My Idol Is A Mafia

My Idol Is A Mafia
MAFIA Sikap manis Park Hoon



Selepas dari sekolah, Amel berjalan santai menuju kedalam apartemen Park Hoon, gadis itu mengira dirinya akan bermalam sendirian tapi dugaannya salah


Didalam sana Park Hoon duduk diatas sofa sembari mengangkat kakinya diatas meja, tatapannya dingin, wajahnya datar. Tapi itu sukses membuat Amel terdiam membeku didepan pintu.



"Dari mana saja kau?" pertanyaan itu penuh penekanan dengan suara serak basah yang terdengar berat. Amel semakin bergetar, dia tidak mampu untuk meninggalkan ruangan ini ataupun sekedar menggerakan tubuhnya.


Park Hoon berdiri lalu melangkah mendekati Amel, gadis itu mundur satu langkah sayangnya tubuhnya terpentok pada pintu.


Park Hoon menggenggam bahu Amel membuat gadis itu hanya bisa menundduk.


"Amelll" saura Park Hoon melembut cukup berhasil membuat Amel mendongak, kedua mata mereka bertamu.


"Kau sudah makan?" Tanyanya. Amel menggeleng, dia merasa aneh dengan perubahan sikap Park Hoon. Sedangkan lelaki itu **** senyum.


Park Hoon menarik Amel kedalam pelukannya, tangan kekarnya mengusap punggung Amel dengan lembut.


"Kau tahu, aku buru buru pulang dari Busan karena merindukanmu"


Amel masih diam tidak bereaksi apapun dipelukan Park Hoon.


"Kau milikku Amel, kau tidak boleh pergi"


Milik ku ?, park Hoon baru saja berkata bahwa Amel adalah Miliknya. Dia sudah mengganti kalimat "kamu pelacurku" menjadi "milikku". Apa lelaki ini baru saja terbentur dibagian  kepalanya? , atau dia sedang depresi dan gila. Amel menggelengkan kepalanya cukup membuat Park Hoon mendorong tubuh Amel lembut.


"Ada apa?" Tanyanya heran


"Ti-tidak tidak apa apa"


Park Hoon **** senyum, lalu mengacak puncak rambut Amel.


"Kau tahu aku menunggumu sudah lebih dari dua jam" katanya sembari melangkah kearah pantry. Mata Amel melirik dibawah sofa. Banyak sekali kaleng bir.


"Aaa dia sedang mabuk" gumam Amek pelan.


Amel berjalan mendekati Park Hoon yang berada di pantry.


"Kau mabuk ya?" Tanya Amel kepada Park Hoon yang tengah menyendok nasi dari rice cooker kedalam mangkuk. Park Hoon menggeleng lalu melanjutkan aktifitasnya.


"Tidak, kau sendiri kenapa pulang telat? . Apa Min Hyuk baru saja menyatakan cintanya lagi? "


Amel melipat dahinya, apa tadi Min Hyuk menyatakan cinta padanya? Tapi tahu dari mana Park Hoon tentang itu.


"Kau tahu dari mana? "


"Kau tadikan lupa mematikan telfonmu" katanya berjalan kearah meja makan.


Amel meletakkan tasnya di kursi lalu mengambil semangkuk nasi dan menyantapnya.


Park Hoon menyangga kepalanya dengan tangan, dia merasa kagum dengan sifat Amel. Entah kenapa saat di mobil menuju Seoul dia berfikir mulai saat ini dia akan mendapatkan hati Amel sebelum orang lain.


Dia tahu Amel bukan tipe gadis yang bisa dia kasari tapi gadis ini adalah gadis yang lahir dari kasih sayang. Meskipun Park Hoon tidak menjamin untuk itu, tapi dia berharap dia bisa mendapatkan hatinya.


Amel mendongak karena merasa diawasi, saat dia menatap kearah Park Hoon lelaki itu sedang menatapnya. Bahkan yang lebih aneh lelaki itu tersenyum.


"Apa yang kau lakukan? Kau tidak makan?" Tanya Amel


"Melihatmu makan saja aku sudah kenyang"


Amel mengangguk, lalu melanjutkan makannya dengan memilih tidak menghiraukan Park Hoon. Lelaki itu kan memang sudah tidak waras sejak pertama kali mereka bertemu.


"Mulai sekarang, kau tidur denganku"


Ucapan Park Hoon berhasil membuat Amel tersedak. Gadis itu memukul mukul dadanya, tangan Park Hoon dengan cekatan menyodorkan air minum. Tentu saja air itu langsung di minum hingga tandas oleh Amel.


