
Tia tersenyum tipis saat memasuki rumah suaminya, bergegas menuju kamar mandi karena kegerahan dan sangat ingin berlama-lama berdiri dibawah guyuran shower.
Tio merasakan hal yang sama pada dirinya, dia bergegas menyusul Tia yang lebih dulu berada di bawah guyuran shower tanpa mengetahui suaminya sudah sejak tadi menahan sebak kerinduan.
Perlahan tangan Tio melilitkan tangannya di perut tipis Tia, mematikan shower yang masih mengucur deras.
"Aa," kaget Tia melirik Tio dari arah belakang.
"Kangen," bisik Tio.
"Hmmmmfg," Tia menikmati sentuhan jemari lentik suaminya di bawah sana, membuat tubuhnya merasakan sensasi rasa yang sangat unik. Jemari itu mampu melemahkan persendiannya, sehingga membuat Tia benar benar melayang dan terbuai.
Tio sedikit penasaran dengan apa yang dia baca, ingin segera mencobanya pada wanita halal yang sudah berdiri dihadapannya.
Perlahan Tio membalikkan tubuh istrinya, mencoba seperti yang ada di kepalanya.
"Aa," erangan Tia terdengar merdu di telinga Tio, membuat pria itu semakin bersemangat memberikan yang terbaik untuk istrinya.
Tia benar benar tidak bisa menahan perasaan sakit saat keris Tio melesat dengan posisi berdiri membelakang.
"Aa sakit," rengek Tia.
Adrenalin Tio benar benar terpacu, waktu keris benar benar seperti dimanjakan didalam sana. Tio tersenyum lega saat mereka mencapai pelepasan yang indah, tapi tidak untuk istrinya, Tia tak mampu berdiri karena lemahnya persendian seluruh kakinya.
Nafas masih menderu, Tia justru merasakan sakit dibagian intinya, "Aa sakit," isak Tia.
Tio mendekati Tia meraih handuk untuk membalut tubuh istrinya, segera menggendong wanita itu menuju kamar.
"Neng kenapa?" tanya Tio sedikit merasa bersalah.
"Sakit Aa," isak Tia di dekapan Tio.
Deg,
"Apa aku ganas banget sama istri sendiri?" batin Tio.
"Aa lihat yah? luka enggaknya. Maaf yah Neng," kecup Tio.
Tio benar benar melihat ke bagian inti itu, sedikit memerah. Bergegas Tio mengambil antiseptik mengobati bagian yang terluka.
"Maaf yah sayang, Aa janji nggak akan ulangin lagi," ucap Tio.
Tia mengangguk, menatap lekat suaminya. Begitu perhatian dan sangat telaten sekali. Tidak ada perasaan jijik atau bahkan geli.
Tio sangat hati hati mengusap bahkan lebih lembut menyentuhnya. Perasaan bersalah melekat pada kepalanya, hanya kata maaf yang mampu terucap.
"Gimana? udah mendingan?" tanya Tio.
"Udah Aa, tapi masih perih seeh," senyum Tia.
"Iya sabar, Aa siap siap dulu," kecup Tio pada kening Tia.
"Hmmmm makasih yah,"
Tia merasakan kebahagiaan yang kekal abadi bersemayam di lubuk hatinya, segera bergegas menuju acara sakral Abdi dan Deny.
.
.
Acara pernikahan Abdi dan Deny luar biasa mengharukan, nuansa sederhana, undangan beberapa tetangga, panti asuhan. Sangat berkesan bagi Abdi dan Deny, keduanya seperti pasangan paling bahagia. Cantik dan tampan, sama sama prajurit abdi negara, seperti kisah cinta di dalam novel.
"Ini adalah cara Allah mengangkat derajat mu sayang." batin Abdi saat mengucapkan ijab kabul.
Tio menggandeng tangan Tia sangat mesra, Uli melayani tamu undangan bersama Bibi Keluarga Atmaja, sementara Beny masih disibukkan dengan moment foto mengabadikan acara sakral tersebut.
"Mengalahkan artis papan atas Aa Abdi, bro," ucap Beny berbisik di telinga Tio.
"Hmmm," senyum Tio.
Saat Abdi memantapkan hatinya menikahi Deny, sejak itu pula ada perasaan bersalah di hati Juan sang Komandan jomblo akut sejati, memendam perasaan cinta selama ini kepada geulis Bandung itu. Pikirannya sama, menganggap Deny adalah gadis yang tidak suka dengan pria, karena hanya fokus pada dunia pekerjaan.
