My Wife Is A Military

My Wife Is A Military
Do'a...



Tiiiing,


📨"Maaf Aa, Neng baru bisa ngasih kabar sekarang, karena kesibukan disini. Aa baik baik dan jaga kesehatan yah? jangan lupa sholat wajib. Neng sayang Aa." Tia.


Pesan masuk pukul 02.00 dini hari setelah dua minggu keberangkatan Tia dalam dinasnya.


Tio masih tertidur pulas, tidak mendengar pesan yang masuk di handphone miliknya. Suasana Lembang nan sejuk membuat dia enggan untuk kembali ke Setiabudi kediaman orang tua. Ditambah perasaan rindu yang masih menyelimuti relung hati.


Pukul 04.30 waktu Bandung, terdengar sayup sayup suara mengaji dan azan berkumandang. Tio masih enggan membuka mata, meraih handphone dinakas, matanya seketika membulat sempurna, melihat nama istrinya mengirim pesan.


"Ooogh Neng, membaca pesan mu saja Aa sudah senang. Begini banget rasa sayang Aa sama Neng," batin Tio.


Bergegas dia membalas pesan istrinya berharap akan mendapat balasan segera.


📨"Iya sayang, hati hati Neng. Aa rindu." Tio.


Kembali Tio meletakkan handphone di nakas, bergegas membersihkan diri, melanjutkan kewajibannya.


Tio berdoa untuk keselamatan sang istri di seberang sana, sehingga rasa rindu itu terbalas segera agar bertemu kembali dalam kurun waktu lebih cepat.


.


.


Duaaarrr duaaarrr,


Dor dor dor,


Suara dentuman bom dan tembakan malam itu mengejutkan bagi kesatuan. Semua team elite berlari kencang mencari tempat perlindungan, menyesiasati lokasi barak mereka yang hancur berkeping keping karena serangan mendadak lawan.


Duaaarrr duaaarrr,


Kembali terdengar suara ledakan bom.


Beberapa menit kemudian helikopter dan pesawat tempur kembali berseliweran diatas kepala team elite. Semua berpencar. Team gabungan internasional berusaha menyelamatkan mereka dari serangan mendadak, yang dihujani beberapa bom dan tembakan, dari arah yang tidak disangka-sangka.


Duuuuuaaaarrr,


Dor dor dor,


Kembali suara tembakan terdengar sangat cepat ditelinga mereka.


Tia dan Dian berusaha menyelamatkan diri.


Kreek kreek,


Tziiing, tziiing,


Mereka membalas semua tembakan lawan, seketika,


Dor dor dor,


Senjata terlepas dari tangan Mutia, dia terbaring lemah berlindung dibalik bebatuan karena terkena tembakan peluru.


"Mutia, run, ruuun!" teriak Bram.


Tia sama sekali tak bergeming, dia meletakkan senjatanya dibelakang punggung sudah berlumuran darah.


Helikopter berhenti diatas kepala mereka, dengan perasaan melayang, Tia jatuh pingsan.


Bhuuuug,


Tubuhnya tumbang, bergetar hebat, merasakan kesakitan luar biasa, seketika diraih oleh tangan kekar seorang tentara bule yang sudah berada didekatnya, dengan sangat sigap mengikat tubuh Tia untuk naik keatas Helikopter.


"Bagaimana kondisinya?" teriak seorang militer dari atas helikopter.


"Kritis!" teriaknya tentara yang menyelamatkan Tia.


"Tariiik!" tambahnya melihat sekeliling Tia, mencari korban yang lainnya.


Saat Tia sampai diatas bersama mereka seorang tenaga medis memeriksa kondisi Mayor yang sudah berlumuran darah.


"Bagaimana kondisinya?" bisik tentara bule bernama Gibran.


"Kesadaran menurun, harus dilakukan tindakan cepat, hubungi negaranya," tegas tenaga medis internasional bernama Misca.


Gibran segera mencari identitas Tia, dia menemukan foto pria yang selalu ada disaku celananya.


Deg,


"Wanita ini sudah menikah, ini foto pernikahannya. Apakah dia sedang mengandung?" tanya Gibran pada Misca.


Misca melihat foto Tia bersama Tio, "setiba dirumah sakit akan kita lakukan pemeriksaan lanjutan," jelasnya meletakkan foto itu kembali ditempat semula.


Secepat kilat helikopter itu berlalu membawa Tia bersama yang lain, menuju rumah sakit tentara internasional yang sangat jauh dari tempat mereka berada saat itu.


.


Bram dan Tanto mencari keberadaan team elite lainnya. Tri mengalami luka ringan, sementara Dina harus dilarikan ke klinik terdekat karena terkena serpihan bom.


Semua panik, melihat Cut Mutia Atmaja yang diambil oleh tentara internasional. Bule berbadan tegap itu berhasil meraih tubuh Tia dengan sangat mudah.


