My Wife Is A Military

My Wife Is A Military
Cinta lama bersemi kembali..



Tio ditemani Abdi menikmati perjalanan menuju kediamannya di Setiabudi. Sementara Deny tertidur menemani Tia disamping sahabat sekaligus adik iparnya.


"Ternyata sangat menyenangkan jadi bagian keluarga Lo Ti," bisik Deny saat akan terlelap.


Semenjak memilih menikah dengan Abdi, Deny memilih ikut dengan suami atas izin Emak yang enggan melarang putrinya mau menetap dimana setelah menikah. Suatu saat nanti akan ada keputusan akhir bagi putrinya. Sejak awal Deny dan Abdi memang tidak ada komitmen untuk menikah, mereka hanya pacar masa kecil.


Saat itu Deny masih kelas dua sekolah menengah pertama, harus menjalin hubungan dengan pria remaja kelas dua sekolah menengah atas. Cinta Abdi dan Deny harus kandas karena harus kehilangan kabar saat lulus sekolah.


Abdi memilih kuliah di Jakarta agar lebih dekat dengan Aditya dan mengikuti pendidikan militer sebagai Angkatan Udara. Mereka kembali bertemu saat Deny dan Tia kembali bersahabat dekat.


Flashback...


Saat matahari berada dipuncak kepala mereka sewaktu melakukan dinas, kala itu juga keduanya saling membantu dari serangan lawan.


"Lo dari kesatuan mana?" tanya Tia pada Deny dengan nafas terengah-engah.


"Batalyon artileri 6785, Lo?" tanya Deny.


"Hmmmm, Siliwangi Bandung 9854, berarti kita sama dong!" kekeh Tia.


Mereka saling melindungi hingga masa dinas berakhir, akhirnya Deny menyadari bahwa Cut Mutia Atmaja adalah adik kandung Abdi Atmaja. Sejak mereka saling membantu kala itu, mereka terbiasa dengan dunia drama percintaan dara Siliwangi. Keduanya saling bertukar pikiran bahkan tidak ada perasaan sungkan. Usia yang tidak berbeda jauh membuat mereka saling memahami, ditambah kejujuran Deny mengenal dekat Abdi pada masa sekolah.


Sesekali Tia menggoda, agar Deny mau meneruskan hubungannya dengan Abdi, tapi sepertinya tidak akan mungkin.


Deny enggak berharap untuk menjadi menantu Jendral Aditya Atmaja, karena keterbatasan dan wanita cantik itu bukan keturunan yang beruntung. Dia masuk angkatan karena kecerdasannya yang mampu berlari dan berenang lebih cepat dari yang lainnya.


Abdi dan Deny kembali bertemu, saat itu juga keduanya masih berharap untuk menjalin kedekatan kembali tanpa sepengetahuan Tia dan Uli.


Abdi sengaja menunggu gadisnya saat jam pulang kerja, dengan perasaan cinta yang masih seperti dulu, bahkan sangat berbeda setelah mendengar penjelasan Tia bahwa Deny masih jomblo bahkan enggan menjalin hubungan serius dengan pria manapun.


Abdi sengaja menjemput Deny sore itu, dan langsung meminta untuk menjadi seorang istri tanpa mau berpacaran lebih lama.


"Aa serius? aku nggak mau berharap seperti dulu! aku mendengar nama Aa aja sudah membuat hati ku bergetar, apalagi kalau kita memang benar benar melanjutkan ke jenjang pernikahan," jelas Deny saat mereka bertemu pertama kali setelah beberapa tahun mereka berpisah.


"Serius Neng, tapi kita nikahnya sirih dulu, karena Aa hanya seminggu di Bandung. Mungkin dua bulan lagi Aa pulang baru kita terdaftar di kesatuan, kita beda geulis," jelas Abdi.


Wajah Deny berubah seketika mendengar kejujuran seorang Abdi yang benar benar mencarinya sesuai janji mereka masa dulu.


"Ingat nggak Aa pernah bilang, jika kita berpisah, tunggu Aa, kita akan bertemu dan menikah."


Kata kata itu yang selalu terngiang ditelinga Deny. Pesan pesan masa remaja sangat terpatri dalam hati Deny dari Abdi. Janji janji yang pernah pupus dalam penantian akhirnya terwujud karena keyakinan keduanya.


"Iya inget, makanya aku nggak pernah pacaran," kekeh Deny.


Abdi memeluk Deny, membawanya pulang kekediaman Emak untuk bertemu dengan Tia dan Uli.


Emak sangat baik menyambut kedatangan Abdi dan menerima baik niat baik putra sang jenderal.


"Kapan rencananya?" tanya Emak spontan.


"Besok Mak," jelas Abdi gentle.


