My Idol Is A Mafia

My Idol Is A Mafia
MAFIA Dia wanitaku



Amel berjalan mengekori Park Hoon ketika laki laki itu mengambil langkah tergesa gesa ke dalam Club. Dia melupakan Amel, karena gadis itu tertinggal jauh di belakang Park Hoon, dia sempat di goda beberapa laki laki, itu wajar untuk orang yang berada di club pasalnya disini memang tempat dimana orang orang memuaskan keinginannya.


Amel kesusahan menyusul langkah Park Hoon meski begitu entahlah kenapa dia begitu setia memilih berjalan di belakang laki laki yang bisa kapan saja membunuhnya?


Park Hoon sudah lebih dulu masuk ketika Amel ikut masuk kedalam ruangannya, mulutnya menganga langsung ditutup dengan kedua tangannya


"Haa" Amel berdecak kaget, saat suara nya terbuka seluruh pasang mata menatapnya tentu dengan Park Hoon yang juga menatapnya.


"Syasya tolong bawa Amel pergi" perintah Park Hoon kepada Syasya, saat wanita itu berjalan untuk mengajak Amel pergi, gadis itu justru berjalan mendekati Park Hoon.


"Bukankah dia Jenie?" Tanya Amel setengah berbisik padanya. Park Hoon merendahkan tingginya sehingga dia bisa berbisik sebuah kalimat ditelinga Amel.


"Kau kenal dia?"


"Tentu saja, dia satu sekolah dengan ku. Hanya saja dia lebih tua dibandingkanku"


Mendengar ucapan Amel laki laki itu tersenyum licik. Dia menatap gadis yang tergeletak dengan wajah babak belur di bawah lantai sekilas lalu tatapannya kembali menatap Amel.


"Pergilah bersama Syasya nanti aku segera menyusul" ucapnya yang dibalas dengan anggukan. Amel berjalan keluar ruangan tapi dia tetap menoleh menatap gadis yang tengah terkelulai lemas diatas lantai.


**


Park Hoon tersenyum menatap wajah wanita yang terbujur lemas dibawah kakinya. Laki laki itu berjongkok, tangannya mengelus lembut rambut rambut wanita itu.


"Angela bukankah aku sudah pernah bilang, jangan sekali kali kau membuat masalah" katanya dingin hampir menusuk tulang tulang siapapun yang mendengarnya. Belaian itu berubah menjadi sebuah jambakan di rambut Jenie Angela. Ya, gadis itu adalah mantan kekasih Min Hyuk.


Dia menatap wajah Park Hoon dengan meringis, demi Tuhan dan seluruh planet EXO, sampai ketitik ubun ubun Angela, dia mengutuk hadirnya laki laki ini. Mungkin ada kesalahan Tuhan dalam menghadirkan laki laki ini.


"Kenapa? Kau takut pada pihak kepolisian" ucap Angela dengan suara bergetar.


"Ha ha ha" tawa Park Hoon menggema diseluruh penjuru ruangan.


"Kau bodoh ternyata. Kukira siswa sepertimu itu pintar"


Park Hoon berdiri sembari berkacak pinggang.


"Kejaksaan dan kepolisian adalah mata mataku. Jadi tidak mudah jika kau akan menghancurkan bisnis ku begitu saja" sambungnya.


Park Hoon berjalan untuk mengambil ponsel yang sempat ia letakkan diatas meja. Tangannya sibuk mendial nomor seseorangan.


"Alex, laksanakan perintahku"


Ujarnya dingin sambil menatap Angela, yang ditatap justru terlihat congkak meski dengan wajah yang sudah babak belur.


"Angela, aku baru saja dapat kabar baik" katanya pelan.


"Sepertinya mulai sekarang kau tidak perlu merawat ibumu yang lumpuh. Perempuan itu sudah di bunuh oleh Alex"


Mendengar ucapan Park Hoon Anggela memekik. Air matanya sudah lolos, tenggorokannya tercekat, saat itu terjadi tangan Park Hoon sudah lebih dulu mencekik leher Angele kuat kuat


"Seharusnya kau tahu konsekuensinya sejak awal jika melawanku" dia menyunggingkan sebelah senyumnya, pada saat itu terjadi Angela lebih dulu meludah tepat pada wajah Park Hoon


"Aisshh brengsek. Jalang gila"


Park Hoon menendang tubuh Angela hingga perempuan itu tertendang lumayan jauh. Angela sudah sangat lemas untuk melawan Park Hoon.


Laki laki itu mendekat lalu menekan kuat kuat kepala Angela dengan sepatunya.


"Aku bisa saja membunuhmu sekarang, tapi wanita muda sepertimu masih diperlukan dibar ini"


Park Hoon melepaskan pijakan kakinya diatas kepala Angela, saat dia hendak pergi dia membalikan badannya.


"Aa seperti aku berniat menjualmu" ucapnya dengan senyum tercatak dibibir.


