
Tia dan Abdi tengah sibuk memilih kebutuhan rumah sepanjang rak supermarket. Sesekali Abdi menggoda Tia, karena kepolosan sang adik bungsu.
"Kamu lucu yah?" ucap Abdi mengacak-acak rambut Tia.
"Iiiighs Aa, berantakan," rungut Tia memperbaiki rambutnya yang pendek.
"Kamu tuh lucu, mau makan nggak Neng?" tanya Abdi saat melewati makanan cepat saji.
"Hmmmm, enggak aaagh! Neng mau makan siang sama Aa Tio," jelas Tia.
Abdi mendengar kalimat adiknya sangat senang. Baginya suatu kebanggaan tersendiri Tia bisa menerima Tio dengan lapang dada.
"Punya suami tuh disayang, jika tidak dia akan dipeluk wanita lain," kekeh Abdi.
"Aa... kesel aaagh, masak doain suamiku diambil wanita lain?" rengek Tia mencubit perut sispack Abdi.
Mereka menyusuri tiap sudut supermarket, melihat lihat barang elektronik dan juga mencari beberapa perlengkapan kebutuhan yang lain.
Bhuuuuk,
"Aaaaugh," teriak Tia melihat seorang pria dan wanita tanpa sengaja menabrak bahunya.
Abdi melihat pria itu tersulut emosi karena dia enggan berbalik dan meminta maaf pada adiknya, karena yang ditabrak adalah bahu Tia yang terluka.
"Hei," Abdi menarik bahu pria yang menabrak adiknya.
Pria itu berbalik dan menatap kearah Abdi, "Aa Abdi?" ucap Dony.
Bhuuuug,
Abdi melayangkan bogeman keras pada wajah Doni yang menyebalkan dimatanya.
"Lo lagi! nabrak adik gue nggak mau minta maaf! udah hebat Lo?" Abdi menarik lengan Dony mendekatkan tubuhnya pada Tia.
"Minta maaf cepat!" perintah Abdi.
"Aaaaugh, bisa nggak jangan pakai kekerasan? saya minta maaf!" ucapnya dengan wajah lebam.
"Lo!" Abdi akan melayangkan lagi karena sudah malas berurusan dengan pria bajingan itu.
"Aa!" Tia menahan lengan Abdi menatap lekat kearah Dony.
"Pergi! lain kali sopan," tegas Tia menarik lengan Abdi agar tidak melanjutkan urusan dengan pria seperti itu.
Tia dan Abdi meninggalkan Dony dan kekasihnyan yang masih belum terima dipukul oleh Abang Tia.
"Anjiing, untung Lo semua anak Jenderal! kalau enggak udah gue hajar Lo," gerutu Dony mendekati kekasihnya.
Sementara Tia dan Abdi benar benar menghindari pertikaian dari Dony. Mereka berdua menuju kasir, Tia mengambil dua botol air mineral dan memberikan pada Abdi.
'Nih, minum! jangan biasakan emosi ngadapin dia! hanya manusia sampah yang nggak penting kita urusin," ucap Tia mengusap lembut punggung Abdi.
Abdi mengangguk, "kita ke kantor dulu yah? Aa kangen sama Deny, dia ngajakin makan siang dirumah Emak. Kamu mau ikut atau mau ketemu Tio?" tanyanya saat membayar semua belanjaan mereka.
"Hmmm, Neng pulang saja sama Aa Tio, dia selesai rapat udah nggak ada jadwal lagi. Jadi bisa sayang sayangan," kekeh Tia meringkuk didada bidang sang Abdi.
"Ehmmm, dasar adik manja! ya udah cepetan, sebentar lagi time makan siang!" jelas Abdi mendorong troli.
Mereka meninggalkan supermarket menuju parkiran mobil. Abdi memasukkan semua belanjaan kedalam bagasi, dan membukakan pintu untuk adik tersayangnya.
"Bahu kamu nggak sakit kan?" tanya Abdi pada Tia.
"Enggak Aa, cuma linu saja," senyumnya.
Saat hendak kembali menuju stir kemudi, seorang pria berkulit hitam memberi bogeman keras secara tiba-tiba diwajah Abdi.
Bhuuug,
"Rasakan! ini balasan karena Lo sudah berani memukul majikan gue didalam!" ucapnya masih melayangkan pukulannya diwajah Abdi.
"Aa!" Tia mengambil kunci stir dari bawah jok kemudi keluar melayangkan pukulan kepundak orang suruhan Dony.
"Bangsat Lo!" teriak Tia.
Tia menginjak leher pria itu dengan sangat keras, meraih sempi kecilnya dari balik punggung sangat berani.