Emak tersenyum lega, "akhirnya putri saya ada yang ngelamar," kekehnya mencubit putri satu satunya.


Deny merasa tidak percaya dengan apa yang dia rasakan saat itu, karena sudah bertahun-tahun lamanya tidak pernah bertemu dengan Abdi akhirnya mereka menikah.


🌹🌹


Abdi dan Tio saling bercerita sepanjang perjalanan saat terlah selesai mengambil semua kebutuhannya di Setiabudi, mereka saling mengingat masa remaja saat sekolah. Tio baru menyadari bahwa Abdi dan Deny adalah kekasih masa remaja.


"Ternyata Aa memiliki kisah sama Deny? saya pikir Aa nggak kenal sama keluarga mereka," kekeh Tio menggoda Abang ipar.


"Ehmm, saya juga baru menyadari dia cinta pertama dan terakhir dalam hidup. Selama ini saya sangat sulit bertemu wanita. Apalagi menjalani hubungan serius, karena dalam benak saya hanya Deny," jujur Abdi.


Tio mengangguk mengerti, "ternyata dunia ini sempit yah Aa, saya justru pernah jatuh hati dilarang oleh Ambu. Alasan selalu tentang pernikahan," rungutnya.


Abdi tersenyum menikmati keindahan malam Kota Bandung.


"Tia kenapa? kok bisa gagal fokus?" tanya Abdi memecah keheningan mereka.


"Hmmmm kami sama sama mengajukan cuti, tapi ditolak karena Tia akan berangkat minggu depan ke Timur Tengah. Tia marah sama Uli. Jadi kami ketemu, makan, pas saat saya antar Tia latihan ternyata dia sudah di rumah sakit. Menurut Uli lapor ke Bapak karena kecelakaan sendiri. Gagal fokus Aa," cerita Tio jujur.


Abdi mendengus kesal, "Tia tuh kebiasaan, selalu maksa. Dia enggak pernah ngerti kondisi dirinya Mayor dan seorang sniper. Harus fokus dan kamu selaku suami beri ruang dan harus paham bahwa istri kamu seorang militer. Sabar, ikhlas, enggak bisa kalian ngatur. Karena sesuai janji, bahwa mengabdikan diri sebagai aparatur negara. Itu yang harus kamu pahami yah, jangan ikutin Tia, kamu harus tabah," nasehatnya.


"Iya Aa, ternyata my wife is a military dan itu berat banget," kekeh Tio.


"Ingat, Tia itu milik kamu dan negara!" tawa Abdi pecah.


"Kasih tahu juga sama Tia, jangan ikutin hati bahwa cuti akan terus dia dapatkan. Orang dia sangat dibutuhkan, sniper elite tuh masih sedikit. Tia itu sangat cerdas, makanya dia berjuang sendiri saat masuk AD dan perjuangannya tidak mudah," jelas Abdi kasih pengertian.


Tio kaget, "bukannya karena Bapak, Aa? tanyanya.


Abdi tertawa, "Bapak memang membantu, tapi hanya memantau. Jika nggak berprestasi mana bisa kita keterima. Awal saya juga begitu, berfikir bahwa dibantu kapan saja sama beliau, ternyata pikiran saya salah. Bapak justru nggak mau nolongin kita walau anak," jelasnya.


Tio mengangguk mengerti, ternyata walau keluarga Jendral tidak semua bisa mereka bayar dengan kekuasaan.


"Lagian saat kami masuk angkatan Bapak belum Jendral, masih biasa saja," jelas Abdi.


Mereka tertawa, ternyata Keluarga Atmaja sangat bersahabat. Awal Tio berfikir keluarga Atmaja adalah orang yang tidak peduli. Ternyata salah memiliki pemikiran sendiri.


Tio memarkirkan mobilnya di perkarangan kediaman mertuanya, mengambil beberapa perlengkapannya dibantu oleh Abdi.


"Sepertinya Deny sudah tidur Aa," bisik Tio saat mereka masuk kekamar Tia.


Terlihat dua wanita cantik itu telah terlelap saling mendekap.


"Saya gendong saja," ucap Abdi meraih tubuh wanita yang sudah resmi menjadi istrinya.


"Hmmmm cantik sekali kamu Den," batin Abdi membawa istrinya menuju kamar pribadi yang bersebelahan dengan kamar Tia.


Tio menutup pintu kamarnya, mendekati Tia mengusap lembut wajah cantik istrinya.


"Walau kita pernah mengatakan tidak ingin bersama, akhirnya kita bisa melewati masa sulit itu Neng," bisik Tio mengecup kening dan mengusap luka dibahu Tia.


To be co n ti nue...


Mohon dukungan Like dan Vote pada karya ku, jangan lupa comment yah...πŸ™


Khamsiah.... Hatur nuhun....πŸ€—πŸ”₯