
Kepulangan Mutia kekediaman Gibran membuat kedua orang tua pria berdarah Swiss itu tersenyum bahagia. Bagaimana tidak, kehadiran seseorang wanita dewasa yang cantik memiliki profesi sama seperti putra semata wayangnya, membuat Bian tampak bahagia menyambut kehadiran Mutia.
"Selamat datang dikediaman ku Nyonya cantik," Bian memeluk tubuh langsing Mutia.
Tia menunduk hormat, pada Bian dan Stuard yang menyambut kehadirannya dengan rona wajah bahagia.
"Terimakasih Nyonya," Tia mencium punggung tangan Bian.
"Hmmm, jangan panggil aku, Nyonya. Panggil saja Mama Bian. Aku adalah ibu Gibran, ini suamiku Papa Stuard," Bian mengusap lembut punggung Mutia.
Tia menunduk hormat, kembali mencium punggung tangan Stuard, "terimakasih Pa."
Lovely menarik tangan Mutia menuju kamar mereka yang berada tidak jauh dari keluarga berkumpul.
Stuard seorang muslim, sangat mengerti bagaimana Mutia akan melakukan kewajibannya, sebagai seorang wanita muslim.
"Gibran, berikan mukena ini pada Mutia," perintah Stuard.
Gibran tersenyum, berlalu menuju kamar putrinya. Pintu kamar yang masih terbuka, terlihat Mutia tengah melepaskan jaket tebalnya. Beberapa kali dia berusaha memutar pemanas ruangan agar suhu dikamar itu kembali hangat.
"Sini aku bantu," dengan sigap Gibran membantu Mutia memutar tombol otomatis yang macet, tanpa sengaja menyentuh jemari tangan Mutia terasa sangat halus.
Sheeeer,
Tatapan mereka saling bertemu, Tia tidak melepaskan tangan Gibran yang berada diatas jemari lentiknya.
"Aku mencintaimu," Gibran berbisik menatap kearah Tia.
Wajah Tia memerah seketika, bagaimana mungkin, seorang duda mencintainya yang status masih sah istri Bambang Sulistio. Pelan Tia menelan saliva, mengalihkan pandangan mencari keberadaan Lovely, ternyata sudah berdiri dibelakang Gibran.
"Apakah aku salah mendengar, Dad?" Lovely tersenyum geli mendengar ucapan cinta Gibran kepada Mutia.
Bagaimana mungkin seorang wanita dewasa, yang jauh dari suami, bisa menolak perasaan yang tumbuh dengan sendirinya karena perhatian pria dewasa dengan sangat telaten selama beberapa bulan bersama dan menjaganya dengan sepenuh hati.
Mutia menunduk malu karena godaan Lovely pada mereka berdua, "maaf," dia melepas jemarinya dari genggaman erat Gibran.
Jantung Tia berdebar-debar, perasaan nyaman yang kini berubah menjadi cinta dalam hati, sangat berbeda dari biasa yang dia rasakan bersama Tio.
"Aunty," Lovely mengejutkan lamunan Mutia.
"Hmmm, ya," Mutia menoleh kearah Lovely menghindari tatapan mata Gibran yang masih menatapnya.
"Nanti malam kita akan tidur disini, tapi aku biasa ditemani Daddy untuk membaca dongeng," Lovely mengambil beberapa buku dongeng dan memberikan pada Mutia.
"Ooogh, ya. Nanti malam Aunty bacakan buat kamu," senyum Mutia menggoda puncak hidung putri semata wayang Gibran.
Lovely memeluk tubuh Mutia, mengusap lembut perut wanita cantik dihadapannya, "apakah baby mu akan menjadi adik angkatku?"
Mutia hanya mengacak rambut Lovely mengambil pakaiannya, menuju kamar mandi, meninggalkan Gibran dan Lovely.
"Daddy," Lovely tersenyum sumringah menggoda Gibran.
Gibran menautkan kedua alisnya, "jangan menggodaku gadis kecil, aku akan menghukummu."
Gibran meraih tubuh putrinya, menggendong menaiki ranjang mereka, menggelitik Lovely agar berhenti menggodanya.
"Dad, stop. Aku sangat menyukai wanita itu. Apakah kau mau hidup bersamanya?" Lovely mengusap lembut wajah tampan Gibran.
Gibran tertegun, "wanita itu milik orang lain. Aku hanya mencintainya, bukan untuk memiliki. Jangan menggodaku, karena itu akan membuat ibu angkatmu menjadi malu."
Mutia sengaja menguping dari balik pintu kamar mandi, bergegas keluar melihat kedua insan itu saling tertawa lepas dan bahagia.
