My Wife Is A Military

My Wife Is A Military
Salah menilai.



Cut Mutia Atmaja, usia 24 tahun, team elite angkatan darat, berprofesi sebagai sniper dan pengatur strategi terbaik Indonesia.


Mutia menjalani beberapa pemeriksaan selama delapan jam, tentu itu sangat melelahkan bagi wanita yang sedang mengandung. Beberapa pertanyaan terberat yang ditanyakan pihak kesatuan untuk melanjutkan pembuatan berkas kepulangannya.


Gibran melihat wajah Tia sedikit kelelahan, karena harus kembali mengingat semua kejadian saat di Timur Tengah. Penyerangan tengah malam yang dilakukan pihak sekutu membuat dia harus terpisah dari kesatuan angkatan darat.


"Bagaimana Nyonya, apakah Anda masih bisa melanjutkan sesi pelatihan ringan. Sebab semua kejadian ini harus kami laporkan pada kesatuan Republik Indonesia. Apakah Anda mengikuti test kesehatan sebelum berangkat saat itu?" Friska seorang wanita militer berprofesi sebagai team legal untuk kepulangan korban yang tersesat dinegara mereka.


Mutia mengangguk, "saya menjalani semua test, pengaturan strategi dan juga pelatihan penembakan. Kesehatan mungkin saya kurang mengikuti prosedur. Makanya saya tidak mengetahui tentang kehamilan ini."


Friska mengerti, "baiklah. Besok pukul 10.00 keluarga Anda sudah hadir disini. Anda bisa memutuskan untuk tetap tinggal disini sampai melahirkan, atau kembali ke Indonesia. Jika Anda memutuskan melahirkan disini, kami akan membantu mengurus semua legalitas."


Mutia tertegun, wajah cantik itu menatap lekat penuh harap pada Friska, "jika saya memilih melahirkan disini, apakah saya masih tetap bisa menjalankan tugas sesuai permintaan negara sebagai angkatan darat?"


Friska tersenyum tipis, "apakah Anda berharap akan mendapat tempat untuk tetap latihan dalam kondisi hamil seperti saat ini?"


Tia mengangguk, "ada beberapa hal yang harus saya urus disini, sebelum benar benar meninggalkan negara Anda Nona Friska."


Friska tertawa, "apakah ini menyangkut putrinya Gibran Stuard. Saya mendengar dari Donald bahwa kamu sangat dekat dengan Lovely."


Wajah Mutia memerah, dia tersipu malu, bibirnya enggan berbicara jujur tapi matanya tidak mampu untuk berdusta.


"Ya, saya tidak ingin mengecewakan gadis kecil yang banyak berharap. Lovely gadis baik," Tia meyakinkan Friska.


Friska mencondongkan tubuhnya lebih dekat pada Tia, "dengar Mutia, anda seorang abdi negara yang sangat berprestasi dinegara anda. Mungkin saya bisa membantu hingga persalinan yaitu enam bulan. Lebih dari itu, negara Anda akan menjemput dengan cara mereka. Jika Anda berharap untuk tetap tinggal disini sampai waktu ditentukan sendiri, rasanya itu permintaan bodoh. Saya ingin Anda benar benar paham apa maksud saya."


Mutia hanya bisa menunduk, "bantu saya enam bulan kedepan sampai melahirkan. Saya ingin disini bersama suami. Dia adalah perawat terbaik dirumah sakit kami. Saya harap, kami bisa diterima disini untuk beberapa saat."


"Jika itu permintaanmu, saya akan bicara dengan Komandan Jose Mourin. Semoga alasan kehamilan Anda dapat membantu, tapi jika Jenderal Aditya Atmaja yang meminta, kami tidak bisa melarang. Anda harus pulang ke tanah air," Friska menjelaskan dengan sangat hati-hati.


"Hmmm, semoga Jenderal paham kondisi saya saat ini," tunduk Mutia.


Friska menyandarkan tubuhnya kekursi, wajah bule nan tegas itu sangat cerdas dibalut dengan baju loreng berlambang negara mereka.


Mutia mengusap lembut wajahnya, rambut pendek seleher itu diusap pelan, "bagaimana aku harus menjelaskan pada bapak tentang Lovely. Aku akan bicara dengan Aa Tio, semoga keluarga bisa menerima keputusanku untuk tetap tinggal disini," gumamnya dalam hati.


Diluar ruangan, Gibran terus menerus melirik kearah Mutia melalui jendela. Beberapa kali dia menghubungi keluarga agar menjemput Lovely karena sudah waktunya pulang sekolah.


