
Gadis kecil itu tengah memandang ketaman rumah sakit bersama Dokter Donald sahabat Gibran. Ada perasaan bahagia dihati gadis kecil yang tidak pernah merasakan kelembutan seorang Ibu, setelah bertemu dengan Mutia, wanita muda yang sangat hangat dan ramah padanya.
Pria tegap nan rupawan itu keluar dari ruangan rumah sakit. Usia cukup dewasa 32 tahun menambah kesan mapan pada diri Gibran selaku orang tua tunggal Lovely gadis kecil yang berusia sembilan tahun itu.
"Daddy," sapa Lovely saat melihat Gibran keluar dari kamar Mutia.
Gibran duduk dihadapan putrinya, "apa kau bersedia menemani Aunty?" tanyanya.
Lovely mengangguk, "ya, aku sangat menyukai wanita itu. Dia sangat cantik dan lembut, aku menyukainya daripada kekasihmu Lonely. Aku tidak menyukainya, dad," tegasnya mengalihkan pandangan.
"Ooogh, aku dan Lonely tidak ada hubungan apa apa sayang. Aku hanya berteman, karena dia mau membantuku untuk menjagamu disekolah," jujur Gibran.
Lovely berlalu meninggalkan Gibran dan Donald diluar, menuju kamar Mutia. Dia enggan untuk berdebat panjang dengan ayah tercinta. Gadis itu mendekati wanita cantik dan lembut menurut pandangannya.
"Bolehkah aku menemanimu Aunty?" tanya Lovely pelan.
Tia yang masih berfikir menatap langit-langit kamar, "haii, kemarilah. Kenapa kamu harus berdiri disana?" godanya ramah.
Lovely memberikan senyuman terbaiknya, mendekati Tia dengan sejuta kebahagiaan dan keceriaan.
"Aunty mau apa, apakah mau aku kupasin jeruk manis ini?" tunjuk Lovely pada buah yang ada dinakas.
Tia tersenyum bahagia, "apakah tangan mungil mampu membuka jeruk ini, kemudian memberikan pada ku?" tanyanya semakin menggoda gadis kecil dihadapan wanita dewasa itu.
Lovely mengangguk senang, "bolehkah aku duduk disampingmu?" tanyanya lagi.
"Hmmm, naiklah. Kita akan bercerita tentang sekolah dan ibumu," ucap Tia belum menyadari wajah Lovely yang menekuk.
"Ibuku Javana sudah meninggal Aunty saat melahirkan aku. Dia kecelakaan, terkena peluru nyasar," cerita Lovely apa adanya.
"Ooogh, sory honey. Aku turut berdukacita, semoga Allah menempatkan ibumu disurga-Nya. Amin," ucap Tia mengusap lembut wajah cantiknya.
"Apa Aunty seorang muslim?" tanya Lovely menatap lekat iris mata Tia.
Tia mengangguk, "emang agama kamu apa sayang?" tanyanya.
"Hmmm, aku katolik, Daddy dan Oma Katolik, tapi Opa seorang muslim," jelas Lovely jujur.
Tia mengangguk, daerah Eropa berbeda keyakinan itu sangat lumrah dan sangat biasa. Berbeda dengan Indonesia, pikirnya.
"Bagaimana sekolahmu? apa kamu seorang gadis yang pintar?" tanya Tia.
"No, aku sangat suka dunia seni, tapi Daddy menginginkan aku menjadi seorang militer, sekolah ku juga di sekolah militer. Oma dan Opa ku seorang peternak sapi didaerah kami. Aunty pasti menyukai kediaman kami yang sejuk," jelasnya panjang lebar.
Mutia tertawa mendengar celotehan gadis kecil yang duduk disampingnya. Begitu polos dan jujur, terlihat sangat menggelitik hati.
"Apakah Daddy tidak ingin menikah?" goda Tia.
Lovely menggeleng, "aku menyukai wanita lembut dan ramah sepertimu, tapi Aunty tidak menyukai Daddy," balasnya.
Mutia tersedak saat mendengar ucapan Lovely yang sangat mengejutkan baginya.
"Uhuugh, uhuugh, uhuugh," Tia terbatuk-batuk membuat Lovely berteriak memanggil Gibran.
"Dad, Daddy, Daddy!" teriak Lovely sedikit panik.
Gibran yang mendengar teriakkan putrinya bergegas masuk menuju kamar Mutia. Cepat dia mengambil gelas dan memberikan minum pada wanita muda yang tengah mengandung anak dari pernikahannya dengan Bambang Sulistio.
"Ada apa denganmu?" tanya Gibran panik.
"Maafkan putriku, dia hanya senang. Sehingga dia melupakan siapa dirimu," jelas Gibran.
Gibran sedikit sungkan karena kelakuan putrinya, "Aunty itu sudah memiliki suami, saat ini dia tengah mengandung anak. Jangan kamu ganggu pikirannya, karena saat ini dia harus kembali ke negara asal dia," tegasnya menggeram kearah Lovely.
