
Mohon maaf yang sebesar besarnya Author sampaikan pada pembaca My Wife is a Military, bahwa setiap hari othor akan update satu bab perhari, karena kejar tayangnya untuk judul yang lain. Doakan othor selalu sehat dan bahagia bisa melanjutkan karya dengan baik.
Karya othor yang lain,
...๐ปNature's Other Relationship,...
...๐ฅฐUgly 'n Fat Girl,...
...๐ฐCEO, Gadis Bersyarat....
Semua sedang on going begitu juga karya ini. Terimakasih dukungan NT dan semua readers.
___________
Paris Van Java Indonesia sangat padat saat Tio dan Tia menuju kediaman mereka di Setiabudi. Tentu Abdi selalu menggoda sang adik bungsu untuk cepat memiliki baby agar Nancy tidak kesepian saat berada di rumah.
"Aa denger nggak tadi permintaan Aa Abdi di depan Bapak sama Ibu," rungut Tia.
"Hmmmm emang kenapa? Ambu juga suruh kita cepet cepet punya baby kok," senyum Tio.
"Aaaaagh Neng masih mau fokus karier yah Aa," tegas Tia.
Tio hanya tersenyum mengangguk, baginya sudah terlanjur memiliki kenapa juga masih mikirin karier, yang penting kejar tayang terus dong, biar cepet cepet punya momongan. Umur udah cukup, harus fokus.
Mereka berhenti disalah satu supermarket untuk membeli kebutuhan di rumah. Tio menggandeng tangan Tia saat memasuki pusat perbelanjaan.
"Eheeem," kejut seseorang di belakang pasutri yang tidak seperti biasa.
Tio dan Tia menoleh sedikit kaget.
"Katanya sakit, ternyata lagi pacaran," sindir Uli menatap Beny sang suami.
"Iiiighs Mba, beneran lhoo. Aa Tio sakit, demam," usap Tia pada wajah Tio.
"Ciiiieee udah bisa pegang pegang, sepertinya bakal balapan ni buat punya baby," goda Uli.
"Apaan seeh," wajah Tia merah merona.
Tentu Beny merangkul bahu Tio karena rasa penasaran.
"Apaan seeh, kita kesini mau belanja. Bukan kepoin kami dong," jelas Tio sedikit gelisah.
"Hmmmm berhasil dong yah?" kekeh Beny.
"Udah aaagh," Tio menarik tangan Tia untuk masuk ke dalam supermarket bersama mereka. Tentu dengan perasaan malu bahkan bahagia. Jika teringat tadi malam sakit gigitan masih membekas.
Beny dan Uli saling menggoda pasangan yang semakin mesra tanpa mereka sadari.
"Habis dari sini kita makan yah Ti," ajak Uli.
"Hmmm oya, Aa Abdi ada di rumah. Ajak Deny juga. Dia lagi cari istri tuh. Kayaknya beliau cuti lama, karena besok mau main ke kantor," jelas Tia.
"Serius, kita bisa liburan bareng dong, suami gue mau cuti besok. Kita holiday kemana gitu,"
Uli penuh semangat diangguki setuju oleh Beny.
"Gue kabarin Aa Abdi dulu. Lagian mana enak bulan madu bawa pasangan belum menikah," kekeh Tia keceplosan.
"Aaaaagh, udah nggak sakit lagi dong, udah enak enak nih," tawa mereka pecah.
Tio hanya diam memilih beberapa kebutuhannya, sambil geleng-geleng kepala. Tio dan Beny bersahabat sejak semasa sekolah, mereka saling memahami walau terkadang sering cekcok.
Sementara Uli dan Tia adalah sahabat saat menjalani pendidikan. Uli adalah kakak senior Tia.
Setelah menghabiskan waktu di supermarket Tia dan Tio mengajak Beny dan Uli untuk makan bersama, tentu mengundang Abdi dan Deny agar berkumpul bersama mereka.
๐"Kalian dimana?" tanya Abdi melalui telfon.
๐"Di daerah Cihampelas Aa," jelas Tia.
๐"Oke,"
Abdi menutup sambungan telepon selulernya.
Uli menghubungi Deny karena hanya wanita tangguh ini yang masih berstatus jomblo.
Mereka saling bercerita tentang nasib Dokter Rudi yang masih belum ada kabar, karena Komandan Juan masih berada di Jakarta.
"Oya Ti, kayaknya bulan depan kita ke Jakarta lagi," jelas Uli menyuapkan makanan kemulutnya.
"Hmmmm tadi udah masuk ke email," jelas Tia.
"Nggak masalah kan?" kekeh Uli.