"Ma, Mutia masih menjalani pemeriksaan. Aku harap jemput Lovely dulu. Setelah ini kami langsung pulang," mohon Gibran pada Bian melalui sambungan telepon seluler.


"Ya, Papa yang menjemputnya. Sekalian membeli beberapa makanan untuk peternakan kita. Salam saja buat Mutia. Semoga lancar pemeriksaannya. Kamu jangan lupa makan," Bian mengingatkan Gibran.


"Ya," Gibran menutup telfonnya, memasuki ruangan mendekati Mutia.


Mutia terlihat sangat lelah, wajahnya tampak lesu karena duduk seharian disofa, "bisakah saya pulang sekarang?"


"Ya, kalian bisa pulang. Tandatangani dulu disini," Friska meletakkan semua berkas diatas meja.


Mutia menatap malas kearah berkas yang harus dia tandatangani, memijat pelan pelipisnya. Perlahan dia mengambil pulpen dari tangan Friska dan menanda tangani semua berkas.


Friska tersenyum manis menatap Gibran dan Mutia bergantian, "izin Ndan, jika Mutia ingin disini dulu, mohon konfirmasi secepatnya. Hanya enam bulan, tidak lebih. Jika lebih kesatuan mereka akan menjemput kesini. Saya harap jika ada urusan pribadi antara kalian segera selesaikan. Semoga kehadiran keluarga Mayor Mutia mengerti dengan kondisi kehamilan anak mereka. Kalau nggak salah Abdi dari angkatan udara juga hadir besok. Kalian memang keluarga militer."


Gibran mengerti, dia hanya menatap kearah Mutia melihat wanita dewasa berbadan dua itu, mengangguk mengerti atas apa yang sudah menjadi peraturan dalam militer ditiap tiap negara.


Mutia menandatangani berkas terakhir, menarik nafas panjang, mengusap lembut perutnya dan bersandar disofa ruangan Friska, "ada lagi yang harus saya siapkan?"


"Kirimkan foto dan coba cari nomor paspor untuk identitas diri kamu," jelas Friska.


Mutia menatap layar handphone baru miliknya, mencari kontak pertemanan dengan Deny dan Uli, tidak lupa dia memberi nomor pada kedua sahabatnya agar mudah menghubunginya.


Gibran membantu Tia untuk berdiri, Donald tiba tiba muncul dihadapan mereka membawa beberapa paper bag berisikan makanan dan roti.


"Kalian makan disini dulu, tadi Komandan Jose Mourin meminta aku membelikan sesuatu untuk kalian. Lebih baik kita ngobrol dulu, sampai dia kembali," pinta Donald menatap Gibran dan Mutia bergantian.


Mutia mengangguk setuju, "yah, lebih baik menunggu, biar kita juga aman. Lovely gimana Gib?"


Gibran sedikit terkejut saat Mutia menanyakan putrinya, "Papa yang menjemputnya, aku sudah menghubungi mereka."


Mutia tersenyum, menerima beberapa makanan yang diberikan Donald padanya.


"Kamu harus makan banyak, ini juga bagus untuk janin yang ada dikandungan mu, makanlah," Donald membuka stik salmon untuk Mutia mengarahkan pada wanita cantik itu.


"Terimakasih, kalian sangat baik pada saya. Walau saya orang asing, tapi tidak terasa asing," tunduk Mutia hormat.


"Biasa saja. Kami hanya membantu, beberapa prajurit disini juga sangat tertarik dengan prestasi kamu di Indonesia. Ternyata kamu wanita terlatih, tapi kenapa kalian sempat terlena karena serangan itu. Apakah Komandan Bram sempat terlena dengan pengamanan negara lain?" Friska menatap Mutia.


"Saya hanya mengingat sedikit kejadian malam itu, karena memang begitu cepat. Dina terluka parah juga, tapi saya tidak melihat dia terlempar dimana. Saya ingat handphone terlempar jauh, kondisinya kami tengah beristirahat," Mutia menjelaskan sedikit sesuai ingatannya.


Gibran mendengarkan, tanpa harus berkomentar apapun, seingat dia, pertama kali melihat wajah Mutia dia sangat menyukai wanita dewasa itu, tanpa menghiraukan statusnya yang sudah menikah.


Mereka menikmati hidangan diruangan Friska, mengenang kisah cinta Mayor dan Perawat dalam perjodohan keluarga.


Sesekali Donald dan Gibran saling menatap, "saya salah menilai ternyata," bisik Donald pada Gibran.


___________