
Tio dan Tia merencanakan cuti untuk bulan madu mereka menyusul Abdi dan Deny. Tentu di tolak tegas oleh Uli karena minggu ini adalah pelatihan untuk mereka menuju daerah konflik.
"Jangan mesum deh otak Lo," kesal Uli menatap Tia.
"Idih yang mesum siapa? toh gue nggak pernah cuti," kesal Tia membanting berkasnya di meja Uli dan berlalu.
Tia kembali ke ruangannya dengan perasaan kesal, baru kali ini dia berdebat masalah pengajuan cuti. Selama dinas, dia salah satu prajurit paling sulit untuk mengajukan cuti, kali ini dia harus dihadapkan dengan dinas yang sudah di depan mata dan jadwal latihan semakin padat.
"Lama lama kepala gue jadi puyeng," batin Tia menggerutu kesal.
Drrrrt drrrrt,
"Hubby," batin Tia.
π"Assalamualaikum Aa," ucap Tia masih meremas kertas di meja kerjanya.
π"Waalaikumsalam, neng di kantor?" tanya Tio.
π"Hmmmm," Tia hanya mendehem.
π"Kita keluar yuuk, Aa lagi kesel," ajak Tio.
π"Ya udah, neng tunggu di depan yah. Nggak usah masuk," Tia menutup telfonnya, bergegas akan menuju gerbang, tapi lengannya di tahan oleh Komandan Juan.
"Kamu mau kemana? bukannya sebentar lagi jadwal latihan?" tanya Juan.
Tia benar benar seperti menantang Juan. Pelan Tia menarik nafas panjang, menutup matanya agar bisa bersahabat dengan keadaan.
"Saya lapar, saya cuma mau makan sebentar," ucap Tia melepas genggaman Juan.
"Hmmmm," Juan melepaskan tangannya, membiarkan Tia berlalu meninggalkan kantor.
"Kenapa wajahnya seperti monster?" batin Juan menuju ruangannya.
Tia justru menunggu mobil Tio yang menghampirinya. Sedikit tergesa dan membanting pintu sedikit keras. Menatap Tio yang ternyata tak kalah kusut. Jika di lihat-lihat keduanya tengah di landa emosi karena cuti yang di ajukan ditolak.
Tio mengajak Tia ke sesuatu tempat di daerah Dago, agar lebih tenang dan bersahabat.
"Neng kenapa?" tanya Tio masih menyimpan rasa kesalnya.
"Habis debat sama Mba Uli," jelas Tia.
"Hmmmm cuti Aa ditolak, berarti cuti Neng juga nggak dikabulkan?" tanya Tio.
"Ya, Neng minggu depan berangkat. Siang ini latihan. Kapan kita bisa sama sama Aa?" rengek Tia.
Tio semakin panik, bagaimanapun juga dia baru merasakan sesuatu kebahagiaan dalam rumah tangganya.
"Kita hubungi Bapak, gimana?" tanya Tio.
"Hmmmm mana bisa Aa. Neng harus standby, ready. Kapan di butuhkan harus siap," jelas Tia.
Tio menggeram kesal, tidak menyangka seberat ini menikah dengan seorang militer. Apakah dia sanggup menahan kerinduan selama 6 bulan? bisa pecah kepala ini, nggak jumpa istri, batinnya.
Mereka hanya diam masuk ke pikiran masing-masing. Perlahan Tia meringkuk di lengan Tio.
"Neng sedih Aa," tangisnya pecah.
"Saat Neng nyaman sama Aa, kita harus dihadapkan dengan permasalahan seperti sekarang. Neng bingung!" isaknya.
Tio justru merasakan hal yang sama, bagaimana jika kabur tanpa memberi tahu. Bisa kenak penggal, batinnya.
"Hmmmm ya udah, makan dulu yuk! nanti Aa antar latihan. Kapan rencana berangkat? sebelum Neng pergi setiap malam kita sayang sayangan, biar nggak terlalu fokus sama masalah. Mudah mudahan nanti ada jalan keluar. Kali saja Neng pergi, Aa juga ikut," kekeh Tio berusaha menghibur hati Tia.
"Eehmm, ya deh."
Mereka turun dari mobil menuju salah satu restoran prasmanan. Mengambil beberapa makanan kesukaan untuk mengisi lambung tengah.
Tio duduk disamping Tia, tentu masih berwajah sedikit kaku. Masih kepikiran dinas, cuti ditolak, beeeegh berat.... berat.
Saat mereka tengah menikmati makan siang tiba tiba Aditya dan Nancy berada dihadapan mereka berdua.
"Eheeem, kayaknya kalau lagi berduaan lupa sama Bapak dan Ibu," ucap Aditya.
Keduannya mendongakkan kepala menatap Aditya dan Nancy yang ada didepan mata.
"Bapak, Ibu ngapain disini?" tanya Tia.
