
Amel keluar dari dalam kelas, memegangi tumpukan buku. Dia berjalan dengan santai, di parkiran langkahnya berubah cepat saat melihat seorang lelaki melambaikan tangan kearahnya. Lelaki jangkung yang memiliki lesung pipi disisi kanan dan kiri.
"Udah dari tadi?" Tanya Amel langsung memeluk lelaki didepannya.
"Baru lima belasan sih" kata lelaki itu sambil membukakan pintu mobil untuk Amel.
"Tadi aku udah janjian sama kak Kevin, katanya dia nungguin kita di cafe Drama"
Amel memasang sabuk pengamannya, menunggu lelaki itu juga memasang sabuk pengaman.
"Kevin udah ngewattshap aku tadi" kata lelaki itu sambil memacu gas mobil.
"Axell" lelaki itu menoleh saat Amel memanggil namanya.
"Lusa aku mau pergi ke Korea" kata Amel sambil menatap lurus kearah depan
"Kamu yakin? "
Amel mengangguk "aku udah yakin kok, kamu mau temenin aku kan?" Amel menatap wajah Axel penuh harap.
Axel mengangguk, kemudian mengusap rambut Amel dengan lembut.
"Aku akan nemenin kamu kemanapun itu"
Lusa, dia akan kembali ke negara itu, ke negara yang sempat membuatnya jatuh cinta, kenegaraan yang sempat membuatnya hampir mati karena terluka. Dan ke negara yang selalu menyajikan apa yang tidak bisa Amel bayangkan.
Sampai di depan cafe yang di maksud Amel, mobil Axel berhenti. Mereka keluar dari dalam mobil untuk menemui Kevin. Ketika berada di pintu utama, lambaian dari seorang laki laki membuat senyum Amel cerah.
"Kakkk keviinnn" Amel langsung memeluk Kevin begitu kakaknya berdiri untuk menyambut kedatangan mereka.
"Kangen tahuuuu" kata Amel merengek.
Kevin menarik sudut bibir "duduk Xel" kata Kevin mempersilahkan Axel untuk mengambil duduk.
"Gimana kabarmu Mel?"
Amel tidak langsung menjawab justru mencomot pizza yang ada diatas meja. Gadis itu mengangguk anggukan kepala tanda dia baik baik saja.
"Kami gak malu sama pacar mu?" Kevin geleng geleng saat melihat Amel memasukan potongan piza kedalam mulutnya.
"He he" gadis itu nyengir "oh ya, lusa aku sama Axel mau ke Korea, Kakak mau ikut?" Tanya Amel.
Kevin mengernyitkan dahi , dia menarik nafas kemudian menjawab dengan tenang "kamu yakin mau kesana?"
Amel mengangguk dengan senyum tulus yang terpancar dari matanya "aku yakin kak, udah lima tahun Amel menghindari ini semua" tukas Amel sambil mengelus tangan Kevin.
"Tapi Mel __"
"Kak, lima tahun ini Amel menghindari negara itu"
Kevin menunduk, semuanya, semuanya karena dia. Kevin akhirnya mampu mengangguk.
"Yang terpenting jaga dirimu baik baik disana" pesan Kevin.
**
"Masuk yuk" ajak Axel ketika mereka sudah ada di bandara.
Jantung Amel berdegup, bagaimanpun Amel akan kembali pada masa lalunya yang terlalu menyakitkan. Mungkin disana dia akan menangis. Akan kembali pada ruangan mengerikan itu lagi, tapi Amel rindu, rindu pada sosok lelaki itu, rindu padanya, rindu pada kehangatannya.
Tiba tiba tangan Axel menggenggam tangan Amel, dia tahu kalau kekasihnya tengah gugup.
"Are you Ok?" Tanya Axel.
Amel mengangguk dengan penuh ragu.
"Kalau kamu gak yakin, kita bisa batalin penerbangan ini" tukas Axel.
"Enggak Xel, aku harus ketemu sama dia, harus"
Mereka berjalan memasuki pesawat, duduk bersebelahan. Amel berulang ulang memejamkan mata, menarik nafas dan memantapkan hatinya.
Rasanya bayangan kejadian lima tahun lalu melintas.
