
Gaun putih berbahan dasar sutra sangat pas ditubuh Mutia. Beberapa kali Gibran menahan salivanya, karena sulit untuk menelan ludah sendiri. Kekagumannya pada gadis berwajah Indo itu sangat memukau perhatian beberapa bulan bersama.
"Hmmm, maaf. Apa kau merasa nyaman bersama kami disini?" Gibran tersenyum kearah Mutia.
Mutia mengangguk, "ya, Lovely sangat baik padaku dan sangat menyenangkan. Apa kau keberatan dengan keberadaanku?"
Gibran menggeleng, "jika aku keberatan, mungkin aku akan meletakkanmu di barak militer yang tidak begitu jauh dari sini. Oya, mungkin lusa, kita akan kekantor. Menurut mereka Keluarga Atmaja akan menjemputmu."
Mutia tampak tersenyum bahagia, "serius?"
Gibran mengangguk, meyakinkan bahwa keluarga Mutia akan membawanya kembali ke negara asalnya.
"Jika aku kembali, bagaimana dengan Lovely. Apa dia akan kembali menjadi gadis kecil yang murung?" Tia mendekati Gibran yang masih berdiri dihadapannya.
Gibran tertunduk lemas, dia duduk dipinggir ranjang, mengusap wajah tampannya sedikit kasar, "aku sudah memperingatkan Lovely agar tidak terlalu dekat denganmu, tapi hatinya tidak bisa menolak rasa bahagianya saat bersama mu. Dia memang membutuhkan sosok seorang ibu sepertimu Mutia."
Mutia memilih duduk disamping Gibran, menatap kearah yang sama, "aku akan meminta pada suamiku untuk tetap disini hingga melahirkan, jika dia datang menjemput ku. Aku nyaman bersamamu."
Gibran yang mendengar pernyataan wanita yang dia kagumi sedikit kaget, ada rasa penasaran didalam hatinya, "maaf, apa kau dari keluarga broken?"
Mutia melirik kearah Gibran, "apa aku tampak seperti wanita broken?"
Gibran menggelengkan kepalanya, "aku lihat kau seperti wanita baik baik dan sangat pintar. Apakah kau seorang pasukan elite pilihan. Aku membaca profile mu dipemberitaan kabar kehilangan dirimu beberapa waktu lalu, sangat menakjubkan. Beberapa jenderal turut mendoakan mu."
Mutia mengangguk, "aku anak jenderal bintang satu. Suami ku hanya seorang perawat dirumah sakit kami. Dia laki laki yang baik, kami menikah karena perjodohan. Jujur aku tidak pernah merasakan kenyamanan seperti ini. Mungkin karena aku terlalu lama jauh darinya, hingga sedikit kehilangan feeling, tapi aku tahu, aku adalah seorang istri yang harus menjaga nama baik suamiku. Terimakasih kau mau menolong ku."
Gibran tersenyum tipis, "apakah suamimu akan ikut menjemputmu disini, bagaimana jika dia cemburu pada ku?"
"Hmmm, aku rasa dia harus berterima kasih padamu, karena telah memberi tempat tinggal yang layak pada istri dan calon anak kami. Sekali lagi terimakasih, aku menyukainya," Mutia tersenyum bahagia.
Gibran mengulurkan tangannya pada Mutia, "terimakasih kau telah bersedia menjadi sahabat yang baik untuk putriku dan kau juga bersedia menjadi sahabat ku."
Mutia mengangguk, menyambut baik tangan Gibran. Mereka saling bercerita tentang kisah kebersamaan bersama pasangan masing-masing. Begitu banyak kisah keduanya, hingga mereka melewatkan makan malam bersama keluarga Stuard.
Lovely sangat penasaran apa yang dilakukan Gibran dan Mutia dikamarnya, hingga melupakan makan malam bersama.
"Daddy, apa kalian lakukan. Kenapa Daddy tidak membawa Aunty makan, nanti baby didalam perutnya kelaparan," Lovely sedikit berteriak pada Gibran.
Gibran menyambut putri cantiknya, "kami hanya bercerita, hingga sedikit melupakan makan malam kita. Kamu sudah makan, mau ikut makan bersama?"
Lovely mengangguk, menggandeng manja tangan Tia dan Gibran menuju ruang makan, "aku seperti melihat Momy pada Aunty."
Mutia hanya bisa tersenyum manis, mendengar celotehan Lovely yang sangat menggemaskan telinga.
"Oma, Aunty sudah disini," Lovely memanggil Bian yang tengah berada di dapur.
"Ya," Bian bergegas menghilangkan daging sapi panggang terbaik yang dimakan menggunakan sambal buatan ibu Gibran.
