My Idol Is A Mafia

My Idol Is A Mafia
MAFIA Ulang tahun Amel



Amel duduk disebelah Park Hoon sembari menyantap sundae (sundae adalah sosis darah korea terbuat dari usus sapi atau babi yang diisi beragam campuran bahan, umunya berisi mie dan darah babi) . Tanpa menghiraukan Park Hoon yang masih menatap lembaran kertas diatas meja, Amel sudah menghabiskan sundae miliknya.


Gadis itu menguap karena sekarang sudah pukul 11.00 KST. Sedangkan laki laki itu tetap menatap kertas dimejanya. Amel merentangkan tangan lalu menyenderkan tubuhnya pada kursi.


"Kau mengantuk?" Tanya Park Hoon yang dijawab dengan anggukan dari Amel. Park Hoon melangkah untuk mendekat lalu memberikan jaket miliknya kepada Amel, mereka berjalan meninggalkan ruangan untuk menuju mobil. Tidak ada percakapan yang cukup berarti diantara mereka, karena Amel justru tertidur di bahu Park Hoon.


Ketika sudah berada di lobi apartemen, Park Hoon langsung menggendong Amel menuju apartemen. Dia membaringkan Amel diatas ranjang, setelah itu dia menyuruh anak buahnya untuk menjaga Amel.


Park Hoon membuka ponselnya, untuk mengetik salah satu grup investor club. Disana sudah banyak yang bergabung dari pejabat, pengusaha, artis.


Minggu depan club mereka akan kedatangan investor dari luar jadi Park Hoon harus menyiapkan satu perempuan yang bisa memuaskan mereka. Park Hoon mencari nomor Manager Ji Wok lalu mengetikkan satu pesan padanya.


Park Hoon


Minggu depan akan ada investor yang ke Korea, aku ingin menyiapinya gadis. menurutmu siapa yang bagus untuk aku berikan pada mereka?


Manager


Siapa kandidatnya?


Park Hoon



Rose dia member girl band Blue, tubuhnya bagus dan berisi, dia cantik dan menggemaskan tapi suka marah kalau sudah mabuk


Soya, kau tahukan dia seperti apa, dia agak sulit tapi sangat menawan dan mampu membuat semua laki laki ketagihan padanya


Angel, aku tidak yakin pada anak ini, dia jago di ranjang, ceria, juga bisa diajak becanda. Aku senang memanfaatkan dia. Tapi akhir akhir ini dia menyebalkan mungkin karena mantan kekasihnya, ditambah lagi dia saat ini sedang hamil. Aku tidak yakin soal berita ini tapi itu kata dia, aku belum membuktikannya



Manager


Bagaimana jika Soya dan Angel. Aku suka dua gadis itu, yang pertama jangan karena dia bisa membahayakan bisnis kita jika dia sudah mabuk. Suruh Angel menggugurkan kehamilannya, kita bisa kehilangan pelanggan setia


Park Hoon


Aku setuju padamu


Laki laki itu berjalan menuju kedalam club dimana semua orang tengah berjoget dengan ria. Park Hoon mengambil alih dj dilantai atas, karena semua pengunjung tahu bahwa yang bermain dj adalah Park Hoon artis yang tengah naik daun membuat semua orang bertepuk tengan.


Semua orang bermain dan berjoget dengan bahagia seolah dunia benar benar indah malam ini. Permainan Park Hoon berhenti ketika dia menatap gadis dengan balutan dress bewarna biru muda diatas lutut, bibirnya sexsy dengan payudara yang berisi. Laki laki itu tersenyum tipis dan membawa wine ditangannya.


"Hai nona" sapa Park Hoon yang langsung dibalas senyuman dari gadis itu.


"Siapa namamu?" Kata Park Hoon, gadis itu berbisik sembari mengucpkan kata "Sunny"


"Oh namamu sungguh bagus, mau bermain denganku?" Ajak Park Hoon, gadis itu langsung melingkarkan tangannya dilengan Park Hoon dan membawa gadis itu menuju kamar VVIP.


**


Amel menggeliat diatas pelukan Park Hoon, jam 4 pagi tadi laki laki itu langsung kembali ke apartemen saat teringat dengan Amel, dia tidak ingin saat Amel membuka mata yang pertama kali dilihatnya bukan Park Hoon. Amel membuka matanya , tatapan pertama kali yang dilihatnya adalah wajah Park Hoon, laki laki itu tetap tampan meski dengan rambut acak acakan seperti ini. Bibirnya tertap manis meski terkantup dalam mimpinya. Aroma nya tetap wangi meski dia sudah berkeringat seharian. Amel mengeratkan pelukannya, sebantar saja gadis itu ingin merasa nyaman dan lupa kalau laki laki ini adalah orang jahat yang membuat dirinya menderita.


