My Wife Is A Military

My Wife Is A Military
Back to feeling..



Hari sudah menunjukkan pukul 14.00 waktu setempat, makan siang telah disantap dengan sangat cepat oleh Tia dan Tio ditemani sahabat terbaiknya Uli dan Beny.


Pasangan yang menikah empat bulan lalu itu kini tengah menikmati hari hari indah karena sebentar lagi akan resmi menjadi orang tua tanpa harus menunggu lama seperti Tia dan Tio.


Tio dan Tia kembali setelah menunaikan ibadah wajib mereka sebagai seorang muslim, saling berpelukan karena harus kembali pada kegiatan masing-masing sebagai team medis untuk Tio, aparatur negara untuk Tia.


"Aa balik ke rumah sakit yah? kami bawa mobil ambulance masalahnya," jelas Tio menatap Beny yang menjadi sopir.


Tia mengangguk kembali memasang semua atribut untuk melakukan sesi kedua latihan, dengan sangat cekatan. Sarung tangan, kaca mata hitam, pelindung lutut dan sikunya, kemudian dibalut rompi tebal pelindung dada.


Tio mendekap tubuh langsing Tia saat mereka akan benar benar berpisah untuk beberapa saat, "Aa sayang Neng, gunakan feelingnya dengan sangat baik," kecupnya pada kening Tia.


Wajah Tia tersipu sipu, karena seumur hidupnya, baru kali ini dia diperlakukan seperti itu dihadapan sahabatnya.


"Hmmm, Neng juga sayang Aa suami, jangan nakal! Neng lanjut yah? udah telat tiga menit," kecup Tia pada bibir Tio berlalu meninggalkan suaminya yang masih menatap tubuh sexseh itu.


Beny merangkul bahu Tio sama sama menatap istri tercinta sebelum mereka kembali melakukan aktivitas yang menurut orang awam adalah hal yang sangat menakutkan. Tidak untuk kedua perawat ini, mereka justru sudah terbiasa dengan suara tembakan dilapangan dan daerah konflik yang sering dikunjungi.


"Kita cabut sekarang? sebelum mereka mencari kita," ajak Beny menatap wajah sahabatnya yang enggan beranjak meninggalkan lapangan tembak walau sudah terdengar dar der dor dari kejauhan.


"Yuuk, kalau ikutin hati malas banget gue ninggalin istri tercinta sendiri," kekeh Tio.


"Lebai Lo bro! Lo pikir Lo aja yang punya istri militer? gue nggak militer yah si bebeb yang bawel itu. Deny dan Abdi gimana? mereka lebih parah terpisah oleh jarak dan waktu membuat mereka susah menahan rindu," jelas Beny membandingkan semua lingkungan mereka.


"Hmmm," Tio enggan menjawab, hanya terkekeh mendengar celotehan sahabatnya melebihi emak emak tetangga di rumah pria tampan sederhana itu.


Mereka meninggalkan lapangan tembak menuju rumah sakit. Ada perasaan aneh dihati Tio, tentang perubahan Tia yang sangat berbeda dari biasanya.


"Apakah Tia hamil?" batin Tio merasakan perubahan pada istri tercintanya.


"Tapi nggak mungkin, dia aja tidak pernah muntah muntah dipagi hari. Justru semakin manja saja karena perasaan nyaman dia ucapkan," tambahnya membatin sepanjang perjalanan.


Beny melirik ke arah sahabatnya, "kenapa Lo? pasti kepikiran istri tercinta," kekehnya menggoda Tio.


"Ck, ya iyalah gue kepikiran dia, namanya juga kesayangan," jawab Tio asal.


"Bro, gue yakin Lo pasti menjadi menantu kesayangan di Keluarga Atmaja," tebak Beny melirik Tio.


Tio menaikkan kedua alisnya, "darimana Lo menilai bahwa keluarga Jendral itu sayang sama gue? gue hanya perawat yang menjalani kewajiban sebagai suami anak perempuan mereka, bukan sayang karena sesuatu kan?" kekehnya asal.


"Hmmm, tapi Deny bilang perlakuan Jendral sangat berbeda dengan Abdi," jelas Beny.


Tio mendelik, "jelas beda dong, Abdi angkatan udara, naaah gue! hanya istri putrinya berpangkat Mayor."


Mereka justru tertawa dengan celotehan berdua, ingin rasanya menemani istri tercinta dilapangan tembak, tapi tuntutan pekerjaan juga sangat mengikat keduanya.


.


.


πŸͺ–πŸͺ–πŸͺ–


Dilapangan tembak Tia masih berjemur bersama team elite lainnya, tentu dalam pengawasan Uli selaku kakak senior menjadi team pengatur strategi.


