
Suasana di Swiss sangat sejuk, Mutia dan Lovely masih nyenyak dalam dunia mimpinya. Keindahan kedua insan saling menyayangi sangat menyayat hati Gibran saat menghampiri kamar putri kecilnya.
"Bagaimana Lovely, apakah dia baik baik saja?" Bian mengejutkan Gibran tengah mengintip dua insan saling berpelukan.
"Ma, apa yang harus aku lakukan?" Gibran tampak bingung.
Bian menarik nafas dalam, "apa kau tidak kekantor hari ini?"
"Hmmm, sepertinya besok bareng Mutia, kenapa?" Gibran menatap lekat kearah Bian.
"Bahagiakan Lovely, sebelum Mutia dijemput keluarga. Aku harap kau bisa menerima kenyataan bahwa wanita itu bukan milikmu," Bian berlalu menuju dapur untuk mempersiapkan sarapan.
Gibran memilih masuk kekamar Lovely menunggu dua wanita itu terjaga, tanpa mau mendengar nasehat Bian sang ibu. Lumayan lama pria berwajah tampan itu menunggu dikamar hingga dia terlelap disofa dengan kaki diletakkan diatas meja.
"Morning Aunty," Lovely mengecup kening Mutia tanpa menyadari kehadiran Gibran sejak tadi tertidur pulas disofa.
"Morning, apakah kamu sudah membaik?" Mutia mengusap lembut kepala Lovely.
Lovely mengangguk, "aku sangat menyayangimu Aunty, jangan pernah tinggalkan aku, karena aku belum siap kehilanganmu."
Mutia mengangguk, tersenyum tipis melihat kearah sofa, "Gibran," panggilnya.
Gibran terjaga, menatap lekat wajah wanita yang sangat penting dalam kehidupannya saat ini, "morning girls, aku menunggu kalian. Akhirnya tertidur disini. Bagaimana, apakah kau akan ke sekolah hari ini?"
Lovely mengangguk, dia menghampiri Gibran, memeluk erat tubuh ayah tercinta, "I love you Daddy."
Gibran membalas pelukan Lovely, "I love you too dear."
Lovely melepaskan pelukannya, "aku mandi, bersiap siap. Aku mau hari ini kau dan Aunty mengantarkan ke sekolah. Aku tidak mau dititipkan pada wanita bernama Lonely. Kau mengerti Daddy?"
Gibran mengangguk setuju, "mandilah, aku ingin bicara dengan Aunty."
Mutia masih tersenyum melihat kemesraan anak dan ayah yang sangat mesra dihadapannya, "sweet, kau begitu romantis pada putrimu. Apa kau jarang ada waktu untuknya?"
Gibran mengangguk, "aku terlalu sibuk diluar sana, sehingga melupakan kebersamaan dengan putriku yang akan beranjak remaja."
Mutia memilih duduk bersebelahan dengan Gibran disofa, "aku akan menunda kepulanganku jika Keluarga datang menjemput. Kau telah menyelamatkan nyawaku, rasanya aku berhutang budi padamu. Aku akan memilih tempat tinggal disekitar sini agar bisa menjadi sahabat putrimu."
Gibran menautkan kedua alisnya, melirik kearah Tia, "jika suamimu tidak mengizinkan, mungkin Lovely akan ikut denganmu kesana. Aku tidak ingin menjadi beban pikiranmu. Maafkan putriku."
Mutia tertawa kecil mendengar ucapan pria tampan disebelahnya, "kamu lucu, jika suamiku Bambang Sulistio tidak mengizinkan kalian ikut bersama kami bagaimana?"
Gibran menaikkan kedua bahunya, "itu haknya padamu, karena aku hanya orang lain. Aku tidak bisa menahanmu untuk bisa tetap stay disini walau putriku memohon, ya kan?"
"Kamu terlalu naif, suamiku orang baik. Kami baru mengenal setelah menikah. Jujur baru saling mencintai dan merasakan rumah tangga yang sangat indah, tapi harus terpisah dengan cara seperti ini. Mungkin aku akan meminta padanya untuk tetap menemani ku hingga melahirkan disini, demi Lovely. Aku nyaman bersamamu." Mutia menatap satu arah tanpa berkedip.
"Hmmm, maksudmu. Kau nyaman berada di dekatku atau bagaimana?" Gibran penasaran atas ucapan cintanya kemaren.
"Jujur kamu sangat berbeda, jika waktu bisa ku ulang kembali, mungkin aku akan berada disini, memilih tetap disini," Mutia tertunduk.
Gibran semakin bingung, "apakah kau juga mencintaiku?"
Lovely berlari kecil keluar dari kamar mandi, melihat Mutia dan Gibran duduk bersebelahan, gadis kecil itu tersenyum bahagia, "cieee.. Aunty dan Daddy saling curhat, hati hati jatuh hati."
