
Suasana sore di Paris Van Java Indonesia, memberikan kesan yang sangat berbeda bagi kedua pasutri yang sedang menuju kediaman orang tua mereka. Ya, Tia ingin menghabiskan waktu bersama keluarga sebelum keberangkatannya lusa menuju Timur Tengah.
"Aa, Neng hayang ubi Cilembu, sama jagung bakar keju parut," ucapnya saat melihat salah satu warung kopi saat akan menempuh Lembang.
Tio mengaktifkan lampu sen tanda berhenti, untuk memesan beberapa makanan sesuai keinginan istri tercinta, "Neng mau minum wedang jahe nggak?" tanyanya saat akan turun.
"Hmmm, nggak deh!" senyum Tia memainkan jari dilayar ponsel miliknya.
Tio memesan beberapa makanan yang diinginkan oleh istrinya, memilih menunggu di dalam mobil. Cuaca dingin sangat menusuk tulang pria tampan berdarah Sunda itu.
"Sudah Aa pesan, sesuai permintaan ibu negara," kekeh Tio menggoda Tia saat memasuki stir kemudi.
Tia menepuk lengan suaminya dengan lembut, "Besok Aa anterin Neng yah? habis sholat subuh?" pintanya manja dilengan Tio.
Tio menatap wajah cantik istrinya, memberi kecupan manis dipuncak hidup nan mancung yang menjadi hiasan sangat indah ciptaan Tuhan, cup.
Tia tersenyum malu, "Aa genit iihh, Neng kangen tahu," jujurnya tanpa ada perasaan canggung.
"Kita nginap dimana emangnya? dirumah Bapak atau balik ke rumah Ambu?" tanya Tio pada Tia.
Tia bersandar dibahu suaminya, "kita nginap tempat Bapak saja yah Aa? Neng kangen pengen kumpul. Besok selesai sesi ketiga kita kembali ke Setiabudi, karena Neng berangkat," jelasnya sedikit murung.
Tio tampak berusaha tegar mendengar kalimat Tia barusan, "Neng baik baik yah? kalau ada waktu kirim kabar terus sama Aa," pintanya menyembunyikan rasa sedih di hati.
"Ya iyalah, Aa juga harus jaga sikap, Neng tuh pergi perang, bukan pergi jalan jalan. Enam bulan Aa, enam bulan," jelas Tia menunjukkan dengan kedua tangannya.
Mereka berpelukan mesra, terkadang saling berciuman mesra. Entahlah saat ini perasaan bimbang, bahagia bercampur aduk menghantui pikiran keduanya. Jika bisa memilih mereka akan menghabiskan waktu dari pertama pernikahan tanpa harus bermusuhan sejak awal.
"Ternyata mudah membuat sepasang suami istri itu saling cinta yah Aa? kurung saja dikamar, jadi deh," kekeh Tia berbisik pada suaminya.
Tio menautkan kedua alisnya, "emang Neng merasa dikurung selama menikah dengan Aa hmmm?" godanya pada puncak hidung Tia.
Tok tok tok,
Seorang pelayan toko mengetuk kaca mobil mereka membawa pesanan Tio. Segera Tio menekan tombol agar kaca terbuka, membayar semua belanjaan mereka, menutup kembali kaca mobil. Melajukan kecepatan menuju kediaman keluarga Atmaja.
Lima belas menit perjalanan tibalah mereka dikediaman Keluarga. Terlihat Aditya tengah menghabiskan malam bersama Nancy yang duduk diteras depan rumah ditemani secangkir kopi susu buatan bibik ditemani beberapa cemilan.
Kediaman Atmaja yang sangat asri menambah kenyamanan jika sudah berada disana. Pepohonan rindang menambah kesejukan yang alami.
"Assalamualaikum Bapak, Ibu!" sapa Tia meletakkan bingkisan yang dia bawa diatas meja.
Nancy tersenyum melirik kearah Aditya, "Pak, Nak Tio tuh," liriknya saat Tio mendekat pada mereka.
"Apa ini Neng?" tanya Nancy.
"Jagung bakar, ubi Cilembu dan wedang Bu, Neng lagi pengen," senyum Tia duduk disamping Aditya.
"Pak," Tia mengambil punggung tangan kanan Aditya kemudian menciumnya.
Aditya mengusap lembut kepala putrinya, "tumben belum mandi? emang nggak pulang dulu?" tanyanya saat melihat Tia dan Tio masih menggunakan pakaian dinas.
"Hmmm, tadi makan dulu bareng Komandan Juan dan Mba Uli, Pak. Makanya langsung kesini saja. Kangen, lusa Neng berangkat Bapak janji ngelepasin lho," jelas Tia menggoda Aditya.
