My Wife Is A Military

My Wife Is A Military
Aku disini...



"Segera bawa ke ruangan operasi, pasien Cut Mutia Atmaja, luka tembak bahu kiri. Siapkan semua perlengkapan operasi," tegas Ibra.


"Semoga baik baik saja," batin Tio melihat istrinya memasuki ruang operasi.


Tio bergegas mencari keberadaan Uli, untuk menanyakan kecelakaan apa yang terjadi hingga membuat Tia terluka. Saat pintu unit gawat darurat terbuka, Uli menatap penuh kecemasan pada pria tampan itu.


"Bagaimana Tia? apakah dia baik baik saja?" tanya Uli khawatir.


Tio tertegun, menatap mata yang cemas bahkan tidak menyangka Tia akan melakukan hal yang bodoh.


"Apa yang terjadi?" tanya Tio penasaran.


Uli menggeleng, "aku tidak tahu persis, karena aku datang Tia sudah terluka. Menurut orang dilapangan dia mengokang senjata laras panjang dan tidak menekan tombol switch untuk menonaktifkan fungsi di situ. Akhirnya jadi begini. Mungkin dia gagal fokus karena tidak aku izinkan cuti," rundung Uli mengenang kejadian pagi tadi.


Tio tersenyum lega, "nggak apa apa Mba, aku fikir dia ditembak orang lain, kami memang lagi banyak pikiran dengan penolakan cuti hingga keberangkatan Tia besok," jelasnya dengan wajah sedikit menunduk.


Uli tersenyum lega, "kita duduk di depan ruang operasi? jika Tia siuman dia melihat keberadaan kamu," ajaknya.


Tio mengangguk setuju, melangkahkan kaki menuju ruang operasi yang terletak lumayan jauh dari unit gawat darurat.


Beny menyusul istri dan sahabat baiknya Tio, "bagaimana Tia? apa dia baik baik saja?" tanyanya dengan nafas terengah-engah.


"Hmmmm baik, Alhamdulillah hanya kecelakaan gagal fokus," jelas Uli menggandeng tangan suaminya.


Mereka melangkah melewati koridor yang sejuk menuju satu ruangan yang terletak di sebuah sudut. Ruang operasi terletak berdekatan dengan ruang jenazah. Seperti biasa, mereka hanya diam tak bergeming saat melewati ruang jenazah dan duduk didepan ruang operasi menunggu Dokter Ibra melakukan tindakan.


"Gue pikir ada orang iseng lagi!" ucap Beny.


Tio menarik nafas dalam, "sama, gue juga takut," senyumnya.


Uli hanya memandang kearah pintu kamar operasi, berharap Tia akan segera pulih.


"Maafin gue Tia, sama sekali nggak ada maksud buat nolak cuti Lo, tapi keadaan kita harus melaksanakan perjalanan dinas," batin Uli sedikit menunduk mengenang perselisihan mereka.


Beny melihat Uli kurang bersemangat, mendekati dan menghiburnya, "kamu kenapa hmmm? Tia enggak apa apa," senyumnya menangkup pipi istrinya.


Uli memeluk tubuh Beny, "aku merasa bersalah, sebenarnya bukan aku yang menolak cuti Tia, tapi emang aturan pusat, kami hanya menjalani tugas sayang. Tianya marah kayak aku yang ngeluarin surat dinas," isaknya di bahu Beny.


Tio mendengar ucapan Uli, membuat hatinya semakin sedih. Bagaimana tidak, seminggu lagi dia akan melepas kepergian Tia untuk menjalankan tugas negara.


"Aaaaagh sedihnya gue," batin Tio.


Seketika muncul dikepala Tio sebuah ide, untuk pengajuan berangkat bersama istri dan membawa serta Beny sahabatnya.


"Bagaimana kita ngomong sama komandan kita ikut untuk menjadi perawat. Mereka kan di daerah konflik! kita pasti di izinkan, karena minimnya tenaga kesehatan dan medis disana," ide Tio.


Beny menarik nafas dalam, "enggak bisa bro! kita baru pulang, kita justru akan disuruh menjadi saksi untuk Dokter Rudi. Tadi gue sudah bertanya kepada Dokter Ibra, nggak bisa! makanya kepala gue jadi mampet, jauh dari istri tercinta," rengeknya kembali memeluk tubuh Uli.


"Hmmmmm," Tio melemas, membayangkan waktu seminggu akan sangat singkat dan penuh kerinduan yang teramat sangat. Apalagi kondisi Tia sedang sakit, mana ada waktu untuk menyentuhnya, batinnya.


Sudah hampir satu setengah jam mereka menunggu, akhirnya Dokter Ibra keluar dari ruangan. Tersenyum sumringah memandang Uli dan dua perawatnya.


