
Didalam kamar yang telah dibersihkan oleh Bibi keluarga Atmaja, wanita yang sudah berstatus menjadi istri perawat walau berpangkat Mayor masih dengan manja berada dibawah selimut. Cuaca masih terasa sangat dingin ditambah AC masih menyala tanpa ingin dimatikan oleh Tia.
Abdi dengan tenang mengintip adik perempuannya, mendekati dan mengusap lembut kepala yang berada di balik selimut.
"Udah deh, Neng mau istirahat. Jangan ganggu," rengek Tia manja.
Abdi mendekap adik kesayangannya, "temenin Aa belanja yuuk, sekalian antar kebutuhan Emak Deny ke Kiara condong," pujuk Abdi.
Tia menaikkan kedua alisnya, "Neng sakit Aa, kok malah ngajakin? kenapa Aa enggak pergi sama Deny pas pulang kantor?" ucap Tia menolak secara halus.
"Hmmm, tadi maunya bareng Deny. Istri Aa pulang malam kayaknya, ada pelatihan," jelas Abdi.
Tia mengangguk, "ya udah sana, Neng mau ganti baju dulu. Sama pamitan dengan suami. Ntar pergi nggak ngomong, dibilang sombong nggak pamit," kekehnya.
Abdi mengacak asal rambut Tia, berlalu dari kamar menemui Nancy yang tengah berada di dapur. Menyediakan bekal untuk Aditya yang akan berangkat dinas ke Jakarta.
"Bu, aku ke supermarket bareng Neng Tia. Mungkin langsung ke kiara condong. Siang baru pulang," kecup Abdi pada pipi Nancy.
"Hmmm, Ibu ke Jakarta ikut Bapak yah? kalian disini dulu kan? pokoknya jagain Neng, dia lagi sakit. Kemungkinan Ibu pulang besok, kamu kapan berangkat?" tanya Nancy pada Abdi.
"Sepertinya lusa aku sudah harus berangkat Bu, Deny akan tinggal disini, tapi dia akan ikut pendidikan atas saran aku," jelas Abdi.
"Hmmm, berarti kamu nggak nunggu Neng berangkat? atau kalian ikut juga?" tanya Nancy sedikit penasaran.
"Yah, rencana ada. Belum tahu juga, jika jadi pasti bareng Abdi berangkat sama Neng," peluknya pada sang ibu.
Nancy tersenyum lega, melihat kedua anak anaknya tampak tenang setelah menikah.
"Bu," panggil Aditya dari balik pintu kamar.
"Ya, sebentar Pak," Nancy bergegegas menuju kamar mereka, menemui suami tercinta.
Abdi hanya menatap punggung sang ibu yang masih tampak langsing dan anggun menjadi istri seorang Jenderal dan dua anak yang berprestasi dengan karier yang sama.
Tia keluar dari kamar melihat Abdi tengah duduk diruang keluarga, dengan pelan istri Bambang Sulistio menghampiri kakak tertuanya.
"Hayuuuk, Neng udah izin sama Aa Tio. Nanti kita mampir kerumah sakit yah? ganti perban, yang kemaren habis. Sekalian mau kontrol juga, disini ada memar. Apakah karena kokangan kemaren atau gimana," jelas Tia menunjukkan bahu yang biru.
Abdi tersenyum sumringah melihat adiknya, "dari dulu nggak ada malu yah, Aa laki laki lho, kelihatan tu," tunjuk Abdi pada tali bra berwarna merah menyala.
"Iiighs, omes! untung Deny istri Aa, mau ngelayanin dengan ikhlas. Jika Mba Uli atau siapa tuh? mungkin udah deluan jadi kayu arang," goda Tia pada Abdi memeluk perut sispack sang kakak.
Mereka berpamitan dengan Aditya dan Nancy saling berpelukan penuh kasih sayang.
"Kamu disini dulu yah? jangan kemana-mana," jelas Aditya.
Tia mengangguk, "Bapak hati hati yah," bisik Tia memeluk sang Jenderal penuh kasih sayang.
"Kamu juga hati hati, jangan bantah apa kata suami, dia udah baik banget sama kamu. Cepet kasih Bapak cucu, karena Deny akan pendidikan," jelas Aditya membuat mata Tia membulat mendengar Deny akan melaksanakan pendidikan untuk naik pangkat.
Tia merungut kesal, "Neng nggak boleh, kenapa Deny boleh? Neng kan mau juga Pak!" rengek Tia tidak terima dia harus menunda pendidikannya.