Lima tahun yang lalu
Park Hoon terjatuh dipelukan Amel dengan darah yang mengalir, tubuh hangatnya perlahan lahan mendingin. Tatapan mata tajam itu sudah melemah dan tertutup rapat. Amel menangis, menangisi lelaki yang dia cintai, menangisi lelaki yang selalu membuatnya terluka.
"Kumohon, bangun, aku mencintaimu" Amel menggoyangkan tubuh Park Hoon.
"Kumohon Park, kau sudah berjanji akan membuatku mencintaimu, dan sekarang aku sudah mencintaimu" Amel menggoyangkan tubuh Park Hoon berharap ada keajaiban dari dewa ataupun Tuhan untuk menyelamatkan kekasihnya.
Tidak ada, lima belas menit pun tidak ada reaksi apa pun dari tubuh Park Hoon. Lelaki itu setia terdiam, setia membuat Amel meraung raung dan merasa lemas.
"Amel"Kevin memeluk Amel dari belakang, memeluk adiknya yang kehilangan dunianya berkat Kevin.
"Kak, tolong selamatkan Park Hoon, kak Kevin dokter hebat. Tolong kak, beri pertolongan pada nya"
Amel hampir bersimpuh kalau saja Syasya tidak mencegahnya dari belakang.
"Amel sadarkan dirimu" Kevin menggoncang tubuh Amel.
"Dia sudah tidak bernyawa"
Amel menggeleng, memeluk kembali tubuh Park Hoon "tidak, aku tidak akan melepaskannya, aku mencintainya"
Setelah mengatakan itu, tubuh Amel melemas karena suntikan bius dari Kevin. Perlahan lahan tatapan Amel memudar, Amel tidak mengingat kejadian setelahnya. Karena ketika dia membuka mata hanya ada ruangan putih terang yang dia lihat.
Amel terbangun, menyibak selimut dan mencabut paksa selang infus yang menjalar di tubuhnya.
"Dimana Park Hoon, dimana?" Teriak Amel.
Axel, Axel datang membuka pintu dengan seragam dokter miliknya. Dia langsung mencegah Amel keluar.
"Kau mau kemana?" Tanya Axel.
"Lepas, aku ingin bertemu Park Hoon" teriak Amel.
"Amel, sadarkan dirimu, kau tidak mencintainya, kau hanya terkena sydrome stockholm" Axel berteriak selaku dokter psikolog yang menangani Amel.
"Tidak, kau tidak tahu apa apa mengenai diriku brengsek" umpat Amel.
Amel terjatuh, menarik rambutnya dan berteriak. Kilatan ingatan beberapa hari lalu ketika Kevin mencegahnya pergi dari rumah sakit terlintas. Benarkah dia Setega itu menikam perut kakaknya? Benarkah dia melakukan itu?
Axel duduk didepan Amel sambil mengusap air mata gadis itu.
"Tolong, kau jangan bertindak diluar kendalimu. Kau sudah kehilangan banyak memori hanya karena lelaki itu" Axel menyeka air mata Amel.
"Kau harus menyelesaikan terapi ini Amel, untuk melupakan dia, untuk melupakan semuanya"
Saat itu saat paling menyakitkan untuk Amel, saat dirinya benar benar tidak mengingat apapun penggalan memori yang terjadi beberapa jam yang lalu, menjadi Amel yang berbeda dalam bersamaan waktu. Amel masih ingat bagaimana sakitnya saat itu, bagaimana rasanya berada di sana.
"Kita sudah sampai" suara Axel lamat lamat menyadarkan Amel dari lamunan. Amel tersenyum menatap lelaki gagah yang dulunya adalah dokter pribadi Amel kini menjadi kekasihnya.

"Kamu ganteng banget, gimana kalau orang Korea suka sama kamu?" ledek Amel sambil berdiri.
Axel tertawa, bahkan dia menarik Amel kepelukanya .
"Jangan takut, semua hanya masa lalu mu" kata Axel membisikan kalimat itu lirih.
Amel menguatkan pelukannya, menghirup aroma lelaki itu kuat kuat.
"Kamu benar Axel, semua hanya masa lalu ku. Park Hoon, Korea, jenie, Kang Min Hyuk, semua yang ada disini adalah masa lalu ku" Amel meneteskan air matanya.
Mereka berjalan keluar dari dalam pesawat. Mencari taksi dan pergi ke krematorium Park Hoon. Setelah menempuh tiga puluh menitan mereka akhirnya sampai, tapi lebih dulu sebelum sampai di krematorium Amel membeli bunga Lily kesukaan Park Hoon.
