My Wife Is A Military

My Wife Is A Military
Melepas kerinduan.



Curahan hati Author.


Terimakasih pada pembaca yang meminta othor untuk update dan mengkritik karya ini. Mungkin ada beberapa kekecewaan kalian. Karya ini saya buat benar benar dari hati, bahkan tidak pernah ingin mengecewakan.


Karena saya sedang berada di pelosok yang tidak memiliki sinyal, membuat saya libur dalam waktu yang cukup lama.


Insyaallah akan update setiap hari satu chapter. Hingga tamat yang tidak mengecewakan kalian, para reader terkasih.


Tya Calysta.❤️


___________


Dia berlalu meninggalkan ruangan Jose Mourin, sementara Gibran terlihat salah tingkah, merasa sungkan karena kelakuan putri kecilnya.


"Maaf, saya permisi!"


Gibran meninggalkan ruangan Jose Mourin, mengejar putrinya Lovely. Bertanya dalam hati, kenapa putrinya menjadi kasar seperti itu.


Mutia masih berada dalam dekapan Abdi dan tangannya masih bertautan dengan Tio. Betapa merindunya mereka, setelah beberapa bulan berpisah tanpa kabar sama sekali.


Mutia melirik kearah Gibran, tentu menjadi pemandangan yang baru bagi Tio.


Perlahan Tio menarik tangan Mutia, mengusap lembut perut yang sudah membuncit, "Anak Aa udah gede', Neng."


Tia mengangguk, "Neng kangen sama Aa, kita nginap di peternakan Keluarga Stuard, mungkin untuk beberapa waktu, kita akan tinggal disana."


Tio mengangguk, Abdi masih terus mengusap adiknya yang dia anggap, telah pergi untuk selamanya.


"Neng, Aa keluar dulu yah. Bapak sama Jose Mourin masih asik ngobrol. Jadi Aa ke luar dulu, coba mendekati Lovely anaknya temen kamu," Abdi berbisik ketelinga Tia.


Tia mengangguk, dia memilih ikut menarik jemari tangan Tio.


Mereka duduk diluar, menikmati keindahan dan beberapa hidangan yang telah disediakan pihak kesatuan. Sesekali mata Mutia melirik kearah Gibran, tengah membujuk putrinya Lovely.


Tentu menjadi sesuatu yang baru bagi Tio, melihat istrinya kembali seperti awal. Kurang manja tidak seperti biasa.


"Neng, Aa kangen," Tio memeluk dan menghirup dalam aroma tubuh Mutia dari arah belakang.


Bulu halus di tangan Mutia seketika meremang, disudut sana, terlihat Gibran dan Lovely masih memandang kearah pasangan suami istri yang baru dipertemukan kembali, dalam kondisi hamil.


Mutia membalikkan tubuhnya, mengalungkan tangannya dileher Tio, "Sama Aa, Neng kangen banget...!" dia memeluk Tio, namun matanya mengarah pada Gibran.


Jedeeeer.....⚡⚡


Ada hati yang teriris tipis disudut sana, ketika mata keduanya saling menatap.


Mutia telah mengakui perasaannya pada Gibran, namun itu hanyalah perasaan mengagumi, bukan cinta untuk memiliki. Dua insan yang mengerti akan komitmen, membuat mereka menutup pintu hati, menata ruang dengan cinta yang halal.


.


Sementara Lovely dan Gibran masih berdebat panjang, tentang siapa Bambang Sulistio.


Lovely memandang kearah dua insan dewasa, terlihat mesra, bahkan sangat bahagia setelah berjumpa.


"Daddy, aku pernah melihat pria itu sedang menelfon Lonely, wanita yang kamu anggap pantas menjadi Ibu sambung ku," Lovely menunduk.


"Aaaaagh come on baby, itu hanya telfon biasa. Daddy tidak peduli dengan semua itu. Saat ini, kita harus menerima mereka untuk tetap tinggal bersama di peternakan Oma," Gibran tersenyum memeluk putri kesayangan.


"Oke, jika kalian ingin tahu, bagaimana jika wanita itu membuka bajunya dan video call secara intens dengan suami Aunty? Apa yang akan Daddy lakukan?" Lovely melepas pelukan Gibran.


Deg,


"Are you sure, baby?" Gibran menangkup pipi Lovely.


Lovely mengangguk, "Aku melihat mereka saling.... aaaagh, aku tidak ingin melanjutkan cerita dewasa itu. Aku jijik, Dad."


Gibran terdiam sejenak, matanya tertuju pada dua insan yang masih saling bercerita mesra.


"Bagaimana mungkin dia melakukan hal itu? Apakah karena kesepiannya? Apakah pria itu tidak memikirkan bagaimana istrinya mempertahankan rumah tangga mereka?" Gibran bergumam dalam hati.


"Dari mana Lonely saling mengenal? Aaaagh... aku lupa, bahwa Lonely memiliki banyak berteman dengan beberapa pria melalui aplikasi. Apakah mereka saling mengenal lewat sosial media? Apa serendah itu harga diri seorang wanita, yang cintanya tidak berbalas," Gibran menarik nafas panjang, dia tersenyum tipis menatap Lovely.


"Oke... dengar baby, biar itu menjadi urusan Aunty dan suaminya. Kita jangan terlalu mencampuri urusan mereka. Saat ini, Daddy hanya ingin kita menerima semua kenyataan, walau pahit sekalipun," Gibran berusaha memenangkan putrinya.


Lovely mengangguk mengerti, baginya dia tidak ingin kehilangan Mutia dalam waktu dekat. Apapun permasalahan yang ada antara mereka, biarlah itu menjadi masalah kedua insan dewasa yang tidak mungkin untuk berpisah.


Gibran menggandeng tangan putrinya mendekati Mutia dan Abdi. Dengan sangat terpaksa, dia harus berbasa-basi walau berat terasa dihati.


Abdi tengah asyik bercerita dengan beberapa prajurit angkatan udara, sama dengannya. Saling bercerita seperti sudah saling mengenal. Tipe pria yang ramah, bahkan sangat menyenangkan untuk Abdi berinteraksi dengan semua prajurit, karena kemampuannya berkomunikasi sangat baik.


Mata Abdi tertuju pada Lovely, mengusap kepala gadis kecil yang akan beranjak remaja.


"Hey little girl, will you be friends with me?" Abdi sedikit membungkuk.


"Yes uncle, forgive me for being rude with you guys!" Lovely menunduk hormat, setelah mengucapkan kata maaf.


Abdi memeluk Lovely, "Kamu gadis kecil yang sangat baik. Terimakasih telah menjaga adik dan calon keponakanku selama berada disini."


Lovely tersenyum, memberikan kelingking pada Abdi, "We will be best friends, now and forever. Until you guys actually leave Switzerland."


"Hmm... oke. I promise to be your friend forever," Abdi menyambut kelingking Lovely menautkan kedua jari mereka.


Itu merupakan bagian dari janji kedua insan dewasa yang saling berhubungan, tidak akan pernah berbohong, menyakiti apalagi mempermainkan kepercayaan keduanya.


Gibran tersenyum, dapat bernafas dengan lega. Namun yang ada dalam benaknya saat ini adalah, bagaimana caranya mencari tahu tentang yang dikatakan Lovely padanya barusan.


"Apakah itu benar? Atau hanya akal akalan putriku, agar tidak menikah dengan Lonely?" Gibran masih bertanya-tanya dalam hati.


Entahlah.... saat ini hanya melihat kebahagiaan kedua insan yang saling merindukan, sudah sangat cukup bagi Gibran.


_________