"Apa katamu? Tidur satu kamar" Amel langsung menggeleng


"Kau sudah gila, aku tidak mau tidur denganmu"


Park Hoon mendobrak meja membuat Amel terjingkat kaget. Lihatlah baru beberapa menit lalu lelaki ini memperlakukan Amel dengan kasih sayang tapi detik selanjutnya sikapnya berubah.


"Kau turuti permintaanku atau kau akan mati"


Meski hanya kata yang keluar dari bibir Park Hoon tapi percayalah itu seperti sedang berada di ujung tebing. Salah melangkah sedikit saja nyawa taruhannya. Amel menelan salivanya, matanya tidak lepas dari sorot mata Park Hoon.


"Pokoknya aku tidak mau"


Amel bersih keras, dia bangkit hendak menuju kamar tapi sebuah benda tepat mengenai tekuknya. Amel menoleh ternyata sebuah mangkuk stanlist yang menghantamnya beserta nasi yang ikut tumpah.


Lelaki itu bersikedekap dengan tatapan menghunus kearah Amel. Sedangkan gadis itu dia sudah kehilangan pertahanan diri, gadis itu menngis.


"Kesabaran ku sudah habis Amel"


Park Hoon berjalan mendekati dimana Amel masih berdiri memaku. Ditariknya rambut Amel hingga gadis itu meringis. Air matanya sudah bercucuran.


Belum cukup puas dengan rambut Amel Park Hoon mencengkam raham gadis itu dengan kuat.


"Turuti permintaanku mulai sekarang"


Park Hoon mengeluarkan belati disaku celananya. Menyayat bagian lengan Amel. Gadis itu meringis kesakitan.


"Sebagai hukuman, setiap kali kau menolak permintaanku, aku akan memberikan tanda ini di tubuh mu"


Park Hoon melepaskan cengkraman rahang Amel lalu berjalan keluar apartemen entah lelaki itu mau kemana.


**


Amel selesai mengganti pakaian nya dan membalut lukanya dengan kain kasa. Dia berbaring diatas ranjang, air matanya lolos. Beberapa detik kemudian tubuhnya terasa dingin mungkin efek dari AC ruangan. Amel mematikan AC tapi tubuhnya masih terasa dingin sampai dia mengambil sebuah hodie dan membalut tubuhnya dengan selimut.


Dia mulai bisa tertidur setelah pukul 2, tenggorokannya terasa sakit, kepalanya pusing.


Park Hoon membuka pintu kamar dengan pelan, dia berjalan menuju ranjang dimana gadis itu tergeletak. Dibelainya rambut Amel, tapi saat kulitnya bersentuhan dengan kulit Amel, dia merasakan sesuatu yang panas. Tubuh Amel terasa panas.


"Kakak aku takut"


Amel mengingau masih dengan mata terpejam. Dari sudut matanya keluar butiran bening. Park Hoon menyeka air mata Amel dengan lembut. Dia menggoncangakn tubuh Amel dengan pelan seolah dia enggan membuat gadis itu kaget dengan perbuatannya.


"Amel, bangunlah"


Gadis itu terbangun dengan mata memerah. Tubuhnya menggigil.


"Tolong, ambilkan aku selimut lagi, aku kedinginan" kata Amel dengan suara rendah. Park Hoon bergegas berjalan mendekati lemari, diambilnya selimut berukuran tebal, lalu dia menyelimutkan ketubuh Amel. Tapi gadis itu tetap mengaku kedinginan.


"Aku butuh selimut lagi" kata Amel.


Park Hoon berjalan kembali dan mengambil dua helai selimut untuk menyelimuti tubuh Amel, gadis itu terdiam sembari memejamkan matanya. Seperti dia berusaha untuk membuat dirinya tertidur.


Park Hoon berjalan mengambil ponsel diatas nakas. Di dialnya nomor seseorang.


"Alex bawa Kevin kemari"


Setelah mengatakan itu Park Hoon mematikan panggilannya. Dia berjalan menuju kamar untuk menemani Amel. Gadis itu masih meringkuk dalam balutan selimut, dia merasa kedinginan, tubuhnya menggigil tapi badannya panas. Park Hoon mondar mandir tak karuan, perasaan nya kacau. Mungkin karena sejak lama Amel sudah menduduki hatinya.


"Kenapa lama sekali si Kevin, Amel bisa saja mati kedinginan" ujarnya


Park Hoon mengelus rambut Amel, sayangnya gadis itu tetap pulas dalam tidurnya.


"Amel cepatlah sembuh, aku tidak ingin kau sakit"