
Tio, Tia, Uli dan Beny duduk disalah satu warung rujak cingur yang terletak di daerah Kiara condong Bandung. Suasana siang sangat bersahabat menambah kebahagiaan diantara mereka.
Mereka memesan empat piring rujak cingur, satu piring rujak buah yang ditambah petis didalamnya, beberapa mangkuk es doger untuk menyejukkan tenggorokan.
"Hmmm, ternyata selera kuliner kita sama yah Ti," bisik Uli tersenyum bahagia karena menemukan makanan yang dia idamkan.
"Hmmm, gue juga dibawa Deny dan Aa Abdi, kalau nggak mana tahu!" kekehnya.
"Emang kalian nggak suka kulineran kalau libur begini?" tanya Uli sedikit penasaran dengan kegiatan sahabatnya selama liburan.
Tia menggeleng, dia terkekeh, "Aa Tio sukanya dikamar waee," tawanya menggoda sang suami.
Beny kembali menggoda Tio sahabatnya, "ngomong sibuk, rupanya sibuk ehem, dasar! pantes kemaren jadi bahan gosip ciuman diruang perawatan pasien, ternyata ciumannya sama istri toh," kekehnya semakin keras.
"****** Lo! ya iyalah sama istri. Emang mau sama siapa lagi," geram Tio menatap manik mata Beny.
Beny tertawa, "ya kali aja, hahahaha."
Tio semakin kesal sama Beny karena dia juga tahu tentang keributan sahabatnya di kantin bersama istri tercinta.
Mereka menghabiskan semua hidangan yang disiapkan oleh pihak warung, Uli dan Tia begitu lahap menyantap makanan.
"Neng lahap banget, kayaknya hamil deh," goda Tio melilitkan tangannya diperut ramping Tia.
Tia menaikkan alisnya, "nggaklah Aa, kan baru tiga minggu lalu period, hamil dari mana," jawabnya asal.
"Hmmm, kita kan sering ngelakuinnya Neng, kan asyik kalau hamil nggak jadi berangkat," Tio mengecup kepala Tia dengan mesra.
"Emmm, wait anda see. Neng nggak bisa juga kalau gagal berangkat, Mba Uli hamil, masak yang berangkat dari kesatuan sersan. Deny pendidikan, pasti harus ada sniper elite yang wajib ikut Aa," jelas Tia.
Tio meletakkan keningnya dibahu Tia, "Aa bukan dokter, jadi nggak bisa ikut kesana. Kemaren sudah keluar surat perintah dinas untuk beberapa dokter yang ikut dan nama Aa nggak ada disana," ceritanya.
Tia tersenyum, mengalihkan pandangannya kearah Tio, "Aa tenang saja, semua akan baik baik saja. Neng pergi enam bulan, bukan enam tahun," jelasnya.
"Tapi perasaan Aa nggak enak Neng, Aa nggak mau Neng pergi kali ini, Aa takut kehilangan Neng. Aa sayang banget sama Neng, pengennya Neng disini saja, biar Aa yang pergi gantiin posisi Neng," tunduk Tio.
Uli dan Beny justru saling tatap, melihat wajah Tia dan Tio bergantian.
"Aa Tio, nggak akan terjadi apa apa. Ini hanya dinas dan akan mendapatkan rekomendasi untuk pendidikan jika pulang dari sana. Tia kan pengen jadi Letkol, jadi setelah kembali pasti ada masa depan yang lebih baik dari sekarang," jelas Uli pada Tio menatap wajah Tia.
Tia mengangguk, membenarkan ucapan Uli, "jika terjadi sesuatu, pasti yang lain akan memberi kabar sama Aa, sama keluarga, sama semua. Lagian Aa Abdi kayaknya ikut juga dari Angkatan Udara, walau beda tapi tetap kami bisa sama sama jika santai," senyumnya agar Tio kembali tenang.
Entahlah, bentuk kekhawatiran Tio sangat tampak jelas diwajah tampan itu. Dia hanya ingin Tia tetap tinggal disini bersamanya.
"Ternyata berat yah, jadi suami seorang militer," rungut Tio.
Mereka tertawa mendengar celotehan Tio, "yaah, apa kabar gue bro, have fun, my wife is a military," kekeh Beny menenangkan Tio.
"Ya ya ya, my wife is a military," sambung Tio menekuk wajahnya.
Setelah semua selesai, Beny membayar semua makanannya dengan penuh kebahagiaan penuh kelegaan, karena apa yang Tio rasakan dia rasakan beberapa waktu lalu karena berat untuk berpisah dengan wanita yang menjadi belahan jiwanya.
Mereka memasuki mobil, membelah jalan menuju kediaman Tio dengan penuh perasaan bahagia.
