My Wife Is A Military

My Wife Is A Military
Undangan mendadak....



Dor dor dor dor ....


Dentuman tembakan bersahutan di lapangan membuat mereka lupa akan waktu makan siang.


Jam sudah menunjukkan pukul 11.45 waktu setempat, Tia masih fokus dengan senjata laras panjang ditangannya. Sangat menyesakkan jika meleset bahkan sampai salah sasaran. Strategi untuk melumpuhkan lawan dan mencari titik yang tepat harus menempatkan akal pikiran agar menjalin koneksi yang baik dengan hati.


Uli masih sibuk dengan menghitung titik jarak tembakan yang tepat, bahkan tidak boleh salah jika ingin selamat. Baginya dunia militer sangat menyenangkan dan sesuai dengan jiwanya sebagai gadis tomboi.


Deny dan Abdi malah sibuk menemani Uli dan Tia, karena kondisi mereka memang sama sama cuti. Hanya ingin menghabiskan waktu untuk pendekatan sebelum menyandang status suami istri.


"Aa, kita di dalam aja yuuk," ajak Deny.


"Sebentar, Aa lagi fokus lihat Tia. Ternyata dia memang hanya memikirkan karier. Bukan keluarga. Lihat ni udah jam makan siang malah asik sama kegiatannya tanpa memikirkan Tio," ujar Abdi.


"Hmmmmm biar dulu Aa, namanya juga fokus. Nanti juga ada titik jenuhnya. Justru kemaren berambisi untuk pendidikan lagi. Tapi nggak di izinin Jendral," jelas Deny.


"Memang keras kepala, sama kayak Bapak. Egois, maunya menang sendiri," kesal Abdi.


"Aa kenapa ngomong begitu? dia kan hanya menjalani tugas. Kayak Aa peduli saja sama Deny selama ini," sindir Deny terkekeh.


Abdi mengatup kepala Deny untuk masuk ke dekapannya tanpa rasa sungkan.


"Iiiighs lepas," cubit Deny di perut Abdi.


"Kalau Aa dinas, kamu kemana? ikut yah? urus surat pindah," jelas Abdi.


Deny menautkan kedua alisnya, "emak gimana? Deny tinggal berdua doang," jelasnya.


"Bawa aja, simple," ucap Abdi tanpa basa-basi.


"Emak mana mau Aa, nanti mikir. Rumah gimana? warung emak gimana? nanti siapa bla bla bla. Aa tahu sendiri emak riweh hoby ngomeeeel aja sepanjang hari suruh nikah," curhatnya.


"Kan nanti malam di nikahin," tegas Abdi.


Mata Deny menatap lekat, "Aa pulang emang buat nikah doang?" tanyanya meyakinkan.


"Iya dong, Ibu suruh pulang. Udah lama juga nggak pulang. Kangen sama Bandung. Kangen juga sama kamu, karena selama jauhan kamu nggak pernah hubungi Aa," jelasnya.


"Bagaimana Aa, kita hanya receh! bahkan kadang tidur di kantor," senyum Deny menatap Abdi.


"Pendidikan lagi kalau udah nikah, nanti Aa ngomong sama Bapak. Buat kamu doang, bukan buat Tia," jelasnya.


"Emang boleh?" tanya Deny.


"Boleh dong. Buat kita juga kan?" jelas Abdi tersenyum.


Mereka menikmati dentuman tembakan dar der dor bahkan terkadang terdengar desingan sniper Tia.


Abdi dan Deny malah asyik ngobrol tanpa mereka sadari sudah di hampiri Beny dan Tio. Mereka saling menyapa hangat bahkan tertawa disela sela menunggu istri mereka selesai.


"Kirain tadi nggak kesini?" tanya Abdi pada Tio.


"Gimana nggak kesini, saya telpon Tia nggak ada jawaban. Malah saya di suruh ngobrol sama operator," kekeh Tio.


Uli mengetahui Beny sudah datang memberi kode pada Tia untuk break. Tentu Tia melepas sarung tangan, kaca mata hitam dan penutup telinganya berlalu ke toilet untuk mencuci tangan dan wajahnya.


"Cantik banget istri aku," batin Tio saat menatap wajah Tia yang masih belum menyadari kehadirannya dari kejauhan.


"Haaii sayang," sapa Uli pada Beny.


"Ya, haii," mereka saling mengecup mesra, maklumlah yah pengantin baru dua bulan. Jadi masih hot hot babeh...


Tia mengusap wajah cantiknya setelah membasuh dengan air, pelan dia mengusap air bercampur keringat mencari keberadaan Abdi dan Deny.


