
Sebuah rumah sakit bertaraf internasional yang berada di sudut benua Eropa, terbaring lemah diranjang rumah sakit seorang wanita asia berwajah lembut dan tenang. Cut Mutia Atmaja, kini berada dalam pengawasan seorang militer bule dan dokter spesialis kandungan yang berdiri menunggu wanita itu siuman.
Sudah hampir dua bulan Tia mengalami koma, karena penyerangan mereka didaerah konflik timur tengah. Tubuh itu kini kaku, dengan perut semakin membuncit.
"Bagaimana keadaannya Don?" tanya Gibran pada Donald yang menangani Tia selama ini.
Donald menepuk pundak Gibran, "dia baik baik saja, hanya kesadarannya belum kembali. Sabar," jelasnya menuju kursi tidak jauh dari ranjang ICU dengan alat bantu canggih pernafasan dan jantung yang terus menyala.
Gibran menyusul Donald, memijat pelipisnya, "aku harus pulang menjemput Lovely, karena sudah beberapa hari putri kesayangan berada dikediaman ibuku," jelasnya.
"Hmmm, bawa saja kesini. Terkadang wanita hamil sangat menyukai sentuhan hangat anak kecil, apalagi seumuran Lovely,'' senyum Donald.
Gibran geleng-geleng kepala, "aku hanya merindukan Lovely dan ibunya. Bukan berharap wanita itu untuk menjadi ibu sambung Lovely," tawanya membuat Donald tersenyum.
"Sepertinya kau terlalu lama menjadi duda, jadi kau salah mengartikan setiap kalimatku," jelas Donald kembali menepuk pundak Gibran.
Gibran kembali menatap kearah Tia yang masih menutup matanya, "bangunlah, anakmu sangat menanti sentuhan jemari mu!" batinnya.
Gibran bangkit dari duduknya, menatap Donald memberi sinyal agar menjaga Tia.
"Jika ada apa apa hubungi aku segera. Kami lagi menunggu informasi dari negaranya, karena belum ada yang menerima berita terbaru tentang wanita ini. Jaga dia buat aku,'' ucap Gibran berlalu meninggalkan Donald dikamar rumah sakit.
"Hei, kau mau kemana? bawa Lovely kesini, aku sangat merindukan putrimu," teriak Donald agar Gibran mau membawa putrinya memberi kekuatan pada Tia.
Sementara,
.
Di kota Jakarta, Keluarga Atmaja masih sibuk dengan pencarian mereka. Menurut laporan dari tentara internasional, tidak ditemukan wanita bernama Cut Mutia Atmaja disana. Pencarian terus dilakukan, karena pihak kesatuan angkatan darat belum menemukan keberadaan istri Bambang Sulistio putri Jenderal bintang satu Aditya Atmaja.
"Pak, dimana Tia? saya sangat khawatir. Apakah Tia baik baik saja?" tanya Tio terlihat frustasi setiap harinya, karena mesti kehilangan kontak selama dua bulan dari kejutan penyerangan yang sangat mengguncang jiwanya.
"Sabar Tio, saya sedang mengusahakan. Semua cara sudah kita lakukan. Kemana helikopter membawa putriku. Kami juga sudah melaporkan ke pihak yang lebih bertanggung jawab pada kejadian ini. Tidak pernah terjadi dalam perjalanan dinas saya, kasus seperti ini. Semoga Tia dilindungi oleh Allah," ucap Aditya, meyakinkan hati Tio.
Tio menunduk, jika dia ingin menangis, saat inilah yang tepat untuk dia menangisi sakitnya kehilangan orang yang dicintai. Istri yang selama lima bulan mendampinginya dalam suka duka dan drama romantika percintaan rumah tangga sederhana mereka.
Seorang gadis manja, putri kesayangan Jenderal Aditya, berpangkat Mayor, mau menjadi seorang istri perawat sepertinya walau terpaksa.
"Neng, dimanapun kamu berada, bertahanlah sayang," batin Tio meratapi kepedihan hatinya.
Evi dan Nancy masih mendampingi Tio agar dia selalu kuat, menunggu kabar apapun tentang kondisi Tia saat ini.
Evi memberi wejangan pada putranya agar terus berdoa dimana saja, kapan saja dan dalam keadaan apapun.
"Sabar yah Nak? kamu mesti sabar, jangan menangis terus, Bapak masih terus melakukan pencarian pada istrimu," jelas Evi saat mendekati Tio yang tengah duduk di sofa kantor Aditya.
Tio mengangguk, "ini lama banget Ambu, dua bulan. Jika terjadi sesuatu pada Tia bagaimana? aku takut Ambu," isaknya meringkuk dipelukan Evi.
