My Wife Is A Military

My Wife Is A Military
Mayor Cantik



Siang menjelang, perut pun sudah terasa kenyang, Tia melanjutkan kegiatannya di lapangan hingga sore menjelang. Begitu gagah berani, tanpa memikirkan Tio yang berada di dekatnya.


"Maafkan adik ku Tio, dia hanya terlalu fokus pada dunianya," bisik Abdi saat melihat Tio duduk termenung mendengar suara dentuman sniper dan dar der dor dari balik kawat pembatas.


"Nggak apa apa Aa, saya cuma kagum bisa menikahi adik Aa, ternyata dia Mayor cantik dan menarik,"


Tio tersenyum, kembali ke kursi mereka.


"Aa, Aa Abdi tahu kenapa kami di jodohkan?" tanya Tio sedikit penasaran.


Abdi tersenyum, menatap lekat wajah tampan adik iparnya yang sangat gagah bahkan menarik.


"Saya tidak ingat. Bapak hanya berucap, dia sudah menikahkan Tia atas izin Keluarga Atmaja, saya rasa kamu sudah mengetahui garis besar secara keseluruhan. Abah kamu kan seorang reporter dan bersahabat baik dengan Bapak. Jadi wajar jika mereka menginginkan menjadi besan," jelas Abdi meneguk air mineral yang ada dalam genggaman.


"Apakah ada balas budi Aa?" tanya Tio.


"Yah, begitulah. Saat di daerah konflik, Abah kamu yang menyelamatkan nyawa bapak dari tawanan. Hingga mengakibatkan Abah meninggal dunia. Aa lupa usia berapa, tapi Aa ingat Abah di makam kan, Aa juga lihat kamu kecil di peluk Ambu. Sekarang kalian sudah menikah. Jangan sungkan. Bapak sangat sayang sama kamu walau kamu hanya seorang perawat," jelas Abdi.


"Hmmmm kenapa Bapak tidak memilih pria lain, seperti Komandan Juan atau orang kaya yang bergelimang harta Aa? kenapa mesti saya?" tanya Tio tidak yakin hanya karena balas budi.


Abdi menghela nafas panjang, tersenyum menatap adik ipar.


"Tio, Bapak dan Ambu pernah memiliki kisah cinta yang tidak di restui. Bapak di jodohkan dengan Ibu, akhirnya Bapak mengikhlaskan Ambu, menikah dengan sahabatnya. Abah kamu. Mereka tidak pernah bertemu setelah menikah, tapi mesti di pertemukan dalam satu kondisi konflik yang berkepanjangan hingga Abah meninggal dunia. Jangan marah pada Ambu. Setidaknya Ambu selalu menjaga harkat dan martabatnya sebagai janda untuk membesarkan kamu. Bapak ingin menebus kesalahannya karena telah mengecewakan Ambu. Itu yang Aa tahu, selebihnya Aa nggak tahu," senyum Abdi.


Tio tersenyum, membayangkan wajah cantik sang ibu. Sekian tahun Evi harus membesarkan Tio seorang diri dengan hantaman keras dari kakek dan nenek mereka, karena menikahkan Tio dengan anak mantan kekasihnya.


"Pantas," bisik Tio dapat di dengar oleh Abdi.


"Pantas apa? semua sudah jelas, kalian menikah dan sekarang Aa lihat Tia sangat mencintai kamu," senyum Abdi.


"Hmmmm belum ada ucapan Aa, selain selesai bercinta," jujur Tio tersenyum tipis.


"Kalau boleh tahu, apakah kalian sudah sering melakukannya?" tanya Abdi sedikit ingin memberikan masukan yang baik.


"Baru tiga kali Aa," jujur Tio dapat mengingat dengan jelas pernikahan mereka.


"What?" wajah Abdi melongo tidak percaya.


"Selama 4 bulan kalian menikah baru 3 kali melakukan? apa kalian tahu hukumnya bagaimana? aaaaagh Tia pasti banyak alasan," geram Abdi memandang dari kejauhan wajah adik bungsunya.


"Bukan Aa, bukan itu," sanggah Tio.


"Jadi apa?" tanya Abdi menatap wajah Tio.


"Kami baru melakukannya tiga hari ini karena kesibukan juga. Biasanya kami hanya menghabiskan waktu sebagai teman. Tia gadis yang sulit jatuh cinta, tapi dia baik dan perhatian walau sedikit manja," jelas Tio.


