My Wife Is A Military

My Wife Is A Military
Gunakan feeling..



Dor dor dor,


Dor dor dor,


Suara tembakan dengan lantang terdengar dari dari balik tembok lapangan dan suara desingan sniper yang tidak berbunyi saling bersahutan. Lebih ke suara tembakan yang sangat keras dan aroma amunisi yang tercium dari senjata laras panjang yang berada dipelukan Tia.


Cut Mutia Atmaja biasa disapa Tia, akan berangkat ke Timur Tengah, bersama pasukan elite lainnya. Ini adalah kesempatannya untuk meraih kedudukan Letkol tanpa harus melanjutkan pendidikan yang akan menguras isi kepala.


Theezz theezz theezz,


Suara laras panjang yang tidak terdengar keras itu melesat tepat dengan arah pandangan Tia. Pengukuran jarak, beberapa derajat telah dihitung sesuai arahan Uli selaku sahabat dan team terbaiknya.


"Tia, coba kamu pakai sempi pribadi. Masih tetap sama nggak titik sasarannya menembus kepala patung itu," teriak Uli saat meminta Tia kembali menukar senjatanya.


Ya, Tia memiliki empat senjata pegangan sesuai keahliannya, dia memiliki sempi Colt 1911 berisi 14 buah peluru dan setiap satu butirnya siap memuntahkan peluru dengan satu kali tembakan berkecepatan 1.225 kaki per detik.


Tia melakukan sesuai perintah Uli diperhatikan dari kejauhan oleh Jendral Aditya dan Juan sang komandan yang masih berstatus jomblo akut.


"Bagaimana Jenderal?" tanya Juan pada Aditya.


"Hmmm, minta lebih fokus lagi, karena lambatnya dia mengganti senjata. Itu akan berdampak buruk jika amunisi habis dan dia tidak memiliki banyak waktu dalam menghadapi lawan yang sangat cekatan dari dia. Besok biarkan dia benar benar latihan menghadapi musuh bersama Mayor Tanto dan Mayor Dina," tegas Aditya.


"Siap Komandan!" hormat Juan mengikuti perintah sang Jenderal.


"Satu lagi, suruh pakai baju lengan panjang, dan siapkan pakaian anti peluru besok. Saya akan kembali melihat Tia berlatih disini dengan lawan. Masih terlihat lemah, tidak seperti biasanya," Aditya berlalu meninggalkan lapangan setelah menyaksikan putri kandungnya berlatih dengan sangat serius.


Dor dor dor,


Masih terdengar suara tembakan dan dentuman dilapangan yang memiliki luas lebih dari 15 hektar itu.


Aditya menghentikan langkahnya, menatap lekat kearah tembakan yang barusan terdengar.


"Berapa kecepatannya Juan?" tanya Aditya.


Juan memberikan statistik laporan kecepatan melalui alat canggih untuk memantau kecepatan tembakan yang di lontarkan.


"Siap Ndan, kecepatannya 1.225 kaki per detik Jendral, itu dapat memecahkan semua organ musuh dalam jarak jauh," jelas Juan.


"Hmmm, ya! baik, lebih baik Tia difokuskan untuk sniper, jangan sempi kecil itu. Waktu hanya tersisa tiga hari dari sekarang, saya tidak mau dia mengalami kendala," tegas Aditya.


"Siap Ndan!" hormat Juan kembali melihat ke alat yang ada dalam genggamannya.


Juan menghubungi Uli, selaku ketua regu, agar mengganti sempi dengan sniper laras panjang kembali.


"Siap Ndan, laksanakan," ucap Uli menutup telinganya sebelah.


Uli kembali mendekati Tia, dia memberikan arahan tentang kecepatan dalam pergantian senjatanya. Agar tidak terjadi kesalahan dalam menghadapi lawan saat berada dalam situasi yang tidak terduga.


"Ti, kamu fokus yah! kami sedang menilai kecepatanmu," tegas Uli menepuk bahu sahabatnya.


Tia mengangguk, kembali fokus merakit sniper dengan sangat cepat dan kembali mengarahkan kedepannya untuk melakukan tembakan yang tidak terduga dari mata musuh.


Semua dia lakukan hingga pukul 12.00 waktu setempat. Keringat bercucuran, hingga Tia merasakan suatu kepuasan. Walau kulit mulusnya harus kembali terbakar, tapi ini menjadi hobynya sejak usia 16 tahun.


"Break," teriak Juan memberi kode pada Uli.


"Siap Ndan," jawab Uli dengan kode.


Tia membuka kacamata yang bertengger sejak pagi dihidung mancungnya, rambut basah hingga tangan terlihat belang oleh sinar ultraviolet secara langsung ketubuhnya.


"Lo nggak pakai sunblock?" tanya Uli melihat kulit sahabatnya tampak gelap.


Tia tertawa, "memang kalau dimedan perang sempat gitu pakai sunblock cee'."


Uli merangkul Tia menuju tempat peristirahatan mereka yang lumayan jauh.


"Eeeh, Lo tu harus jeli, gunakan feeling, jangan emosi! ingat, selain kita menyelamatkan nyawa seseorang, kita juga sedang menyelamatkan diri sendiri," titah Uli.


