
Lapangan tembak yang luas membentang berukuran 15 hekta itu, terdengar sayup sayup para prajurit TNI angkatan darat tengah sibuk bernyanyi bersama sambil berlari sekeliling lapangan.
Hari menunjukkan pukul 06.00 waktu setempat. Tia masih fokus pada pemanasan sebelum lari pagi seperti biasa.
Ya, pagi ini pasukan elite akan melakukan latihan sesi ketiga sebelum keberangkatan mereka yang sudah ditentukan komandan mereka.
"Aa mau pulang atau nunggu disini sampai jam 08.00?" tanya Tia saat melihat suaminya tengah duduk dikursi.
Tio berdiri, "Aa tunggu disini dulu sampai jam 07.00, nanti langsung kerumah sakit. Neng sampai jam berapa?" tanyanya.
"Mungkin sampai siang, ntar Neng call aja. Lagian Aa Abdi juga kesini, Deny kan hari ini udah masuk pendidikan, jadi semua jomblo," goda Tia pada Tio.
Tio memeluk tubuh istrinya, "kamu baik baik latihannya yah? semangat," kecupnya pada kening Tia.
Tia mengangguk, mencium punggung tangan suaminya.
"Neng gabung dulu sama mereka yah?" izin Tia pada Tio.
Tio mengangguk, ada perasaan bahagia dalam hatinya memiliki istri Mayor dan cantik. Berwibawa bahkan tegas. Pria tampan itu kembali ke kursi, melihat para pasukan elite berlari penuh semangat sehingga mampu mengirimkan sinyal positif agar menjalani hidup lebih semangat.
Abdi yang sejak tadi mencari keberadaan adik iparnya, baru menyadari bahwa Tio tengah duduk disalah satu meja sedikit tersembunyi.
"Tio," sapa Abdi pada Tio.
Tio menyambut kedatangan Abdi, "sama siapa Aa?" tanyanya memeluk tubuh tegap sang abang ipar.
"Sendiri, mana Tia? udah gabung yah?" tanya Abdi melihat kelapangan.
"Sudah Aa," senyum Tio..
Abdi hanya mengangguk, ikut bernyanyi kecil mengikuti lirik lagu yang dinyanyikan oleh para elite dilapangan.
"Besok ikut nganterin kita kan? kami terbang lewat kapal angkatan laut," jelas Abdi pada Tio.
Tio tersenyum tipis, "ya iya atuh Aa, masak istri mau berangkat dinas dibiarin berangkat sendiri. Pengen ngerasain ngelepas pasangan pergi," ceritanya jujur didepan Abang ipar dengan mata sedikit berkaca kaca.
Abdi mendekat pada Tio, "sabar, menikah dengan militer itu tidaklah mudah Tio, saya senang kalian bisa sedekat ini sekarang. Semoga semua tujuan baik memberikan hal yang baik untuk rumah tangga kalian kedepan, saya doain," kekehnya menepuk pundak Adik ipar yang tengah dirundung kesedihan.
"Bagaimana jika pulang tinggal nama Aa?" tanya Tio menatap iris mata Abdi.
"Maut, itu adalah takdir. Sama seperti Abah kamu, pulang tinggal nama. Bagaimana Ambu? kuatkan? justru kalian berjodoh," senyum Abdi memberikan wejangan.
Tio mengangguk mengerti, "ternyata sakit yah Aa sebenarnya melepas orang yang kita sayang itu," rungutnya.
"Ya, kita mesti belajar dari sekarang. Hargai pasangan saat dia masih ada, jika sudah tidak ada yah nyesel. Saya yakin, kamu sangat mencintai Tia dengan segala upaya yang kamu punya. Insyaallah saya akan menjaga Tia, walau kami beda kesatuan, jika dilapangan tetap satu. Sama sama NKRI, merdeka!" teriak Abdi penuh semangat agar Tio tidak larut pada perasaannya.
Tepat pukul 07.00 waktu setempat, setelah Aditya sang Jenderal memberi pengarahan kepada sembilan pasukan elite pilihan termasuk Cut Mutia Atmaja ada didalamnya, latihan dimulai dengan sangat menegangkan.
Semua dibagi menjadi tiga kelompok, Tia mesti berhadapan dengan penembak jitu Tanto dan Dina. Kedua sahabatnya berada di kelompok yang berbeda.
Tia menggunakan semua atribut termasuk pakaian anti peluru untuk melindungi dirinya. Kaca mata hitam, sarung tangan bahkan penutup wajah agar tidak terkena sinar matahari.
"Ya Allah selamatkan aku," doa Tia dalam hati.
Semua bersiap menghadapi lawan palsu mareka dengan strategi yang dimiliki, kepekaan dan insting untuk menjadi tercepat dalam melumpuhkan lawan sangat diperlukan.
Dor dor dor,
Suara tembakan kembali terdengar tanda latihan segera dimulai.
Tia bergegas mengatur strategi mencari keberadaan musuh, menggunakan penglihatan yang tajam mendeteksi keberadaan lawan. Segala macam cara dia lakukan untuk tetap pada posisi yang sempurna melihat satu titik musuh diseberang sana.