"Sebenarnya Lo hamilin dia dari beberapa bulan lalu bro!" goda Beny pada Tio.
"Dasar, mereka aja mesranya baru sekarang," potong Uli.
"Hmmmm, sweet yah beib," kekeh Uli mengusap lembut wajah Beny.
"Mereka telat saja, karena keegoisan yang sangat besar. Ngomong nggak mau sama sama, ternyata mereka saling membutuhkan," tambah Beny.
Godaan para sahabat tidak menghilangkan rasa sayang Tia dan Tio. Bagi mereka saat ini adalah masa indah pernikahan mereka. Yaah, walau ego Tia masih terlihat jelas, tapi Tio mampu memberikan kenyamanan pada Tia.
"Besok Lo latihan jam berapa Ti? gue temenin deh, ada beberapa yang akan kita bicarakan untuk mengatur strategi. Tenang tiga hari lagi Lo berangkat, semua sudah terkodinir dengan sangat baik," Uli mengirim semua data yang masuk ke whatsApp Tia sesuai perintah Komandan Juan si jomblo akut yang ditinggal nikah oleh Deny.
"Pagi gue udah disana. Gue juga udah siapkan sempi pribadi, kemaren Bapak ada ngasih sedikit besar, tapi gue maunya yang ini saja, lebih kecil dan enak dibawa kemana mana untuk melindungi diri," jelas Tia.
Uli mengangguk, "yang gue punya di sumpetin sama suami, dia pikir kita bakal gila apa nodong senjata sama orang terdekat," gerutunya.
"Nggak tahu aja kamu Mba, aku pernah ditodong senjata saat masuk kekamar, bahkan dar der dor hingga kusen rumah Ambu rusak," curhat Tio.
Tia membelalakan matanya, "iiighs, mereka nggak tahu Aa. Lagian siapa suruh masuk nggak izin dulu," rungutnya pada Tio menahan rasa malu dan gengsi.
Tia memeluk Tio, "maafin Neng, sekarang kan nggak pernah lagi, justru tidur malah sering pegang senjata Aa aja," godanya pada Tio membuat kedua sahabatnya geleng geleng kepala.
Beny mengehentikan mobil didepan rumah Evi Ambunya Tio. Terlihat ada mobil dinas Aditya terparkir di halaman depan.
"Bapak? ngapain mereka kesini?" Tia bergegas keluar menyusul Aditya dan Nancy.
Aditya menyambut kedatangan putrinya, memeluk penuh perasaan sayang, "kamu darimana? Bapak bawa nasi pecel kesukaan kamu untuk makan malam. Bapak kangen sama kalian," ucapnya memberikan paper bag pada Tia.
"Kami habis makan sama Mba Uli dan Beny," jelasnya mencium punggung tangan Nancy kemudian memeluknya.
Tio membuka pintu segera, agar mertuanya masuk kedalam rumah sederhana milik orang tua.
"Masuk Pak, Mba Uli hamil, dia pengen rujak cingur, jadi kami ajakin," senyum Tio mempersilahkan Aditya dan Nancy masuk kerumah dan duduk di ruang tamu.
Tia penuh semangat membuka paper bag yang dibawa Aditya mencium aroma bumbu kacang yang sangat khas dihidungnya.
"Emmm, Neng jadi lapar lagi," kekeh Tia beranjak ke dapur mengambil sendok dan piring.
"Neng, emang nggak kenyang?" goda Tio mengusap kepala istrinya saat sudah kembali.
"Nggak tahu, kalau libur bawaannya lapar mulu," ucapnya dihadapan Aditya dan Nancy.
Untuk kesekian kalinya, Tia dan Tio kembali menyantap hidangan dengan lahap. Sesekali mereka saling bercanda tanpa sungkan dihadapan kedua orang tua.
"Neng, Aa Abdi ikut juga, kalian berangkat bareng. Kamu hati hati yah," kecup Aditya pada kepala Tia.
"Iya Pak," angguk Tia.
Nancy menatap Tio sangat lekat, "jika kamu nggak keberatan bisa tinggal dirumah Ibu yah Nak Tio," ucapnya mengeluarkan kue buatan tangannya memberikan pada Aditya, Tia dan Tio.
"Iya Bu, saya pasti rajin pulang ke Lembang. Ngapain juga disini sendiri," senyum Tio menyembunyikan kesedihannya.
Nancy dan Aditya tersenyum lega, melihat anak menantunya sudah mesra sesuai harapan mereka.βΊοΈ
To be co n ti nue...
Mohon dukungan Like dan Vote pada karya ku, jangan lupa comment yah...π
Khamsiah.... Hatur nuhun....π€π₯