My Wife Is A Military

My Wife Is A Military
Perjodohan..



Pagi yang cerah menyinari kota Paris Van Java dengan kesejukan dan kedamaian dikediaman Tio. Laki laki tampan yang berprofesi sebagai Perawat itu tengah mempersiapkan sarapan untuk sang istri tercinta dan bekal yang akan dibawa Tia untuk latihan tembak dilapangan. Pria berwajah lembut dan tenang itu sangat cekatan saat berada di dapur dengan celemek melekat tubuh gagahnya.


Tia tengah mempersiapkan diri untuk berangkat lebih pagi sesuai jadwal yang diberikan oleh Uli kemaren sore. Baju kaos hitam, celana loreng dan polesan wajah yang sangat natural membuat Tia tampak seperti wanita tangguh. Sepatu pdl safety TNI menambah kesan sensual pada wanita tangguh tapi manja itu.


Perlahan Tia keluar dari kamar menuju dapur, melihat suaminya dengan telaten tengah menata masakannya.


"Assalamualaikum suami tercinta," kecup Tia dipipi suaminya saat berada dibelakang Tio.


"Waalaikumsalam istri tercinta, sudah beres?" tanya Tio.


"Sudah suami," kekehnya memeluk tubuh Tio dari belakang.


Deg,


Tio memejamkan mata, menikmati kehangatan bersama Tia yang akan dia rindukan dalam waktu yang cukup lama yaitu enam bulan.


Tio membalikkan badannya, menatap lekat wajah cantik alami milik istrinya, mencoba ikhlas menerima kenyataan bahwa akan ditinggal dinas.


Tinggi keduanya yang hampir sama, memudahkan Tio untuk lebih all out pada istrinya pagi itu.


"I love you Neng," kecup Tio pada kening Tia, kemudian mencium aroma parfum wanita yang sangat lembut dileher istrinya.


"Hmmm, Neng latihan dulu, jangan ganggu yah. Oya, Neng berangkat sama Mba Uli, dia udah mau jalan. Aa nanti jemput Neng, jam tiga oke sayang," peluk Tia lembut ditubuh Tio.


Usapan penuh kasih sayang sangat terasa bagi kedua insan yang baru merasakan indahnya rumah tangga mereka.


Tio melepaskan pelukan mereka, "Neng mau sarapan? Aa suapin?" tanyanya dengan lembut, melepas celemek yang masih melekat.


"Kita sarapan bareng aja, Mba Uli masih siap siap, belum jalan. Lagian masih jam 05.30," jelas Tia.


Tio sudah mempersiapkan sandwich dengan daging asap, keju dan telor. Nasi goreng yang dia masukkan ke lunch box sebagai bekal untuk Tia jika dia tidak sempat membeli makan siang.


"Semua sudah disini yah istri, ni botol minumannya, boxnya, sendok dan garpu juga ada disini," kecup Tio pada kepala Tia.


"Makasih suami Neng yang paling best. Seharusnya Neng yang siapin buat Aa, bukan sebaliknya," rungut Tia.


Tio merangkul bahu istrinya, "kita sama sama, bukan harus si A atau si B, belajar dari orang bule yang tidak malu mempersiapkan semua untuk keluarga. Ini adalah bentuk rasa syukur Aa memiliki istri seperti kamu, baik, manja, tapi tegas. Jika kita punya anak pasti kayak kamu, kuat," celotehan Tio kembali tentang anak.


Tia mengangguk, "ya udah hayuuuk makan, nanti Mba Uli datang malah buru buru," tariknya pada lengan Tio.


Tio duduk disebelah Tia, menikmati sarapan pagi berdua. Seperti biasa Tia memotong kecil kecil sandwich dan menyuapkan pada Tio.


"Enak nggak?" tanya Tia dengan perasaan iseng.


"Ya enak atuh, Aa yang buat!" ucap Tio mengusap kapala Tia.


"Kalau enak Neng lagi yang makan," goda Tia membuat Tio semakin gemas melihat keisengan istrinya.


"Hmmmm, ini enak banget suami, kejunya endeez pisan," kekeh Tia.


Tio berkali kali mencium bibir istrinya, karena keisengan pagi ini membuatnya semakin tidak ingin berpisah.


"Suka?" tanya Tio penasaran.


Tio mengangguk, "Ambu yang ngajarin, dulu sering buatin buat Aa, kalau pergi sekolah," jelasnya.


"Oya Aa? Ambu kenapa nggak pernah pulang lagi ke Bandung? dilarang Bapak yah? Neng denger Bapak sering ke Cianjur, dari ajudannya. Pas ditanya serius selalu ngalihin pembicaraan," Tia tersenyum penasaran.


