My Wife Is A Military

My Wife Is A Military
Melepaskan...



Suasana hiruk pikuk pasukan elite saat tiba di pelabuhan angkatan laut, tampak jelas semua tengah berkumpul bersama keluarga. Bahkan ada yang enggan beranjak, karena masih terisak untuk melepas kepergian orang tercinta.


Tia dan Tio masih saling berpelukan, mereka justru enggan melepaskan. Air mata keduanya mengalir membasahi pipi pasangan yang baru menikah lima bulan itu.


"Neng, Aa sayang banget sama Neng. Hati hati yah?" bisik Tio pada telinga Tia.


Tia yang sejak tadi tak mampu menahan perasaan akhirnya benar benar melepaskan perasaannya.


"Neng juga, sayang banget sama Aa. Jangan lupa doakan Neng, sholat sama jaga kesehatan," ucap Tia ditelinga Tio.


Pemberitahuan keberangkatan mereka diumumkan. Tia menarik nafas panjang, kembali memeluk Tio erat, air matanya tak kuasa terbendung, haru biru prosesi pelepasan keberangkatan sangat menyayat hati. Dia berusaha tegar, ini kali pertamanya Tia harus berpisah dari belahan jiwanya.


Nancy beberapa kali mengusap lembut punggung putrinya, dengan perasaan cinta, "hati hati Neng," bisik ibu yang telah melahirkan putrinya.


Tia masih memeluk Tio tanpa melepaskan tangannya.


"Neng," sapa Abdi menyentuh bahu Tia.


Tia menyeka wajahnya, "Neng berangkat ya Aa," ucapnya dengan mata masih menangis, wajah tampak sembab.


Abdi mengusap lembut wajah Tia, "jangan nangis, kita akan kembali," ucapnya tegas.


Tia mengangguk, mencium punggung tangan suaminya, beralih menatap Nancy, memeluk tubuh sang ibu penuh kepiluan, "Neng titip Aa yah Bu, perhatikan makan Aa, jangan sampai dia nggak makan," isaknya dipelukan Nancy.


"Ntong nangis atuh Neng, Ibu jadi sedih. Biasanya kamu nggak begini! jangan pecah fokus, ingat pesan Bapak," ucap Nancy menguatkan Tia.


Semua pasukan elite menaiki anak tangga, menuju kapal perang TNI angkatan laut yang mememiki landasan pacu pesawat tempur. Tia dan Abdi menarik nafas dalam, menyerahkan seluruh hidupnya hanya dalam lindungan Allah, tanpa melihat kebelakang.


Tio sangat memahami bagaimana perasaan istrinya saat ini. Dia berkali-kali mengusap air mata saat menatap punggung istri tercinta dengan gagah menaiki kapal besar itu.


"Hati hati Neng!" teriak Tio, dapat didengar oleh Tia.


Tia menahan tangis, agar tidak menoleh ke belakang. Dia hanya fokus pada anak tangga dan melakukan upacara mereka saat tiba diatas kapal.


Tio masih enggan melepaskan pandangan dari istri tercinta. Cut Mutia Atmaja akan pergi selama enam bulan untuk membantu daerah konflik di Timur Tengah.


Setelah melakukan ritual bersama, mereka melambaikan tangan kepada orang orang yang dicintai, tidaklah mudah untuk ikhlas dengan situasi seperti ini, karena akan hanya dua kemungkinan, kembali dengan selamat, atau pulang tinggal nama. Hanya pilihan itu yang ada dalam benak Tio.


"Hati hati Neng," bisik Tio saat melihat kapal terus berlalu meninggalkan armada.


Nancy tersenyum tipis menatap menantunya yang masih melambaikan tangan kearah kapal. Begitu dalam kesedihan yang Tio rasakan, harus kehilangan istri untuk beberapa waktu.


Mungkin orang lain berfikir bahwa enam bulan waktu yang sebentar, namun bagi Tio enam bulan adalah waktu sangat lama, untuk selalu merindukan orang yang baru sebulan menjadi sempurna bersamanya.


"Nak Tio, kita pulang?" tanya Nancy.


Tio mengangguk, mengikuti langkah para pejabat tinggi yang ikut melepas kepergian para elite berprestasi menuju medan perang untuk mengabdikan diri sebagai aparatur negara.


Ajudan membukakan pintu untuk Tio dan Nancy, yang masih dirundung kesedihan.


"Nak Tio, kita makan dulu yah? baru balik ke Bandung," jelas Nancy.


Tio hanya mengangguk, mengeluarkan handphone miliknya, membuka semua galery foto saat bersama Tia pertama kali hingga saat ini. Wajah jutek, garang, lucu, genit, bahkan foto mereka tengah berciumanpun tersimpan rapi dilayar handphone, sesekali dia mengirim pesan berharap Tia akan menjawab.