"Hmmmm, ini menggugah selera," Mutia tersenyum bahagia menatap Bian yang juga menatapnya.
Bian memberikan sambal hasil ulekannya dan beberapa kentang goreng. Menyiramkan saos khusus keatas daging panggang dengan lelehan yang sangat sempurna.
Bagaimana tidak, dia disambut dengan pelayanan yang sangat baik dan penuh kasih sayang. Ada perbedaan antara perlakuan keluarga Gibran dan keluarga Tio padanya. Perhatian yang diberikan Gibran, mampu meluluhkan hati dan perasaan Mutia yang gampang jatuh hati jika perlakuan pria itu sangat berbeda padanya.
Mutia menikmati hidangan makan malam, dengan sangat nikmat. Sesekali dia menyuapkan Lovely yang tidak berhenti menggoda agar mau menjadi ibu angkatnya.
Saat makan malam berakhir, Bian memberikan air jahe hangat pada Mutia, "bawa ini kekamarmu, untuk menghangatkan tubuh dan janin dalam kandungan."
Mutia tersenyum tipis, menatap kearah Gibran dengan perasaan sungkan. Perhatian sederhana yang tidak pernah dia dapatkan dari Evi mertuanya.
"Terimakasih, Ma. Kalian begitu baik padaku," Mutia memeluk Bian dihadapan Gibran dan Lovely.
"Ya, jika sedang hamil, kita harus bisa menjaga kesehatan dan stamina. Ingat, didalam tubuhmu ada nyawa yang sedang dalam pertumbuhan dan kau harus menjaga kesehatan mu," Bian mengusap lembut punggung Mutia.
Mutia mengangguk, "sepetinya, lusa keluarga ku akan tiba disini."
Bian menatap Lovely, melepas pelukannya dari Mutia, memilih duduk disamping wanita militer itu, "apa secepat ini kau akan kembali kenegara mu?"
Mutia menunduk sedih, "sepertinya, karena aku memiliki tanggung jawab pada pekerjaan dan keluarga ku, Ma."
Seketika Lovely berlari kekamar menangis dan berteriak sendiri. Gibran langsung menyusul putri kecilnya, tanpa menghiraukan Mutia dan Bian.
"Love, Lovely," Gibran menghampiri putri kecilnya yang tengah menangis dikasur.
Hempasan kaki yang sangat mengiris pilu hati seorang Gibran saat melihat putri kecilnya harus kecewa.
"Love, kau harus mengerti. Dia bukan milik kita. Ada suaminya yang berharap, kenapa kita mesti melarang dia untuk kembali. Kita sudah menyelesaikan tugas selaku manusia yang baik. Daddy yakin akan ada wanita baik untuk kita baby," Gibran membujuk putrinya yang masih menangis.
"Apakah perhatian kita kurang Dad, sampai sampai dia tega pergi meninggalkan kita. Baru berapa hari aku bersamanya, kenapa kau urus semua legalitas kepulangannya, kenapa kau tidak menahan sampai anaknya lahir?" Lovely memeluk Gibran.
Gibran tersenyum sedih, mengusap lembut punggung putri kecilnya, "Aunty seorang militer baby, jika aku tidak mengurus kepulangan atau memberi kabar kepada negaranya, itu sama saja kita menculik dia. Apa kau mau aku masuk penjara hanya karena menyembunyikan seorang wanita militer dirumah kita?"
Lovely menangis kencang dipelukan Gibran, "kenapa Daddy tidak meminta keluarganya untuk menunda kedatangan mereka kenegara kita, apakah kalian orang dewasa sangat egois, tanpa mau memikirkan perasaan aku. Aku mencintai Aunty, Dad. Aku bahagia bersamanya."
Gibran dapat merasakan apa yang dirasakan Lovely, tapi menahan kepulangan Mutia, itu adalah satu kesalahan fatal, jika keluarganya mengetahui akan berdampak pada kariernya sebagai abdi negara.
Perlahan Mutia memasuki kamar, setelah mendengar curhatan ayah dan anak dari balik pintu. Dia mendekati Gibran, meminta agar mereka dibiarkan berdua.
Gibran melepas pelukannya, tersenyum kearah Tia, "terimakasih."
Mutia menutup pintu kamar pelan, setelah memastikan Gibran sudah berada diluar. Mata Tia menatap gadis cantik yang masih enggan membuka bantal dari wajahnya.
"Bisa kita bicara?" Mutia duduk pelan disamping Lovely.
Lovely meraih tubuh Tia, kembali menangis sejadi-jadinya, "jangan tinggalkan aku, aku berjanji akan menjadi anak yang baik."
Mutia hanya bisa menahan air mata dan nafasnya, "ooogh apa ini?"
Tobe continue