Melalui teropong laras panjang terlihat jelas Dina mencari keberadaan Tia.
Bheeng bheeeng bheeeng,
Dor dor dor,
Dina terkena sasaran Tia pertama kali, kembali matanya tertuju pada Tanto dan Tri yang menjadi lawan saat ini.
Dor dor dor,
Dor dor dor,
Dor dor dor,
Kreek kreek kreek,
Tia kembali memutar otomatis laras panjangnya untuk kembali menjatuhkan lawan, seketika.
Dor dor dor,
"Aaaaagh," Tia terkena peluru sekali dengan melanjutkan perlindungannya dibalik rekannya.
"Geser, gue maju," ucap Bram membidik kearah lawan mereka.
Tia kembali mencari lawan Dina, Tanto dan Tri yang menjadi sasarannya seperti arahan Komandan Juan.
"Atur strategi ke plan B, jangan lengah, fokus!" ucap Bram yang menjadi ketua regu Tia.
Pria kaku itu berpangkat Letnan yang menjadi pengganti Uli, dia sosok pria tegas tapi santai karena memiliki sifat tumor alias tukang molor jika sudah menemukan posisi yang sangat nyaman.
Tia dan Bram akan menjadi satu regu saat berangkat ke Timur Tengah, sementara Tanto dan Dina ikut dengan mereka dengan strategi yang berbeda.
Tia sangat menikmati sesi latihan akhir, karena merasakan atmosfer baru yang terpancar dengan kehadiran Bram disesi akhir mereka.
Lebih dari lima jam mereka saling berbalas tembakan seperti bermain air soft gun. Sangat seru? ya paling seru, karena akan ada yang meringis jika terkena peluru hampir tiga kali. Mereka terus berlatih hingga berbunyi bel istirahat siang.
Bram merangkul bahu Tia, "lain kali Lo jangan lengah cee', jika Lo lengah dalam hitungan detik aja, mati Lo didor," ucapnya melepas rangkulannya.
Tia mengangguk, melepas penutup wajah, agar bisa bernafas lega, "iya, gue ngerasa, tapi kenak sekali doang, nggak kayak Lo sampe tiga kali setengah," kekehnya melihat wajah Bram yang tampak kucel.
"Hmmm, Lo pemenang deh," geram Bram.
Tia melepas sarung tangan, pelindung lutut dan sikunya, yang paling menyebalkan saat sesi latihan akhir adalah menggunakan baju anti peluru. Itu sangat panas menutup tubuh seharian.
Cut Mutia Atmaja berpangkat Mayor itu bergegas masuk kedalam kamar mandi wanita, untuk membersihkan diri. Mata Tia tertuju pada Tio yang tengah duduk bersama Beny, Uli dan Abdi.
"Udah rame saja," batin Tia.
Ternyata Aditya dan Nancy juga berada ditengah-tengah kebersamaan anak anak mereka.
Tia menghampiri Tio dan keluarganya yang sudah sejak tadi menunggu, ternyata sudah ada Bram, Tanto dan Dina bersama mereka.
"Aa," kecup Tia pada pipi Tio dihadapan semua rekannya tanpa ada rasa sungkan, membuat dia menjadi bahan bulian para sahabat.
"Pak, ternyata Tia bisa romantis juga yah?" goda Bram melirik kearah Tia dan Tio.
"Kaget Lo kan Bram? apalagi gue yang menjadi saksi," kekeh Uli.
Abdi mengusap kepala adiknya, "jangan takut Tio, Tia aman bersama kita," ucapnya.
Nancy membantah, "huush, insyaallah! kita nggak tahu rencana Gusti Allah," bisiknya mengingatkan putra putri didikan Aditya.
"Siap suhuu," goda Bram dan Tanto.
Mereka bercerita bersama sambil menikmati nasi kotak yang disediakan oleh ajudan Jenderal Aditya. Beberapa kali Tia dan Tio saling menggoda dihadapan para sahabat.
"Ada kemajuan yah Bu," bisik Dina pada Nancy.
"Alhamdulillah, kamu gimana? sudah hamil belum?" tanya Nancy.
"Hmmm, belum Bu! suami masih dinas, nih saya pergi suami pulang, kapan kita ketemu," kekehnya santai.
"Sabar saja, nanti jika sudah waktunya akan diberi keturunan yang banyak, Ibu doakan," ucap Nancy pelan mengusap punggung Dina.
Mereka kembali berpisah hingga pukul 15.00 waktu setempat dengan berbagai macam cerita dan drama saat latihan akhir.
"Semoga besok menjadi hari yang baik di enam bulan kedepan kita kembali dengan selamat tanpa kurang satu apapun," ucap Aditya saat menutup sesi ketiga latihan akhir.
"Amin," ucap mereka serempak.
Mereka saling bertepuk tangan dengan sangat keras berteriak keras sesuai yel yel kesatuan, merasa hari ini menjadi hari yang baik untuk semua regu.
To be co n ti nue...
Mohon dukungan Like dan Vote pada karya ku, jangan lupa comment yah...π
Khamsiah.... Hatur nuhun....π€π₯