My Wife Is A Military

My Wife Is A Military
Karier...



Malam semakin larut, suasana kamar hanya ditemani alunan musik dan suara televisi. Tio tengah berbaring di ranjang milik Tia.


Tio menatap handphone miliknya, berharap akan ada kabar dari Tia. kamar yang bernuansa biru laut menambah kesejukan saat berada didalamnya.


Tok tok tok,


Bibi menggedor pintu kamar anak majikannya, "Nak Tio makan malamnya udah siap, Ibu sama Bapak sudah menunggu di meja makan,"


"Iya Bi, sebentar lagi saya akan keluar," Tio bergegas keluar dari kamar mendekati Aditya dan Nancy yang sudah berada di meja makan.


Suasana kediaman Keluarga Atmaja sangat sejuk jika malam menjelang. Mata Tio tertuju pada foto keluarga yang menempel didinding ruang keluarga, tidak jauh dari kamar istrinya. Hari ini menjadi malam yang sangat menyedihkan karena harus jauh dari istri tercinta. Sesekali Tio melirik handphone yang sengaja diletakkan diatas meja makan.


"Neng telepon Aa, atau balas whatsapp Aa," batin Tio menatap lekat handphone miliknya.


Wajah Tio yang tampan menambah kesan bahwa dia sangat kesepian tanpa Tia disisi-nya.


"Makan pake apa Nak?" tanya Nancy memberikan piring yang sudah berisikan nasi putih.


Tio menerima nasi yang sudah diambilkan Nancy, mengambil beberapa lauk dan sayuran. Jujur saat ini yang dia rindukan hanyalah Tia, bukan yang lain.


"Nak Tio, besok Ibu sama Bapak akan ke Cianjur nganterin Ambu, kamu mau ikut?" tanya Nancy disela sela makan malam mereka.


Tio melihat jadwal kerjanya, "nggak usah Bu, saya besok full. Dari jam delapan sampe sore," jelasnya meletakkan handphone kembali.


Nancy dan Aditya tersenyum lega, "kalau ada apa apa jangan sungkan minta sama Bibi, karena Ibu langsung ke Jakarta menemani Bapak," jelasnya.


Tio mengangguk mengerti, "ternyata berat yah Pak, jauh dari istri. Nggak enak, sepi. Biasanya ada Neng Tia yang nemanin, sekarang malah jauhan begini. Jujur saya belum siap, Pak," rundungnya menekukkan wajah.


"Sabar Nak, namanya juga pekerjaan. Kamu harus sabar. Banyak banyak berdoa, biar rasa rindu kamu sedikit berkurang. Rindu itu berat, Ibu sudah mengalaminya," senyum Nancy melirik kearah Aditya.


Aditya merangkul bahu Tio, karena duduk mereka tidak begitu jauh.


"Dengarin Bapak, Tia adalah pasukan elite. Ini adalah bentuk pengabdiannya kepada negara. Saya juga tidak menyangka akan terjadi seperti ini, tapi saya yakin, kamu akan ikhlas menjalani semua. Awal terasa sangat berat, karena kamu baru mengalaminya. Nanti jika sudah terbiasa, semua akan enjoy saat kamu jalani lagi. Berat itu karena belum terbiasa," titah Aditya.


"Apakah kalau Tia sudah kembali akan berangkat lagi, Pak? bagaimana kalau suami tidak mengizinkan?" tanya Tio penasaran.


Aditya tersenyum, "saat kamu wawancara secara pribadi waktu pengurusan dokumen mengsahkan pernikahan kalian, mereka sudah bertanya dan kamu menjawab siap kan?" kenangnya.


Tio mengangguk.


"Kamu menandatangani bahkan menyerahkan istrimu kepada negara?" tanya Aditya masih menatap Tio.


Tio mengangguk.


"Nah, itu adalah bentuk izinku yang sudah sah kamu berikan kepada negara. Jika Tia sudah Letkol, jika dia berprestasi mungkin dia akan ikut pendidikan bersama pasukan militer internasional, kamu pasti akan ikut bersamanya," jelas Aditya membuat Tio semakin pasrah.


Tio menarik nafas panjang, "apakah ambisi Tia ingin menjadi militer yang loyal, Pak?" tanyanya.


"Tia dan Abdi punya mimpi, mereka ingin menghabiskan sisa waktunya untuk negara. Saya tidak bisa menahan, karena mereka mampu menunjukkan prestasinya tanpa saya harus bekerja keras ataupun mengeluarkan uang banyak," Adtya menyudahi makan malamnya.