Tio hanya menarik nafas dalam, "Aa nggak tahu, Ambu nggak pernah cerita detail sama Aa. Bagaimana kedekatan Ambu sama Bapak. Yang Aa denger mereka sahabatan, itu doang," jelas Tio menutup hubungan orang tuanya dari Tia.


"Hmmm, tapi mereka deket lhoo Aa. Cuma Neng tanya ajudan selalu jawab, nggak tahu Neng Tia, nggak ada urusan sama saya. Saya hanya menjalankan perintah Jenderal Aditya," ucap Tia meniru gaya bicara ajudan.


"Yaaah, urusan orang dewasa nggak usah diikutkan. Kita sebagai anak hanya mendoakan yang terbaik buat kedua orang tua," jelas Tio meredam rasa penasarannya.


Tia mengangguk, menghabiskan makanan yang sangat lezat dilidahnya.


"Ini enak banget, makasih yah Aa suami, jangan lupa nanti hati hati berangkat kerja. Jangan ngebut, jangan gatel, apalagi kayak beberapa waktu lalu," rungut Tia.


Tio mengecup bibir basah Tia kembali, "percaya sama Aa, Neng paling best dalam hidup Aa, nggak ada wanita manapun. Cuma Neng yang mampu memberikan keindahan luar biasa selama Aa deket sama wanita," jelasnya lembut.


Tia menatap wajah tampan suaminya, "Aa nggak gombalin Neng kan?" tanyanya sedikit trauma.


Tio menghela nafas panjang, mengusap lembut punggung istrinya, "apa pernah Neng lihat Aa pergi bawa wanita lain? atau keluar rumah tanpa Neng? Aa selalu pergi sama Neng, pagi, siang, malam sampe mandi pun kita sama sama," kekehnya.


"Emang nggak pernah Neng lihat, tapi kan sering datang kerumah sakit itu yang buat kesel. Dia udah punya suami, ngapain nemuin suami orang? Neng emang nggak paham dunia percintaan dan lainnya, karena kami memang jarang pacaran. Justru nggak boleh sama Bapak dan Ibu pacaran. Saat Bapak ngasih tahu Neng sudah dinikahkan, itu Neng lawan lhoo. Kayak Siti Nurbaya, malahan kayak jaman dahulu. Bapak sama Ibu kan perjodohan juga," rungut Tia.


"Masak Neng dijodohin sama orang yang nggak dikenal!" tambah Tia.


Tio mengangguk mengerti, "ternyata walaupun keluarga meminta sedikit memaksa, kita mampu menjalani kehidupan dengan baik," kecupnya pada bibir hangat itu.


"Ya gimana, nggak mungkin kita akan musuhan terus menolak perjodohan ini. Kita kan harus mencoba dan nggak mungkin juga Neng berpisah dari Aa, karena di kita militer nggak boleh kawin cerai kayak yang lain," jelas Tia.


"Satu lagi nggak mungkin pisah dalam keadaan masih perawan," tawa Tio membuat Tia mencubit kecil perut suaminya.


"Nakal, yang mau cerai dari kamu itu siapa? Neng justru mau selamanya sampai maut memisahkan," Tia menyandarkan kepalanya dibahu Tio, menunggu kehadiran Uli sahabatnya.


Tiiin tiiin,


Klakson mobil Uli dari luar terdengar jelas. Bergegas Tia dan Tio keluar rumah membawa semua perlengkapan untuk latihan.


"Ini paper bagnya, nanti jam 15.00 Aa susul kesana yah? hati hati," Tio mengecup kening istrinya, melepas keberangkatan Tia menuju lapangan untuk latihan.


Begitu dalam kepedihan hati Tio saat mobil Uli, meninggalkan kediamannya membawa istri tercinta didalam.


"Aaaaagh, kenapa mesti sekarang berangkat dinasnya? kenapa nggak nunggu dua tahun lagi. Baru juga bahagia, udah harus pisah," teriak Tio frustasi.


"Ya Allah, selamatkan istriku dimanapun dia berada," batin Tio menatap langit yang perlahan membiru memberikan cahaya keindahan alam.


Tio masuk kedalam rumah, kembali bersiap siap kembali melajukan kegiatannya hari ini sebagai perawat.


To be co n ti nue...


Mohon dukungan Like dan Vote pada karya ku, jangan lupa comment yah...πŸ™


Khamsiah.... Hatur nuhun....πŸ€—πŸ”₯