"Sah, sah, sah," ucap Pak penghulu dan para saksi.
Tio dan Tia bernafas lega, setidaknya Nancy dan Aditya tidak bertanya terus tentang status putra satu satunya.
Abdi mendekat pada Tia dan Tio, "makasih udah mau bantu Aa," kecupnya di kening Tia.
"Hmmm selamat yah," peluk Tia.
Uli memanggil Abdi agar melakukan sungkeman terlebih dahulu. Syukuran sederhana yang mereka buat sangat berkesan.
Sungkeman kepada kedua orang tua Abdi dan Deny berlangsung sangat hikmat. Walau pernikahan mereka masih secara sirih, yang penting halal dulu menjelang resepsi. Padatnya jadwal Abdi membuat dia sulit mengatur waktu senggang untuk membina rumah tangga.
"Hmmmm akhirnya Aa tampan Lo nikah juga yah? gue pikir sahabat kita nggak akan nikah, ternyata dia menikahi anak Jendral," kekeh Uli.
"Ooogh ya Ben, uang Lo udah masuk dari Rudi?" tanya Tio mengingatkan.
Beny menautkan kedua alisnya, menatap wajah istrinya.
"Setau gue seeh belum, tapi nggak tahu. Masalahnya bini gue yang megang ATM," jelas Beny.
Tio terkekeh, "tadi banking gue bunyi, lumayan cuiiii buat beli sate Madura dan gerobaknya," tawanya.
"Hmmmm pantas tadi baik baikkin Neng yah? rupanya dapat rejeki, Alhamdulillah rejeki istri yang terluka,"
Tia merangkul Uli, sementara Deny masih di sibukkan dengan anak panti asuhan yang mereka undang.
"Sepertinya ada yang balapan pengen punya baby ni," ujar Uli.
Tia menoleh ke arah Tio, "gue masih mau pacaran dulu," ucapnya.
"Huuuuush jangan di tunda dong," rungut Uli.
"Gue masih mau happy dulu, ngerasain pacaran, happy, hang out, Lo tahu gue nggak pernah pacaran sama Aa Tio yang tampan. Makanya sekarang menikmati keindahan saat sudah halal yah Aa," kecup Tia pada pipi Tio.
Sheeeer,
"Tumben dia berani mesra di depan sahabatnya, bener kata Aa Abdi, mesti rajin di kunjungi biar tumbuh perasaan sayang dan perhatian," batin Tio tersipu sipu.
Tio semakin tertawa mendengar celotehan istrinya, "emang tampan gitu?" goda Tio pada puncak hidung Tia.
"Hmmmm jarang jarang muji, sekali di puji rasa melayang terbang ke awan yah Tio," ucap Uli.
Mereka saling tertawa, menikmati hidangan yang di persiapkan Laila.
"Aa mau makan apa lagi?" tanya Tia.
"Ice cream deh," ucap Tio memberi gelas plastik yang berada di genggaman.
Tia bergegas menuju meja yang berisikan ice cream homemade sengaja di pesan Uli karena menjadi makanan favorit mereka.
Tio kembali mendekati Tia, memberi amplop untuk anak panti asuhan sebelum mereka bubar.
"Emang Aa ada uang cash? kan ATM sama Neng?" tanya Tia.
"Ada, simpanan Aa di dalam lemari," senyumnya mengambil ice cream dari tangan istrinya.
Tia menitipkan pada Deny, agar memberikan sumbangsih mereka sebagai ucapan syukur mereka.
"Kita nongkrong yah? ajak Aa Abdi, mereka kan mau ke Ciwidey," ucap Uli membuat mata Tia dan Tio membelalak minta ikut.
"Gue ikut yah, mumpung Lo disini gue izin cuti dua hari," kekeh Tia.
"Ogah, Lo besok masih latihan lhoo! bulan depan kita ke luar negeri kalau nggak salah. Tunggu keputusan dari pusat. Masuk nggak nama gue, kalau nama Uli ada biasanya Mutia akan ada," kekeh Uli merasa bahagia.
"Iiiighs," Tia kembali memeluk suaminya, "nggak bisa kangen kangenan lagi dong selama enam bulan," rengeknya.
"Hmmmm," Tio merasa sedikit kurang nyaman mendengar waktu enam bulan, "gue harus hamilin cepet," batinnya.
To be co n ti nue...
Mohon dukungan Like dan Vote pada karya ku, jangan lupa comment yah...π
Khamsiah.... Hatur nuhun....π€π₯