Merasa sesuatu mengerat disekitar pinggangnya, Park Hoon membuka matanya, menatap Amel yang mengendus dadanya. Park Hoon mengelus rambut Amel, dia mendekatkan bibirnya didekat telinga Amel.


"Happy birthday Amel"


Mendengar kalimat itu Amel membuka matanya dan menjauhkan tubuhnya.


"Really, apa hari ini ulang tahunku?" Tanya Amel memastikan karena dia lupa ulang tahunnya.


"Kau lupa ya" Park Hoon mengeratkan pelukan mereka.


"Mau jalan jalan, aku sudah ijin dengan manager untuk tidak syuting, jadi mari menghabisan waktu untuk hari ini bersama" kata Park Hoon.


Amel tersenyum lembut, melihat itu hati Amel terasa mencair. Dia sedikit membuka diri kepada Park Hoon, sebenarnya sejak pertama karena gadis itu sudah jatuh hati sebelum mereka bertemu. Kalau kalian lupa Amel adalah fans Park Hoon, jadi mudah saja untuk gadis itu melupakan semua kejahatan Park Hoon dan hanya menganggap lelaki itu adalah lelaki baik baik yang siap kapan saja memijat kakinya ketika dia kelelahan.


**


Sore pukul 4 KST mereka memilih pergi ke lotte world, sebenarnya Amel sedikit sedih setelah mendapat pesan dari Kevin atas ucapan selamat ulang tahun untuknya. Dia sedih karena tidak bisa merayakan ulang tahun bersama sama, bahkan Park Hoon masih belum mengijinkan Amel untuk menemuinya.


Di lotte world, ada banyak wahana permainan, semuanya hampir membuat Amel ingin merengek meminta untuk naik. Baru tiga langkah, mereka menoleh kekanan dan kiri tentu tidak lupa dengan topi dan masker mereka.


Saat Amel menunjuk biang lala, seorang perempuan berbisik kepada temannya sambil menatap mereka


"Bukankah itu Park Hoon?" Tanya salah satu perempuan itu pada temannya.


" benar itu dia" kata temannya menjawab


"Park Hoon"


Mendengar teriakan dari pempuan yang berbisik kepada temannya itu membuat fokus terpusat pada mereka berdua. Semua perempuan sudah memasang kuda kuda untuk mendekati Park Hoon ,laki laki itu panik tanpa memperdulikan Amel dia sudah lebih dulu mengambil langkah seribu untuk berlari menuju mobilnya.


Sial banyak gadis yang mengejar hampir seperti Park Hoon terlihat seperti pencopet, tapi dia tidak perduli. Akhirnya dia memilih bersembunyi di dalam mobil dan membawa mobilnya pergi. Tidak ada yang tahu saat itu, tapi Park Hoon meninghalkan Amel di lotte world. Park Hoon meraih ponsel disakunya.


"Kau tidak apa apa?" Tanya Park Hoon pada Amel.


"Berhenti memperdulikanku, kau dimana sekarang?" Tanya Amel masih dengan napas tersengal sengal


"Ada di cafe woderfull, kesinilah, aku ada didalam mobil"


Setelah itu Park Hoon menutup panggilannya dan menunggu kedatangan Amel, ada dua puluhan menit sampai Amel mengetuk kaca mobil. Park Hoon dan Amel tengah berada didalam mobil untuk mentrealisirkan nafasnya.


"Apa mereka sudah gila, mereka mengejar mu hanya untuk meminta foto" sunggut Amel


"Itu belum seberapa, aku pernah ingin diperkosa oleh fans ku"


Amel melotot, tidak percaya. Karena berita semacam itu tidak pernah Amel dengar.


"Kau becanda kan?"


"Untuk apa aku mencandakan hal semacam itu" ujar Park Hoon "sekarang kita pulang saja sepertinya ide jalan jalan diluar sangat buruk"


Amel setuju dengan idenya, tapi saat mobil melaju hati Amel kembali merasa terluka. Matanya berkaca kaca, sungguh dia rindu keluarganya yang di Indonesia juga Kevin.


Melihat Amel terisak dengan tiba tiba, Park Hoon menghentikan mobil di bibir jalan.


"Ada apa? Apa kau ingin ke lotte world lagi?" Tanya Park Hoon panik


Amel menggeleng, untuk apa pergi kesana kalau ujung ujungnya mereka akan dijadikan buruan fans Park Hoon.


