My Idol Is A Mafia

My Idol Is A Mafia
MAFIA Jangan hianati aku



Setelah diantarkan di halte bus, Min Hyuk memacu motornya kembali, sebenarnya dari tadi lelaki itu enggan untuk meninggalkan Amel di halte bus tapi gadis itu selalu mengatakan kalau takut dimarah kakaknya.



Amel berjalan santai menuju apartemen Park Hoon, langkahnya sedikit malas, pasti dia akan disiksa lagi dengan lekaki itu. Amel menekan digit pintu ketika pintu terbuka matanya langsung bertemu dengan tatapan Park Hoon yang dingin



"Kenapa lama?" tanya Park Hoon dengan intonasi dingin. Gadis itu sempat memaku, merasa takut jika berhadapan dengan Park Hoon tapi dia juga tidak ingin kalau Park Hoon menganggapnya lemah.





Park Hoon masih menatap kearah Amel lekat, seolah dia enggan menghilangkann gadis itu dari pandangannya.



Lelaki itu jengah, memilih bangkit dan berjalan keluar, langkahnya sempat berhenti ketika bersebelahan dengan Amel.



"Jangan kemana mana, kau jaga rumah. Aku ada latihan bersama ASP" tukasnya langsung berjalan keluar rumah.



"Apa? Jadi aku disuruh pulang hanya untuk menjaga rumah. Dasar laki laki gila"


Amel menghentakkan kakinya sebal dia berjalan menuju dapur, ternyata disana sudah tersaji japcae. Tanpa fikir panjang dia langsung menyantap makanan itu hingga ludes. Setelahnya Amel menepuk perutnya kemudian terdengar bunyi sendawa.



"Aah kenyang"



Dia berjalan menuju kamar, membasuh dirinya dikamar mandi. Setelah selesai mandi gadis itu berbaring diatas ranjang. Sesaat kemudian dia merasa sunyi, sepi dan sesak. Tapi kenapa? Padahal selama ini dia selalu sendirian, tanpa Park Hoon atau pun yang lainnya. Bahkan Kevin selalu meninggalkan dirinya sendirian, papa dan mama juga.



Karena enggan merasa sepi, dia memutuskan untuk menghubungi Eun Ji



"Hei, Eun Ji sedang apa?" tanya Amel sembari memainkan kakinya



"Aku sedang les, sudah dulu ya"


Amel berdecak, sial, dia lupa kalau semua temannya itu selalu les, hanya dirinya yang tidak memiliki jadwal les. Amel menekan nomor kakaknya ketika bunyi tersambung terdengar, jantung Amel berpacu cepat. Padahal hanya menelfon kakaknya tapi kenapa dia merasa gugup, apa karena dia takut Park Hoon marah?



"Halo Amel, apakah ini benar Amel?" suara Kevin membuat beningan putih lolos dari matanya. Gadis itu menangis, rasanya dia benar benar rindu kakaknya.



"Ada apa? Kenapa kau bersedih? Apa Park Hoon menyiksamu"


Amel menggeleng, jelas itu tidak bisa dilihat Kevin dari jauh.



"Tidak" suara Amel serak, secepat kilat dia menyeka air matanya



"Aku rindu kakak" tambahnya lagi



"Kakak juga, kau apa kabar?"



"Baik, dia kadang memperlakukanku sangat baik, tapi kadang juga tidak"


Air mata yang sudah berkumpul dipelupuk matanya kembali lolos. Bahunya naik turun seolah menyuarakan beban yang selama ini dia pikul



"Maafkan kakak" suara Kevin terdengar melemah, ada nada kekecewaan dan rasa bersalah yang sudah bercampur jadi satu



"Ini bukan salah kakak. Ini salah Amel, kalau Amel gak minta kakak buat izin ke papa, mungkin Amel dan kakak akan baik baik saja"



"Amel, kakak harap kau selalu bisa menahan ini semua, maafkan kakak belum bisa membebaskanmu dari Park Hoon"


Amel menyeka air matanya, ucapan Kevin membuatnya bersemangat kembali.



"Kakak sedang apa?" tanya Amel dengan nada suara cerah. Tidak seperti tadi.



"Habis operasi pasien, kau sedang apa?"



"Aku dirumah sendirian, Park Hoon sedang latihan"



"Tidak ada penjaga?"



"Hahah tidak mungkin lah kak, lelaki itu selalu memiliki anjing pengikut, jadi kemanapun Amel dia pasti tahu"




Malam itu Amel habiskan dengan bercerita kepada Kevin ,tentang bagaimana sekolahnya, perlakuan Park Hoon dan tentang Min Hyuk.