"Tia," panggil Uli.


Mata Tia sedikit kaget melihat kehadiran Tio, sedikit mengerutkan keningnya menghampiri suami tercinta.


"Aa," sapa Tia menyalami pungung tangan Tio.


Tio membukakan kursi untuk Tia, memberi air putih agar istrinya tidak dehidrasi karena cuaca sedikit terik.


Abdi membuka suara dengan sedikit berbisik. Intinya untuk datang menghadiri acara pernikahannya bersama Deny secara agama. Tentu semua mata yang mendengar undangan mendadak dangdut itu membuat mereka saling bertatapan.


"Mau kemana?" kejut Abdi.


"Cafe depan," tegas Beny.


Mereka berjalan kaki meninggalkan lapangan, menuju cafe. Tia masih enggan bergandengan dengan Tio, dia memilih melenggang sendiri tanpa menghiraukan suaminya.


"Neng," panggil Abdi.


"Yah," kejut Tia menoleh.


"Hmmmm ntong sasorangan wae atuh Neng, Tio nooh dibelakang," jelas Abdi berlalu merangkul Deny sang calon istri.


Tia tersenyum, membuka tangannya, menyambut suami tercinta.


"Sory, bukan mau sendiri. Tapi efek nggak pernah di temani saat latihan, makanya sedikit lupa," kecup Tia pada pipi Tio.


Tio malah memeluk Tia sangat lama. Dia sangat merindukan sosok lembut dan manja sang istri saat berada di ranjang peraduan mereka.


"Aa rindu," bisik Tio.


"Hmmmm mesti sekarang? masak kita ninggalin mereka?" kekeh Tia merangkul erat tangan suaminya.


"Aa, ini ada keringet," usap Tia pada cerug leher Tio.


"Haredaang," kecup Tio pada kepala Tia.


Mereka saling bermesraan selama menuju cafe yang ditunjuk Beny.


Sangat menyenangkan jika di kelilingi sahabat yang baik bahkan saling mendukung dan mengingatkan.


Saat tiba di cafe, setelah memesan beberapa makan berat untuk menambah stamina, Abdi mengungkapkan niat dan tujuannya menemui mereka. Ingin segera menghalalkan Deny atas permintaan Nancy dan Aditya. Tentu satu kejutan yang sangat luar biasa bagi mereka, karena Deny adalah type wanita yang tidak terbuka untuk masalah percintaan.


"Jadi saat saya berangkat nanti, tolong Deny di jaga, agar selalu aman," kekeh Abdi.


"Kenapa nggak ikut aja Aa?" tanya Tia menyesap ice lemon tea di hadapannya.


"Belum dong, nikahnya masih diam diam dari kesatuan. Nanti kalau udah halal baru legalitas Deny urus disini," jelas Abdi.


"Uhuuugh soo sweet! nanti malam setelah halal ada yang kejang kejang ni," goda Uli.


Mata mereka saling tatap, mencubit Uli karena telah asal ngomong di hadapan Abdi.


"Iiiighs sakit tahu," rengek Uli.


"Hmmmm," Deny menahan malu, wajahnya merona. Sangat menggelitik hati Abdi. Sungguh menyenangkan menggoda seorang gadis, batinnya.


"Berarti nanti malam nginap di rumah Bapak Aa?" tanya Tia.


"Kepo! ya nggak lah, nginap di hotel dong," kekeh Abdi menggoda Deny.


Gleeek,


Deny semakin susah menelan makanan yang ada di mulutnya, seakan ada biji kedondong menghalangi tenggorokannya.


Tia menggenggam tangan Deny, dia sangat tahu apa yang wanita ini pikirkan. Bagi Tia, Deny sama persis dengan dirinya, tidak bisa menahan rasa sakit. Makanya Deny memilih cuti 4 hari agar bisa menghabiskan waktu bersama Abdi setelah menikah.


"Sakit nggak Ti?" tanya Deny polos minta jawaban yang jujur dengan suara bergetar.


Deg,


Tia menatap wajah Deny dan Abdi, terakhir melirik Tio. Wajahnya berbinar binar...


"Dikit, selebihnya ngenaaaah pissan...." tawa mereka menggelar membuat mata pengunjung tertuju pada tiga pasang yang sedang menikmati masa indah kebersamaan dalam pernikahan.


To be co n ti nue...


Mohon dukungan Like dan Vote pada karya ku, jangan lupa comment yah...πŸ™


Khamsiah.... Hatur nuhun....πŸ€—πŸ”₯