
Siapa yang bermain api? siapa dia? siapa wanita yang sedang bersama Bambang Sulistio?
Pertanyaan itu yang ada dikepala Abdi dan Deny saat ini, "kenapa Tia bisa jadi sedih begini? apakah bener Tio telah mengkhianati Tia? berani sekali dia?" batin mereka bersamaan.
Tio berusaha membawa Tia kepelukannya, atas izin Abdi. Perlahan Tia mendekap tubuh suami yang sangat dia cintai saat ini.
"Maafin Aa, dulu kita nggak pernah bercerita tentang siapa orang terdekat kita, kita hanya fokus pada perasaan yang enggan untuk bersama. Dia teman Aa saat ini, dulu dia memang pacar. Kami berpisah setelah Ambu benar benar melarang hubungan Aa dengan dia. Kebetulan sekali dia datang karena ingin mengundang kita untuk hadir keacara resepsi adiknya yang akan menikah. Nggak ada kisah yang special dengan dia Neng! percayalah," jelas Tio lembut, berusaha membawa istri kesayangan untuk duduk dibangkar rumah sakit agar bisa mengganti perbannya.
Tia semakin menangis keras saat mendengar Tio memiliki kisah dengan wanita itu. Perasaannya hancur, dia menganggap Tio adalah pria yang sama sepertinya, tidak memiliki masa lalu, atau kenangan indah bersama wanita lain selain dirinya.
"Dengar, dia Asih. Dia hanya gadis kampung yang dekat dengan Aa semasa kuliah. Hubungan kami tidak lebih dari berpacaran masa kuliah, remaja muda saling suka, sama seperti Neng dan Dony. Dia bukan siapa-siapa Neng, percayalah sama Aa, nggak mungkin kami mau macam macam disini. Rumah sakit ini sudah tahu Neng istri Aa. Kami hanya makan dan minum bersama. Pegangan tangan itu hanya sekedar salam perpisahan, karena dia mau kembali ke Tasikmalaya. Percaya sama Aa, Neng," ucap Tio pelan.
Tia menatap wajah Tio penuh selidik, mencari kebenaran dari mata indah suaminya. Saat ini dia benar benar bingung dan sulit percaya pada pria, karena Tia adalah tipe wanita kurang pergaulan dan sedikit introvert. Dia hanya fokus pada dunia pekerjaan hingga kurang bergaul dengan teman teman kuliah bahkan teman sekolahnya. Bayangannya adalah Tio sama sepertinya. Tidak lebih, bahkan kurang bergaul.
Setelah hampir lima bulan kebersamaan mereka, tidak pernah dia menemukan Tio bersama wanita lain seperti saat ini. Itu yang membuat hati dan perasaannya sakit.
"Aa nggak bohong kan sama Neng?" bisiknya pelan dapat didengar Abdi dan Deny.
"Nggak ada yang Aa tutupi dari Neng, bagi Aa pernikahan kita sangat berharga dan bahagia. Saat ini Aa merasakan cinta yang luar biasa sama Neng. Jika Neng tidak ingin kita datang ke Tasikmalaya nggak apa apa, yang penting Neng sudah tahu jika Asih hanya teman Aa, dia tahu kita sudah menikah, bahkan Aa juga sudah mengatakan alasan menikmati perjodohan ini," jelas Tio membuka kancing baju istrinya untuk membersihkan luka tembak beberapa hari lalu.
Tio dibantu perawat yang sejak tadi melihat drama pasutri ini sambil senyum senyum sendiri. Tidak menyangka bahwa seniornya sangat romantis dan perhatian pada istrinya.
"Tolong ambilkan pembasuh luka antiseptik, karena lukanya sedikit infeksi. Neng habis ngapaian? kenapa membengkak lukanya?" tanya Tio lembut sedikit mengalihkan pandangan kepada Abdi dan Deny.
Tia hanya diam, jujur dia tidak menyangka bahwa akan terjadi infeksi pada bahunya. Dia hanya merasakan sakit dan ada yang bengkak setelah pertikaiannya dengan Dony didepan swalayan.
"Aa?" tanya Tio menatap Abdi.
"Hmmm, nggak apa apa," senyum Abdi mengalihkan pandangannya dari Tio.
Deg,
"Sepertinya mereka habis ribut. Dengan siapa?" batin Tio melihat wajah Abdi yang memar.
