My Wife Is A Military

My Wife Is A Military
Keputusan militer dinegaranya,



Suasana sejuk dikota Bandung karena guyuran hujan sejak dini hari, membuat Tio segera melangkahkan kaki dengan sangat cepat menuju parkiran memasuki mobilnya. Wajah tampan nan sendu itu, kini terlihat kusut, karena sudah hampir empat bulan berjauhan dengan istri tercinta. Rasa takut kehilangan terlihat jelas diwajah perawat Bambang Sulistio.


"Aa, mau kemana?" Asih menghampiri Tio.


Tio sedikit kaget, melihat kehadiran mantan kekasihnya secara mendadak dihadapannya, "haii, aku mau ke kantor istriku. Semoga dapat kabar dimana keberadaan Tia saat ini. Kenapa?" dia menutupi kepalanya dengan jemari lentik menghindari rintikan hujan.


"Ooogh, aku boleh ikut?" Asih meminta, tapi sedikit ragu.


Tio tersenyum, "maaf, kali ini nggak bisa. Karena ada mertua dan beberapa rekan kerja Tia. Saya tidak mau mereka berfikir negatif tentang kita."


Asih mengangguk mengerti, melihat Tio memasuki mobilnya. Dia memilih berlalu meninggalkan rumah sakit dengan sedikit rasa kecewa, "padahal aku ingin menghiburnya, tapi dia selalu menolak kebaikanku," bisiknya.


Tidak cukup jauh jarak menempuh kantor istri tercinta Tio. Hanya memakan waktu lebih kurang sepuluh menit. Mata Tio tertuju pada semua kendaraan kedutaan negara Swiss yang tengah dalam pengawalan.


"Ternyata istriku dilindungi negara asing," Tio memarkirkan kendaraannya.


Beberapa prajurit TNI angkatan darat yang mengetahui siapa Bambang Sulistio, langsung mengarahkan pria tampan itu keruang rapat mereka, yang sudah dinanti Aditya dan Nancy.


Semua mata tertuju pada Tio, wajah tampan yang tenang, walau ada perasaan remuk dihatinya dapat ditutupi karena rasa percayanya kepada sang pencipta. Dia memilih duduk disebelah Nancy atas permintaan Aditya.


Uli dan Juan duduk disamping Aditya selaku senior Mutia.


Salah seorang pemuda berwajah blesteran, memperkenalkan diri, sebagai awal percakapan mereka yang tidak begitu formal.


"Selamat siang, perkenalan saya Kenny. Kedutaan Negara Swiss yang diperbantukan untuk menangani kasus kehilangan warga Indonesia yang berada di negara kami. Perkenalkan, ini adalah Dokter Misca dan ini Banni, salah satu mililter yang menangani kasus ini," jelasnya panjang lebar dengan sangat tenang.


"Silahkan Dokter Misca," Kenny memberi kesempatan pada pria tampan yang duduk disampingnya.


"Kami tidak bisa mendarat di Turki, karena sesuatu hal. Sehingga seseorang memerintahkan untuk segera membawa pasukan elite kalian untuk diselamatkan karena kondisi koma dan harus segera diselamatkan. Saat ini kondisinya sudah pulih, menurut data yang kami terima dari Dokter Donald, Cut Mutia Atmaja tengah mengandung empat bulan," Misca menjelaskan secara gamblang membuat semua mata keluarga dan kerabat Tia membulat seketika.


Perasaan haru, bahkan khawatir terlihat jelas dimata Tio, Nancy dan Aditya.


"Bagaimana dengan keadaan istriku saat ini, bisa aku menghubunginya?" tanya Tio antusias.


Misca melihat Tio, dia mengingat wajah pria tampan itu, melanjutkan perjalanannya, "kami masih menunggu jawaban dari salah satu militer kita bernama Gibran, yang menjaga istri anda, Tuan."


Tio tak kuasa membendung air matanya, perasaan senang menyelimuti relung jiwanya, karena mendengar kehamilan Mutia, "Bu, Neng hamil. Saya berhasil memberikan cucu buat kalian," dia mengusap lembut sudut matanya.


Nancy mengusap lembut punggung menantunya, "kita akan menjemput Mutia," bisiknya.


Tio mengangguk, bagaimanapun dia akan menjemput kembali istrinya untuk kembali hidup bersama, "aku akan mengambil uang tabungan yang ditinggalkan Tia," kenangnya.


"Keputusan militer dinegara kami adalah, hanya menanggung dua orang keluarga inti untuk menjemput Mutia kenegara kami. Saya sarankan kepada Jenderal Aditya untuk segera menjemput putri anda," Banni menegaskan, pada Aditya.


Aditya mengangguk mengerti, dia akan membawa Tio untuk ikut bersamanya menjemput putri tercinta.


Uli dan Juan tidak henti-hentinya mengucapkan syukur atas berhasilnya menemukan sahabat sekaligus pasukan elite yang sangat tegas dan berwibawa.


"Alhamdulillah Ya Allah."


To be co n ti nue