
Di rumah sakit Tia masih ditemani Aditya, Nancy dan Tio. Seperti biasa Aditya hanya memperhatikan gerak-gerik Tio yang sangat peduli pada Tia. Dari menyuapkan makan, hingga mengupas kan buah apel yang dibawa oleh Nancy. Mata mereka saling mengisyaratkan perasaan bahagia. Ada kebahagiaan sendiri bagi Nancy dan Aditya yang berhasil membuat anak menantunya saling mencintai.
"Neng pulang kerumah Bapak saja yah? jangan di Setiabudi, karena Nak Tio kan besok kerja," jelas Aditya.
Tia menatap Tio meminta persetujuan dari tatapan mata sang suami.
"Neng ikut Aa aja Pak," jelas Tia.
Aditya semakin bahagia mendengar perkataan putri tersayang mereka menatap lekat wajah Nancy istrinya.
"Aa, Neng udah bisa pulangkan?" tanya Tia.
"Hmmm nanti Aa tanya sama Dokter Ibra yah, semoga bisa pulang hari ini," ucap Tio.
Tia menerima suapan dari tangan suaminya penuh rasa bahagia.
Mereka menghabiskan waktu hingga pukul 20.00 waktu Bandung. Suasa hilir mudik pasien membuat Tia sedikit kurang nyaman.
"Aa, Neng mau pulang," rengek Tia.
Tio menatap kearah Aditya dan Nancy, meminta persetujuan dari mertua agar istrinya diperbolehkan pulang malam itu juga.
Saat mereka masih menunggu. Dokter Ibra masuk membawa beberapa obat dan perban untuk memeriksa bahu Tia. Sesekali dokter menatap ke arah Tio sambil memeriksa keadaan Tia pasca operasi.
"Udah boleh pulang yah Tio, istirahat di rumah saja! karena pasien lagi banyak, takut nggak bisa istirahat. Lain kali kalau latihan, fokus, jangan yah Neng," ucap Ibra pada Tio sambil menunduk kearah Aditya dan Nancy.
"Iya Dok, terimakasih. Semoga lain kali tidak gagal fokus," kekeh Tia.
Dokter Ibra meminta perawat untuk membantu Tia dengan kursi roda menuju parkiran mobil yang tidak begitu jauh. Bergegas Tio menggendong istrinya dengan penuh perasaan cinta.
"Aa, jatuh!" teriak Tia saat Tio menatapnya.
"I love you," ucap Tio pelan.
Wajah Tia memerah merona menunduk malu, saat Tio mengecup bibir basah istrinya dan meletakkan di jok penumpang.
Aditya dan Nancy melihat kemesraan anak menantu mereka dengan perasaan senang. Bergegas Jendral itu menuju kendaraannya. Mobil mereka melaju ke kediaman Aditya yang terletak di Lembang Bandung.
Sepanjang perjalanan menuju kediaman mereka, Tio sesekali melirik Tia karena masih merasa sakit. Saat tiba di lampu merah perempatan jalan, Tio mengambil tangan istrinya mencium punggung tangan itu.
"Kamu mikirin apa? sampe nggak konsentrasi latihan. Lain kali jangan begitu yah? bahaya buat keselamatan kamu sendiri," jelas Tio.
Tia mengangguk, hanya bisa tersenyum tipis menatap lekat wajah pria tampan disampingnya, "Neng mikirin Aa," jelasnya dengan kedua bola mata berkedip kedip.
Tio mengecup kepala Tia, masih fokus pada kemudi, untuk segera tiba di kediaman Keluarga Atmaja.
"Setelah ngantarin Neng, Aa pulang dulu yah? ambil baju dinas sama perlengkapan lainnya. Neng istirahat dulu," jelas Tio.
Tia mengangguk manja, menatap teduh laki laki yang kini dia cintai. Entahlah, beberapa hari ini dia merasakan sangat berbeda dengan kondisi sebelumnya. Rasa cinta awalnya belum bersemi, kini benar benar berkembang hingga masuk kedalam kalbu.
Mobil berhenti di depan kediaman Jenderal Aditya. Tio melepaskan seatbelt Tia, bergegas keluar dan menggendong tubuh langsing istrinya.
"Aa jatuh," Tia mengalungkan tangannya ke leher Tio.
"Pegangan, biar enggak jatuh," bisik Tio dengan mesra.
"Hmmm, Aa nakal. Neng nggak mau dimanja gini, ntar jadi kebiasaan," rengeknya memukul pelan dada Tio.
Tio menatap wajah cantik itu dengan sepenuh hati, membawa Tia masuk kedalam rumah, tapi Abdi dan Deny sudah duduk di ruang tamu dan menatap bahagian melihat pasangan romantis itu.
"Turun," teriak Tia sangat malu.
Tio enggan menurunkannya, malah mencium bibir tipis itu agar tidak berontak dihadapan keluarga.
"Hmmmmfgh," Tia tidak bisa menolak, dia justru larut dalam dekapan suaminya membalas ciuman dengan sangat lembut.
Deny dan Abdi saling berpandangan, merasakan ada atmosfer yang sangat berbeda bagi kedua pasangan bahagia itu, tanpa mau mengganggu mereka.
