My Wife Is A Military

My Wife Is A Military
Baik baik yah...



Malam yang dingin sangat menusuk persendian dua insan yang tengah bercengkrama manja diruang keluarga Kediaman Atmaja. Tio dan Tia tengah menghabiskan malam bersama Abdi, Aditya dan Nancy, tanpa rasa canggung. Manjanya Tia menjadi perhatian tersendiri bagi Nancy sang ibu yang memiliki insting lebih peka.


"Aa, Deny nggak pulang?" tanya Tia penasaran pada phaskas angkatan udara itu.


Abdi merangkul bahu adik kesayangannya, "kamu kayak nggak tahu aja, tapi tadi udah Aa kunjungi, jadi enam bulan lagi baru bisa ketemu," jelasnya.


"Iya tahu," kekeh Tia.


Tio yang duduk disamping Tia, mengusap lembut kepala istrinya, "baik baik yah, jangan sering mikirin Aa, nanti jadi kangen," ucapnya tanpa sungkan dihadapan keluarga Tia.


Tia memeluk Tio, dengan sangat manja, "siap komandan! Aa kangenin Neng terus, jangan pernah selingkuh," rengeknya membuat Aditya dan Nancy terkekeh geli mendengar celotehan putri kesayangan mereka.


"Gimana mau selingkuh, detektifnya banyak," goda Tio.


"Jadi kalau nggak ada detektif, selingkuh?" Tia mencubit kecil perut suaminya.


"Nakal, suka banget buat Neng cemburu," tambah Tia semakin masuk dalam dekapan Tio.


Abdi mengacak rambut pendek adiknya terkekeh geli mendengar Tia yang benar-benar enggan mau berpisah dari sang suami tercinta.


"Keluar yuuk, kita minum yang anget anget, mata Aa belum bisa tidur, jadi kangen sama istri," ajak Abdi.


"Kita ketemu Deny aja apa? ajak dia kabur, pasti boleh. Disana kan ada Kapten Mirna, bisa kabur sebentar," jelas Tia membuat Abdi menjadi bersemangat untuk bertemu istri kembali.


"Hayuuuk atuh," tarik Abdi pada tangan Tia, membuat wanita itu merungut karena masih enggan melepas dekapannya dari sang suami.


Aditya dan Nancy memberi izin mereka menghabiskan waktu bersama, karena besok pukul 05.30 harus sudah berangkat menuju Jakarta untuk melepas kedua anaknya menjalankan tugas sesuai perintah Komandan pasukan elite.


"Jangan malam banget pulangnya, kalian harus bangun lebih pagi," teriak Aditya pada anak menantunya.


"Siap Komandan," hormat Tia dan Abdi secara serempak membuat Tio tersenyum sendiri.


Mereka menuju tempat pendidikan Deny Anggraini yang tengah menetap disana selama beberapa bulan. Beberapa ide muncul untuk membawa Deny pulang kerumah dan mengembalikan istrinya Abdi sebelum subuh.


"Seperti menculik Putri Raja yah Aa?" ucap Tia berbisik pada Tio saat melihat Abdi turun dari mobil, menemui Kapten Mirna, seorang wanita galak, sebagai seorang komandan untuk menjaga ketat tempat pendidikan.


Tia memilih turun dari mobil, karena dia sangat mengenal Mirna.


"Eeeh, ayak Neng Tia," sapa Mirna.


"Siap Capt, kami boleh menjemput istri Aa Abdi nggak? maklum pengantin baru, besok Aa udah harus berangkat," kenang Tia pada Mirna.


"Ck, kayak sama orang lain saja, tapi ngembaliin anggota saya pukul 03.30 yah? tepat waktu jika tidak ingin di hukum," jelas Mirna terdengar tegas.


"Siap Capt, laksanakan," hormat Tia.


Mirna menarik lengan Tia sedikit berbisik, "besok berangkat hati hati yah, selamat buat kamu sudah berhasil lulus menuju Letkol tanpa harus menunggu lama," kekehnya.


Tia sedikit penasaran, "tau darimana Teh?" tanyanya.


