
Cuaca kota Jakarta sangatlah cerah, secerah hati Aditya dan Nancy yang tengah menghabiskan waktu berolahraga bersama. Dua insan sejoli Romeo and Juliet dari kesatuan angkatan darat yang berpangkat Jenderal bintang satu, menjadi panutan untuk para pasangan lainnya.
Aditya merasakan getaran handphone dengan deringan sedikit memekakkan telinga, harus mendapat kabar dari Komandan Jenderal bintang dua Prakasa Atmodjo.
Mata Aditya dan Nancy bertatapan, Nancy tersenyum memberi isyarat agar suaminya menerima panggilan dari sang komandan.
π"Siap Jenderal," ucap Aditya hormat kemudian mengucap salam.
π"Bisa keruangan saya? ada berita dari Timur Tengah, ini menyangkut Cut Mutia, putrimu," ucap Prakasa tegas.
π"Siap Jenderal, saya segera kesana," Aditya menutup telfonnya, meremas kuat tangan Nancy yang ada dalam genggaman.
Wajah Nancy berubah seketika, merasakan sesuatu yang tidak beres dari raut wajah suaminya.
"Ada apa, Pak?" tanya Nancy penasaran.
Aditya menelan salivanya, keringat dingin membasahi kepalanya yang tiba tiba terasa panas, tubuh kekar itu lunglai karena ini menyangkut putrinya Mayor Cut Mutia Atmaja.
"Mutia. Kita kembali ke kantor sekarang," ucapnya, menggandeng tangan Nancy menuju kendaraan yang sudah dinanti oleh ajudan pribadi.
Sheeeer,
Wajah Nancy semakin panik, merasakan kepedihan yang sangat mengiris hati. Sebagai seorang Ibu, pasti Nancy belum siap harus mendengar putrinya kembali terluka, apalagi kehilangan dalam waktu yang singkat.
"Kenapa Tia, Pak? baru tiga minggu Tia dan Abdi meninggalkan kita, sudah mendapat berita yang membuat Ibu takut, Pak," tangis Nancy tak dapat dibendung.
Aditya merangkul bahu Nancy, "tenanglah, semua akan baik baik saja. Kamu jangan berfikir buruk dulu yah? kita ketemu Jenderal Prakasa dulu.
Mereka berlalu meninggalkan lapangan olahraga menuju kantor Prakasa.
Nancy masih menangis, dia takut kehilangan Tia putrinya. Wanita yang keras namun tegas, memilih menjadi abdi negara diusia sangat muda. Berprestasi dalam menjadi team elite setelah menyelesaikan kuliah disalah satu Universitas swasta di Jakarta jurusan psikologi.
"Ya Allah, selamatkan anakku, aku mohon lindungi dia," doa Nancy dalam hati dengan deraian air mata.
Jemari lentik nan bersih itu, masih menggenggam tangan suaminya Aditya. Orang yang sangat berjasa dalam mendidik kedua anak mereka ditengah kesibukannya.
"Pak, Ibu belum siap mendengar semua berita yang menyedihkan," isaknya dipelukan suami tercinta.
"Tenanglah, Mutia akan baik baik saja. Ibu tenang yah, telepon Nak Tio, agar menyusul kita ke Jakarta. Bawa Mang Asep buat supir," perintah Aditya.
Mobil dinas Fortuner berwarna hitam terparkir didepan pintu kantor Jenderal Prakasa. Beberapa pasukan elite sudah berdiri menyambut kehadiran Aditya bersama Nancy.
"Siap Ndan," hormat pasukan elite saat Aditya melewati mereka.
Aditya hanya bisa berdoa dalam hati, menggenggam erat jemari Nancy, apapun yang dia dengar, dia harus siap dan kuat.
Nancy memilih menghindar dari Aditya untuk beberapa saat, agar bisa memberi kabar pada Tio suami Tia.
"Selamat pagi Komandan," hormat Aditya pada Prakasa.
Prakasa menyambut Aditya dengan perasaan tenang.
"Duduklah Mas. Kita ngobrol santai saja. Mana Nyonya? bukankah tadi beliau ada bersama, Mas?" tanya Prakasa mencoba menenangkan Aditya yang tampak panik.
Aditya mengangguk, dia menuju sofa mengikuti perintah Prakasa, "kebetulan memberi kabar pada Nak Bambang suami Mutia, takut nanti dia menerima kabar simpang siur," jelasnya.
Prakasa mengangguk mengerti.
"Team elite gabungan 6845 mengalami serangan dini hari tadi. Beberapa orang prajurit kita mengalami luka serius, Mayor Tri, Mayor Dian dan Mayor Mutia," ucap Prakasa sangat tenang.
"Mayor Mutia dibantu dan dibawa ke rumah sakit tentara internasional, saat ini tengah dilakukan tindakan operasi, Putri Mas, mengalami luka tembak dan saat ini masih dalam keadaan koma. Kita sudah mengirim team medis dan pasukan elite lainnya untuk menggantikan pasukan yang terluka," jelas Prakasa.
Nancy yang mendengar kabar putrinya mengalami koma, tumbang seketika. Tubuh yang selalu kuat dalam menghadapi semua tantangan selama ini, tiba tiba tidak berdaya.