"Ternyata mereka malu malu tapi mau yah Bu," ucap Adtya berbisik dapat didengar oleh telinga Deny dan Abdi.
"Hmmmm pasangan suami istri kalau udah berdua, enggak ada yang mau melepaskan. Apalagi mereka nggak pernah pacaran, makanya jadi mudah buat kita. Oya Pak, Evi kemana? kok udah lama nggak nongol?" tanya Nancy sedikit penasaran.
Aditya menatap wajah Nancy, mengambil jemari lembut itu, Mambawa ke pahanya.
"Evi di Cianjur, lagi malas pulang ke Bandung. Biar nggak ketemu sama kita. Kemaren Bapak sudah mengirim beberapa kebutuhannya selama di Cianjur, transfer kayak biasa juga," ucap Adtya jujur.
Sheeeer,
Wajah Deny menatap Abdi sedikit penasaran, mendengar kalimat yang terlontar dari mertuanya.
"Apakah Jendral menikahi Ambu, Aa Tio?" batinnya sedikit penasaran.
Abdi tersenyum tipis mendengar ucapan Aditya, "udah Pak, jangan buat ibu merasa bersalah atau cemburu. Lagian itukan kewajiban bapak, sudah berjanji pada Abah Tio untuk bertanggung jawab pada Ambu," ucapnya.
Nancy tersenyum, dia tidak ingin mengingat semua kejadian dulu. Dia hanya memaafkan kejujuran Aditya.
"Hmmm, kamu nggak perlu khawatir, Bapak sudah cerita bagaiman hubungannya sama Evi. Bagi Ibu memang ada baiknya membantu janda, walau ibu sendiri nggak tahu perasaan Bapak sama Evi masih cinta apa enggak," kekehnya.
"Huuuuush kamu. Mana pernah Bapak mau seperti itu, saya panutan. Biasa yang mengantarkan kebutuhannya juga ajudan. Bukan saya. Nanti pikiran menantu baru kita malah bilang saya punya istri dua," jelas Aditya.
Deny yang penasaran, malah memberanikan diri untuk bertanya, "emang Ambu mantan Bapak?" tanyanya sedikit usil.
Nancy hanya tersenyum tipis, "cinta masa muda, karena perjodohan keluarga hubungan mereka nggak berhasil. Justru Bapak mengizinkan Abah menikah dengan Ambu, setelah kami menikah. Sama kejadiannya seperti Tio dan Tia. Nggak nyangka aja bisa jadi besan, karena tanggung jawab Bapak sama keluarga Nak Tio. Abah itu orang baik, Evi juga baik. Makanya dia memilih pergi meninggalkan Bandung kembali ke Cianjur, bagaimanapun jika sudah menikah pasti lebih intens bertemu dengan kita. Evi menghindari itu," jujur Nancy tenang.
"Makasih yah Bu, kamu sangat mengerti tanggung jawab saya. Bukan karena mau menikahinya, tapi Pak Bambang sudah sangat berjasa menyelamatkan nyawa Bapak saat dinas di daerah konflik,"
Deny mengangguk mengerti, sangat memahami bagaimana kondisi keluarga ini sebenarnya. Perjodohan yang tidak mudah diterima oleh keduanya saat ini bisa melihat, betapa bahagianya Tio dan Tia.
Cekreeek,
Tio keluar dari kamar setelah mengganti pakaian, berpamitan untuk pulang sebentar. Tentu Abdi sedikit penasaran dengan kejadian Tia tadi siang.
"Pak, Bu, saya pamit pulang sebentar, Tia udah tidur. Mau ambil baju dinas dan perlengkapan Tia yang lain," jelas Tio.
"Aku ikut bro, biar kamu ada temennya," kekeh Abdi berpamitan pada Deny.
Aditya mengangguk, "hmmm jangan larut banget pulangnya," tegas Aditya.
Nancy menatap Deny, "kamu temenin Tia dulu dikamar, biar ada temen ngobrol dia," pintanya.
"Hmmm iya Bu, Deny kekamar Tia yah? kali aja dia butuh sesuatu nanti. Lagian besok saya sudah dinas lagi karena permintaan Komandan Juan," jelasnya.
"Ya sudah, istirahat. Habis bulan madu harus jaga stamina," goda Nancy membuat wajah menantu barunya memerah.
Abdi mencium kening Deny, Tio mengizinkan Deny untuk menemani istrinya.
"Kalau Tia haus tadi saya udah tarok minum di nakas, nanti bantu saja. Luka tembaknya masih basah dan memar, besok ganti perban," jelas Tio.
Deny mengangguk mengerti, berlalu menuju kamar sahabat sekaligus adik iparnya.
Sementara Tio dan Abdi berlalu meninggalkan kediaman Aditya.
Jendral dan istri hanya tersenyum lega melihat menantu dan anaknya bisa dekat tanpa ada rasa canggung.
Seharusnya memang seperti ini, π
To be co n ti nue...
Mohon dukungan Like dan Vote pada karya ku, jangan lupa comment yah...π
Khamsiah.... Hatur nuhun....π€π₯