My Wife Is A Military

My Wife Is A Military
Saya hamil ?



Suasana sejuk rumah sakit yang sangat dingin dan damai disalah satu kota kecil di Swiss, memberi ketenangan bagi Mutia saat ini dalam tidur panjangnya. Ya, Cut Mutia Atmaja berada dalam pengawasan militer Negara Swiss yang diperbantukan untuk daerah konflik Timur Tengah kala itu.


Gibran membawa Lovely atas saran Donald sahabatnya sekaligus dokter terbaik yang menangani Mutia.


"Daddy, siapa wanita ini? apakah dia ibuku?" tanya Lovely pada Gibran.


Gibran tersenyum tipis, "tidak sayang, dia wanita yang terluka saat dimedan perang. Sama seperti ibumu. Yang meninggal akibat peluru nyasar saat melahirkanmu," jelasnya mencium puncak kepala Lovely.


"Hmmm, dia cantik Dad, aku sangat ingin bercerita dengannya jika sudah siuman," jelas Lovely mencium punggung tangan Mutia yang hangat.


"Aunty, wake up, look at me," ucap Lovely lembut.


Lovely gadis kecil berusia sembilan tahun yang bersekolah di salah satu sekolah militer didaerahnya, karena kedua orang tua adalah militer. Ibunya Javana militer wanita yang diperbantukan untuk daerah rawan dengan kriminal, sementara Gibran militer untuk sniper daerah konflik seperti saat ini.


Javana meninggal dunia saat melahirkan Lovely. Dia terkena peluru nyasar dari seorang mafia, tanpa disengaja sembilan tahun lalu, menyebabkan Gibran harus kehilangan Javana untuk selamanya.


Saat melihat Mutia Atmaja, Gibran sangat tersentuh apalagi setelah mengetahui, wanita itu tengah mengandung. Gibran sangat senang saat Donald menyatakan Mutia baik baik saja, bahkan meminta Lovely untuk ikut merawat wanita berpangkat Mayor cantik itu.


"Dad, tangannya bergerak," bisik Lovely pada Gibran saat ada reaksi dari Mutia.


"Wake up Aunty, aku disini," bisik Lovely lembut ditelinga Mutia.


Benar saja, tangan yang kaku itu bergerak, erangan Tia terdengar jelas ditelinga Lovely.


"Dad, dia bergerak. Wanita ini akan melihat aku," senang Lovely terus memberikan reaksi pada Mutia.


"Aa," bisik Tia saat membuka matanya perlahan.


Gibran mendekati Tia, menatap wajah cantik wanita dewasa Asia yang sudah dua bulan lebih mengalami koma.


"Aunty," bisik Lovely menatap lekat wajah cantik Tia.


"Hmmmm, Aa mana? Ibu? Bapak? Aa, Aa," ucapnya dengan air mata mengalir dari sudut mata indahnya.


Gibran bergegas memanggil Donald, agar memeriksa keadaan Tia segera. Wanita itu terus mengerang memanggil nama keluarganya satu per satu.


"Dad, apakah dia tidak mengenal kita?" tanya Lovely mundur saat Donald memeriksa keadaan Tia.


Dokter Donald, menatap Tia yang tengah berusaha mencari seseorang yang dia kenal, wajah sedikit takut itu terlihat sangat alami tanpa polesan make up diwajahnya.


"Emmm, dimana saya? apakah kalian menyandra kemudian meminta tebusan pada keluarga saya?" tanya Tia menarik jas putih bersih milik Donald dengan sangat keras.


Donald sedikit kaget melihat Tia agak kasar padanya, "tenang Nyonya, kami berusaha menyelamatkan anda dan janin yang sedang tumbuh dirahim anda saat ini," jawabnya tenang.


Tia mengusap lembut perutnya yang membuncit, melihat luka yang sudah terbuka, hanya ditutupi plaster bening.


"Saya hamil?" tanya Tia menangis bahagia.


"Dimana saya? mana keluarga saya? tolong carikan suami saya! dia pasti frustasi kehilangan saya. Ini anak kami, buah cinta kami. Please, bantu aku. Kembalikan aku ke negara ku Indonesia," isak Tia masih meremas jas putih milik Donald.


Air mata Mutia tidak dapat dibendung, sehingga Lovely dan Gibran enggan untuk mendekat karena wanita itu benar benar menangis kencang dalam dekapan Dokter Donald.


"Dad, apakah dia stres?" tanya Lovely sedikit bingung.


Gibran tersenyum tipis, melihat kearah Tia yang benar benar shoock atas apa yang dia alami saat ini.


"Berapa bulan kehamilan ku dokter?" tanya Mutia pada Donald saat melepas dekapannya.