"Ssst, jangan memarahinya. Dia nggak salah. Aku hanya kaget. Bukan karena ulahnya," bela Tia dihadapan Lovely.
Gibran benar benar salah tingkah dibuat putri kecilnya, tanpa tahu harus berbuat apa.
Lovely menunduk, memajukan bibir mungil itu, "maafkan aku Aunty," rungutnya kembali duduk disofa setelah Gibran menegur sikap putri kecil itu.
"Aku hanya mengungkapkan perasaanku, jika dia mau menjadi ibuku apa salahnya. Jika tidak aku juga tidak memaksa kok," bisik Lovely menggerutu dapat didengar oleh Gibran dan Tia.
Gibran menatap Tia penuh perasaan sungkan, "maafkan aku dan putriku Nyonya," senyumnya.
Tia mengangguk, melirik kearah Lovely, "apa kamu marah padaku?" tanyanya pada Lovely mengusap lembut perutnya yang sudah membuncit.
"Boleh aku duduk lagi denganmu, mengelus baby yang ada diperutmu Aunty?" tanya Lovely kembali tersenyum sumringah.
Tia mengangguk, menepuk lembut ranjang kosong disampingnya yang cukup untuk Lovely.
Tentu gadis kecil itu semakin semangat menerima tawaran Tia, dia mendekati wanita hamil yang masih ditemani oleh Gibran. Duduk disamping Tia, mengelus pelan perut buncit wanita dewasa itu dengan senyuman bahagia.
"Kenapa dia tidak bergerak Aunty?" tanya Lovely tersenyum sumringah.
Tia mengecup kepala Lovely membawa gadis cantik itu masuk dalam pelukannya.
"Aku diluar," bisik Gibran berlalu meninggalkan kamar Mutia, disambut oleh Donald yang berdiri dihadapannya.
Mutia enggan menjawab, karena dia takut untuk berbuat baik kepada pria lain. Apalagi status Gibran duda beranak satu, membuat Tia sangat berhati-hati dalam bersikap.
"Uncle, apakah kamu akan memeriksa Ibu angkatku?" tanya Lovely ingin tahu semua kegiatan yang dilakukan kepada Mutia.
Donald mendekati Lovely dan Mutia, mengacak asal rambut lurus putri kecil sahabatnya, "jika uncle ingin memeriksanya sebentar, apakah kamu mengizinkan?" tanyanya kembali melirik kearah Tia dan Gibran bergantian.
Lovely mengangguk, mata biru bersih itu melirik kearah Tia, saat Donald memeriksa kondisi Mayor Cut Mutia Atmaja.
"Besok anda bisa beristirahat dikediaman Gibran, Nyonya. Kebetulan dia tinggal tidak jauh dari rumah sakit ini. Menjelang mendapat kabar dari negara anda. Kami sudah mengabari kesatuan angkatan darat RI, tapi belum ada jawaban yang berarti. Kami takut mereka menganggap anda telah meninggal. Padahal, anda selamat dari serangan mereka," jelas Donald masih melepas alat alat yang menempel pada tubuh Tia.
Wajah Lovely sangat ceria mendengar bahwa Mutia boleh pulang dan kembali kekediaman mereka.
"Aku akan memiliki banyak waktu untuk bermain dengan wanita cantik ini," batin Lovely banyak berharap.
Donald meminta Gibran untuk mendekati mereka, "kemarilah bro, aku minta tolong padamu, besok Nyonya ini sudah bisa kembali kekediaman mu untuk sementara waktu. Karena ruangan ini ada yang mau mengisi seorang gadis yang mengalami koma karena kejadian kecelakaan kemaren," jelasnya membuat pria tegap itu tampak bingung.
"Bro?" sapa Donald semakin penasaran.
"Apa aku salah berucap?" tanya Donald membuat Gibran salah tingkah.
"Ooogh tidak, aku hanya bingung. Dia istri orang, tidak mungkin aku akan tinggal bersamanya bertiga dengan Lovely. Bagaimana jika aku membawanya kekediaman orang tua ku, sedikit jauh memang, setidaknya dia aman. Ibuku sangat senang bertemu dengan wanita sepertinya. Sama seperti Lovely," bisik Gibran pada Donald setelah tersadar dari lamunannya.
Donald mengangguk setuju, "jaga dia sampai keluarganya menjemput kesini. Aku yakin keluarga wanita ini pasti sedang panik mencari anak mereka, apalagi tengah mengandung. Aku nggak tahu bagaimana perasaan suaminya," jelasnya sedikit melirik Tia dan Lovely tengah bersenda gurau.
"Kau lihat, Lovely kembali ceria. Aku sangat memahami bagaimana perasaan putrimu, Gibran," jelas Donald menepuk pundak sahabatnya.
Gibran tersenyum tipis, menatap wajah cantik putri kecilnya,🤧
To be co n ti nue