
Tia dan Tio benar benar terlelap setelah melakukan ritual mereka sepanjang malam hingga melupakan janjinya untuk menemani Aditya dan Nancy.
Jam weker terunik yang ada dinakas berdering sangat kencang membuat mata kedua insan yang tengah terlelap itu terjaga. Kepala Tia yang berada diperut Tio membuat nafas suaminya sedikit terasa sesak.
Krrriiiiiiing,
"Hmmm, Aa matiin jamnya, berisik!" rengek Tia masih enggan membuka mata.
"Sudah jam 04.30, bangun Neng," usap Tio pada kepala istrinya dengan sangat lembut.
Tia masih diam tidak bergeming, rasanya dia enggan untuk bangkit sepagi itu. Terdengar sayup suara adzan subuh, membuat mata Tio tidak bisa kembali terlelap.
"Bangun Neng, mandi yuuk, Aa bantuin," bisik Tio berusaha bangkit dari ranjang peraduan mereka.
Tia mengangguk, mengusap lembut wajahnya memilih duduk menutup tubuhnya dengan selimut tipis.
"Aa nakal, jelas jelas Neng janji sama Bapak dan Ibu mau duduk bareng mereka malah diajak lang lang buana menuju angkasa," rengek Tia membuat Tio semakin mendekap tubuh langsing istrinya.
Tio berbisik, "mandi berdua, sekalian pemanasan biar semangat ngadapin sesi tiga," godanya pada Tia.
Wajah Tia memerah seketika, enggan untuk menolak ajakan suami tercinta. Baginya kebahagian yang diberikan Tio sangat indah sehingga dirinya tidak mampu berucap.
"Gendong," rengek Tia seperti anak kecil.
Tentu Tio tidak mau melepaskan kesempatan yang menjadi candu baginya. Tubuh tegap itu dengan sigap menggendong mesra Tia, membawa istrinya untuk melakukan ritual bersama dengan penuh perasaan bahagia.
Lebih dari 20 menit mereka berada dikamar mandi membuat bibik mengetuk pintu kamar Tia, atas perintah Aditya.
Tok tok tok,
"Neng, Nak Tio, bangun!" teriak bibik dari balik kamar.
Tia yang masih menggunakan mukena bergegas membuka pintu kamar, "ya bibik sayang, aku sudah bangun," matanya mengarah pada Nancy dan Aditya yang sudah berada dimeja makan.
Bibik tersenyum tipis, "kirain masih dikamar mandi," godanya pada anak majikan.
Tia terkekeh geli memahami maksud Bibik yang mungkin mendengar suara pergulatan mereka saat ritual pagi hari yang penuh gairah.
"Aku siap siap dulu," ucap Tia menutup kembali pintu kamar.
Tio yang sudah rapi, memeluk kembali istrinya.
"Makasih yah Neng," ucap Tio pelan.
"Hmmm, udah jangan nakal deh, nanti panggilan kedua pasti Bapak yang gedor pintu," kekeh Tia melepas pelukannya.
Riasan wajah yang hanya menggunakan lipstik berwarna node, blas on tipis, tanpa embel-embel bulu mata palsu. Baju hitam lengan panjang press body dipadu dengan celana panjang hitam, membuat Tia lebih dikatakan seperti agent rahasia.
"Udah cantik belum?" tanya Tia manja pada Tio.
Tio tersenyum, "sangat cantik bahkan," pujinya kembali mendekati Tia.
Mereka saling berpelukan, sehingga enggan untuk melepas tangannya.
"Kita sarapan? udah mepet waktunya, takut terlambat," ucap Tia berbisik.
"Hmmmm,"
Tio menggandeng tangan Tia, keluar dari kamar disambut oleh orang tua mereka.
"Cepet sarapan Neng, Nak Tio," ajak Nancy saat melihat anak menantunya keluar kamar.
Tia membuka kursi, untuk dirinya dan juga Tio agar duduk bersebelahan. Dengan sigap Tia mengambil sarapan nasi goreng buatan bibik untuk suaminya.
"Kamu hari ini sesi tiga sana Mayor Dina dan Tanto? Aa Abdi akan menyusul kita ke lapangan. Dia nyampe tadi malam dan menginap dirumah Emak mertuanya. Jadi Bapak harap kamu tetap fokus. Jangan sampai kamu kenak sasaran. Cahaya perhatikan, Bapak sudah mengirim data kami ke pusat, hanya sisa sedikit lagi," jelas Aditya.
Tia mengangguk, menikmati hidangan. Matanya mengarah pada jam tangan yang melingkar.
"Pak, Bu, Neng deluan yah? sekalian mau lari pagi dulu," izin Tia saat melihat Tio sudah menghabiskan sarapannya.
Aditya hanya mendehem, menerima pelukan putrinya, mengusap lembut punggung dan kepala Tia.
"Ingat fokus," tegas Aditya.
Tia mengangguk, berpamitan menerima tangan Tio yang enggan melepaskan tangannya dari pinggang ramping itu.
Aditya dan Nancy sangat bahagia melihat kebahagiaan yang sempurna setiap harinya.
"Semoga kita diberi cucu yang cepat Pak," ucap Nancy.
Aditya mengangguk setuju. Baginya suatu kebanggaan telah berhasil membuat putra putri mereka bersatu sesuai permintaan Bambang sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.
Semoga bahagia selalu...πΉπͺ
To be co n ti nue...
Mohon dukungan Like dan Vote pada karya ku, jangan lupa comment yah...π
Khamsiah.... Hatur nuhun....π€π₯