My Wife Is A Military

My Wife Is A Military
Reward kehamilan...



Terdengar sayup sayup suara adzan subuh, saat itu Tio terjaga memandang kearah Tia yang masih terlelap.


"Pagi sayang," kecup Tio pada kening Tia, kemudian berlalu meninggalkan istrinya untuk membersihkan diri dan melakukan ritualnya.


Tia masih tertidur pulas, karena pengaruh obat-obatan yang diberikan Dokter Ibra padanya saat mengeluarkan peluru yang bersarang di bahunya.


20 menit, Tio sudah selesai degan kegiatannya, kembali mendekati Tia.


"Neng, neng," kecup Tio.


Perlahan Tia membuka mata, mengusap pelan wajah cantiknya.


"Aa udah bangun?" tanya Tia lembut.


"Ehmmm, udah bisa sholat belum? kalau sudah, subuh dulu!" bisik Tio pelan.


Perlahan Tia duduk, berusaha beranjak dari ranjang peraduannya.


"Bantuin Neng," rengek Tia membuat Tio sedikit geli.


"Hmmmm, yuuuk wudhu dulu," Tio membantu Tia, membawa istrinya ke kamar mandi.


Tia membersihkan bekas jahitan dan melakukan ritualnya dibantu Tio, sehingga istrinya kembali segar sebelum sholat subuh.


Saat sudah selesai melakukan kewajibannya sebagai umat muslim, Tia menghampiri Tio yang tengah duduk ditepi ranjang.


"Aa kerja?" tanya Tia sedikit berbisik.


Tio tersenyum, meletakkan handphone di nakas, membawa istrinya masuk kedekapannya.


"Iya, Aa ada kegiatan pagi ini jam 09.00, kenapa?" tanya Tio.


"Hmmmm, jangan tinggalkan Neng, masih pengen deket suami," rengek Tia.


Tio tertawa, "siang Aa pulang, buat ganti perban Neng, selesai makan siang baru free."


Tia mengusap jari lentiknya diperut padat suaminya. Membentuk gambar abstrak sesuai keinginannya.


"Neng rindu," goda Tia.


Membuat mata Tio terbelalak kaget mendengar ucapan istrinya. Selama menikah tidak pernah Tia meminta lebih dulu, apa lagi semanja ini.


"Mau sekarang? nanti bahunya sakit lagi. Aa takut, Neng," ucap Tio.


Tia tersenyum, jarinya masih enggan beranjak dari perut sispack milik suaminya. Sesekali dia mencium aroma maskulin yang keluar dari tubuh tegap itu.


"Hmmmm, kalau sakit bilang yah?" bisik Tio tidak ingin menyia nyiakan waktu yang sudah didepan mata.


Tentu Tio melakukan ritualnya sebagai suami siaga yang disambut penuh cinta oleh Tia. Rasa luka tidak terasa bahkan membuat Tia semakin berani untuk mengambil kendali permainan mereka. Demi kenyamanan bahunya, agar tidak tersentuh oleh tangan Tio, mereka saling mengerti saat melakukan tugas suami istri itu.


Pagi yang dingin, membuat kehangatan seketika muncul dikamar Tia. Sayup sayup des*ahan saling bersahutan bahkan Tia sangat agresif. Tio tersenyum lega, saat berhasil membahagiakan Tia istrinya. Keduanya larut dalam suasana indah pagi itu.


Dengan nafas sedikit terengah-engah, Tia mengungkapkan perasaan cinta terhadap suaminya.


"Makasih yah Aa? Neng senang banget," ucapnya saat menyeka keringat yang ada dikeningnya.


Tio tersenyum lega, mendekap tubuh polos istrinya. Sesekali dia mengecup bahu yang terbuka, benda kenyal itu selalu menjadi candu bagi Tio.


"Hmmm, enggak ada ucapan cinta gitu? sudah sekian kali kita melakukan ritual ini, Neng nggak pernah ungkapin perasaan cinta ke Aa? kenapa? masih ragu hmmm?" goda Tio.


Wajah Tia berubah seketika, menatap lekat wajah pria tampan disampingnya dengan perasaan malu.


"Neng cinta sama Aa, apa mesti diucapkan? Aa pandai banget membuat Neng menggila saat diatas," jujurnya malu meringkuk masuk kecerug leher yang tengah menatapnya.


Tio semakin menggoda istrinya, "mau lagi nggak? kalau nggak mau Aa mandi," kekehnya.


"Sama, mandi berdua," rengek Tia manja mengulurkan tangannya, agar Tio mendekap tubuh langsing itu.


Benar saja, Tio menggendong tubuh langsing istrinya, melakukan lagi ritual mesra mereka tanpa rasa lelah. Perlahan Tio membantu Tia kembali agar lukanya tetap mengering, tidak terkena air.