"Bagaimana dok?" tanya Tio khawatir.


"Enggak apa apa, hanya lukanya agak dalam, karena tekanan sangat kuat dan kemungkinan dari jarak dekat. Alhamdulillah semua sudah membaik, sebentar lagi Tia dibawa ke ruang pemulihan,"


Dokter Ibra berlalu meninggalkan Tio, Beny dan Uli.


"Syukurlah ya Allah, gue udah cemas saja," usap Tio pada wajah tampannya dengan perasaan lega.


Tio melihat brangkar rumah sakit mendorong tubuh istrinya yang sudah membuka mata. Mata mereka saling bertemu dan menatap penuh kerinduan.


"Aku disini sayang," ucap Tio melihat Tia dibawa oleh perawat lainnya.


"Istri gue lhoo," kesal Tio kepada dua perawat itu.


"Hmmmm istri cantik, seorang militer dan akan pergi dinas seminggu lagi!" goda mereka.


"Iiiighs kalian tuh senang ngebuli saya!" rungut Tio masih mengikuti langkah mereka menuju kamar.


"Iya dong, masak istri latihan enggak di temanin! coba di temani mungkin nggak akan terluka, karena ada yang menjaga," tawa mereka pecah saat menggoda Tio hanya bisa tersenyum tipis.


Mereka tiba di ruang pemulihan, alat bantu pernafasan sudah di lepas, karena Tia sudah siuman. Tio duduk di kursi menemani istrinya dengan penuh cinta.


"Kamu sudah bisa minum," jelas Tio.


"Tapi hanya sedikit, basahin bibir dulu," tambahnya lagi.


"Aa saja yang basahin bibir Neng boleh?" goda Tia membuat Tio salah tingkah.


Beny dan Uli yang mendengar hanya bisa menutupi wajah mereka.


"Kok mesum pikiran sahabat kamu sayang?" tanya Beny penasaran.


Uli tersenyum menatap manik mata suaminya, "mana aku tahu, kan itu suaminya! wajar minta cium, kayak kamu minta terus sama aku," ejek Uli berbisik.


Uli dan Beny memilih meninggalkan ruangan sahabatnya, agar mereka lebih leluasa untuk berduaan.


"Tio, gue pulang dulu! udah sore, kalau ada apa apa Lo hubungi kami yah? jangan sungkan," tegas Beny.


Tio mengangguk menerima tangan Beny yang mengulur padanya kemudian memeluk sahabat terbaiknya itu.


"Makasih bro!" senyum Tio menepuk pundak Beny.


Saat Beny dan Uli akan melangkah keluar, Aditya dan Nancy datang dengan wajah khawatir. Pikirannya sama, apakah putrinya tertembak atau di tembak.


Uli dengan sigap memberi laporan kepada Aditya dengan tegas dan lugas. Mata Aditya mengarah pada putrinya, tidak menyangka bahwa semua ini akan terjadi. Menurut Aditya, Tia selalu fokus dalam sesi latihan. Kali ini dia benar benar gagal fokus dan sangat membahayakan bagi dirinya sendiri.


"Saya permisi Jendral," hormat Uli pada Aditya.


"Hmmm silahkan," ucap Aditya.


"Laksanakan," hormat Uli kemudian berlalu meninggalkan ruangan.


Beny menitip pesan pada perawat, agar menjaga istri Tio dari tamu tidak dikenal, karena ada anak Jendral yang tengah terbaring lemah di dalam ruangan itu.


Aditya mendekati Tia, menatap penuh cinta putri tersayang, "bapak sudah bilang FOKUS," tegasnya.


Tia mengangguk, memeluk Aditya dengan sebelah tangan yang terangkat.


"Kamu istirahat dulu sampai pulih, nanti jika sudah pulih kamu berangkat barengan Tio. Bapak akan mengeluarkan surat dinas, sekalian bulan madu di daerah konflik!" goda Aditya.


Tia dan Tio tersenyum lega, setidaknya walau mereka tidak satu kesatuan, tapi bisa pergi bersama menjadi sebuah rencana yang mereka rindukan.


"Kita bulan madu di daerah konflik," kekeh Tia memeluk tubuh suaminya.


Tio bisa bernafas lega, "Alhamdulillah, nggak jadi jomblo enam bulan gue," batinnya tersenyum sumringah.


Duuuh... senangnya si Aa, bisa dinas bareng! bagaimana dengan Uli dan Beny? 😎


To be co n ti nue...


Mohon dukungan Like dan Vote pada karya ku, jangan lupa comment yah...πŸ™


Khamsiah.... Hatur nuhun....πŸ€—πŸ”₯