Nancy tertawa, "nyusul neng, katanya lagi riweh di kantor," ucapnya.
Aditya tersenyum tipis menatap Tia dan Tio secara bergantian. Meletakkan nampan yang ada ditangan, melahap makanan bersama anak menantu.
Perlahan tapi pasti Aditya menasehati putrinya. Mereka saling bertukar pikiran, tanpa di minta.
"Aa Abdi boleh cuti, Neng nggak boleh,"
Tia masih merungut, "nanti malam kami tidur di Lembang yah Bu?" ucapnya masih dengan wajah cemberut.
Nancy tertawa, "namanya juga abdi negara, harus patuh 24 jam," ucap Nancy.
Tio hanya terdiam tanpa menjawab, dia harus ikhlas menikah dengan seorang militer. Harus taat sesuai janji. Kebanyakan pria yang meninggalkan wanita. Ini malah kebalik karena posisi mereka dinas di tempat yang berbeda.
"Nak Tio, kalau nggak keberatan saat Tia dinas, nginap di rumah saja. Biar ada temen Ibu," jelas Aditya.
Tio menatap wajah istrinya, mengangguk setuju, jika merindukan sosok istrinya yang paling dia cintai saat ini.
"Pak, kalau Neng hamil, pulang kan?" tanya Tia polos.
Nancy mengusap wajahnya, "iya makanya harus rajin biar hamil," kekehnya.
Perasaan kecewa sedikit terobati walau masih belum bersahabat. Jika bisa waktu di putar, lebih baik dari awal di obrak abrik sebelum benar benar jadwal sepadat ini, batin keduanya.
Walau ada penyesalan setidaknya bisa membuat hati terasa lega, saat ini mereka mampu menerima takdir, melanjutkan pernikahan dengan padatnya jadwal Tia.
"Kalian kemana lagi habis dari sini?" tanya Aditya.
"Pulang atau latihan?" tambahnya.
"Latihan Bapak," jawab Tia masih malas.
"Jangan kesel kesel, fokus saja. Kamu sniper jangan sampai salah sasaran. Nanti bisa fatal," jelas Aditya.
Tia mengangguk, setidaknya apa yang dikatakan Aditya benar adanya. Mereka berpisah melanjutkan kegiatan sesuai schdul walau dengan hati kesal.
.
.
Saat tiba di lapangan, Tio kembali ke rumah sakit melanjutkan kegiatannya. Tentu mendengar dari Beny tentang curahan istrinya tengah bersitegang dengan Tia.
"Ck biarin aaagh, urusan perempuan nggak usah diambil pusing. Toh kita suami baik baik saja kan? atau mau ribut juga?" kekeh Tio.
"Bukan gitu, gue jadi bingung saja! mesti gimana nanggapinnya. Dia ngomeeeel aja, jadi lapar lagi perut gue. Kita makan aja yuuk?" ajak Beny.
"Hayuuuk atuh," mereka menuju kantin rumah sakit memesan beberapa makanan ringan dan segelas kopi susu.
Waktu menunjukkan pukul 16.45 waktu setempat, seorang perawat berlari kencang mendekati Tio dan Beny.
"Ada pasien dari kesatuan, luka tembak,"
Perawat itu kembali lagi menuju unit gawat darurat.
Tio terlonjak kaget, "Tia? dia kan latihan," batinnya. Dia bergegas berlari menuju unit gawat darurat, mencari pasien dari kesatuan yang di maksud perawat tadi, ternyata...
"Neng!!!!"
Tio dengan sigap melihat luka yang bersarang didada kiri istrinya, wajahnya memerah tampak panik.
"Siapkan ruang operasi minta Dokter Ibra nanganin istri saya segera!" tegas Tio.
Tio menatap wajah Tia, istrinya setengah sadar sedikit meringis, "siapa yang bawa pasien kesini?" tanyanya pada perawat wanita.
"Ada Letkol Uli di luar sedang buat laporan Pak, Komandan Juan menuju kesini," jelasnya.
"Hmmmm kok bisa?"
Tio menenangkan Tia, agar tidak shook, "neng, neng, sadar yah sayang!" bisiknya.
"Ssssshz," Tia hanya meringis.
Tio memasang selang pernafasan dan infus segera, agar dilakukan tindakan untuk mengeluarkan peluru yang bersarang.
Saat Dokter Ibra menghampiri Tio, melihat luka Tia lumayan serius.
"Segera bawa ke ruangan operasi, pasien Cut Mutia Atmaja, luka tembak bahu kiri. Siapkan semua perlengkapan operasi," tegas Ibra.
"Semoga baik baik saja," batin Tio melihat istrinya memasuki ruang operasi.
Kira kira ditembak atau tertembak? π€§
To be co n ti nue...
Mohon dukungan Like dan Vote pada karya ku, jangan lupa comment yah...π
Khamsiah.... Hatur nuhun....π€π₯