"Iya, semoga Allah mengirim seseorang untuk memberi kita kabar tentang istrimu," jelas Evi.
Tio melepas pelukannya, sudah hampir dua bulan dia tidak fokus pada pekerjaannya, karena menanti kabar dari sang istri, sehingga kondisinya benar benar menurun. Tingkat strees yang sangat tinggi, membuat Tio tampak kelelahan karena kurang tidur, berakibat fatal bagi tensinya.
Aditya dan Nancy merasakan apa yang Tio rasakan, dia harus fokus mengirim semua berkas Mutia ke negara negara yang diperbantukan untuk Timur Tengah, bahkan dia juga mengirimkan pesan pada negara sekutu.
"Abdi," batin Aditya saat melihat handphone miliknya bergetar.
Aditya berlalu meninggalkan ruang kantornya, menuju kursi diluar ruangan.
π"Ya Abdi," Aditya.
π"Izin Komandan," Abdi.
π"Ya," Aditya.
π"Saya masih di Turkey, sudah melakukan pencarian disini, tapi belum ada kejelasan. Helikopter yang membawa Mutia kala itu sudah ditemukan dan mereka dari kesatuan militer Ceko, yang wajib militer dinegaranya," jelas Abdi.
π"Cari terus keberadaan adikmu, aku yakin dia masih hidup, mungkin saat kejadian tidak memungkinkan untuk melakukan tindakan dirumah sakit tentara internasional, karena kondisi cuaca," tegas Aditya.
π"Iya Pak, saya juga yakin Tia baik baik saja, Bram dan Tanto juga tengah melakukan pencarian ditempat yang berbeda dibantu interpol. Saya yakin yang membawa mereka adalah pasukan elite negara Swiss, karena bendera mereka tertinggal disana. Hanya saja kita belum mendapatkan kabar dari kedutaan," jelas Abdi.
π"Ya," Aditya menutup telfonnya, kembali memasuki ruangan kerjanya.
Mata Aditya tertuju pada dua wanita yang satu pernah mengisi hati, sementara yang satu menjadi belahan jiwanya. Pikirannya seketika berkecamuk mengingat putri tercinta.
"Ya Allah, lindungi putriku, jaga dia, kembalikan dia dalam keadaan sehat kepangkuan kami keluarganya," doa Aditya dalam hati.
.
Uli dan Juan tengah melacak keberadaan Mutia, melalui sistem tercanggih yang mereka miliki.
"Izin Komandan, kita benar benar kehilangan kontak Mutia. Handphone miliknya terakhir berada di lokasi kejadian, saat ini tidak aktif. Apakah Mutia pergi meninggalkan kita selamanya?" tanya Uli pada Juan saat melihat layar yang ada dihadapannya.
Juan menarik nafas panjang, menepuk pundak Uli, "semoga kita bisa menemukan Mutia secepatnya, dalam kondisi apapun. Saya kasihan sama suaminya, yang tidak bisa berbuat apa-apa selain menangis dalam kekhawatiran," jelasnya.
Uli mengangguk setuju, "apakah Dian sudah bisa dimintai keterangan, setelah siuman dari komanya yang hampir satu setengah bulan?" tanyanya pada Juan.
"Propam saat ini tengah melakukan pemeriksaan. Kemaren baru sama Tri, kemungkinan lusa sama Dian. Semoga saja kita mendapatkan kabar gembira untuk keselamatan Mutia," jelas Juan pada Uli.
Uli mengangguk mengerti, wajahnya tertuju pada bingkai foto kebersamaan mereka semasa bersama.
"Ti, yang kuat, dimanapun kamu saat ini, aku yakin pasti Allah selalu menjagamu buat kami. Yang kuat sahabat," bisik Uli mengusap gambar Tia yang tengah tersenyum.
Persahabatan mereka sangat berbeda, walau pertikaian sering terjadi, tapi mereka saling menguatkan dalam keadaan apapun.
"Aku rasa Deny belum tahu keadaan Tia, karena sudah lebih dua bulan dia disibukkan dengan kegiatan pendidikannya. Semoga semua sahabatku, selalu dalam lindungan Allah," doa Uli mengusap lembut perut buncitnya.
Juan juga merasakan hal yang sama, pertemanan yang kaku dia ciptakan dengan tida wanita tangguh Siliwangi itu, mampu mengiris perasaannya karena kehilangan Mutia yang masih dalam pencarian.
"Ya Allah, selamatkan Cut Mutia Atmaja," doa Juan dalam diam.
Walau jauh, hanya doa yang mampu mereka panjatkan, π€§
To be co n ti nue...