Mutia menautkan kedua alisnya, "kamu mau pakai baju apa?"
Lovely tersenyum lega, melirik kelemari, menunjuk seragam sekolah militer.
Gibran menatap Lovely, "dia menyukaiku," dengan berbisik tertawa kecil mengusap lembut kepala putri kecilnya.
Lovely menautkan kedua alisnya, "apa kalian akan berkencan, hmmm kenapa cinta dewasa ini sangat rumit Dad. Apakah dia tidak mencintai suaminya lagi, atau mereka memang berpisah?"
Gibran tersenyum, "tidak, dia keluarga bahagia. Anak seorang jenderal dan istri seorang perawat. Kita akan bertemu keluarganya besok, jika kau tidak keberatan untuk menemani kami."
Lovely menyeringai lebar, membuat Gibran semakin mendekap tubuh mungil putri kesayangan, "pakaian cepat, sebelum aku menggendongmu untuk melakukan tindakan lebih cepat."
Lovely bergegas mengambil baju sekolah, mengenakan sendiri tanpa bantuan siapapun.
Lima belas menit, Mutia keluar dari kamar mandi, melihat Lovely tengah sibuk mengikat rambut panjangnya sedikit sulit.
"Mau aku bantu?" Mutia mendekati Lovely.
"Hmmm, apa Aunty bersedia untuk membantuku?" Lovely menatap penuh harap.
Mutia mengambil sisir terbuat dari tulang yang ada dalam genggaman sahabat kecilnya, menyisir dengan sangat hati-hati, "jika sakit, katakan padaku."
Mutia mengikat dengan rapi rambut gadis kecil putri kesayangan Gibran.
"Love," Gibran membuka pintu kamar tanpa mengetuk.
Lovely sedikit kaget, "Daddy, bisakah menggedor pintu terlebih dahulu?"
Mutia menatap kearah Gibran, tersenyum tipis melihat anak dan ayah selalu berdebat tentang sopan santun.
"Sarapan," Gibran kembali menutup pintu kamar, berlalu menuju ruang makan.
Bian melihat wajah putranya sangat berbeda dari biasanya, "apa mereka sudah selesai?"
Gibran menarik kursi untuk duduk dihadapan Stuard, sesekali melirik kearah pintu kamar, "sudah Ma."
Bian menyediakan kopi untuk Gibran, memberi creamer, kemudian meletakkan roti dan mentega dipiring putranya yang berstatus duda, "apa kalian akan makan siang bersama?"
Gibran mengangguk, "aku akan membawa Mutia ke kesatuan kita, agar dia tahu bahwa kami benar benar peduli padanya. Palingan aku kembali bersama Lovely. Dia pulang sekolah sore."
Bian mempersiapkan semua kebutuhan cucu satu satunya, agar tidak kekurangan bekal saat berada disekolah.
"Gibran, bagaimana hubunganmu dengan Lonely. Bukankah wanita itu sangat baik padamu, namanya juga hampir mirip dengan Lovely. Sebagusnya kau menikahi Lonely, agar putrimu ada yang mengurus. Ingat, waktumu tidak banyak dan kau harus membahagiakan putrimu, memberi dia perhatian karena kesibukanmu yang kadang sangat menyiksanya," Stuard mengingatkan putra kesayangan.
"Pa, aku tidak mencintai Lonely, Lovely tidak menyukainya. Sebelum kedatangan Mutia kami sudah membicarakan semua ini. Lovely sangat mengerti bagaimana pekerjaanku dan tanggung jawab sebagai seorang militer. Aku tidak ingin menikah jika putriku tidak nyaman. Please, pahami kami," Gibran mengalihkan pandangannya kearah pintu kamar melihat Mutia dan Lovely keluar dari sana.
"Morning Opa, Oma," Lovely memeluk Bian dan Stuard secara bergantian.
Bian menyambut pelukan Mutia, "morning, bagaimana tidurmu, apa kau betah berada di tempat kami. Hari ini beberapa ekor sapi akan masuk ke peternakan, jika kamu mau melihat lihat, bisa membawa Lovely berkeliling saat sore nanti."
Mutia mengangguk, "disini sangat nyaman, aku menyukainya. Mungkin saat ini, aku butuh handphone untuk menghubungi keluargaku."
Gibran menautkan kedua alisnya, "maaf, aku sampai lupa. Nanti kita mampir ke supermarket, aku akan membelikan untukmu. Aku tahu, kau tidak memiliki uang saat ini."
Mutia tersenyum, mengangguk setuju. Mau tidak mau dia harus menerima tawaran Gibran.
Tidak begitu buruk.