"Bagaimana dengan saya? saya memiliki karier disini! saya juga memiliki impian yang baik untuk masa depan. Jika kami harus meneruskan karir dan fokus pada kegiatan saat ini, akan berdampak pada hubungan pernikahan kami dong?" tanya Tio sedikit kritis.


Aditya terkekeh mendengar penuturan menantunya.


"Apakah kalian pernah membicarakan tentang semua ini? bukankah kalian terlalu larut dengan penolakan perjodohan diawal, hingga akhirnya kalian mengalah karena keadaan. Sekarang saya serahkan ke kamu, sebagai kepala rumah tangga," jelas Adtya tegas.


Tio semakin bingung, "apakah saya harus melarang Tia untuk meneruskan kariernya? atau bisa nggak semua impian Neng, dia bicarakan sama saya, agar tidak salah langkah dalam mengambil keputusan?" tanyanya.


Aditya menaikkan kedua alisnya, "apakah selama ini kalian tidak pernah membicarakan semua pekerjaan?" tanyanya penasaran.


Tio menggelengkan kepalanya, "kami terlalu larut dengan kebahagiaan yang terasa manis, hingga melupakan semua tentang karir," jelasnya menunduk.


Aditya memijat pelan pelipisnya, menatap Nancy, menghela nafas dalam.


"Seharusnya, kamu bicara sama Tia. Bagaimana karir kalian kedepan. Kamu Perawat yang berprestasi, saya dengar kamu juga akan mengikuti pelatihan untuk mengambil jurusan tenaga medis khusus orthopedi. Saya bangga kamu bisa menentukan pilihan untuk karir kamu. Apa Tia tahu tentang itu?" tanya Aditya menunggu jawaban sang menantu.


Tio menggelengkan kepalanya, dia kembali menunduk.


"Jujur saya merasa sungkan Pak. Beristrikan seorang Mayor. Banyak mulut yang mengatakan saya dan Tia adalah perjodohan hutang piutang. Semua mencemoohkan saya. Apalagi saya mendengar semua hinaan itu dari Dokter Rudi sendiri. Saya jadi minder, apalagi setelah tahu Tia anak Jenderal. Semakin sulit saya untuk bicara. Gaji saya hanya berapa, dibanding Tia," rundungnya.


Nancy mengusap lembut tangan menantunya yang terletak dimeja makan.


"Jangan bicara begitu Nak Tio, kami terlalu bahagia memiliki menantu seperti mu, hingga melupakan semua omongan orang. Kami nggak pernah berfikir Tia akan mendapatkan jodoh seorang dokter ataupun sebagai aparatur negara juga. Bagi saya, jika kamu sholat lima waktu, baik sama dia, tanggung jawab, sudah sangat cukup. Kebahagiaan rumah tangga bukan hanya karir. Bagaimana dengan Uli dan Beny? mereka jauh bahkan. Uli Letkol dan Beny hanya perawat. Sama saja kan?" ucap Nancy berusaha menenangkan menantunya yang tampak insecure.


"Beda Bu. Saya sama Beny sangat jauh berbeda. Beny perawat, tapi anak orang kaya. Mba Uli Letkol anak orang kaya juga. Saya? saya hanya pria sederhana yang dibesarkan dari tangan Ambu yang berstatus janda," jelas Tio dengan wajah memerah.


Nancy dan Aditya tersenyum mendengar celotehan menantunya.


"Kenapa emangnya kalau kamu orang biasa? kamu bisa jadi perawat juga, karena kerja keras Ambu dan prestasi kamu? apalagi kamu sudah berada didinas kesehatan yang dijamin negara dirumah sakit angkatan. Itu suatu kebanggaan buat saya. Jujur saya bangga punya menantu kamu, pintar, penyayang, telaten dan sabar. Mungkin jika Tia menikah dengan pria lain, saya dan ibu tidak sebahagia saat ini," jelas Aditya menenangkan Tio.


Tio tersenyum, melihat ketulusan dari bola mata Nancy dan Aditya.


"Alhamdulillah kalau begitu. Saya senang mendengar kejujuran Bapak dan Ibu. Setidaknya, saya bangga bisa menjadi bagian Keluarga Atmaja. Diluar sana banyak yang menginginkan posisi saya, berarti saya orang pilihan," senyum Tio menatap wajah mertuanya secara bergantian.


Aditya merangkul bahu Tio, "sudah istirahat, besok kamu sibukkan? semoga secepatnya, kita mendapatkan kabar dari Tia atau Abdi," titahnya meninggalkan sang menantu.


Beeeegh senangnya Aa Tio, dapat mertua yang baik...😘


To be co n ti nue...


Mohon dukungan Like dan Vote pada karya ku, jangan lupa comment yah...πŸ™


Khamsiah.... Hatur nuhun....πŸ€—πŸ”₯