My Wife Is A Military

My Wife Is A Military
Bermain api..



Cuaca mendung saat Tia dan Abdi sudah tiba dirumah sakit. Sama sekali mereka tidak bertemu dengan Tio. Rumah sakit terlihat sepi, kebanyakan perawat wanita daripada pria.


Tia mencoba menahan tangan seorang perawat wanita, untuk mencari tahu keberadaan Tio suaminya.


"Mba, Pak Tio dimana yah?" tanya Tia penasaran melihat jam yang melingkar ditangan kanannya.


"Hmmm, tadi ada Mba, sama temennya. Saya nggak tahu mereka kemana," senyum perawat melirik kearah Abdi.


Tia mengangguk mengerti, "Mba, tolong rawat luka Abang saya, saya mau mencari Pak Tio," ucap Tia berlalu meninggalkan Abang kesayangannya bersama perawat wanita yang terkesima melihat ketampanan Abdi.


"Ooogh, iya Mba. Silahkan Aa," ucap perawat.


Perawat membawa Abdi masuk keruang perawatan, untuk mengobati luka lebam yang ada diwajah angkatan udara itu.


Abdi merasakan hal yang aneh saat pertama kali perawat menyentuh wajahnya. Perlahan angkatan udara itu memohon pada Deny untuk segera menyusulnya ke rumah sakit yang tidak jauh dari kantor lewat pesan whatsApp..


"Aa, kok nggak pernah kelihatan," ucap perawat saat memecah keheningan mereka.


Abdi tersenyum, malah merasa kurang nyaman dengan sentuhan wanita dihadapannya. Lembut tapi terlalu risih pria itu menatap wajah perawat yang lebih mirip artis papan atas Ayu tingting.


"Saya sibuk dinas diluar," jelas Abdi tersenyum kaku.


"Hmmm, pantes nggak pernah kelihatan. Kalau sama Teh Tia mah, sering ngelihat. Dia kan sering ke rumah sakit jumpa sama suaminya Aa Tio," cerita perawat ingin terlihat akrab.


Abdi mengangguk, menanti kehadiran istrinya. Tiba tiba, Deny datang menemui suaminya yang dalam ruang perawatan.


Dengan langkah tergesa gesa, Deny menghampiri Abdi dengan perasaan khawatir. Terlihat luka lebam dipelipis dan bibir, bagian mata memar. Bahkan pipi lebam dan bengkak.


"Aa, kenapa? siapa yang ngehajar?" tanya Deny penasaran menatap kearah perawat yang mundur perlahan saat istri Abdi itu menatapnya.


"Hmmm, panjang ceritanya. Mantan Tia balas dendam, hanya karena kesalahan kecil, dia minta orang lain mukul Aa secara mendadak," jelas Abdi.


Deny semakin terkejut, tidak menyangka Dony akan senekad ini pada Keluarga Atmaja, "tapi Aa nggak apa apa kan? Neng Tia mana?" tanyanya mencari keberadaan sahabat sekaligus adik iparnya.


"Lagi nyari Tio dia, dari tadi belum kembali," jelas Abdi.


.


.


Disudut kantin rumah sakit, ternyata sedang duduk dua insan sedikit akrab. Wanita seumuran dengan Tio. Tengah mengandung berkisar lima bulan, duduk berhadapan dengan Tio, tanpa ada rasa sungkan wanita itu menggenggam jemari Tio.


Tia melihat pemandangan itu, seketika membakar kecemburuan pada suaminya yang sudah empat bulan menemaninya. Darahnya bergemuruh, seperti ada perasaan hati yang patah sehingga lebih tepatnya membuat Mayor cantik kecewa.


Perlahan Tia menghampiri Tio, berdiri persis dibelakang suaminya dan beradu tatap dengan wanita yang berada dihadapannya saat ini.


"Ehem," Tia menelan salivanya menanti Tio berbalik kearahnya.


Deg,


Tio seperti mendengar suara yang sangat khas ditelinganya. Perlahan Tio melepas tangannya dari genggaman Asih mantan kekasihnya, menatap wanita yang mendehem barusan..


"Neng!" bisik Tio pelan berdiri memeluk tubuh langsing istrinya.


"Haii," sapa Tia pada wanita yang berada dihadapan suaminya, tidak menjawab sapaan dari Tio, malah dia memilih menjaga jarak dari suaminya sendiri.


"Ya," sapa Asih berdiri menunduk sopan pada Tia menatap Tio yang berdiri disamping istrinya.


"Bisa cerita siapa anda?" tanya Tia dengan tatapan sinis, dia enggan bersahabat dengan Tio, emosi dan rasa cemburunya seketika bercampur aduk.


"Hmmm, saya hanya teman Tio. Lebih tepatnya sahabat lama suami anda. Saya minta maaf jika membuat anda salah paham," jelas Asih.