Tio menyandarkan kepalanya di jok mobil belakang, merasakan sesuatu yang berbeda saat melepas istrinya.


"Bu, bagaimana jika Tia hamil? karena beberapa waktu ini kami lebih sering melakukannya dan bulan ini Tia belum datang bulan," jelas Tio jujur pada Nancy.


Nancy kaget mendengar penuturan Tio, "kenapa kalian tidak memeriksakan dulu sebelum berangkat? Ibu fikir saat pengecekkan kesehatan beberapa minggu lalu semua normal, apa kamu tidak menyediakan testpack dikamar kalian?" tanyanya penasaran.


"Bu, apakah wanita hamil itu berubah?" tanya Tio menatap iris mata Nancy.


"Ya, terkadang dia akan lebih tampak tidak seperti biasanya, manja bahkan nggak mau pisah," jelas Nancy.


Deg,


"Apakah Tia hamil?" batin Tio merasakan sesuatu perubahan pada istrinya.


Tapi tidak mungkin, karena hasil tes laboratorium beberapa waktu lalu menyatakan kesehatan Tia baik dan tidak ada tanda kehamilan yang tertulis.


Aditya masuk ke mobil, setelah ajudan Jenderal itu membukakan pintu mobil untuknya.


"Kita kemana lagi Bu?" tanya Aditya pada Nancy.


"Makan dulu Pak, Nak Tio sudah lapar," jelas Nancy.


Tio merasa sangat sungkan atas ucapan ibu mertuanya, karena jujur dia memang sangat lapar, setelah melepaskan istri tercinta berangkat dinas meninggalkannya.


Mereka berlalu meninggalkan pelabuhan angkatan laut, dengan pengawalan sangat ketat. Hingga benar benar aman, mereka berpisah dari pengawalan ketat para aparat.


Aditya berhenti disebuah restoran makanan khas Sunda, membawa menantu kesayangan ikut bersama mereka.


"Saat ini, kamu anak Ibu. Jangan banyak sungkan jika mau apa apa," tegas Nancy pada Tio.


Tio mengangguk pelan, "tapi saya sungkan Bu, untuk tinggal dirumah," kenangnya.


"Terus kamu mau tinggal dimana? dirumah Ambu? Ambu kamu kan ada kegiatan lain Nak Tio, dia punya kegiatan sosial yang padat. Kamu sama Ibu saja yah? biar kamu aman, bisa ngobrol sama Ibu saat pulang kerja," jelas Nancy memberi pengertian kepada Tio.


"Hmmm, ya," Tio mengikuti langkah Nancy sang ibu mertua memasuki restoran mewah pilihan Aditya.


Ruang VIP menjadi pilihan Aditya agar tidak terganggu oleh pihak luar.


"Duduklah Nak, jangan sungkan," jelas Aditya membukakan kursi untuk Nancy.


Tio menunggu pelayan memberikan buku menu padanya. Matanya tertuju pada menu kesukaan istrinya, ikan bakar gurami dan nasi pecel.


"Saya ini aja Pak," pinta Tio menunjuk pada nasi pecel dan ikan bakar gurami.


Nancy tersenyum tipis, "kamu suka itu, atau masih memikirkan Neng Tia?" godanya membuat wajah Tio panas dan memerah.


"Setidaknya saya sedang merindukan Tia, Bu," ucap Tio jujur.


Nancy menatap Aditya, "menantu kita ternyata nggak mau pisah lama lama. Mohon atuh Pak, jangan sampai enam bulan. Tiga bulan saja, kasihan sama menantuku," rengeknya pada Aditya.


Aditya mengusap lembut punggung istrinya, "dinas itu nggak ada tawar menawar, sama saja toh! jika Tia ikut pendidikan Letkol, justru setahun mereka nggak ketemu. Ini cuma enam bulan Ibu, kok jadi lemah begini? kan sudah tahu bagaimana syarat menjadi istri atau suami seorang angkatan. Harus kuat, tegar bahkan mampu menahan air mata agar tidak tumpah," jelasnya menatap wajah menantu.


Nancy membulatkan bola matanya, "dia ini nggak sama kayak kamu! Nak Tio perawat Pak, bukan TNI. Mungkin Deny dan Abdi sudah biasa jauh jauh karena mereka memiliki pekerjaan yang sama. Beda sama Tio dan Tia, gimana seeh Bapak," garamnya mencubit tangan kekar suaminya.


Aditya mengangguk mengerti, "maaf, bapak lupa," kekehnya.


To be co n ti nue...


Mohon dukungan Like dan Vote pada karya ku, jangan lupa comment yah...πŸ™


Khamsiah.... Hatur nuhun....πŸ€—πŸ”₯