
Gibran membawa Mutia meninggalkan ruangan Friska, setelah bertemu dengan Jose Mourin. Tanpa sengaja menggandeng jemari wanita hamil nan cantik rupawan itu menuju mobil miliknya. Tentu menjadi pemandangan aneh bagi rekan kerja pria gagah berpangkat Letkol dinegaranya.
"Apakah semua pekerjaan kita sudah selesai?" Mutia memasuki mobil, dibantu oleh Gibran.
Gibran tidak menghiraukan, saat ini dia ingin segera membawa Mutia kembali kekediamannya, "apa kamu terasa lelah?"
Mutia mengangguk, "sedikit."
Gibran tersenyum, melajukan kendaraannya menuju kediaman Stuard, "kita akan kembali kekediaman orang tuaku. Lovely sejak tadi menanyakan keberadaan mu melalui whatsApp. Sepertinya dia sangat mengkhawatirkan kita."
Mutia menatap kearah Gibran, "aku harus jujur pada keluargaku. Bagaimanapun aku tidak bisa semudah itu meninggalkan Lovely. Dia sahabatku selama disini."
Gibran mengehentikan mobil, menatap lekat wajah cantik Mutia, "kamu yakin? Akan tetap stay di Swiss selama enam bulan lagi?"
Mutia mengangguk, memberi keyakinan pada Gibran pria yang telah bersedia menjaganya selama beberapa bulan bersama, "aku tidak tega meninggalkan Lovely."
Entah angin apa, membuat pria bule berwajah tampan itu menangkup wajah cantik Mutia yang berada dihadapannya. Seketika wajah mereka semakin mendekat, ingin mengecup lembut bibir wanita berpangkat Mayor itu.
Mutia sudah menutup matanya, menerima ikhlas, perlakuan Gibran. Tapi bukan ciuman yang dia terima, melainkan kecupan mesra yang diberikan pria mapan itu pada keningnya.
Tia terdiam, wajah tegas nan kukuh pada pendiriannya, dibuat luluh lantah seketika oleh perlakuan Gibran padanya.
"Maaf, aku sangat mengagumimu. Aku tidak ingin mengecewakan suamimu, karena kita memiliki komitmen dalam kesatuan," Gibran berbisik menatap mata indah milik Mutia.
Mutia tersenyum bahagia, "jujur aku jatuh cinta padamu. Aku nyaman bersamamu, tapi aku tidak bisa melakukan hal buruk karena kita memiliki komitmen yang sama dalam pernikahan."
Gibran mengangguk, mengacak kasar rambut wanita hamil yang sangat mampu mencuri perhatiannya, "terimakasih kamu sudah jujur. Lebih baik jujur, daripada menyimpan perasaan, akan membuat kondisi perasaan kita tidak baik. Aku berharap suamimu bisa menerima Lovely, seperti kamu."
Gibran melajukan kecepatan mobil, menuju kediaman orang tuanya. Perasaan bahagia, khawatir, semua bercampur aduk menjadi satu. Membayangkan Mutia pasrah menerima ciumannya, "jika aku tidak memikirkan perasaan suaminya, mungkin aku sudah melakukan hal tergila dalam hidup," dia bergumam dalam hati.
Benar saja, saat mobil memasuki wilayah peternakan keluarganya, Lovely sudah berlari kearah mereka. Gibran mengehentikan mobil diparkiran, menerima sambutan putri kesayangannya.
"Daddy lama!" Lovely menepuk kesal perut sispack Gibran, dengan mata berkaca-kaca.
Gibran menunduk, "stop, jangan menangis. Bawa Aunty, dia telah memutuskan untuk tetap tinggal disini sampai melahirkan."
Lovely berlari mendekati Mutia, memeluk erat sahabat ternyamannya, "I love you, Aunty."
Mutia menatap Gibran, hanya bisa membalas pelukan Lovely padanya, "I love you too, dear."
Bian dan Stuard tersenyum bahagia melihat kebahagiaan cucu mereka. Ada kesedihan, ada juga kekhawatiran yang terlihat dari bola mata pasangan paruh baya itu.
"Lovely, bawa Aunty makan malam," panggil Bian.
Gibran mendekati sang ibu, "kami sudah makan tadi dikantor. Jose Mourin yang membelikan. Mungkin Mutia akan tetap tinggal disini, sampai melahirkan. Mama siapkan kamar yang dilantai dua. Biar mereka tinggal disana."
Bian semakin bahagia mendengar kabar tersebut, "ternyata putra kesayangan mu, akan menerima Lonely, karena Mutia akan stay disini bersama kita."
Stuard tersenyum lega. Mereka bercerita panjang lebar, saat memasuki kediaman.
______