"Mandi Neng, habis itu makan disini gabung sama Ibu. Kami kangen sama kamu!" senyum Nancy.
"Iya Bu, Neng bersih bersih dulu yah? nanti Neng kesini deh," Tia menarik tangan Tio memasuki rumah menuju kamar miliknya.
"Persis kamu, jual mahal, tapi manja. Sekarang nggak mau lepas," geram Nancy mencubit tubuh berotot suaminya.
"Sakit Bu, Abdi sudah nelfon belum? saya belum dapat kabar? mereka berangkat dari mana, biasa langsung pake jet tempur seeh membawa sniper kesana. Semoga anak anak selamat saat perang yah Bu," doa Aditya yang terbaik untuk kedua putra putrinya.
"Tio suruh disini saja, Deny kan tidak disini!" jelas Nancy.
"Biar saja mereka yang memutuskan, kita hanya meminta, jika dia sungkan kita mesti apa? Nak Tio itu sama persis sama Abahnya. Sungkannya terlalu banyak, sehingga membuat kita salah tingkah dalam memutuskan, karena mereka tidak mampu bicara, nurut tapi berontak," jelas Aditya.
Mereka berdua menikmati malam menunggu anak menantunya, tapi pasangan perawat dan mayor itu malah enggan keluar kamar.
"Mereka pasti tengah berbahagia menghabiskan malam," bisik Aditya menggoda Nancy.
Nancy menautkan kedua alisnya, "maksud Bapak?" tanyanya.
"Hmmm, kamu pura pura lugu," kekeh Aditya.
Nancy benar benar gemas melihat tingkah suaminya jika sudah menggoda, "kamu kebiasaan yah Mas, nyebelin," bisiknya manja.
Aditya menyambut jemari Nancy, bertanya karena memanggilnya dengan sebutan "Mas".
"Sudah lama sekali kamu nggak menyapa dengan panggilan Mas, apakah kamu merindukan malam pertama?" kenang Aditya pada Nancy.
"Iiighs, kamu genit yah? anak anak sudah menikah, sebentar lagi akan memiliki cucu, malah semakin gencar menggoda aku!" rungut Nancy menunduk malu.
Aditya semakin mendekat, "justru semakin anak sudah menikah kita harus lebih mesra biar selalu hangat dalam memupuk rasa cinta kita yang tersisa setengah," kekehnya.
"Bapak, emang kamu mencintai aku hanya setengah saat ini? sudah nggak penuh seperti dulu?" tanya Nancy mendekatkan wajahnya pada Aditya.
"Tidak sayang, selama ini kita selalu melupakan perasaan sayang kita demi membesarkan anak anak, sehingga mereka lebih prioritas daripada kita, Mas nggak pernah denger kamu manja manja lagi, justru lebih sering ngomel sama bibik sambil lirik aku," cerita Aditya.
"Ya iyalah, kamu nyebelin! apalagi kalau ada di Jakarta, pasti hobi banget gangguin aku. Bagus kamu pergi dinas, aku jadi bebas kesalon," ceritanya.
"Kamu mau kesalon?" tanya Aditya memberi ruang pada istrinya untuk memanjakan diri.
"Emang boleh?" tanya Nancy.
"Besok pagi ajudan mengantar kamu setelah mengantar saya ke lapangan tembak. Mas mau menemani putri kita untuk sesi tiga latihan, atau kamu mau ikut?" tanya Aditya menggenggam jemari istrinya.
Nancy mengangguk setuju, "aku ikut Mas saja," ucapnya.
Mereka berdua saling berbagi kebahagiaan dengan wajah penuh cinta, begitu banyak kejadian yang terjadi selama masa pernikahan keduanya, hanya rasa percaya pada pasangan yang mampu membuat lebih nyaman.
Ego masa muda yang tidak mudah mereka lalui dengan segala problematika kehidupan sehari-hari yang dihadapi oleh keduanya. Perbedaan pendapat tentang pernikahan putrinya diusia masih sangat kecil hanya karena tanggung jawab, keputusan Abdi yang ingin meminang cinta SMP-nya Deny menjadi bumbu bumbu rumah tangga Jenderal kala itu.
Sikap tegas Aditya Atmaja mampu meyakinkan Nancy dalam mengambil keputusan yang tepat untuk kebahagiaan bersama.
Bentuk keluarga bahagia dalam kesederhanaan.
To be co n ti nue...
Mohon dukungan Like dan Vote pada karya ku, jangan lupa comment yah...π
Khamsiah.... Hatur nuhun....π€π₯