"Saya tahu, kamu kan dapat referensi dari Komandan Juan beberapa waktu lalu, tapi karena nggak diizinkan Jenderal, jadinya kamu lebih direkomendasikan untuk menjadi team elite sniper terbaik," jelas Mirna.


Tia mengangguk, menunggu lama karena barak wanita sedikit lebih jauh dari gerbang masuk. Abdi sangat antusias menunggu sang istri keluar dari tempat pendidikannya.


"Hmmm, kangen banget aku sama istri," kekeh Abdi dalam hati.


Beginilah nasib jika suami istri menjadi aparatur negara, harus pintar pintar menggunakan waktu dan mencuri waktu untuk bersama walau hanya beberapa jam saja.


"Cepet, cepet," perintah Mirna menarik tangan Deny saat turun dari motor dibantu sahabat sahabat kapten.


"Terimakasih Capt, 03.30 sudah kembali," hormat Tia bergegas masuk ke mobil.


Tia dan Deny saling berpelukan, "gue kangen, besok mau berangkat, masak Aa abdi sebelum berangkat kesepian malah ngelendotnya sama gue," kekehnya menggoda Deny.


Deny menunduk malu, tersenyum sumringah. Padahal baru saja mereka menghabiskan waktu didalam mobil bersama suami tercinta, tanpa harus ada perasaan malu dan canggung.


Mereka membelah Lembang Bandung menghabiskan malam bersama disalah satu warung kopi untuk meminum wedang jahe dan jagung bakar manis sesuai permintaan Mayor yang sebentar lagi akan menjadi seorang Letkol.


Cuaca dingin memberi kehangatan bagi dua insan yang sedang bermanja-manja dengan pasangan mereka.


"Aa, besok nginap di rumah Bapak saja yah? jangan dirumah Ambu. Ntar kalau handphone Aa nggak bisa dihubungi, kan bisa Neng hubungi lewat nomor Ibu atau Bapak," pinta Tia.


"Tapi Aa harus pulang Neng, karena sudah dua hari rumah kosong. Palingan pas pulang dari Jakarta, Aa mampir sebentar ke rumah beberes," jelas Tio mengusap tangan istrinya yang berada dalam genggaman.


Tia enggan melepas pelukannya dari sang suami, "Neng rasa ada yang beda! tapi Neng nggak tahu apa, jujur Neng berat banget buat pisah dari Aa. Makasih yah? selama ini Aa sudah sabar ngadapin Neng, sudah mau ikhlas nerima istri yang manja dan egois," kekehnya meringkuk dicerug leher kekar suaminya.


Tio menatap kearah wajah manja Tia, mengeluarkan cincin nikah yang pernah dititipkan Evi padanya. Belum sempat dia berikan pada Tia selama pernikahan mereka karena tidak adanya waktu bersama.


Tio menyematkan cincin sederhana itu dijari manis Tia, dengan mata berkaca-kaca, "selalu pakai cincin ini yah Neng? Aa sayang Neng, jangan dilepas apalagi hilang. Ini pemberian Aa yang pertama untuk Neng, maaf tanpa berlian ataupun emas 24 karat. Ini hanya bentuk cinta Aa pada Neng yang dipilihkan Ambu buat putri Bapak Atmaja," kenangnya mengecup lembut punggung tangan Tia dihadapan Abdi dan Deny.


"Aa kemaren beliin ini, buat Neng," Tio mengeluarkan kalung inisial 'T' yang sangat sederhana tapi elegan jika berada dileher Tia.


"Aa, kok Neng jadi berbunga-bunga gini! aaaagh, Aa nakal iiigh, romantis baru sekarang. Kemaren kemana saja? kok baru ngeluarin senjata pemungkas sekarang untuk merayu Neng, jadi kumaha kitu, hati dan perasaan Neng," rungutnya menerima pemberian suami tercinta.


"Neng suka?" tanya Tio menatap wajah cantik alami itu.


Tia memeluk tubuh Tio sangat erat.


"Suka banget, ini sangat indah. Neng nggak butuh berlian karena emang nggak ngerti sama perhiasan," rengek Tia manja mendekap erat tubuh kokoh yang selalu menjadi penghangat dunia syurga barunya.