"Saran saya, sering lakukan, itu akan menambah kemesraan kalian. Percayalah, Tia tidak akan luluh jika kita tidak agresif. Dia Mayor cantik yang kaku. Sangat kaku. Sama seperti Bapak, jika dia jatuh cinta pada satu itu saja di kepalanya hingga membuat dia tampak bodoh," geram Abdi.


Tio mengetahui kemana arah pembicaraan mereka, "apa Aa tahu tentang pria bernama Dony?" tanyanya.


"Hmmmmm ya, saya yang memutuskan mereka. Pria laknat itu. Pacaran nggak modal, ngaku pengusaha kaya, tapi jajan beli bensin minta sama Tia," kenang Abdi.


"Rudi? Dokter Rudi?" tanya Tio penuh selidik.


"Rudi," Abdi hanya tersenyum tipis, tidak ingin membahas sahabat sekolah Tia.


Lebih dari empat jam mereka bercerita panjang, sementara Uli menemani Deny membeli beberapa keperluan untuk pernikahannya nanti malam, walau sangat sederhana, tapi sangat berkesan bagi keduanya. Tidak ada ungkapan cinta atau jadian, tapi Abdi memantapkan hatinya untuk menikahi Deny sahabat terbaik Tia di kesatuan.


Tia mengakhiri sesi latihannya, membuka semua atribut yang membuat dia sedikit tampan, bukan cantik. Menyimpan sniper dan sempi kecilnya, kembali mendekati Abdi dan Tio setelah membersihkan diri.


Abdi tersenyum, melihat adiknya memilih duduk disamping Aa tercinta.


"Kita langsung pulang? atau nunggu mereka?" tanya Tia memesan air mineral pada penjaga kantin.


"Udah jam 17.00, lebih bagus langsung pulang saja," jelas Abdi.


"Hmmmm," Tia meneguk air mineral hingga habis tak bersisa, mengusap lembut wajah yang masih terasa panas. Tubuh yang basah karena keringat saat latihan menginginkan Tia agar lebih cepat sampai di rumah.


"Ya udah yuk, kita jalan! kamu sama Tio yah? Aa langsung pulang, nanti malam kita ketemu di rumah Deny," tegas Abdi.


Tia mengangguk, membawa tas senjatanya menuju mobil Tio tanpa ada kemesraan yang berarti.


"Sepertinya istri Aa kelelahan," sindir Tio saat memasuki mobil.


"Capek Aa, besok latihan lagi kesini. Seminggu jadwal Neng nembak. Makanya kesel sama jadwal. Pengen cuti sehari dua hari, apalagi badan Neng terasa nggak fit," curhat Tia menyandarkan tubuh di jok penumpang.


Tio mendekatkan wajahnya, menatap wajah cantik Tia masih mengeluhkan rasa lelahnya.


"Capek jadi Aa dong, nunggu cintanya Neng. Masak ngomongnya saat habis ehem aja. Kenapa nggak bisa di ungkapkan saat sekarang," Tio tak ingin memberi jarak pada wajah sang istri, dia terus mendekat ingin menenangkan pasangan agar tidak mengeluh.


Deg,


Perasaan Tia tiba tiba berubah, ada perasaan aneh saat mereka saling tatap.


"Aa mau ngapain? masih keringetan," rengek Tia mengusap wajah tampan suaminya.


"Mau dengerin menjerit Neng boleh nggak? sore ini?" goda Tio.


Gleek,


"Hmmm emang mesti ada ungkapan perasaan gitu? Neng rasa kita udah dewasa, kita sudah melakukannya, nggak perlu ada ungkapan. Aa tahu Neng udah jadi istri Aa Tio, Bambang Sulistio, seorang perawat di pasukan elite. Sekarang udah naik jadi apa? Aa naik jabatan nggak ngomong sama Neng, malah tahunya dari Bapak. Gemes," cubit Tia pada wajah Tio.


Tio tertawa, mengecup bibir basah Tia, hingga turun ke lehernya, membuat Tia bergetar bahkan enggan melepas ciuman dari Tio.


"Mau di lakukan disini?" tanya Tio.


"Hmmmm apaan seeh," wajah Tia memerah.


"Terus?" goda Tio.


"Ya di rumahlah, masak di mobil, ntar di grebek kan nggak lucu. Kita dibilang pasangan mesum, padahal emaaang," kekeh Tia menerima gelitikan dari tangan suaminya sesekali menerima ciuman di sore indah itu...


"Hmmmm... Jadi pengen di jodohkan..."❀️πŸ”₯


To be co n ti nue...


Mohon dukungan Like dan Vote pada karya ku, jangan lupa comment yah...πŸ™


Khamsiah.... Hatur nuhun....πŸ€—πŸ”₯