"Maaf, bisa tinggalkan kamar kami, aku mau sembahyang. Oya, kemana arah kiblat?" Mutia menggunakan mukena pemberian Stuard, membuat kedua bola mata Gibran tidak berkedip.
"Kearah sana Aunty, aku sering melihat Opa," jelasnya.
Mutia tersenyum, menanti Gibran keluar meninggalkan kamar mereka.
Gibran sengaja melewati belakang Mutia, kembali berbisik, "aku mencintaimu."
Sheeeer,
Mutia kembali menunduk malu, tersenyum sumringah tanpa menoleh kearah Gibran.
"Daddy!" teriakan Lovely kembali terdengar mengejutkan Mutia.
Gibran menutup pintu kamar, menuju ruang keluarga, mencari keberadaan Bian yang tengah mempersiapkan makan malam untuk mereka.
"Ma," Gibran memeluk tubuh Bian yang tengah sibuk dengan beberapa masakan khas Indonesia yang dia pelajari lewat YouTube.
"Hmmm," Bian merasakan sesuatu yang aneh pada putranya.
"Aku telah mengungkapkan cintaku, tapi aku lega. Aku tidak berharap dia membalas, karena aku salah mencintai milik orang lain," bisik Gibran ditelinga Bian.
Bian membalikkan badannya, menatap wajah tampan putranya, "apa kau akan mati penasaran jika dia menolak cintamu?"
Tatapan mata Bian sangat dipahami oleh Gibran, "Ma, dia wanita bersuami. Aku tidak mungkin mengharapkan sesuatu pada milik orang lain, aku hanya mencintai. Bukan ingin mendapatkan perhatiannya."
"Bagaimana, jika dia juga mencintaimu. Apa yang akan kamu lakukan?" Bian menanyakan dengan tatapan penasaran.
Gibran menautkan kedua alisnya, "aku belum pernah mendengar apapun tentang dia, tapi dia wanita baik baik. Tidak seperti Lonely yang hanya memanfaatkan situasi untuk mendekati Lovely demi mengejar aku," jelasnya.
"Hmmm, nikmati saja, aku harap kau tidak melakukan hal bodoh," Bian melanjutkan pekerjaannya.
Sementara Gibran tersenyum tipis melihat Bian tengah fokus mengaduk salad untuk makanan penutup.
"Gibran, panggil Lovely. Biar dia membantuku merapikan meja makan," perintah Bian.
"Ya, Mam," Bian berlalu menuju kamar putrinya yang terletak tidak jauh dari dapur dan ruang keluarga.
Terlihat Lovely tengah asik mengumpulkan baju milik almarhum ibunya, "Aunty ini bagus untukmu, apa kamu mau mencobanya?"
Mutia tersenyum tipis, tanpa sengaja melirik kearah Gibran yang sudah berdiri didepan pintu.
"Haii, maaf mengganggu kalian. Lovely Oma memanggilmu, kita akan makan malam bersama," Gibran mendekati putri semata wayang, mencium puncak kepalanya.
"Aunty, biar Daddy yang membantumu, aku bantu Oma dulu yah?" izin Lovely berlari kecil menuju dapur menemui Bian.
Mutia tersenyum tipis mendengar kalimat yang keluar dari bibir putri Gibran, "maaf, sudah terlalu lancang membongkar lemari pakaian almarhum istrimu," bisiknya malu.
Gibran mendekati Mutia, tersenyum tipis, memilihkan beberapa dress yang cocok untuk wanita yang berdiri dihadapannya, "pakailah ini, jika kau menyukainya. Jika kurang, kamu bebas memilih yang cocok untukmu, karena tinggi kalian tidak jauh berbeda. Oya, ini ada baju kesayangannya, jika kau suka, kau boleh memakainya. Sayang, sudah sembilan tahun semua tergantung dilemari tanpa ada yang memakainya. Kamu sedang hamil, aku rasa juga akan terlihat sempurna jika kau menggunakannya."
Mutia membawa beberapa gaun panjang berwarna putih, segera menuju kamar mandi.
Sementara Gibran tengah sibuk memilih pakaian yang boleh Mutia kenakan.
20 menit kemudian, Mutia Atmaja keluar dari kamar mandi, "haii," sapanya mengejutkan bagi Gibran.
"Ooohh my God," batin Gibran mengagumi kecantikan Mutia.
Mutia kembali mendehem, "bagus atau nggak?" senyuman Tia menunjuk kedirinya.
Gibran mengangguk, sedikit penasaran ingin menangkup wajah cantik.alami yang berdiri dihadapannya.
To be co n ti nue