"Bisa jujur sama Aa? Neng habis ngapaian sama Aa Abdi? siapa yang membuat wajah Aa Abdi babak belur gitu?" tanya Tio lembut menatap wajah cantik istrinya, memohon kejujuran disana.
Tia menatap Abdi enggan untuk berdusta, "kami dihajar sama orang suruhan Dony. Karena bahu Neng tadi ditabrak sama dia, Aa Abdi meminta Dony minta maaf. Tapi dia kan emang nggak suka sama kami, jadi awalnya Aa Abdi mukul, pas diparkiran kami balik dipukul. Neng sempat ngancam dengan senjata, Alhamdulillah ada security, jadi mereka yang nanganin. Semua sudah baik baik aja seeh, bukan mau arogan, tapi keadaan kami juga terancam," ceritanya panjang lebar.
Tio mengangguk mengerti, mengompres luka Tia dengan sangat hati hati. Membersihkan jahitan yang sangat berbekas dibahu mulus itu.
"Kalau sakit bilang yah? Aa bersihkan pelan pelan," senyum Tio.
Tia mengangguk, mendekatkan wajah kearah Tio agar suami tampannya mau memberikan ciuman.
"Emmm," bisik Tia manja.
Tio tersenyum malu, "uuuugh, gemes. Ternyata sudah bisa cemburu dan membuat Aa menjadi senang," godanya.
"Cium," rengek Tia masih menunggu kecupan itu mendarat dibibirnya.
"Cium," bisik Tia menggeram.
"Cup cup cup," tiga kecupan mendarat dipipi kiri dan kanan berakhir dibibir Tia.
Tia tersipu sipu, wajah cantiknya berubah merah. Dia berhasil membuat suaminya salah tingkah.
"Setidaknya Neng bisa memaafkan Aa," kekehnya bahagia.
Tio semakin gemas melihat sikap Tia yang ternyata sudah sangat berubah terhadap hubungan mereka yang semakin intens dan membaik.
"Lain kali jangan begitu yah Neng, ini rumah sakit. Aa nggak mau orang memandang kita tidak menghargai orang lain. Jika Neng mau marah, tinggal tarik aja tangan Aa. Maklum, mulut kita satu, tapi mulut dan mata orang banyak. Bisa jadi nanti segala fitnah beredar disini sehingga membuat Aa tidak nyaman pas bekerja," jelas Tio memberi pengertian.
Tia mengangguk, dia memeluk tubuh Tio yang berdiri dihadapannya.
"Neng takut kehilanganmu Aa," ucapnya pelan.
Tio mengusap lembut punggung Tia dengan lembut, "kita nggak akan pernah kehilangan, jika saling mengerti dan memahami. Udah, jangan nangis dan marah marah lagi. Nanti laper lhoo," kekehnya.
Tio benar benar telaten membersihkan luka dibahu istrinya agar cepat pulih, memberi antiseptik dan menggunting benang yang panjang agar tidak meninggalkan bekas.
"Oya, Neng nggak keloidkan? biasanya luka tembak bisa menyebabkan keloid atau membekas dan susah banget hilangnya," tanya Tio sambil menjelaskan.
Tia mencoba mengingat ucapan Dokter Ibra saat melakukan pengangkatan peluru yang bersarang, bahwa sudah memberi anti keloid pasca operasi.
"Sudah Aa, Dokter Ibra menyuntikkan saat operasi selesai," jelas Tia.
Tio mengangguk, dia menutup luka Tia setelah mengompres terlebih dahulu, agar tidak semakin membengkak, kemudian menutupnya dengan plaster anti air.
"Hmmm, udah beres. Kita mau pulang sekarang?" tanya Tio mengecup kening istrinya.
Tia mengangguk manja, tersenyum sumringah menatap kearah Abdi dan Deny yang tengah sibuk bermanja-manja saling mengusap wajah mereka berdua.
"Aa, udah bisa nyetir?" tanya Tia pada Abdi.
Abdi menggeleng, dia meminta Tia pulang bersama Deny membawa mobilnya ke kediaman orang tua istrinya, biar dia bersama Tio menyusul dari belakang. Pandangan Abdi benar benar buram dan besok akan melakukan pengecekan pada matanya.
Tio mengangguk setuju, mengerti akan keadaan Abang iparnya.
Semoga semua baik baik saja, π€§
To be co n ti nue...
Mohon dukungan Like dan Vote pada karya ku, jangan lupa comment yah...π
Khamsiah.... Hatur nuhun....π€π₯