
Cuaca dingin di Swiss, wanita cantik Cut Mutia Atmaja, tengah menghabiskan waktu bersama Lovely di peternakan keluarga Stuard. Sapi penghasil susu terbaik, harus dijaga ketat oleh keluarga Gibran untuk menjadi tempat mencari uang bagi warga kurang beruntung didaerah mereka.
"Aunty, kita akan menghabiskan waktu selama beberapa bulan disini kan?" Lovely berdiri disamping Mutia, mengusap lembut perut buncitnya.
Mutia mengangguk, matanya menatap jauh kedepan, melihat pemandangan indah nan sejuk, menghadirkan kedamaian yang tenang bagi wanita hamil sepertinya.
"Tapi Aunty tidak bisa janji, karena harus bicara dengan uncle saat dia tiba disini," Mutia menatap kearah Lovely.
"Ooogh, apakah kalian akan tinggal dikediaman kami?"
"Ya, sesuai permintaan Daddy kamu."
Lovely menutup bibirnya, "apakah Daddy yang meminta aunty untuk tinggal disini?"
Mutia mengangguk, matanya bercahaya saat melihat Lovely menjadi bahagia semenjak kehadirannya.
"Kenapa aunty tidak memilih berpisah dari pria itu? Kan bisa menikah dengan Daddy, memberikan aku adik yang banyak dan tinggal disini."
Mutia sedikit kaget mendengar ucapan anak berusia sembilan tahun, yang sangat mengerikan ditelinganya.
"Uncle sangat mencintaiku. Sama seperti Daddy mencintai Mami, kamu. Kita berteman saja," Mutia berusaha menjelaskan pada Lovely.
"Tapi aku menginginkanmu, Aunty. Aku ingin kamu menjadi ibuku. Aku tidak ingin Daddy menerima Lonely. Dia hanya wanita jahat yang berpura pura baik, dihadapan Oma dan Opa," Lovely mengangguk meyakinkan Mutia.
"Tidak mungkin, Aunty Lonely sangat mencinta Daddy dan dia sangat ingin menjadi ibu sambungmu," Mutia meyakinkan Lovely.
"No, Lonely memiliki kekasih dalam dunia mayanya. Aku pernah melihat dia mengatakan cinta dan saling merayu. Aku yakin mereka akan bertemu," Lovely mendongakkan kepalanya untuk menatap Mutia.
Mutia hanya menaikkan kedua bahunya, tidak ingin memikirkan, hal lain selain kehamilannya.
Tak berapa lama, Gibran menghampiri mereka, "hai girl, bagaimana kalau kita jalan sekarang. Nanti kita terlambat."
Mutia dan Lovely saling berpandangan, "baiklah."
Mereka meninggalkan peternakan sapi, menuju parkiran mobil yang berada tidak jauh dari kediaman keluarga Stuard.
Mutia memilih duduk dibelakang, sementara Lovely disebelah Gibran. Jika mereka menjadi keluarga, ini merupakan keluarga yang sangat bahagia.
Sesekali Gibran mencuri pandang dari kaca spion, mengagumi sosok wanita dibelakang yang sangat dia kagumi kecerdasannya.
"Aku sudah mendapatkan kabar dari Jose Mourin, kamu akan diizinkan disini selama tujuh bulan. Jadi kamu bisa meyakinkan keluargamu."
Mutia mendengar pernyataan itu, tersenyum sumringah, bagaimana tidak, dia akan tinggal di Swiss, menjadi lebih dekat dengan Gibran Stuard.
Tiga puluh menit mereka tiba dikesatuan militer negara Swiss. Perjalanan lumayan jauh menuju kesatuan yang sangat menjadi pusat perdamaian dunia Eropa.
Tampak mobil mobil pejabat tinggi, menyambut kedatangan Mutia sang pahlawan yang berhasil mereka selamatkan.
Gibran membuka pintu mobil untuk Mutia, sementara Lovely masih menunggu sang pangeran tampannya melakukan hal yang sama.
Mutia tersenyum sumringah, menggandeng tangan putri kesayangan Gibran saat menuju ruangan Friska.
Beberapa pasang mata menyaksikan Mutia, menunduk hormat.
Betapa terkejutnya Mutia, saat melihat kehadiran seseorang yang dia rindukan selama empat bulan berjauhan dari keluarga.
"Ibu!"
Mutia berlari memeluk kedua orangtuanya, dengan deraian air mata.
Aditya menyambut sang putri kecilnya, memeluk erat anak kesayangan.
Nancy tidak mampu menahan isak tangisnya, diruang Jose Mourin, menyambut putri abdi negara yang sangat berprestasi.
"Neng, kangen sama Bapak dan Ibu," tangisnya pecah dipelukan Abdi.
Tio mengusap air matanya, melihat kearah Lovely dan Gibran. Abdi sang angkatan udara, hanya bisa mengalihkan pandangannya agar tidak terlihat cengeng dihadapan mereka.
Setelah melepaskan pelukan dari kedua orang tuanya, Mutia menatap kearah Tio. Tentu ini menjadi moment yang sangat indah bagi pasangan suami istri yang terpisah selama beberapa bulan.
"Aa."
Mutia memeluk erat tubuh suaminya, mencium bibir Bambang Sulistio dihadapan mereka semua tanpa perasaan malu.
Tio, membalas pelukan istrinya yang sangat dia rindukan. Empat bulan adalah waktu yang sangat lama bagi pasangan suami istri itu.
Perlahan Abdi menghampiri adik satu-satunya, mengusap lembut punggung Mutia.
"Aa Abdi."
Mutia mengalihkan pelukannya pada Abdi, mendekap erat tubuh pria tampan yang selalu melindunginya.
Semua yang berada diruangan tampak membendung air mata mereka, melihat drama yang sangat memilukan.
Pelan Tio meraih tubuh Mutia, mengusap lembut perut buncit istri tercinta, "ini baby kita?"
Mutia mengangguk, mengalihkan pandangannya pada Lovely dan Gibran yang sejak tadi berpelukan.
"Aa, kenalin ini sahabat Neng saat berada disini."
Mutia memberi kode pada Lovely dan Gibran untuk mendekati mereka.
Deg,
Wajah Lovely seketika berubah saat bertatapan dengan Tio. Perasaan aneh yang dia rasakan, membuat kepalanya mengingat sesuatu.
"Daddy, aku mau pulang. Aku tidak ingin berada disini."
Mutia tampak bingung saat mendengar pernyataan gadis sembilan tahun itu.
"Why?"
Lovely hanya menaikkan bahunya menjauh dari Mutia dan keluarganya, "aku tidak suka dengan laki laki itu."
Dia berlalu meninggalkan ruangan Jose Mourin, sementara Gibran terlihat salah tingkah, merasa sungkan karena kelakuan putri kecilnya.
"Maaf, saya permisi!"
__________