Abdi dan Deny benar benar takjub, "ternyata romantis itu nggak perlu mewah, sederhana juga serasa romantis banget," kekeh mereka saling berpelukan karena terbawa suasana adiknya Tia dan Tio.


"Emang Aa dapet uang dari mana?" kekeh Tia menggoda suaminya.


Tio menaikkan kedua alisnya, "maksudnya gaji Aa nggak cukup buat beliin ini buat istri? nggak suka hmmmm?" kesalnya kembali bertanya.


"Bukan sayang, justru ini indah banget, yang penting makasih. Insyaallah nggak akan Neng lepas sampai kapanpun. Aa baik baik yah? jaga kepercayaan Neng, jaga kesehatan, kali aja pulang pulang Neng langsung hamil dan kita segera punya baby seperti yang Aa pengen," kecup Tia pada pipi Tio.


Cup, cup, cup.


"Iya bawel, maunya justru hamilnya sekarang, karena kan udah lama Neng nggak datang bulan," jelas Tio menaikkan satu alisnya.


Deg,


Abdi dan Deny saling tatap, "Ti, lebih bagus Lo cek deh. Aa Tio pasti ada testpack, kali aja positif, bisa menunda keberangkatan Lo," jelas Deny diangguki setuju oleh Abdi.


Tia tertawa, "nggaklah, gue aja nggak ngerasain apa apa, pasti hasilnya, maaf silahkan coba kembali beberapa bulan lagi," jawabnya asal.


Deny mengangguk mengerti, "bener seeh, orang kalau hamil tuh banyak perubahan, Lo justru nggak ada yang berubah. Justru semakin bucin saja," tawa mereka pecah membuat pemilik warung sedikit kaget mendengar tawa para prajurit TNI itu.


Waktu menunjukkan pukul 22.30 waktu setempat, mereka bergegas meninggalkan warung wedang jahe, setelah Abdi membayar belanjaan mereka.


Saat akan memasuki mobil mereka dikejutkan dengan kehadiran Dony dan beberapa temannya yang bertubuh kekar melebihi sang bodyguard kampung.


"Selamat malam Aa Abdi," sinis Dony melayangkan pukulannya tepat diwajah Abdi.


Bhuuug,


Abdi reflek, menahan tinjuan Dony yang akan mendarat diwajah tampannya.


"Anjiiing Lo!" Abdi memelintir tangan Dony dengan sangat cepat kebelakang dan mendorong tubuh kurus itu dihadapan temannya.


"Seraaaang," perintah salah satu rekan Dony.


"B an g sa t!" geram Tia mengeluarkan sempi kecil yang selalu berada di punggungnya menembakkan ke udara.


Dor dor,


Mereka mengehentikan niat untuk menyerang Abdi, tapi matanya mengarah pada Tio yang akan menjadi target empuk bagi Dony dan Gengnya.


"Ingat Lo yah! sekarang kalian bisa aman, Lo ba ng sa t! karena bokap Lo aja Jenderal, bisa seenaknya sama kami orang sipil. Jika enggak juga mungkin Lo sudah jadi jablay diluar sana," ucap Deny memancing emosi Tia.


"Anjiing Lo!" geram Tia.


Tio menahan tubuh istrinya, "jangan dilawan, dia orang gila," bisiknya memeluk tubuh Tia.


Nafas Tia semakin tak beraturan, karena menahan emosi. Pelayan warung dan beberapa pemuda mendekati mereka.


"Kunaon Aa? Aa kenal sama mereka?" tanya pelayan.


"Enggak Mang, nggak apa apa, hanya masalah receh," jelas Abdi memilih masuk kedalam mobil milik Tio.


Tia yang berada dalam pelukan Tio, merasa kesal melihat komplotan Dony yang beraninya keroyokan.


"Aa hati hati yah? kalau ada apa apa hubungi Mas Tri dan Mba Uli, mereka pasti akan nekad!" kenang Tia.


Tio memeluk istrinya, mengecup kepala Tia agar kembali tenang.


Sabar, karena besok berangkat, 🀧


To be co n ti nue...


Mohon dukungan Like dan Vote pada karya ku, jangan lupa comment yah...πŸ™


Khamsiah.... Hatur nuhun....πŸ€—πŸ”₯