"Kita makan dimana?" tanya Tia saat sudah berada dikamar mandi.


Uli yang mengetahui kedatangan Aditya baru menyadari bahwa sang Jenderal membawa paper bag untuk makan siang putrinya.


"Tadi aku ngelihat Jendral, tapi sepertinya sudah kembali. Coba tanya Komandan dia bawa apa," jelas Uli hanya menerka nerka.


Tia hanya mendehem, membasuh wajah dan lengannya yang masih penuh dengan peluh. Entahlah, jika dia sedang fokus latihan, sangat berbeda saat dia bersama suaminya.


Tia terlalu mandiri tanpa mau mengeluh, walau lelah mendera dia sangat menikmati bahkan mencintai dunianya.


⏳15 menit Tia dan Uli keluar dari kamar mandi wanita, melihat dari kejauhan sang suami yang sudah setia menanti dimeja untuk beristirahat.


"Lo ngundang Beny dan Tio Mba?" tanya Tia penasaran.


"Hmmm, nggak! justru gue mau nanya sama Lo," ucap Uli santai.


Tia mengangguk pelan, mendekati suami tercinta.


"Assalamualaikum Aa suami," sapa Tia mengambil tangan Tio menyalami punggung tangan suami tercinta.


"Waalaikumsalam istri, Aa sengaja mampir, karena kami habis antar pasien kearah sini. Mumpung istirahat yah mampir," jelas Tio memeluk pinggang ramping istrinya.


Tia membuka kursi, melihat paper bag besar yang bertuliskan namanya.


"Ini dari Bapak? Komandan Juan mana Mba?" tanya Tia mencari komandannya yang sangat bengis tapi berhati Hello Kitty untuk bertanya.


Uli mencari keberadaan Juan yang memang menghilang sejak mengatakan break, "kemana dia? jangan jangan dia sholat dulu, berdoanya lama minta jodoh," godanya.


"Ehem, kalian mencari saya?" tegas Juan dari arah belakang mengejutkan dua wanita tangguh Siliwangi itu.


"Siap Ndan, kami nggak mencari, hanya mau bertanya ini kepunyaan siapa?" tanya Tia hormat berdiri tegap menunjuk kearah bingkisan yang sangat rapi.


"Kan bisa baca namanya, berarti punya kamu. Makanlah, Jenderal yang bawa buat kamu. Saya permisi. Laporan hasil akhir kamu sudah saya kirim ke handphone, tolong dipelajari hingga sesi kedua latihan," tegas Juan.


"Siap Komandan, laksanakan," Tia meraih handphone miliknya dari saku celana, untuk memeriksa hasil sesi pertama.


Uli membuka paper bag lebih dulu atas izin Tia, sementara Mayor cantik itu tengah sibuk menscrool layar handphone miliknya dengan seksama melihat hasilnya.


"Nggak buruk seeh Aa, hanya masih kurang di tembakan laras panjang," jelasnya pada suami yang juga menatap layar ponselnya.


Tio memang tidak mengerti, tapi hatinya mengatakan, bahwa istrinya sedang berfikir agar hasil sesi kedua lebih baik dari ini. Dan tulisan akan ada sesi ketiga dengan munculnya lawan itu akan sangat melelahkan walau menggunakan peluru karet.


Tia menarik nafas dalam, memijat pelan pelipisnya, sesekali menerima suapan dari tangan suaminya tanpa dia sadari.


"Kenapa?" tanya Tio saat memberikan air mineral pada Tia.


"Hmmmm, besok sesi ketiga Neng bakal latihan lebih berat, Aa sabar yah? Neng fokus kesini dulu. Doakan istri biar tetap fokus, mengahadapi dua sniper handal kita," kekeh Tia.


Tio tersenyum, ada rasa bangga memiliki istri sepintar Tia, ada perasaan minder karena kecerdasan Tia dia akui oleh negara.


"Kamu juga handal kok, buktinya pengaturan strategi sama kamu untuk melindungi negara. NKRI saja kamu lindungi, bagaiman Aa," goda Tio masih menyuapkan Tia dengan penuh kasih sayang.


"Iiiighs nakal, nanti jemputnya jam lima saja yah? Neng beresin disini dulu. Kalau Neng nggak ngabarin berarti masih sibuk disana," tunjuk Tia pada lapangan yang terhampar luas dihadapan mereka.


Tio mengangguk, " Aa juga pulang jam 16.30, ada rapat bersama para perawat, karena ada yang ikut, tapi bukan Aa," jelasnya.


"Nggak apa apa, yang penting Neng berangkat Aa doain. Selamat pergi, selamat pulang dengan membawa kebahagiaan," senyum Tia mencium pipi suaminya.


Tentu menjadi pemandangan aneh bagi Uli dan Beny melihat kemesraan sahabatnya yang tidak seperti biasa.


To be co n ti nue...


Mohon dukungan Like dan Vote pada karya ku, jangan lupa comment yah...πŸ™


Khamsiah.... Hatur nuhun....πŸ€—πŸ”₯