"Aaaaa, curang aaagh! Neng nggak jadi pergi," rungut Tia hendak balik kekamar.
Abdi menahan lengan adiknya, "jangan dong! kita harus segera pergi, biar bisa ketemu Aa Tio, dia merindukan mu lhoo," pujuk Abdi pada puncak hidung adiknya.
"Hmmm, ya udah cepetan," ajak Tia pada lengan Abdi.
Abdi dan Aditya saling tatap mengedipkan mata menandakan kemenangan bagi keluarga mereka tanpa sepengetahuan Tia.
Tia memasuki mobil dengan penuh kekesalannya, "kok Deny yang pendidikan Aa? kenapa bukan aku? aku kan pengen banget Letkol usia muda. Aku pengen karierku Aa," racauannya.
Abdi tersenyum mendengar ocehan adik tersayangnya, "tenang saja, toh selesai lahiran kamu bisa pendidikan. Mungkin tahun depan? atau kapan gitu? lagian mengabdi dulu jadi Mayor. Biar pinter, sabar," kekehnya.
"Iiighs, Bapak ternyata egois yah? suka banget buat aku kecewa! padahal aku sudah berharap banyak lhoo untuk meraih Letkol."
Tia masih merungut, tidak ingin memandang wajah tampan sang abang. Sesekali Abdi melirik pada sang adik dan menggodanya tanpa sungkan.
"Jangan cemberut, jelek lhoo! bukannya udah mulai sayang dan cinta sama Aa Tio!" kekeh Abdi.
"Ck, Neng nggak ngerti, tapi sayang!" rengeknya dibahu Abdi.
"Sabar, Tio juga sayang sama Neng, jangan begini dong, kamu harus bisa sabar. Tio pengen banget ngebahagiain kamu dengan caranya. Makanya kamu harus sabar," jelas Abdi.
"Enggak nyambung Aa! Neng sayang sama Aa Tio karena kewajiban sebagai istri, belum sepenuhnya," tegas Tia.
"Huush, jangan bicara begitu, Aa nggak suka! kamu itu udah jadi istrinya Tio sampai kapanpun. Nggak usah ngelak, kalian halal dinegara dan agama. Aa nggak suka Neng ngomong begini yah! hargai Tio sebagai pria yang mencintai kamu. Masak selama menikah kamu nggak pernah jujur sama perasaan? nggak kasihan sama Tio, hmmm? kamu tuh anak cewek harapan Bapak sama Ibu dalam perjodohan. Jadi kamu harus ikhlas dan menerima dengan baik," jelas Tio perlahan.
Tia mengangguk mengerti, ternyata walau keluarga yang ambil andil dalam perjodohannya, dia sudah memiliki rasa terhadap Tio. Walau sulit sekali baginya untuk jujur bahkan benar benar terbuka akan perasaan sendiri.
"Neng cinta Aa sama Aa Tio, nggak mau jauh justru! tapi gimana? dinas kan?" rungutnya.
Abdi tersenyum, mendengar curahan hati sang adik bungsu.
"Semangat lah! jadikan Tio kekasih dunia akhirat mu. Jangan Aa dengar kamu menolak untuk memiliki baby. Bapak dan Ibu berharap. Begitu juga dengan Ambu. Kali saja dengan kalian memiliki baby rasa cinta semakin dalam bahkan semakin erat. Beda dengan Aa dan Deny. Sahabat kamu itu memang kekasih Aa jaman kecil. Aa pernah berjanji akan menikahinya suatu hari nanti. Sekarang semua terwujud," jelas Abdi pelan memberi nasehat pada sang adik.
Tia mengerti, tapi dia masih melawan, "kenapa Neng doang yang dijodohin? kenapa Aa nggak?" kesal Tia.
Abdi tertawa terbahak-bahak, "dari dulukan Aa nggak mau dijodohkan, Ibu paling tahu. Karena Aa cerita. Naah, kamu? salah milih, pilihannya jatuh ke Dony! manusia ba ngke penuh kebohongan itu," jelasnya.
"Hmmmm,"
Tia enggan berdebat, dia hanya ingin fokus pada keberangkatannya dan juga kesehatan. Jika hamil beneran sesuai harapan keluarga, Tia akan merasa senang, karena tidak akan berangkat ke Timur Tengah.
"Syukur syukur hamil," batin Tia dalam hati.
To be co n ti nue...
Mohon dukungan Like dan Vote pada karya ku, jangan lupa comment yah...π
Khamsiah.... Hatur nuhun....π€π₯