"Telpon majikan Lo suruh kesini! sebelum Lo mati ditangan gue!" tegas Tia masih meletakkan kakinya dibatang leher kekar itu.
Pria Ambon yang sudah mengaku kalah langsung meraih telpon, menghubungi Doni agar mendekat pada Abdi dan Tia.
"Bangsat! beraninya nyuruh orang! cepaaat!" bentak Tia tanpa rasa takut.
"I i iya! dia akan kesini," ucapnya dengan nada bergetar.
Tidak lama Abdi melihat security dan Doni menghampiri mereka, tentu semakin menyulut emosi keduanya.
"Hmmm, beraninya Lo melibatkan orang lain dalam urusan kita!" tegas Tia melihat wanita dibelakang Donya adalah teman masa sekolahnya.
Security sedikit ketakutan karena Tia masih mengarahkan sempi kearah Pria Ambon yang masih berada di kakinya. Semua mata tertuju pada mereka, melihat kejadian Tia akan mengancam orang tertindas.
"Apa masalah Lo sama kami?" tanya Tia tegas pada Doni.
Doni semakin ketar ketir mendengar kalimat yang keluar dari bibir tipis itu. Sedikit merenggangkan tubuhnya dari kekasih hati berusaha mendekati Tia dan Abdi.
"Maafkan gue! tadi dia emosi saat melihat Aa Abdi memukul didalam supermarket," jelas Dony.
Tia tersenyum smirk, benar benar melayangkan bogemannya ketulang rusuk Dony.
Bhuuug,
"Ini balasan buat Lo jika sudah berani mengancam keselamatan gue dan keluarga! jelas! jika Lo mau main main, berapa kali gue bilang jangan sama keluarga Atmaja! karena Lo akan merasakan kehilangan semua tulang yang ada ditubuh busuk ini," ucap Tia berbisik menekan lebih dalam agar terkena tulang rusuknya.
"Aaaagh, ampun! ini sakit sekali Neng!" ringis Dony.
Tia tersenyum tipis, menatap kearah security dan kekasih Dony yang sangat ketakutan.
"Silahkan lapor, gue tunggu! sibangsat ini tahu dimana rumah saya dan kantor saya!" tegas Tia pada security.
Kekasih Dony mendekati pria bajingan itu yang sudah terjatuh ditanah.
"Maaf Neng, berarti mereka memiliki masalah pribadi sama kalian?" tanya security pada Tia menatap Abdi bergantian.
"Tanya saja sama dia Pak! kami tidak akan pernah berurusan sama orang sipil, tapi dia sudah sangat keterlaluan mengancam keselamatan Abang saya!" tegas Tia.
"Baik Neng, saya akan membawa mereka kekantor kami, jika memang sudah mengancam itu sangat berbahaya," ucap security.
"Silahkan," Tia mencatat nomor telepon pribadi, agar security memberikan kabar padanya.
Tia kembali ke security yang masih berbicara dengan Abdi, sementara Dony dan pria Ambon itu dibawa keruang kantor supermarket dengan pengawalan security lainnya.
"Ini nomor saya! sudah dua kali mereka mengancam keselamatan kami! silahkan hubungi jika dia mau menuntut. Saya siap! semua akan saya bereskan," jelas Tia dengan tegas.
"Baik Neng! saya proses dulu," jelas security.
Tia melihat wajah Abdi yang terlihat memar, dibagian pipi, pelipis bengkak dan luka disudut bibir.
"Bangsat tu orang!" bisik Tia, meminta Abdi masuk ke mobil dan duduk dikursi penumpang, sementara Tia yang mengemudikan mobil menuju rumah sakit tempat dinas suaminya untuk mengobati luka Abdi.
Abdi ikut saja apa yang diperintahkan Tia, matanya memang sedikit buram, karena memar.
"Kejadian tidak terduga hari ini! Aa pikir dia udah beres urusannya sama kita! ternyata ya Allah, malah semakin runyam. Jangan jangan dia belum ikhlas dengan pernikahan kamu?" ucap Abdi melirik Tia.
"Udah jangan dipikirin, karena nggak penting juga Aa. Nanti Aa pulang gimana? kalau Neng sama Aa Tio? Deny bisa nyetir nggak?" tanya Tia.
"Hmmm, kalau udah diobati bisa kok!" ringis Abdi.
Tia mengangguk, mempercepat laju kecepatan mobil mereka, agar segera sampai dirumah sakit.
Hmmm, sabar yah Aa Abdi nu kasep,,π€§
To be co n ti nue...
Mohon dukungan Like dan Vote pada karya ku, jangan lupa comment yah...π
Khamsiah.... Hatur nuhun....π€π₯