Bhuuuug,
"Ibu, Ibu," sambut tentara muda yang berdiri didepan pintu ruangan Prakasa sangat sigap.
Tentara muda yang bernama Toni, bergegas membawa Nancy masuk kedalam ruangan Prakasa.
"Panggil medis segera!" perintah Prakasa tegas.
Sementara diruangan Prakasa, Aditya mengusap lembut kepala Nancy.
"Bu, bangun. Mutia hanya koma, tidak apa apa, kita pasrahkan sama Allah yah," bisik Aditya menenangkan Nancy.
Beberapa orang tenaga medis membawa minyak angin dan segelas air, untuk istri sang jenderal.
Aditya mundur karena diminta Prakasa, mereka mengamati keadaan Nancy dari jarak dua meter agar tidak terlalu jauh.
"Ibu," panggil seorang petugas medis wanita.
"Hmmm, Mutia," erang Nancy dialam bawah sadarnya.
Petugas medis bernama Rina masih memanggil Nancy agar segera siuman, "Ibu," sapanya.
Perlahan Nancy membuka mata, melihat beberapa orang berada disekitarnya, "Mas Adit, putri kita," isaknya pecah.
Tenaga medis membiarkan Jenderal Aditya mendekati Nancy, memberi ruang pada kedua orang tua Mutia untuk saling menguatkan setelah mendengar kabar duka tentang putri mereka.
"Mas disini," peluk Aditya pada tubuh Nancy yang masih lemah.
"Tolong bawakan beberapa sarapan untuk Nyonya Aditya dan saya yah," bisik Prakasa pada petugas medis.
"Siap Ndan," hormat petugas meninggalkan ruangan Prakasa agar lebih nyaman.
Prakasa membiarkan Aditya menenangkan Nancy terlebih dahulu, agar kuat mendengar penjelasan selanjutnya.
Beberapa menit kemudian, Prakasa sudah melihat wajah Aditya dan Nancy sedikit tenang, dia melanjutkan penjelasannya, agar tidak simpang siur.
"Team elite angkatan darat sedang mencari keberadaan Mutia, tapi masih belum ditemukan, karena beberapa helikopter tidak dapat mendarat dengan baik dirumah sakit tentara internasional. Kami sedang melakukan pengecekan data, pasukan militer mana yang membawa Mutia pada malam kejadian," jelas Prakasa.
Jedeeeer jedeeeer β‘β‘
Bagaikan petir disiang bolong yang menyambar Aditya dan Nancy, karena putrinya tidak dapat ditemukan.
"Mas," isak Nancy didada Aditya.
"Ssssst, kita sedang melakukan pencarian," bisik Aditya ditelinga Nancy.
Nancy terus menangis, merasa ini hanya berita yang dia terima saat malam menjelang, yang hadir dalam mimpinya, tidak nyata. Berkali-kali dia mencubit pipi sendiri, berharap dia masih tidur dalam dekapan Aditya tercinta.
"Tenang Bu, kita tengah melacaknya. Saya harap kita sama sama tenang dalam mencari Cut Mutia Atmaja, karena menurut laporan Bram, mereka tengah terlelap malam itu. Dina dan Tri masih didalam perjalanan, menuju Indonesia. Mereka akan dirawat intensif dan dalam pengawasan kita, untuk memberi keterangan jika mereka sudah siuman," jelas Prakasa panjang lebar.
Aditya menyandarkan tubuhnya ke sofa ruangan Prakasa, mengenang saat terakhir mereka bercerita, tentang semua kenangan masa kecil. "Tia ingin mengabdikan diri untuk negara seperti Bapak, menjadi patriot dihatinya."
"Ibu sudah nelfon Nak Tio?" tanya Aditya merenggangkan dekapannya.
Nancy mengangguk, "dia masih pelatihan, selesai pelatihan dia nelfon balik. Ibu belum sempat cerita bagaiman Tia. Takut dia khawatir, Mas," jelasnya.
Aditya mengangguk, mencium puncak kepala Nancy, berharap akan ada kabar selanjutnya yang dia terima lebih baik, menyejukkan hati dan pikirannya.
"Saya permisi dulu," ucap Aditya setelah dua jam berada diruangan Prakasa.
"Siap Komandan. Yang sabar, nanti saya hubungi jika sudah ada perkembangan. Saya rasa satu, dua jam lagi sudah ada kabar terbaru yang sangat membahagiakan," tepuk Prakasa pada pundak Aditya.
"Siap Ndan, saya bawa Nyonya kembali kerumah dulu, izin Jenderal," ucap Aditya.
Aditya berlalu merangkul bahu Nancy, yang masih belum bisa menghentikan air matanya.
"Pantas Ibu nggak mau lepas dari Neng, saat dia mau berangkat, rupanya putri kita bakal kenak musibah, Pak," kenang Nancy.
"Ssst, sudah. Kita tunggu kabar dulu yah," ucap Aditya diangguki mengerti oleh Nancy.
To be co n ti nue...
Mohon dukungan Like dan Vote pada karya ku, jangan lupa comment yah...π
Khamsiah.... Hatur nuhun....π€π₯