My Wife Is A Military

My Wife Is A Military
Cinta keduaku.



Pagi yang indah bagi keluarga Stuard saat mereka sarapan bersama, kehadiran Mutia wanita Indonesia yang harus mereka jaga bersama disebabkan kecelakaan saat perperangan didaerah konflik. Beberapa kali mereka mencari sendiri informasi tentang Mutia, karena mengalami kondisi koma selama dua bulan.


Lovely sangat bersemangat, gadis kecil itu menggandeng tangan Tia, saat akan meninggalkan kediaman Stuard, "Opa, aku sekolah dulu, hari ini aku sangat bahagia, karena kehadiran cinta keduaku didunia ini."


Mutia tersenyum bahagia melihat Lovely sangat menyanjungnya, "Pa, saya antar Lovely dulu. Mungkin kami akan pulang sore hari," dia menatap Gibran, membenarkan kegiatan mereka hari ini.


"Ya, hati hati. Ingat Gibran, jaga Mutia. Jangan sampai kamu menelantarkan dia," Stuard menatap Bian dan Gibran bergantian.


Gibran mengangguk mengerti, "saya berangkat Ma, Pa. Kami akan menghabiskan waktu dikantor ku. Sambil menunggu Lovely pulang sekolah. Jadi kami makan siang di restoran kantor saja."


Mereka berpamitan, menuju mobil Gibran. Mutia membuka pintu untuk Lovely agar duduk didepan, tapi gadis cantik itu justru meminta Mutia untuk duduk didepan bersama Gibran.


"Jangan, kamu saja sayang duduk didepan. Temanin Daddy, Aunty dibelakang saja. Saat tiba disekolah Aunty pindah kedepan yah," pujuk Mutia.


Lovely menautkan jari telunjuk dan jempolnya, "oke, aku ingin membuat seorang wanita disekolah patah hati karena Daddy memiliki teman sepertimu."


Gibran enggan memberi komentar pada pernyataan Lovely putrinya. Baginya, ketulusan hati Mutia saat ini sangat membantu Lovely agar lebih percaya padanya. Dia melajukan mobil dengan kecepatan sedang, menuju sekolah Lovely yang terletak tidak begitu jauh dari peternakan Stuard.


Benar saja, saat tiba didepan gerbang masuk sekolah Lonely tampak sudah berdiri disana.


"Benarkan Dad, wanita itu pasti menunggumu didepan gerbang. Aku tidak ingin dia membawakan tasku. Aku ingin Aunty yang membantu!" Lovely memangku tangannya didada dengan wajah kesal.


"Hmmm, ya!" Gibran mengehentikan mobil, memarkirkan kendaraannya didekat Lonely berdiri.


Tentu wajah wanita itu tampak cerah, senyuman manis dan hangat, terlihat jelas diwajah Lonely, "pagi sayang, bagaimana harimu?"


Lovely dengan cepat menutup jendela, menoleh kebelakang, "Aunty, maukah kamu membantuku untuk masuk kedalam?"


Mutia mengangguk, "iya, yuuk."


Lovely penuh semangat memeluk tubuh Gibran, mengambil travel bag berisikan semua perlengkapan sekolah, "I love you Daddy, aku sekolah. Daddy jangan lupa jemput. Ingat, jangan nakal."


Gibran mengecup punggung tangan Lovely, tersenyum bahagia melihat perubahan pada anak kesayangan, "hati hati, I love you too girl."


Mutia segera turun dari mobil, menyapa Lonely dengan ramah, "haii, apa kabar?"


"Ooogh, ada kamu. Ya, saya baik. Bagaimana keadaanmu, apakah kalian tinggal bersama?" Lonely bertanya penuh selidik.


Mutia mengangguk, membukakan pintu untuk gadis cantik Gibran, "silahkan Nona," godanya.


Tia menolong Lovely membawa tas dan beberapa perlengkapan lainnya. Mata gadis kecil itu menatap kesal pada wanita dewasa yang berdiri dihadapannya.


"Ayoo Aunty, aku tidak ingin berbasa-basi dengan siapapun selain denganmu," Lonely menarik tangan Mutia.


Mutia hanya menunduk, menatap kearah Lonely, mengikuti langkah Lovely, "maaf."


Lonely menghampiri Gibran, "ada apa dengan Lovely, siapa wanita itu. Bukankah dia sudah memiliki suami, kenapa putrimu justru nyaman dengan dia?"


Gibran menautkan kedua alisnya, "aku tidak mengerti dan aku hanya ingin membahagiakan Lovely, Lonely."