Tapi Amel menutupi soal Park Hoon yang selalu memperlakukannya sebagai pelacur.



**



Manager Ji Wok, menatap anak didiknya satu persatu. Setelah coreo sudah memuaskan, serta album comeback selesai digarap. Kini mereka akan segera membuat MV.



Semua nya tengah istirahat pada posisi masing masing, Kang Chul yang tengah meneguk air mineral, Lee Chan dan Zhan yang memilih mencari udara diluar sedangkan Park Hoon lelaki itu tidak pernah melepaskan earphone dari telinganya bahkan dia memilih duduk di ujung dengan earphone menggantung di telinga. Manager Ji Wok berjalan mendekati Park Hoon ,menepuk bahu nya hingga membuat siempunya menoleh.



"Apa?" tanya Park Hoon melepaskan Earphone nya



"Kita sudahi saja main main disekolahan" kata manager Ji Wok.



"Kenapa?"



"Lagi pula kau sudah mendapatkan apa yang kau mau"



"Tapi aku belum selesai bersenang senang" Park Hoon hendak bangkit tapi langkahnya terhenti ketika mendengar ucapan manager Ji Wok



"Amel, gadis itu berasal dari Indonesia. Dia anak dari pengusaha Orchida, kalau Orchida tahu saham Eve akan terancam. Lagipula semakin lama kau di sekolahan akan memicu kecurigaan publik"



"Akan aku pikirkan" ucapnya berlalu meninggalkan ruangan ASP.



Ponsel miliknya bergetar menampilkan nama Alex sebagai si pemanggil.



"Apa?" ucapnya



"Rencana sudah dijalankan tuan, apakah anda akan kesini atau saya yang langsung membunuhnya?" tanya Alex



"Tunggu dulu, aku ingin bersenang senang"


Setelah itu Park Hoon langsung mematikan panggilannya, dia berjalan menuju mobil.



Setelah mobilnya membelah jalanan Seoul, lelaki itu berhenti di apartemennya lalu berpindah mobil untuk memasuki mobil Alex. Mereka langsung keluar dari area parkir.



Setelah 30 menit mereka sampai disebuah gudang ditengah tengah hutan, tidak ada yang tahu gedung ini. Karena jalanannya banyak oleh belokan belokan yang terlihat sama. Jika kau pertama kali kesini aku yakin kau akan segera tersesat.



Park Hoon keluar dari mobil Alex berjalan dengan penuh wibawa namun juga menakutkan. Malam ini pukul 3.45 lelaki itu akan segera menghabisi nyawa seseorang.



Ketika pintu dibuka sederetan lelaki berjas hitam menunduk hormat, sedangkan lelaki yang diikat telanjang di sebuah kursi terlihat gemetar ketakutan. Darah sudah membanjiri tubuhnya, matanya bengkak, sudut bibirnya biru.



Berbeda dengan lelaki yang diikat di sebuah kursi. Park Hoon menyeringai licik sembari berjalan disebuah besi yang dipanaskan. Park Hoon mengambil sebuah kain lalu mengangkat besi panjang itu. Dia berjalan dengan seringai licik.



"Halo apa kabar tuan Luchas ?"


Ya lelaki itu adalah Luchas, lelaki yang pernah membeli virgin nya Soya. Tetapi dia menghianati kepercayan Park Hoon.



"Apakah Soya tidak cukup untukmu?" Park Hoon mendekatkan ujung besi yang panas kearah lengan Luchas sehingga lelaki itu hanya bisa menggeram kesakitan karena mulutnya dibekap dengan kain



"Kau mencuri sebagaian uangku, kau mencuri wanitaku. Dasar lelaki iblis"


Park Hoon memanaskan kembali besinya lalu menempelkan besi itu kearah kemaluan Luchas, lelaki itu sempat berontak tapi berhasil dicegah oleh anak buah Park Hoon.



"Ha ha ha Jangan coba coba menghianati ku, atau kau akan tahu akibatnya " suara tawa itu menggema menyuarakan kepuasan Park Hoon. Sedangkan Luchas, dia sudah tidak sadarkan diri atau dia sudah meninggal dengan kemaluannya yang dipanggang habis oleh besi paling panas.


Dan berita baiknya besi itu sudah bewarna merah jadi bisa dibangyangkan bagaimana luka yang dihasilkan besi itu jika menyentuh area kulit.