Dor dor dor,


Kreek kreek kreek,


Tia masih menatap satu titik untuk melakukan sendiri sesuai arahan sang komandan. Matanya seketika buram, Tia meletakkan senjata yang berada ditangannya. Membuka kaca mata yang menutupi mata indah itu, memijat pelan puncak hidung mancungnya.


Uli berlari mendekati Tia saat melihat dari kejauhan sahabatnya pecah fokus, "Lo kenapa? ada masalah?" tanyanya memberikan sebotol air mineral.


Tia mengambil botol minuman itu meminumnya, kemudian membasuh wajah cantik alami itu.


"Back to feeling, fokus," ucap Uli pelan dan tegas menatap lekat pada Tia.


Tia kembali mengusap wajahnya kasar kembali fokus pada kegiatan, tanpa mau memikirkan hal apapun. Dia kembali bersemangat setelah bernyanyi kecil untuk meningkatkan adrenalin saat berhadapan dengan patung yang berdiri tegap secara bergantian dihadapannya.


Tzeeeng tzeeeng tzeeeng,


Dentuman tembakan bersahutan, saat semua kembali fokus pada dunia pekerjaan yang sangat beresiko tinggi jika mereka salah menempatkan strategi yang sangat berbahaya untuk keselamatan kerja ataupun dalam menghadapi lawan diarea konflik.


Komandan Juan melihat jam tangan yang melingkar, menunjukkan pukul 16.56 waktu setempat.


Sudah hampir tiga jam Mayor cantik itu berada dilapangan didampingi Uli, enggan untuk menghentikan aksinya, saat sesi akhir latihan.


Juan memberi kode pada Uli dari kejauhan agar menghentikan karena waktu telah berakhir. Beberapa point yang harus dia bicarakan pada Tia, tentang pengawasan dan kejelian dalam menghadapi lawan.


Uli menghampiri Tia, "Ti, sesi dua selesai, besok Lo sama team regu ada Dina dan Tanto. Gue harap Lo harus lebih fokus dari hari ini. Ingat fokus! jangan lengah, Dina dan Tanto akan menjadi musuh Lo besok di sesi tiga. Gue harap Lo mampu dan hapal semua teknik yang gue kirim," jelasnya panjang lebar.


Tia yang tengah memutar senjatanya untuk memasukkan kembali ke dalam tas mengangguk mengerti. Dina adalah wanita kejam saat latihan terakhir, pasti akan menjadi tantangan tersendiri baginya. Sementara Tanto adalah sahabat lama saat melakukan pendidikan awal menjadi seorang TNI angkatan darat.


"Huuuufgh, gue gereget! gagal fokus mulu, tadi sempat buram pandangan gue. Kepikiran saat di Timur Tengah nanti deh," senyum Tia sedikit khawatir menatap Uli.


"Hmmm, menurut data gue seeh aman. Nggak tahu deh Komandan Juan, tapi besok Jenderal hadir yah? karena pelepasan keberangkatan Lo dalam lusa. Semoga berhasil sesuai rencanamu, pulang pulang menjadi Letkol bunga satu, atau bahkan bunga dua karena prestasimu," kekeh Uli merangkul bahu sahabatnya.


"Amiin, enam bulan cee'. Lama tahu, mesti pisah sama Aa tersayang," tawanya menatap langit dengan mata berkaca-kaca.


"Kami akan merindukan Lo sayang! yang pasti jaga kesehatan, ingat disana perang lhoo, bukan jalan jalan," kekeh Uli.


"Yuuuk, Tio dan Beny sepertinya sudah menunggu lama disana," tambah Uli menunjuk kearah gedung tua yang terhalang kawat.


Mereka melangkah dengan sigap mendekat pada Juan sang komandan.


"Lapor Ndan, sesi kedua sudah selesai!" hormat Tia dan Uli dihadapan Juan.


"Siap, ada beberapa yang harus kamu perhatikan, saat akan break dalam hitungan detik jangan memberi celah pada lawan, lusa keberangkatan mu bersama team elite melalu pelabuhan. Kalian akan berangkat bersama angkatan udara. Sepertinya Aa Abdi juga ikut, jadi untuk sesi ketiga besok saya harap kamu lebih fokus karena akan berhadapan dengan Dina dan Tanto," jelas Juan melihat layar ponsel menunjukkan statistik kecepatan Tia.


"Siap Ndan!" hormat Tia kembali tegap.


"Baik sekian, besok latihan jam 06.00 kita sudah berada disini," tegas Juan.


"Siap Komandan,"


Tia dan Uli berpelukan atas hasil hari ini. Setidaknya lebih baik dari hari sebelumnya.


Alhamdulillah... πŸͺ–πŸŒΉ


To be co n ti nue...


Mohon dukungan Like dan Vote pada karya ku, jangan lupa comment yah...πŸ™


Khamsiah.... Hatur nuhun....πŸ€—πŸ”₯