**


Amel dan Syasya berjalan jalan menuju roftop club. Pasalnya dimana mana banyak laki laki hidung belang. Amel mendegus menatap lurus lurus lampu lampu kota seoul yang terpijar menggantikan bintang dilangit.


"Apa Jenie akan baik baik saja?"tanya Amel pada Syasya. Wanita itu tersenyum sesekali meneguk sekaleng bir ditangannya.


"Maksudmu?" Amel membalikan badanya untuk menghadap Syasya.



"Kau tahu, siapapun orang yang berada di ruangannya bisa dipastikan orang itu tidak akan selamat"


Ucapan Syasya kembali mengingatkan pada kejadian dimana Park Hoon membunuh karyawan club hanya karena dia mengganggu saat saat mereka berdua akan berciuman. Amel bergidik ngeri, ternyata lelaki itu sudah banyak menyakiti orang lain dengan tangannya. Amel menuduk semakin takut pada lelaki itu, dia takut kalau dirinya dan kakaknya akan bernasib sama seperti orang orang yang sudah dibunuh Park Hoon.


Ponsel Syasya begetar, wanita itu langsung mengangkat.


"Ya" jawabnya singkat


"Baiklah"


Setelah panggilan selesai, Syasya menatap wajah Amel yang pucat, mungkin karena dia merasa takut


"Tenanglah, aku rasa Park Hoon tidak akan menyakitimu" ucapnya mengelus pundak Amel


"Maksud Eonni?"


"Mari turun. Dia menyuruh kita kebawah"


Mereka akhirnya berjalan menuju lift. Saat sudah berada dilantai dasar tatapan Amel melihat Jenie yang di bawa paksa oleh anak buah Park Hoon. Perempuan itu sempat mematung.


"Syasya bisakah kau menjaga Angel, aku harus menggantikan Alex untuk mengirimkan pesanan klien"


Seorang laki laki berjas rapi mendekati Syasya, wanita itu mengangguk. Yang dimaksud pesanan klien adalah narkotika.


"Amel, bisakah kau langsung berjalan menuju ruangan Park Hoon, aku harus pergi" katanya. Amel mengangguk setelah merasa puas dengan jawaban Amel wanita itu tersenyum sebelum meninggalkannya.


Amel ragu sempat ingin kabur diposisi sekarang ini tapi dia takut, takut kalau kakaknya akan semakin diperlakukan lebih menyakitkan dibanding dirinya.


Saat Amel hendak pergi tangannya dicekal oleh seorang ajussi. Ajussi ini sudah tua dengan balutan jas rapi, senyum iblisnya tidak lepas dia sunggingkan, mulutnya bau alkohol dengan rokok yang sudah terselip diantara bibir.


"Nona mau kemana, ayo ikut aku dan puaskan aku sekarang"


Amel mengernyitkan dahinya, dia memaksa ajussi itu untuk melepaskan cengkramannya sayangnya ajussi itu justru menarik Amel lebih erat.


"Ajussi tolong lepaskan aku. Aku bukan pelacur" kata Amel mencoba melepaskan cengkramannya


"Kau bicara apa? Tentu saja kau pelacur. Semua wanita disini adalah pelacur"


"Ajussi tolong, aku bukan pelacur" suara Amel agak melengking, ajussi itu sudah mulai geram. Bahkan dia sempat melayangkan tamparan ke pipi Amel. Gadis itu tersentak, mungkin ini bukan tamparan pertama kalinya setelah dia menjadi tawanan Park Hoon tapi yang menyakitkan adalah kenapa harus ajussi tidak tahu malu ini.


Amel masih memegangi pipinya sembari menangis. Dia merasa sebuah tarikan ditangannya membuat tubuhnya limbung, gadis itu terjatuh dipelukan seseorang.


"Wanita ini milikku" ucap laki laki itu dingin.


"Aku akan membayarnya berapapun" kata ajussi itu terdengar meremehkan Amel.


"Aaa kau akan membayar berapapun. Bagaimana jika dengan nyawa kedua anakmu" ucapan laki laki itu membuat ajussi itu terdiam cukup lama.


Amel merasa tubuhnya didorong dengan lembut untuk menjauh dari pelukan laki laki yang berkata dingin. Saat dia menatap kearah depan, Park Hoon sudah menarik kerah ajussi mesum.


"Ya, ku peringatkan padamu sekali lagi. Dia adalah wanitaku, sekali kau menyentuhnya. Aku tidak segan segan menghabisi anak istrimu"


Ajussi itu sudah gemetar habis.


"Tolong jangan" katanya memohon.


Bugh


Park Hoon melayangkan tinju kearah ajussi mesum. Tubuh ajussi itu terjatuh kelantai mengundang kegaduhan disekitar lorong kamar. Untungnya tak banyak orang sehingga keributan ini tidak akan mengundang banyak perhatian.


"Itu untuk membalas tamparanmu pada wanitaku" ujar Park Hoon langsung membawa Amel untuk keruangannya.