My Wife Is A Military

My Wife Is A Military
Kekhawatiran saat dinas..



Di kediaman Setiabudi, Tio dan Tia tengah sibuk membereskan rumah karena sudah hampir seminggu ditinggalkan pasca pemulihan Tia setelah peluru bersarang di bahu kanannya. Mereka berdua sibuk sebagai pasangan muda saling membutuhkan.


Tio menatap punggung istrinya yang tengah menyiapkan makan siang mereka. Ya, Tia sudah mulai ikut pelatihan untuk berangkat ke Timur Tengah, sesuai surat dinas selama enam bulan. Tidak terasa ada kekhawatiran dihati Tio dengan perjalanan dinas istrinya kali ini.


"Neng," panggil Tio mendekati istrinya yang tengah membuat sayur bening tahu sesuai permintaan suami tercinta.


"Hmmm, kenapa Aa?" tanya Tia saat tengah sibuk memotong motong bahan campuran sayur bening bayam tahu menu makan siang mereka.


Tio memeluk tubuh ramping Tia dengan penuh perasaan cinta, "minggu depan Neng sudah berangkat, kita akan terus sama sama kan?" tanyanya sedikit khawatir.


Tia terkekeh geli mendengar ucapan suaminya, merasa ada yang aneh pada perubahan sikap Tio akhir akhir ini.


"Ya iyalah, masak kita mau pisah selamanya. Neng tu istri Aa, sudah sah," jelas Tia meyakinkan.


Tio mengangguk, mencium leher belakang Tia mengikuti gerak gerik tubuh istrinya yang masih serius dengan dunia masaknya.


"Udah deh aaagh, berat! emang udah beres kerjaan Aa? kalau sudah, mandi. Tinggal dikit lagi, buat sambel, habis itu kita makan," kecup Tia pada pipi Tio.


Tio tersenyum, mencium kening Tia, berlalu menuju kamar mandi didalam kamar untuk melakukan ritualnya sebelum masuk waktu Zuhur.


Tia masih berkutat dengan masakannya, menghidangkan semua request Tio hari itu, menata dengan sangat baik diatas meja makan.


"Hmmm, apalagi yah?" bisik Tya dalam hati.


"Nggak ada, mandi dulu, habis itu makan bareng. Kali saja nanti suami ngajak ngedate ke mall," senyum Tia bergegas menuju kamar.


Tia melihat Tio tengah bersujud sangat lama, ada bentuk kekhawatiran diwajahnya, dengan keberangkatan Tia menuju daerah konflik. Entahlah, hanya Tuhan yang tahu kegundahan hati dan perasaan Tio saat ini.


Seperti biasa Tia membuka bajunya sebelum masuk kamar mandi, tentu menjadi pemandangan yang indah setiap hari bagi Tio, melihat tubuh istrinya yang sangat sempurna.


"Ya Allah, selamatkan istriku saat perjalanan dinasnya selama enam bulan disana," doa Tio dalam hati melihat Tia berlalu memasuki kamar mandi.


Lebih dari 20 menit Tia melakukan ritualnya, kemudian melanjutkan sholat wajib sebagai seorang hamba Allah.


Tio masih setia menunggu Tia duduk dipinggir ranjang, menatap teduh wajah cantik yang sangat bawel akhir akhir ini.


Tia membalik menatap Tio, "Aa kenapa disini? katanya mau makan laper, hayuuuk. Ntar dingin nggak enak lhoo," goda Tia.


Tio meraih tubuh Tia, memeluk erat perut langsing itu, mengusap lembut bagian tipis pusat istrinya, "semoga saja hamil, jadi nggak usah berangkat," bisiknya mencium perut wanita itu dengan wajah penuh cinta.


Tia tertawa, "makan dulu, sayang sayangan selesai makan," ejeknya mengusap kepala Tio.


"Emmm, serius yah? Aa pengen seharian ini kita dikamar aja tanpa busana. Aa pengen ngunjungin ini terus," tunjuk Tio manja pada bagian ehem Tia.


"Iiighs, mesum aaagh," kekeh Tia.


"Kita cari makanan ringan di supermarket deket sini aja. Naik motor nggak apa apa, Neng pengen jalan jalan sama Aa," jelas Tia memeluk lengan suaminya menuju ruang makan.


Tio mengangguk setuju, "habis itu Neng tunggangi Aa yah?" tawa keduanya pecah tanpa ada perasaan malu malu lagi ataupun jaim.


"Hmmm, nggak bosen apa Aa? dari tadi malam itu aja. Pegel tahu," rengek Tia manja.