Tio menyentuh lengan Tia, "Neng, kami hanya ngobrol, nggak ada yang special," bisiknya lembut pada Tia.


"Neng benci sama Aa, dia siapa? berani beraninya nyentuh tangan Aa? siapa dia hmmm?" Tia benar benar tidak mampu menahan emosinya.


Tio menarik nafas dalam, "dia teman Aa, dia sudah menikah, datang kesini untuk memeriksa kehamilannya dan kebetulan kita ketemu."


Tio meyakinkan istrinya, tapi apa lacur Tia lebih memilih pada pemikirannya sendiri. Tia benar benar kesal memilih pergi daripada harus ribut dengan suaminya dihadapan rekan rekan mereka.


"Neng, neng! jangan begini, please. Ini salah paham! Aa nggak ada hubungan apa apa sama dia," jelas Tio meraih lengan Tia.


Asih hanya terdiam, wajahnya memerah, tidak menyangka genggaman tangan mereka mampu menyulut emosi dan rasa cemburu Tia.


"Diam! Neng kira Aa benar benar mau jujur selama pernikahan kita! Aa nggak lebih sama Dony dan laki laki lainnya! bangsat semua! Aa udah buat Neng kecewa, bahkan sakit. Neng kesini mau ketemu Aa, tapi apa yang Neng dapatkan? Aa pegang tangan wanita itu, apa itu kurang cukup? kenapa hmmm? mau nunjukin bahwa Aa adalah orang hebat, paling digemari banyak wanita sehingga melupakan status Aa!" kesal Tia berapi api.


Tia menangis, berlari meninggalkan Tio di pintu kantin tempat dimana suaminya menahan lengan kiri Tia.


"Neng! Neng!" Tio menatap kearah Asih, memilih mengejar Tia.


Tio mengejar istrinya yang berlari menuju koridor memasuki ruang perawatan. Bergegas dia menahan pintu ruangan yang akan tertutup.


Kreek,


Tio menahan pintu dengan kakinya, terlihat Tia tengah memeluk Abdi ditemani Deny dan seorang perawat cantik yang menangani Abang iparnya.


"Neng," sapa Tio lembut meraih bahu istrinya.


Tia mengelak, enggan untuk disentuh oleh suaminya. Air matanya mengalir deras membasahi pipi mulus itu.


"Ssssst," Abdi meletakkan jari telunjuk dibibirnya.


"Kenapa Neng? jangan nangis gini, coba cerita sama Aa," ucap Abdi.


Tia masih menangis tidak ingin menceritakan apapun pada Abdi. Baginya permasalahan ini akan dia simpan sendiri tanpa harus melibatkan orang lain walaupun keluarga sendiri.


"Neng," Tio mendekati Tia, menyentuh bahu istrinya dengan lembut, tanpa ingin dibantah.


"Bisa kita bicara baik baik? ini hanya salah paham, Neng kesini mau ganti perbankan? Aa bantu yah? jangan gini dong sayang, kita bisa obrolin masalah yang nggak penting ini. Ini hanya salah paham, dia temen Aa. Kami sudah lama tidak bertemu," jelas Tio pelan.


"Kalau dia teman, kenapa pegangan tangan? kenapa harus duduk berdua tanpa orang lain? kenapa mesti duduk berhadapan, Aa jahat! sudah mengecewakan Neng!" isak Tia semakin larut dibahu Abdi.


Abdi menarik nafas panjang, mengusap lembut bahu adik kesayangannya, meminta agar melepaskan pelukan mereka.


"Bisa dibicarakan baik-baik Neng? Tio bilang hanya teman, itu biasakan? Neng tidak memiliki teman pria yang lebih dekat, sangat berbeda dengan Tio. Bisa jadi mereka hanya teman sekolah dan reuni. Come on, hentikan perselisihan. Jangan seperti ini. Kasihan suami kamu," Abdi menangkup wajah cantik adiknya.


Menatap lekat memberi pengertian dengan tersenyum.


"Tapi mereka pegangan tangan Aa," isaknya semakin menjadi.


Abdi tersenyum, "nggak mungkin Tio berani bermain api disini sayang," jelasnya pelan.


Tia semakin enggan melepas dekapannya, saat ini hatinya dilanda cemburu bahkan rasa sakit yang teramat sangat. Entahlah, cinta yang dia rasakan sangat berbeda. Hingga tidak mau mendengar pembelaan dari mulut suaminya.


"Tetep weeeh Aa Tio selingkuh," tangis Tia.


To be co n ti nue...


Mohon dukungan Like dan Vote pada karya ku, jangan lupa comment yah...πŸ™


Khamsiah.... Hatur nuhun....πŸ€—πŸ”₯