
Kriiiing,
Jam weker terunik berwarna biru langit itu berdering sangat kencang sehingga membuat kedua insan itu terlonjak kaget. Tia yang masih setengah sadari duduk menatap lekat wajah suami yang masih megusap mata sembabnya.
Tia menyalakan lampu kecil yang berada dinakas, melihat kearah jam weker jelek itu.
"Ya Allah Gusti, masih jam 03.00," rengek Tia mendekap tubuh Tio kembali.
"Aa Abdi harus antar Deny, udah bangun belum dia?" tanya Tio pada Tia.
"Hmmm," Tia meraih ponselnya, menghubungi Abdi yang berada disebelah kamarnya.
π"Iya, ini sudah mau jalan, kamu bangun iiighs, nanti terlambat," jawab Abdi tanpa mau mendengar suara adiknya terlebih dahulu.
π"Good," Tia menutup telfonnya, meletakkan diatas nakas.
Tia menatap wajah Tio yang juga menatapnya. Tidak ingin melanjutkan tidurnya, dia hanya ingin menghabiskan waktu yang hanya sedikit dengan sebaik-baiknya.
"Aa jaga kesehatan yah? sabar, doain Neng selalu," peluk Tia pada tubuh Tio tanpa ada rasa malu atau gengsi. Dia merendahkan egonya untuk memulai lebih dulu.
Matanya tertuju pada baju dinas yang sudah tergantung rapi setelah disetrika oleh bibik saat pulang kerumah sore kemarin.
Kali ini Tio ingin Tia lebih mendominasi, permainan indah mereka tanpa harus memaksa ataupun meminta. Semua mengalir apa adanya sesuai perasaan yang bergemuruh antara mereka.
Cinta yang telah terbina, bahkan tertata indah direlung hati terdalam. Perpisahan kali ini, akan menjadi perjalanan, dalam penantian yang panjang bagi keduanya.
"Hmmmmfgh Aa," suara Tia terdengar mendayu indah saat berada diatas tubuh sang pangeran yang ternyata menjadi belahan jiwanya.
Dua keindahan yang terpampang jelas dihadapan Tio menjadi santapan nikmat untuk pria berdarah Sunda yang tampan rupawan itu. Tio mampu memberikan nuansa yang berbeda saat Tia mampu menembus kebahagiaannya dalam permainan akhir mereka.
Tubuh yang bergetar hebat, teriakan manja bahkan gigitan kecil yang mereka ciptakan mampu menciptakan hati yang berbunga bagi kedua insan yang tengah asyik menikmati indahnya syurga dunia..
Tio melepaskan kebahagiaannya, saat Tia mampu memberikan sinyal keindahan menembus alam yang lebih indah menembus sukma dan jiwanya. Mereka saling bertukar saliva enggan untuk melepas pelukan hangat nan indah.
Tok tok tok,
"Neng," teriak Nancy.
Tia yang masih terbawa arus asmara, bermandi peluh diatas tubuh kekar suaminya, matanya masih menatap pintu.
"Hmmm," jawabnya pelan.
"Bangun yah? siap siap," terdengar suara Nancy sangat peduli pada putrinya.
Tia kembali mendehem menatap mata Tio, "Aa," isaknya meringkuk tanpa mau melepaskan benda yang menyesakkan dibawah sana.
Tio mengelus lembut punggung Tia, "mandi yah? Aa nggak mau Neng terlambat," bisiknya.
Tia mengangguk, melepas perlahan laras panjang yang sangat kokoh saat menembus syurganya, beranjak perlahan menuju kamar mandi.
Dua puluh menit lebih mereka ritual bersama, dikamar mandi yang menjadi saksi bisu percintaan hangat kedua insan, yang akan berpisah selama beberapa bulan itu, Tio tetap setia menjadi Imam yang baik untuk Tia.
Mereka memanjatkan doa syukur kepada sang pencipta, agar diberikan kesehatan dan umur yang panjang agar dapat bertemu kembali tanpa kurang satu apapun.
Hari sudah menunjukkan pukul 05.00 waktu setempat, adzan subuh sudah berkumandang, Tia berdandan rapi sangat sempurna. Tampak kecerdasan dari raut wajah putri Atmaja sebagai sniper elite yang tangguh dan mandiri.
Baju kaos loreng lengan panjang berlambang bendera merah putih, bertuliskan nama Cut Mutia Atmaja, sangat menarik perhatian Tio sang perawat tampan itu. Celana panjang hitam dengan lilitan ikat pinggang berwarna hitam, membuat wanitanya tampak memikat hati.
"My wife is a military, selamat berjuang, aku tunggu kamu disini," ucapnya mengecup kening Tia penuh cinta.
Tia memeluk Tio, merasakan kehangatan dan hembusan nafas yang akan dia rindukan, "my husband is a sweet man," kekehnya menggoda suaminya dengan manja.
"Bisa aja buat Aa melayang," kecup Tio.
Berkali kali Tio memperbaiki kalung pemberiannya, memasukkan kedalam agar tidak terlihat.
"Neng fokus, Aa disini nungguin kamu penuh harapan untuk kita," jelas Tio memberi semangat.
Tia mengangguk, "Aa baik baik, kalau ada apa apa jangan sungkan. Neng ada narok uang tabungan kita didalam laci lemari kamar, jika Aa butuh ambil saja, karena Neng tahu, Aa nggak mau nerima kalau dikasih," ucap Tia pelan.
Tio menautkan alisnya, "kayak mau ninggalin istri, apa nggak kebalik?" tanyanya sedikit kesal.
"Itu uang bisnis kami sama Mba Uli, tenang saja, gaji Neng nggak pernah Neng utak atik, semua buat Neng kok," kekeh Tia agar suaminya tidak merasa sungkan.
"Iya, bawel! pokoknya kamu hati hati, titik," goda Tio pada puncak hidung Tia.
"Yuk, keluar. Sebelum gedoran kedua muncul," Tia dan Tio keluar kamar beriringan.
Mereka sarapan bersama, disambut dengan doa keluarga demi keselamatan Abdi dan Tia berjuang selama di Timur Tengah. Berkali kali Nancy mengusap air mata dari sudut mata indahnya.
Nancy memeluk tubuh langsing putrinya, "hati hati geulis, Ibu doakan kamu selamat pergi dan kembali pulang. Ibu merasakan sesuatu, tapi ibu bingung mengungkapkan," isaknya kembali memeluk Tia putri kesayangannya.
"Doakan yang terbaik Bu, jangan begini," rengek Tia membalas dekapan sang bunda.
Aditya merangkul anak dan istrinya, "Abdi, jaga adikmu, jangan lengah," titahnya tegas.
Abdi mencium kening Nancy dan Tia secara bergantian, tanpa ingin menjawab. Kesedihan yang dia rasakan sangat berbeda kali ini. Entahlah, ini hanya perasaan, hidup dan mati rahasia pemilik semesta.
Akhirnya mereka berangkat menuju Jakarta, sesuai jadwal yang telah ditetapkan, untuk melepas kepergian putra putri yang menjadi aparatur negara.
Selamat berjuang Tia dan Abdi, π€§π₯
To be co n ti nue...
Mohon dukungan Like dan Vote pada karya ku, jangan lupa comment yah...π
Khamsiah.... Hatur nuhun....π€π₯