"Ya nggak lah, namanya juga dinas," senyum Tia menatap mesra Tio.
"Udah deh aaagh. Jangan ngegodain kalau ada Aa Abdi, nggak enak kita," jelas Tio.
"Ck tenang aja, rahasia kalian aman di tangan kami berdua," jelas Beny.
45 menit kemudian Abdi dan Deny datang secara bersamaan, tanpa ada perasaan canggung.
Tentu menjadi bahan hangat bagi mereka atas kedekatan Deny yang angot angotan.
"Sory telat," ucap Abdi memeluk Tia.
"Aa barengan sama Deny?" tanya Tia penasaran.
"Hmmmm iya, kasihan kalau berangkat sendiri. Aa jemput aja," jelas Abdi.
"Yeeeee asyik, pesta lagi dong kita?" tanya Uli.
"Apaan seeh, kita masih temenan doang," cerita Deny.
"Hmmmm," Uli sibuk berbincang dengan Tia dan Deny tentang pengajuan cuti mereka yang akan di ajukan dua hari secara bersamaan. Tentu menjadi bahan yang menggiurkan bagi Deny.
"Gue ikut," ucap Deny.
"Lo sama siapa?" tanya Uli menggoda.
"Siapa lagi lah, yang ngajak ke Ciwidey lah," jujur Deny.
"What? are you serius?" tanya Tia.
"Ck iya. Aa Abdi tadi ngajakin. Gue seeh yes, tapi Emak gue bilang, jangan jalan jalan aja. Nikah noh kayak Uli dan Tia. Masak anak gue cakep kagak laku," cerita Deny.
Mereka tertawa mendengar racauannya Deny. Dia sahabat jarang bicara, tapi sekali bicara enggak bisa berhenti.
"Terus Emak suruh Aa Abdi ngelamar kapan?" tanya Uli menahan tawa.
"Hmmmm nggak ngarep. Di nikahin syukur, di anggurin syukur," tawa mereka pecah membuat ketiga pria merasa tidak nyaman mendengar suara tiga dara Siliwangi seperti kuntilanak yang akan beranak.
Tia menggenggam lengan Tio dengan manja sesekali mencium bahu suami dengan gemas.
"Udah yuuk pulang, besok gue ada latihan nembak. Jam delapan yah Mba?" jelas Tia.
"Hmmmm, Lo mau pulang, capek atau mau nyambung?" goda Uli.
"Hmmm, kasih kesempatan sama yang belum halal, kita maah udah halal bebas," sindir Tia sambil merangkul Abdi.
"Aku tinggal yah Aa, lanjut aja. Tenang, aku traktir," bisik Tia mencium pipi Abdi.
"Hmmm Aa lanjut jalan aja, kamu hati hati. Besok Aa ke kantor yah," ucap Abdi mengusap lembut kepala adik perempuannya.
"Ti," sapa Deny.
"Ya," Tia mendekati Deny.
"Emang kalau gue nikah sama Aa, boleh gitu?" tanya Deny ragu.
Tia tertegun, kembali duduk di sebelah Deny. Dia sangat paham. Deny bukanlah dari keluarga berada. Dia wanita mandiri yang menjadi tulang punggung keluarga.
"Heeeii, gue tahu siapa Lo. Emang kalau Lo sama Aa gue emang kenapa? Bapak sama Ibu juga nggak banyak nuntut. Lo baik aja sama Aa gue, udah syukur banget, yang penting Lo mau apa nggak. Daripada sama Komandan Juan! judes, galak, jomblo sejati," kekeh Tia.
"Makasih yah Ti, Lo sahabat gue paling baik," peluk Deny pada Tia.
"Hmmmm, gue manggil Lo teteh apa Mpok?" tawa Tia semakin menjadi.
"Iiiighs, sebel," cubit Deny pada perut ramping Tia.
"Hmmmm kayaknya ada yang udah ehem niii," goda Deny mulai berani.
"Hmmm," mereka berpelukan dan berlalu meninggalkan Deny dan Abdi yang tengah melakukan pendekatan sesuai anjuran Nancy dan Aditya.
Selama di perjalanan pulang Tia dan Tio bertambah mesra.
"Bener kata orang, kenal dulu baru sayang yah Aa?" cerita Tia.
"Hmmmm emang sayang gitu?" goda Tio.
"Nggak seeh," senyum Tia mengalihkan pandangannya.
"Kita lihat saja Neng," kekeh Tio.
To be co n ti nue...
Mohon dukungan Like dan Vote pada karya ku, jangan lupa comment yah...๐
Khamsiah.... Hatur nuhun....๐ค๐ฅ