My Wife Is A Military

My Wife Is A Military
Akan kehilangan...



Suasana kota Bandung yang sangat dingin, terdengar suara rintikan air hujan membasahi kota lautan api, yang telah mempertemukannya dengan istri tercinta Cut Mutia Atmaja.


Tio tengah duduk diruang makan kediaman Atmaja menanti hujan reda untuk melakukan kegiatannya sebagai seorang perawat.


"Nak Tio, hari ini kita ada pertemuan dengan pihak Swiss, mereka dapat jawaban tentang keberadaan Tia. Masih dalam pencarian, karena kondisinya kritis saat itu," Nancy menjelaskan pada Tio.


Tio seketika bersemangat, mata indahnya memerah, sangat merindukan sosok Tia istrinya, "apa kita akan bertemu disini, atau di Jakarta, Bu?" tanyanya antusias.


"Mereka yang kesini," jelas Nancy lagi.


Wajah sendunya berubah seketika menjadi bahagia, ada setitik harapan untuk perawat seperti Tio untuk segera bertemu dengan sang istri.


"Ya Bu, selesai dari rumah sakit saya susul ibu dan bapak. Jam berapa yah, pertemuan kita?" Tio semakin penasaran.


"Kemungkinan pukul 11.00, mudah mudahan ada keajaiban dan kita dapat menemukan keberadaan Mutia secepatnya. Ibu sangat khawatir, setiap malam mendoakan keselamatan untuk Tia dan Abdi. Semoga kita tidak diberi harapan palsu oleh mereka," Nancy mengembangkan senyuman kesedihan.


Tio memeluk mertua terbaiknya, bagaimana tidak, selama dia menunggu kabar Tia, Nancy dan Aditya selalu berusaha menghibur menantunya agar terus berharap pada Allah. Hanya kekuasaan-Nya dapat mengembalikan Mutia putri kesayangan dan istri tercinta seorang Bambang Sulistio.


Tio berpamitan, mencium punggung tangan mertua terbaik, "saya berangkat yah Bu, nanti ibu telfon saja, jika mereka sudah ada disana," pintanya penuh kelembutan.


Nancy mengusap lembut punggung menantu, "sabar yah," senyumnya.


Tio berlalu, menggunakan mobil pribadi miliknya, dengan wajah sedikit ceria.


"Neng, Aa kangen banget. Semoga kita bisa dipertemukan kembali dalam keadaan sehat dan tidak berkurang satu apapun," harapan Tio.


.


πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯


Disudut ruangan rumah sakit yang penuh kesejukan, Tia tengah duduk dipinggir ranjang ditemani oleh Lovely. Gadis kecil yang menggemaskan itu tengah termenung melihat keanggunan Tia dengan penuh semangat.


"Aunty, apakah kehamilanmu dapat menggangu?" tanya Lovely ingin tahu.


Tia mendekati Lovely yang tengah duduk disofa, "tentu tidak dong sayang, wanita itu sangat special diciptakan Tuhan, mengandung, melahirkan dan memiliki anak," dia mengusap kepala Lovely dengan penuh kasih sayang.


"Aunty akan tidur bersama ku, kata Daddy. Oma juga akan sangat senang, ada tamu seperti Aunty dikediaman kami. Sebentar lagi juga Daddy akan menjemput kita," senyumnya memeluk tubuh Mutia.


Tia membalas pelukan Lovely dengan tersenyum, menatap wajah cantik putri kesayangan Gibran yang selalu setia menemani hari harinya.


"Kamu sudah makan?" Tia mengusap lembut punggung Lovely.


Gadis kecil berusia sembilan tahun itu mengangguk senang, bagaimana tidak, dia sangat menyukai Mutia dan berharap wanita yang tengah mengandung itu menjadi ibu sambungnya.


Bagaimana mungkin? status Mutia yang masih sah menjadi istri seorang perawat Bambang Sulistio di rumah sakit militer, akan menjadi ibu sambung Lovely, impossible.