Dia menempelkan bunga itu di kaca tempat penyimpanan abu Park Hoon.
"Anyeong amel" suara itu seakan kembali terngiang di kepala Amel. Amel meneteskan air mata.
"Anyeong Park Hoon" Amel tersenyum sambil meneteskan air mata.
"Senang melihatmu meski salam mimpi"
Amel meneteskan air mata, dia tidak menyesal berdiri disini bersama kekasihnya, bagaimana pun yang hidup harus terus menjalani kehidupannya, dan yang mati akan menanggung perbuatannya.
"Senang juga melihatmu dalam mimpi" kata Amel lirih sambil meneteskan air mata
"Aku mencintaimu" ingatan saat Park Hoon tetap mengatakan bahwa dia mencintai Amel di saat terkahir hidupnya
"Aku juga mencintaimu"
**
Selesai mengunjungi Park Hoon, Amel sudah membuat janji dengan Eun Ji dan Mirae. Mereka akan menunggu di cafe Hongdae tempat mereka dulu sering membolos sekolah.
"Amelllll" suara Eun Ji masih sama dengan senyum tulus yang selalu dia perlihatkan.
Andai dulu tidak ada Eun Ji yang mengikuti nya saat dirinya di bawa Kang Min Hyuk, mungkin semua sudah usai sampai di sana.
"Eun Ji 'a" sapa Amel.
Amel serta Axel duduk bersebelahan sedangkan Eun Ji dan Mirae duduk didepan mereka
"Bagaimana kabarmu?" Tanya Amel.
"Aku baik baik saja, hari ini tahun terkahir ku kuliah, dan Mirae sedang menjalani koas" jawab Eun Ji dengan binar matanya.
"Deabek, kau akan menjadi dokter Mirae?" Tanya Amel penuh antusias.
"Tentu, aku bahkan sangat menyukai dunia ku sekarang"
Amel terkekeh begitu mendengar ucapan Mirae.
"Sehun, Kim Tan, Eun sang, bagaimana kabar mereka?"
"Sehun sedang wamil" kata Eun Ji "Kim Tan, dia sedang belajar mati matian supaya menjadi pegawai negri"
"Eun sang, dia ke Amerika" timpal Mirae.
"Kau bagaimana kabarmu?, apa kau sudah membaik?" Tanya Mirae.
Amel mengang guk sambil menoleh kearah Axel "aku sudah membaik berkat Axel" kata Amel dengan bangga.
"Sewaktu aku mendengar kau kritis karena bunuh diri dua tahun lalu, aku hampir mati amel" ucap Eun Ji "aku benar benar menangis di kelas" tambahnya.
Amel tertawa, punggung tangannya di usap lembut oleh Mirae.
"Aku tidak menyangka mengenai mereka Amel "
Wajah Mirae benar benar menunjukan kesedihan
"Tidak apa apa, aku seharusnya meminta maaf pada kalian karena tidak jujur tentang hubunganku dengan Park Hoon dulu"
"Sudahlah kita tidak usah membahasnya" kata Eun Ji mengalihkan pembicaraan.
"Kau tahu Lee Chan dan Zhan sekarang sudah pindah agensi. Dia juga debut solo dan itu sukses sekali" kata Mirae
Amel tertawa karena itu. Semua sudah berkahir sampai disini, tentang dirinya maupun Park Hoon.
Park Hoon memang sudah tidak ada tetapi cinta nya akan tetap ada untuk Amel.
Eve dan Sunsi tetap beroperasi seperti sebelimnya, tanpa Park Hoon bisnis itu akan tetap jaya.
"Park Hoon aku akan mencintaimu, tidak perduli ini sydrome atau bukan" lirih Amel pelan.
Semua berakhir dengan kebahagiaan masing masing, dengan kebahagiaan yang selalu abadi kepada mereka. Kepada Park Hoon yang sudah menemukan cintanya, kepada Kang Chul yang sudah bahagia berkat balas dendamnya, kepada Amel yang sudah menemukan orang tepat untuk hidupnya.
TAMAT
mafia bener bener tamat ya.
jangan lupa baca cerita ku yang lainnya, terutama cerita ANKOT JAKARTA
terimakasih sudah setia membaca mafia.
kritik dan saran ditunggu di kolom komentar ya
💕💕💕💕