"Kamu mau berkenalan dengan wanita ini girl?" tanya Donald pada Lovely.


Lovely tersenyum sumringah, "ya, saya ingin berkenalan dengannya," senyumnya kearah Mutia.


Mutia Atmaja tersontak kaget, melihat gadis kecil cantik berdiri dihadapannya dengan wajah bahagia. Rambut blonde kriwil, kulit putih bersih, iris mata biru sama seperti Gibran. Wajah tampannya yang lebih mirip pesepakbola David Beckham itu membuat Mutia menunduk sopan.


"Haii," sapa Mutia melambaikan tangan, kearah Lovely setelah Dokter Donald membantunya untuk duduk.


Lovely mendekati Mutia, "haii Aunty, siapa namamu?" tanyanya ramah mengulurkan tangannya.


"Hmmm, saya Cut Mutia Atmaja. Panggil saja Tia atau Mutia. Kamu siapa?" jawab Tia ramah, melirik kearah Gibran.


"Saya Lovely, putri dari Daddy Gibran," jelasnya menarik tangan ayahnya agar mendekati mereka.


Gibran menyapa Tia sedikit gugup, "haaii!" ucapnya gugup.


Tia melirik kearah Lovely, "bisakah tinggalkan saya dengan ayah mu? ada sesuatu yang mesti Aunty bahas dengan beliau," usap Mutia pada kepala Lovely.


"Mumpung aku masih mengingat semua kejadian ini," batin Mutia.


Lovely melirik kearah Gibran dan Donald, mereka mengangguk setuju untuk meninggalkan Tia dan Gibran di kamar rumah sakit.


"Dad, jangan nakal. Aunty masih sakit," goda Lovely pada Gibran menggandeng tangan Donald.


Gibran menyatukan jempol dan telunjuknya, menatap Lovely dan Donald dengan sebelah mata.


Mata Tia mengarah kearah pintu kamar yang tertutup secara perlahan. Sedikit melirik kearah Gibran meminta penjelasan, kenapa dia bisa berada di rumah sakit dalam kondisi hamil.


"Ehemm," Tia melirik penuh tanda tanya dalam kepalanya.


Gibran mendekati Tia, agar lebih dekat dan tenang dengan wanita yang masih menatapnya sinis.


"Bisa jelaskan saya dimana? kenapa saya mesti berada dirumah sakit ini? apakah kalian menculik saya saat kejadian malam itu?" tanya Tia penuh selidik.


Gibran sedikit kaget mendengar ucapan Mutia, "maaf, saya mendapati anda sudah berlumuran darah dan kami akan membawa anda kerumah sakit tentara internasional di Turki, tapi kita kesulitan untuk mendaratkan helikopter disana Nyonya, karena efek cuaca. Dua bulan anda terbaring lemah dalam kondisi koma. Anda di operasi oleh Dokter Donald, syukurnya saat ini anda sudah siuman. Kita berada di Swiss, karena saya adalah tentara yang diperbantukan untuk daerah konflik," jelasnya panjang lebar.


"Saya juga sudah mengirim pesan ke negara anda, tapi belum ada jawaban. Saya harap kami segera menemukan keluarga anda secepatnya, agar dapat menyambut kelahiran buah hati anda Nyonya," tambah Gibran menatap lekat wajah cantik Mayor Mutia.


Mutia mendengus kesal, "kan semua kedutaan dapat menemukan keberadaan saya disini, saya seorang pasukan elite dari Indonesia. Pasti mereka tengah sibuk mencari keberadaan saya saat ini," rungutnya.


Gibran tersenyum tipis, "apakah anda menyangka saya telah berbuat jahat pada anda? kami menolong anda karena kemanusiaan Nyonya, anda harus dibawa ke sini. Mungkin jika kami biarkan dilapangan, anda tidak tertolong lagi," jelasnya membantu Mutia meraih gelas minum yang ada dinakas.


"Tapi bagaimana mungkin saya bisa berada disini? ini kan sangat jauh dari keberadaan kita saat itu. Siapa anda? apakah anda team medis?" tanya Mutia penasaran.


Gibran membantu Mutia memegangi gelas, dengan sangat hati hati.


"Tenang saja, kami disini sebagai team penyelamat dan belum mendapatkan jawaban dari Angkatan Darat Indonesia. Kami masih menunggu jawaban mereka. Semoga secepatnya anda bisa bertemu dengan keluarga tercinta," jelas Gibran.


Mutia mengangguk mengerti, saat ini dia harus segera pulih dan keluar dari rumah sakit, mencari semua berkas yang tersisa.


Semoga saja,🤧


To be co n ti nue...