Lonely menarik nafas dalam, memilih pergi meninggalkan Gibran masih berada didalam mobil. Ada satu kekecewaan dihati gadis dewasa itu, karena penolakan Lovely padanya, "kenapa Lovely sulit menerimaku, justru dia gampang menerima orang baru seperti wanita itu. Apa hebatnya dia?"


Mutia menghampiri Lonely saat wanita bule itu memasuki perkarangan sekolah, "saya titip Lovely, terimakasih."


Mutia menatap lekat wajah Lonely, "hmmm, aku tidak pernah menjanjikan apapun pada mereka, biarkan mereka memutuskan apa yang terbaik dan tidak ada urusan denganmu. Aku menghargaimu sebagai teman Gibran, tapi bukan untuk sahabat Lovely. Jika kamu memang menyayangi putri kecil Gibran, ambil hatinya, bukan Gibran. Permisi."


Lonely terdiam, wajah cantik alami memerah, tidak menyangka akan mendapatkan serangan balik dari Mutia, "aku tidak akan membiarkanmu merebut Gibran dari aku, Tia."


Mutia menghalau tangan kanannya keawan, begitu banyak kejadian aneh sangat berbeda selama di Swiss. Perasaan yang tumbuh secara perlahan pada keluarga Gibran teruntuk Lovely sangatlah mudah, bahkan dirinya sendiri dapat melupakan Bambang Sulistio dengan sendirinya.


Mutia menghampiri mobil Gibran, masuk ke kursi kemudi dengan wajah menekuk, "yuk, Lovely pulang pukul 17.00."


Gibran menautkan kedua alisnya, "apa kamu baik baik saja?"


Mutia mengangguk, matanya masih menatap tajam kedepan, "aku butuh telepon seluler, karena aku ingin menghubungi suamiku. Meminta dia untuk segera membawaku dari sini."


Gibran semakin kaget mendengar pernyataan Mutia, dia memberikan handphone miliknya pada wanita disampingnya tanpa basa basi.


Tia meraih handphone milik Gibran, menekan kode negara kemudian mengingat nomor milik Tio suaminya, "kenapa aku lupa yah, nomor Bapak berapa?" tunduknya.


Gibran tersenyum menatap Mutia, "kamu kenapa, apa ada yang mengganjal dihati?"


Mutia mengangguk, "jujur aku kesal dengan wanitamu, kenapa dia jatuh cinta padamu, justru memintaku untuk menjauhi Lovely. Aku menyukai putrimu, bukan berarti ingin merebut hatimu. Walau aku tahu kau mencintaiku, tapi aku sudah memiliki suami dan mengandung anak kami. Aku kesal Gibran, sangat kesal."


Gibran mengangguk mengerti, "apakah Lonely mengancammu?"


"No, dia hanya ingin kamu menerimanya. Aku mulai mencintaimu dan putrimu Gibran," Mutia menutup rapat bibirnya.


"Ooogh shiit, keceplosan," dia semakin merutuki diri sendiri.


Gibran mengarahkan tubuhnya menghadap kearah Mutia, "bisa ulangi?"


Mutia menelan salivanya, menggeleng dengan sangat cepat, "silahkan jalan. Aku tidak ingin membahas ini."


Gibran mengangguk, dia tidak ingin melanjutkan cerita mereka, walau sebenarnya banyak tanda tanya dikepalanya, "ada apa dengan Mutia, kenapa dia jadi aneh?"


Gibran menekan pedal gas, menuju supermarket untuk membelikan Mutia satu unit handphone sesuai janjinya. Dia mengehentikan mobil diparkiran, "yuk, kamu boleh memilih handphone yang kamu suka. Semoga bisa bermanfaat dan menjadi kenang kenangan terindah dari saya."


Mutia tersenyum, menggelengkan kepalanya, "belikan saja aku handphone terbaik, karena aku tidak biasa menggunakan telepon seluler yang biasa," godanya pada Gibran.


Gibran mengangguk mengerti, "baiklah, kamu bebas memilih yang terbaik, aku ikhlas. Jika Jenderal Aditya datang menjemput, aku akan meminta beliau menggantinya."


Mereka tertawa, Mutia tertawa lepas hingga mengusap air mata yang keluar dari sudut matanya, mengusap lembut perut buncitnya.


"Kamu bahagia sekali?" Gibran tersenyum tipis.


"Hmmm, entahlah. Aku sangat bahagia jika kamu bisa menghiburku seperti ini," Mutia mengangguk.


Gibran menekan tombol otomatis agar pintu mobil terbuka, "kita kedalam, aku hanya bercanda."


Mutia mengangguk, memilih keluar dari mobil, mengikuti langkah kaki Gibran.


______________