"Bicaralah, ada apa?"


Park Hoon menyeka air mata Amel, dia merasa panik melihat gadis itu menangis secara tiba tiba seperti ini.


"Apa ada yang sakit?" Tanya Park Hoon sekali lagi.


"Aku ingin bertemu kakak" ucap Amel lirih. Park Hoon melepaskan tangannya dari pipi Amel, dia mentap jalanan, lalu membawa mobil menuju apartemen Kevin.


Ketika berada di lobi, Amel langsung keluar sembari berlari menuju apartemennya. Diketuknya pintu apartemen tapi laki laki itu tidak ada disana. Ponselnya ditelfon pun tidak bisa.


"Kenapa tidak masuk?" Tanya Park Hoon yang baru sampai di belakang Amel


"Dia tidak ada" ucap Amel.


"Yasudah kita tunggu dulu, bukankah kau ingat pin apartemennya"


Sebenarnya Park Hoon sudah tau, tapi dia tidak ingin melakukan kejahatan untuk hari ini didepan Amel apalagi ini adalah ulang tahun nya. Amel berdiri lalu menekan digit nomor apartemen. Mereka masuk kedalam ruang tamu, suasananya masih sama seperti terakhir kali Amel tinggal. Gadis itu duduk di sofa sembari menangis, air mata sudah jatuh, tidak ada rasa sakit seluar biasa hari ini.


Ulang tahun nya tidak istimewa setelah seharian penuh dia terjebak dengan Park Hoon dan kali ini saat laki laki itu mengijinkan Amel menemui Kevin justru Kevinlah yang tidak ada.


Sudah 3 jam keduanya duduk menunggu kedatangan Kevin tapi laki laki itu tidak kunjung sampai.


"Mari pulang, kau harus belajar, besok akan ada ujian" kata Park Hoon.


Amel bingung pulang sebenarnya pada siapa pada kevin atau Park Hoon. Tapi dia memilih bangkit dari pada mencari masalah dengan laki laki itu.


Selama perjalan Amel lebih banyak diam, dia merasa sedih karena tidak bisa bertemu dengan Kevin, padahal dia merindukan Kevin, sangat rindu.


Amel berjalan dengan lemas menuju apartemen, ketika pintu dibuka tidak ada hal istimewa sama sekali, gadis itu terus berjalan menuju kamar, saat saklar dihidupkan. Mata nya terkejut melihat lemandangan dihadpaannya.



Amel mebelalakan matanya tidak percaya, ternyata Park Hoon sudah menyiapkan segala suprise macam ini, ada banyak balon yang menggantung dilangit langit kamar, sebuah kotak dengan balon bertuliskan Happy Borthday, belum lagi bunga bunga yang bertebaran dilantai. Park Hoon datang dengan kue ditanganya.


Dia menyanyikan lagu selamat ulang tahun, dan meminta Amel untuk meminta harapan lalu dia meniup lilin itu.


Park Hoon memeluk Amel dengan penuh cinta, cinta yang baru dirasakan saat mereka bersama. Terlalu cepat memang tapi inilah cinta tidak bisa ditebak kapan datangnya.


"Kau ini seperti anak kecil pakai acara suprise segala" kata Amel memukul pelan dada Park Hoon.


Laki laki itu meletakkan kue ulang tahun diatas kasur lalu mengambil bingkisan diatas kasur.


Sebuah kalung permata yang sangat indah, Park Hoon memberikan itu pada Amel. Lelaki itu membantu Amel untuk mengenakan kalungnya.


"Sebenarnya aku tidak menyiapkanya, aku membayar orang untuk membuat ini" kata Park Hoon kepada Amel "selamat ulang tahun Amel, aku tidak bisa romantis, kau selalu ingin kejutan dari kekasihmu kan, makanya aku membuat ini"


"Kau tahu dari mana aku menginginkannya?"


"Kau lupa, aku kan menyadap ponsel mu, makanya aku tahu semuanya"


Ah Amel hampir lupa, kalau dia itu adalah tawanan, bukan orang istimewa yang di agung agungkan Park Hoon.


"Kau milikku Mel, aku hanya mengingatkan. Jangan macam macam, kalau kau macam macam bersiap siaplah untuk mati"


Ya Amel lupa kalau dia sedang bersama seorang pembunuh, baru saja dia merasa bahagia sehari ini, tapi Park Hoon sudah kembali mengancamnya dengan kata kata sejahat itu.