Cekreeek,


Gibran masuk tanpa menggedor pintu terlebih dahulu. Dia menghampiri Mutia dengan tas kecil milik Lovely untuk diberikan pada wanita dewasa yang kini ada dihadapannya.


"Ini semua barangmu, aku tidak memeriksanya, aku hanya melihat foto suamimu," Gibran tersenyum kearah Lovely.


Gibran mengangguk, menatap Mutia yang masih duduk dihadapannya tanpa mau membalas tatapan pria tampan nan tegap.


"Terimakasih, apakah disini ada senjata ku?" Tia masih enggan untuk memeriksa.


Pria dewasa itu hanya tersenyum tipis, menggendong tubuh mungil putrinya untuk duduk dipinggir ranjang rumah sakit.


"Aku sudah mengurus kepulanganmu. Hari ini team militer Swiss sudah berangkat ke kotamu Bandung. Semoga keluargamu cepat mengurus kepulangan anda Nyonya," jelas Gibran memandang wajah Tia.


Tia menatap mata Gibran, tentu menjadi sebuah berita bagus untuknya, mendengar dia akan segera berkumpul dengan keluarga tercinta, apalagi suaminya Tio.


"Terimakasih. Oya, apakah handphone ku ada disini?" Tia mencoba membuka tas kecil itu dengan sangat hati-hati.


Terdengar suara tangis Lovely memeluk Gibran, "apakah aku akan kehilangan Aunty, dad?"


Mutia menatap lekat kearah Lovely, "ooogh girl, sory. Aku masih ingin bersama mu, bukankah kita akan membantu Oma mencari bunga? dan kita akan menjadi partner yang baik, Aunty masih disini sayang," dia berdiri mendekati Lovely yang masih mendekap erat tubuh Gibran.


Lovely tersenyum, melirik kearah Gibran. Pria tampan itu mengangguk meyakinkan hati putri cantiknya.


Perlahan Lovely mengalihkan pelukan ketubuh Tia. Entahlah, begitu mendalam chemistry keduanya. Membuat Gibran sedikit bingung, bagaimana jika Mutia pulang ke Indonesia.


"Baby, kamu jangan begini, Aunty lagi hamil. Nanti baby Aunty kenapa napa," Gibran menyentuh bahu Lovely.


"Nggak apa apa, bagaimana? kita jalan sekarang," Tia masih memeluk Lovely meraih tas kecil yang tidak begitu jauh darinya.


Mereka bergegas meninggalkan kamar rumah sakit, Donald memberikan beberapa dokumen penting tentang riwayat Mutia selama dalam pengawasannya.


"Semoga kamu dan baby dalam kandungan selalu sehat Nyonya. Jika ada apa apa, hubungi saya lewat Gibran," jelas Donald.


Tia mengangguk, masih merangkul Lovely yang enggan melepaskan pelukan dari Mayor cantik yang dia anggap ibunya.


"Hai honey," sapa seorang wanita tinggi semampai dan sangat menarik.


Mata indah berwarna hijau, rambut blonde berkilau dengan ikatan sangat menarik perhatian Mutia.


Mutia melirik kearah Gibran, "who?" senyumnya.


"Haii," sapa Gibran dingin.


Lonely kembali melirik kearah Tia dan Lovely, "hai kembaran Aunty, kamu mau kemana? apakah kamu tidak ingin kita makan ice cream seperti kemaren?" wanita cantik itu membungkuk, menopang tubuhnya menggunakan lutut menatap lekat mata malaikat kecil Gibran.


Lovely menarik nafas dalam, mendongakan kepala melihat Tia, "kita jalan," berlalu menarik jemari tangan ibu angkatnya.


Gibran yang mengetahui bagaimana putrinya, lebih memilih meninggalkan Lonely dalam keadaan kesal.


"Gibran, Gibran, Gibraaaaan," tapi tidak diacuhkan oleh mereka.


"Hmmmm,"


To be co n ti nue