"Bram, hubungi team angkatan udara, kita kehilangan Mutia," teriak Tanto panik.


Bram yang masih sangat shock meraih handy talky untuk menghubungi team kesatuan angkatan udara.


Zzzzt, zzzzt,


Sinyal yang kurang bagus mempersulit hubungan komunikasi antara mereka.


"Ya Allah, kenapa ini?" sesal Bram, terus memutar tombol.


Tanto berusaha tenang, menghubungi ulang melalui handy talky miliknya.


Kresek, kresek, zzzzt,


"Ya," terdengar suara angkatan udara dari arah yang berbeda.


"Roger, 6845 kami diserang sekutu, Mutia terluka dibawa kerumah sakit internasional, copy," tegas Tanto.


Sheeeer,


Abdi yang menerima berita itu tiba tiba merasa panik, bagaimana tidak, adik perempuannya mesti terluka karena serangan mendadak dari pihak lawan.


"Copy!" Abdi menutup handy talky, berlari menuju pesawat tempur untuk melakukan penyelidikan.


Kapten menahan tangan Abdi karena kondisi tidak kondusif untuk melakukan pencarian.


"Team internasional sudah mengamankan lokasi, lebih baik kita menunggu kabar dari mereka," tegas Borneo pada Abdi.


"Siap Ndan, tapi adik saya terluka dan saya yakin masih ada yang terluka," tegas Abdi memberi laporan.


"Siap! lebih baik, dua pesawat kita yang mendekati lokasi," Borneo memberi izin untuk menyelamatkan pasukan elite yang tersisa delapan orang.


Gerakan yang sangat cepat, membawa Abdi untuk melihat kondisi lokasi yang sudah hancur rata.


Abdi memberi kabar kepada team elite angkatan udara, agar mengirim helikopter dialokasi.


"Mereka masih berada dikawasan rawan, kirim helikopter untuk menyelamatkan team elite angkatan darat," tegas Abdi.


Beberapa helikopter Indonesia bergegas mendekati lokasi konflik.


Entah apa yang berkecamuk dikepala Abdi saat mendaratkan pesawat tempurnya kembali ke landasan.


"Bagaimana aku akan memberi kabar kepada Ibu dan Bapak? mereka pasti akan sangat shock apalagi Tio," batin Abdi berkecamuk tapi berusaha tenang.


Borneo menghampiri Abdi, "kita sudah mendapatkan berita dari Cut Mutia Atmaja, dia mengalami luka tembak serius dibagian paha dan lengan, ada tiga peluru menembus tubuhnya. Saya mendoakan semoga semua baik baik saja. Adik kamu bisa selamat," jelasnya.


Wajah Abdi nan tampan seketika memerah, tubuhnya terasa dingin tidak berdarah, "apakah kabar ini sudah sampai di Indonesia?" tanyanya dengan suara bergetar.


"Sudah, team elite angkatan darat sudah mengirim beberapa kebutuhan kita kesini. Roling untuk membawa pulang yang terluka," jelas Borneo.


"Siap Komandan," hormat Abdi berusaha tegar.


Borneo menepuk pundak Abdi, "sabar, berdoa, semoga Mutia baik baik saja," doanya.


Abdi terus mencari kabar dari Bram dan yang lainnya. Tri dan Dina sudah berada di helikopter, untuk dilakukan tindakan khusus, karena mengalami luka serius.


Team medis membawa mereka, karena posisi yang memencar, sehingga menyulitkan saat menyelamatkan team elite angkatan darat.


Abdi berusaha menghubungi Aditya, memberi kabar tentang Tia adiknya, tapi belum ada jawaban yang berarti, karena gangguan sinyal.


"Ya Allah, selamatkan Mutia. Jangan ambil nyawanya. Aku mohon Ya Allah," doa Abdi kepada penguasa semesta alam.


.


Praaaank,


Tio menjatuhkan sebuah gelas dari nakas kamar Tia, saat akan meraih serpihan kaca, foto kecil pernikahan mereka terjatuh dari nakas menimpa kepala Tio.


Bhuuuk,


"Aaauuugh, aduuuh, sakitnya," ringis Tio menyambut foto berbingkai silver metalik itu.


"Kenapa ini? ada apa? Ya Allah, jangan buat hati ku menjadi resah begini," doa Tio mengusap wajahnya.


"Mana Bapak sama Ibu masih di Jakarta," batin Tio meraih handphone, mencari nomor telepon Beny untuk menanyakan kabar kesatuan angkatan darat kepada Uli.


Ada kecemasan dalam hati Tio.


Feeling yah, 🤧


To be co n ti nue...


Mohon dukungan Like dan Vote pada karya ku, jangan lupa comment yah...🙏


Khamsiah.... Hatur nuhun....🤗🔥