mereka berdua, agar tidak terlarut dalam perasaan yang sama.


Saat akan memasuki gerbang kesatuan negara Swiss mata Mutia tertuju pada bangunan tua kesatuan angkatan darat milik militer negara cinta damai itu.


Angkatan Bersenjata Swiss Jerman: Schweizer Armee, Prancis: Armée suisse, Italia: Esercito svizzero, Romansh: Armada svizra, beroperasi di darat dan di udara, berfungsi sebagai angkatan bersenjata utama Swiss .


Dibawah sistem milisi negara, tentara reguler merupakan bagian kecil dari militer dan sisanya adalah wajib militer atau sukarelawan berusia 19 hingga 34 tahun, tidak menutup kemungkinan dalam beberapa kasus hingga 50 tahun.


Sejarah panjang netralitas Swiss, Angkatan Bersenjata Swiss tidak mengambil bagian dalam konflik di negara lain, tetapi berpartisipasi dalam misi penjaga perdamaian Internasional. Swiss adalah bagian dari program Kemitraan NATO untuk Perdamaian.


Gibran menghentikan mobil, memilih turun lebih dulu, membukakan kembali pintu mobil untuk wanita berpangkat Mayor nan cantik rupawan.


"Hai bro," tepuk salah satu kerabat Gibran saat melihat kedatangan pemuda berwajah tampan itu.


"Eeeh, aku membawa korban kita saat di Timur tengah. Besok keluarganya akan datang menjemput," Gibran mengizinkan Mutia keluar dari mobil.


Tentu beberapa mata melihat kedatangan pasangan. Komandan pasukan elite mendekati Gibran dan Mutia.


"Selamat pagi menjelang siang Nyonya, bagaimana keadaanmu hari ini. Aku mendengar cerita dari Dokter Donald bahwa kau telah pulih dan dibawa kekediaman Stuard. Aku sangat senang melihat kondisi Anda," sambut Komandan pasukan elite bernama Jose Mourin.


Mutia memberi hormat pada Jose, "Alhamdulillah semua baik baik saja. Berkat bantuan prajurit Anda Gibran Stuard, Tuan."


Jose Mourin menyambut kehadiran Mutia dengan hangat, "mari, kita keruangan saya. Gibran, kami akan melakukan wawancara sebentar. Kebetulan Friska sudah sejak tadi menunggu kalian."


"Siap komandan."


Jose membawa serta Mutia untuk mempersiapkan semua berkas kepulangannya ke Indonesia.


Mutia terus menerus melihat kearah Gibran, sejak tadi menjaga jarak darinya. Pemuda tampan itu memilih bergabung dengan pasukan elite lainnya, agar menghindari segala perasaan yang berkecamuk terus menerus dikepala.


Tia duduk dihadapan Friska, memperkenalkan dirinya, ditemani Dokter Donald untuk memeriksa kondisi kehamilan Mayor Cut Mutia Atmaja.


"Apa ada keluhan Nyonya?" Donald melihat apa yang menjadi candu bagi mata wanita dihadapannya.


Mutia tak berkedip menatap Gibran dari kejauhan yang juga menatapnya.


"Nyonya Cut Mutia Atmaja," panggil Donald sedikit lebih tegas.


Tia tersadar, menatap wajah Donald dengan penuh seksama, "ya dokter," senyumnya tanpa perasaan bersalah.


Donald menarik nafas dalam, "simpan perasaanmu untuk duda beranak satu itu. Ingat, kamu memiliki suami seorang perawat dan sebentar lagi kalian akan memiliki anak, besok keluargamu akan menjemput. Jadi jangan banyak berharap kalian bisa bersama selamanya," bisiknya ditelinga Mutia.


Mutia tersenyum tipis, mendengar kalimat yang disampaikan Donald padanya, "lagian saya juga tidak akan jatuh cinta pada pria lain, karena saya sangat tahu peraturan pemerintah di tiap tiap negara."


"Hmmm, good." Donald menyuntikkan cairan pada tubuh Mutia, agar lebih sehat dalam menjalani pemeriksaan kesehatan hari ini.


"Auuugh," Mutia meringis kesakitan.


"Maaf, ini adalah suntik vitamin untuk ibu hamil, agar kamu tidak merasa kelelahan saat wawancara sebentar lagi, karena akan menyita waktu selama beberapa jam," Donald meletakkan sisa jarum suntik bekas Tia disalah satu wadah.


Mutia mengikuti semua proses pemeriksaan dan wawancara dengan beberapa rekan pedamping.


Cut Mutia Atmaja, usia 24 tahun, team elite angkatan darat, berprofesi sebagai sniper dan pengatur strategi terbaik Indonesia.


__________