Tio mengecup bibir istrinya, "nggak boleh ngeluh, toh kamu juga mau," bisiknya.


Tia menantang Tio, "mau makan nasi sekarang atau makan aku?" kekehnya menggoda suami tercinta.


Mereka makan siang bersama dengan penuh kehangatan dan lebih mesra dari biasanya. Sungguh menyenangkan, bagi keduanya, sudah mampu mengerti satu dan yang lainnya, sehingga dapat saling mengisi kekurangan masing masing.


Tio menepati janjinya membawa Tia ke supermarket deket rumah untuk membeli beberapa makanan ringan dan minuman sehat mengisi kulkas dirumah.


Tanpa sengaja mereka dipertemukan dengan Uli dan Beny yang baru pulang dari klinik deket rumah Tio untuk memeriksa kandungan Uli.


Ya, Uli sudah dinyatakan hamil dua bulan. Jadi dia dinyatakan tidak ikut dinas. Penggantinya adalah dari kesatuan Jakarta.


"Haaii, bagaimana hasilnya?" tanya Tia mengusap lembut perut sahabatnya.


"Hmmm, ya! bagus, tapi masih belum bisa makan banyak. Nggak tahu ngidamnya aneh aneh aja. Masak tengah malam gue minta rujak cingur asli dari Surabaya untuk dibawa kesini," cerita Uli dengan wajah terkekeh geli.


Tia malah teringat tempat dia makan rujak cingur saat mengantar Abdi dan Deny kerumah Emak di Kiara condong.


"Kalau nggak salah ada disekitar Jl. Aceh atau dimana gitu, mau Lo kita kesana? tapi gue kesini pakai motor," kekeh Tia merangkul Uli.


Uli menatap Tio, "hayuuuk atuh temenin gue, ntar ponakan kalian ences gimana?" rengeknya manja.


Tia menatap Tio menunggu jawaban setuju dari bibir tipis suaminya, "ya udah hayuk, tapi Aa antar motor dulu pulang, sama tarok belanjaan. Neng bareng Mba Uli dan Beny aja," jawabnya.


Uli tersenyum lega, melihat sahabatnya sangat peduli dengan kehamilannya saat ini.


"Terimakasih Aa Tio yang kasep, bager, rajin menabung untuk investasi masa depan," kekeh Uli menggoda suami sahabatnya.


Tia meraba bagian punggungnya, seperti biasa, dia selalu membawa sempi kesayangan untuk jaga jaga. Maklum, saat ini teror dan musuh dalam selimut sangat mengancam Keluarga Atmaja. Entah itu dari masa lalunya, atau masa lalu Aditya.


"Samperin kerumah saja yah? gue ambil tas dan ganti celana. Masak keluar pakai celana pendek, ntar dibilang anak SMA lagi," kekehnya disetujui oleh Uli dan Beny.


Tia dan Tio bergegas meninggalkan supermarket, membawa beberapa plastik besar yang berisi makanan ringan kesukaan mereka.


Beni dan Uli menunggu sahabatnya dimobil, melihat kekompakan mereka semakin sejuk saat memandangnya. Tidak ada saling cecar, kesal, marah marah, bahkan cuek terkesan mereka hanya sebatas teman.


Saat ini mereka tampak seperti pasangan paling romantis sepanjang masa. Saling berbicara penuh kelembutan, tatapan penuh cinta bahkan saling membutuhkan. Keindahan luar biasa yang diharapkan oleh pasangan yang sudah menikah.


"Tia, Lo berangkat bareng sama Angkatan Darat. Kayaknya Aa Abdi ikut, tapi gue masih dapat laporan masih samar samar dari Komandan Juan," jelas Uli.


"Hmmm, bagus deh, tiga hari gue latihan terus nih. Udah diatur jadwal sama Tina. Puyeng, fokus, wajib fokus, biar nggak terluka lagi," kenang Tia menatap wajah Tio penuh cinta.


"Hmmm, luka kemaren udah mulai kering, jangan sampai kenak benturan dulu, nanti bengkak lagi," jelas Tio pada Tia.


"Siap suami," hormat Tia mencium manja wajah tampan suaminya.


Uli dan Beny hanya saling lirik, "ternyata mereka bar bar yah sayang?" kekeh Beny.


"Bangeeeeet," jawab Uli geleng geleng kepala.


To be co n ti nue...


Mohon dukungan Like dan Vote pada karya ku, jangan lupa comment yah...πŸ™


Khamsiah.... Hatur nuhun....πŸ€—πŸ”₯