"Jangan capek capek dulu yah? Neng istirahat saja, nanti Aa beliin makan. Neng mau apa? nasi pecel atau ikan bakar?" tanya Tio bersiap siap setelah membantu istrinya terlebih dahulu.


"Ya udah, yuuuk kita sarapan," ajak Tio.


Tia mengangguk, membuka pintu kamar yang berhadapan dengan ruang makan keluarga.


"Eeeh, Neng sudah sembuh," goda Abdi saat melihat rambut adiknya masih basah.


Tia belum menyadari sindiran kecil yang dilontarkan Nancy dan Abdi. Sesekali Deny tersipu malu, karena kejadiannya sama dengan sahabat sekaligus adik iparnya.


"Semoga hamil segera yah Pak! jadi Ibu ada temennya saat anak anak dinas," jelas Nancy pada Aditya.


"Iya, anak anak sudah dewasa semua, jadi kita harus buat target, siapa yang bisa deluan ngasih cucu kita kasih reward," ucap Aditya menggoda kedua anak menantunya.


Tia geleng-geleng kepala kurang setuju, "Neng masih fokus sama kerjaan Pak, Neng mau ikut pendidikan tahun depan, jangan pusingin Neng dengan hamil atau tuntutan Bapak berharap cucu dari kami," jelas Tia memajukan bibirnya.


Sheeeer,


Bola mata Keluarga Atmaja kembali menatap kearah Tia, apalagi Tio. Suami Tia itu tidak menyangka penolakan ingin memiliki baby dalam waktu dekat pupus sudah.


"Kamu nggak seriuskan Neng?" tanya Abdi.


Tia menatap wajah tampan Abdi, "seriuslah, Neng masih mau pendidikan, sayang sayangan sama Aa Tio dulu. Menikmati masa indah kebersamaan, karena kami belum pernah pacaran. Kami ini karena dijodohkan makanya dekat. Beda sama Aa," rungut Tia menatap lekat pada Abdi dan Nancy secara bergantian.


Tentu Aditya hanya bisa tersenyum mendengar keputusan sang putri.


"Ya sudah, kalau hamil nggak jadi pendidikan yah?" ejek Aditya.


Tia membelalakan mata indahnya, "Bapak, Neng masih mau melanjutkan ambisi, visi dan misi saat memilih posisi ini," tegasnya.


Tia mengambilkan Tio sarapan kesukaan suaminya, yaitu nasi goreng buatan bibik. Tidak manis, juga tidak pedas, sangat gurih dilidah suaminya.


Deny berpamitan pada mertuanya, kemudian memeluk Tia, "cepat sembuh, jangan banyak pikiran," kekehnya.


"Hmmm," Tia hanya mendehem menerima pelukan sahabatnya.


"Kamu hati hati, salam buat Mba Uli," bisik Tia.


"Iya, palingan orang kantor kesini saat jam pulang kantor. Pokoknya kamu jangan sibuk sibuk," Deny mengecup pipi Tia, meraih lengan Abdi yang sudah mendekatinya.


"Ciiieee, mesra banget. Bikin gue jadi mupeng," kekeh Tia.


"Kan ada Aa Tio, anterin tuh sampai mobil, biar semangat!" ucap Deny berlalu meninggalkan kediaman Aditya.


Tia mengantarkan Tio menuju mobil, mengecup lembut bibir suaminya, mencium punggung tangan Tio, memeluk erat pria tampan itu.


"Hati hati, jangan lupa makan siang dirumah," ucap Tia tersipu-sipu.


Tio mengusap lembut kepala istrinya, mengecup kening mulus Tia, "nanti Aa bawain kue dan nasi pecel yah! kali saja bener, orang kantor datang, kita harus ada persiapan," kenang Tio.


Tia mengusap lembut punggung suaminya, melepas kepergian Tio dengan wajah sedikit sedih.


Nancy menatap wajah cantik anaknya, hanya tersenyum tipis dan mengusap lembut punggung putrinya.


"Gimana? udah cinta dong?" goda Nancy dapat didengar oleh Aditya.


"Aaagh, Ibu. Sama sama terus tentu cinta dong," rengek Tia.


Mereka saling bercerita tentang pekerjaan yang sudah menunggu didepan mata, semoga berjalan sesuai rencana Aditya.


"Berdoa saja, jika tidak bisa, kamu tetap berangkat sendiri," jelas Aditya menatap wajah putrinya.


"Hmmmm," Tia kembali lemas berlalu meninggalkan kedua orang tua menuju kamar.


Semoga yah Neng Tia, 🀧


To be co n ti nue...


Mohon dukungan Like dan Vote pada karya ku, jangan lupa comment yah...πŸ™


Khamsiah.... Hatur nuhun....πŸ€—πŸ”₯