My Idol Is A Mafia

My Idol Is A Mafia
MAFIA Berita tentang Jenie



Jenie berjalan pelan menuju ke kelasnya tapi sedari tadi banyak pasang mata yang selalu menatapnya, mungkin efek dia yang populer, tapi bukan itu tatapannya kali ini di selingi dengan bisisk bisik. Jenie tau meski dia tidak tahu apa yang dibicarakan mereka tapi intinya mereka sedang membicarakan Jenie. Gadis itu duduk dikursinya sembari menatap kuku kuku cantik yang baru diwarnai semalam.


Ditambah suasana pagi ini sangat sepi, tidak tahu kemana Ji So Hyun dan Lee Soon. Mungkin mereka sedang dikantin atau belum datang.


Jenie masih memeperhatikan kuku kukunya dengan menyanyikan lagu. Ketika suara meja di dobrak dia mendongak menatap Lee Soon dan Ji So Hyun yang menatapnya dengan garang, Jenie berfikir itu hanya candaan darinya tapi tidak setelah melihat Lee Soon yang berkacak pinggang.


"Ya Jenie apa berita itu benar?" Tanya Ji Su Hyung kepadanya. Jenie mengerutkan dahi, dia merasa heran dengan pertanyaan dua temannya.


"Apa maksdumu? Aku tidak paham" kata Jenie ingin memastikan


"Ku kira kau wanita baik baik ternyata kau seorang pelacur ya. Ohh gosh kau sering datang ke Sun si club" kali ini suara Lee Soon naik satu oktaf sehingga membuat yang lainnya mengalihkan pandangan kearah mereka.


"Apa yang kau bicarakan, aku tidak paham" ucapnya.


"Jangan pura puran bodoh Jenie, kami sudah tahu kalau kau pelanggan tetap Sun Si bahkan kau sudah VVIP "


Ucapan Lee Soon benar benar menohok hati Jenie, dia tidak menyangka semua teman temannya sudah tahu tentang dirinya.


"Pantas saja Min Hyuk mendekati Amel, ternyata ini sifat busuk mu" ucap Su Hyun tajam.


Belum sempat Jenie menjawab Min Hyuk datang dengan membanting tas, dia mendekat kearah Jenie.


"Katakan padaku bahwa berita itu tidak benar?" Suara Min Hyuk tidak terdengar bersahabat, matanya menyala sepertinya lelaki ini benar benar marah padanya.


"Aku tidak paham dengan semua ini" Jenie berusaha membela diri berharap teman temannya akan mempercayainya


"Jenie, tidak usah belagak bodoh, kami sudah tahu kalau kau sering melayani pelanggan di Sun Si" Su Hyun berkata amat kasar membuat air mata Jenie menetes. Demi Tuhan dia tidak tahu siapa yang menyebarkan berita ini.


Yang diingatnya hanya Amel gadis itu yang tahu tentang berita ini. Jenie geram meski dengan sisa tangisnya dia bangkit, dia sudah tidak perduli pada ujian sekolah, dia berlarian untuk meninggalkan sekolah, tidak ada yang peduli padanya.


"Jenie" suara Min Hyuk tetap tidak membuatnya berhenti gadis itu justru berlari dengan kuat, di koridor bawah dia bertemu dengan Amel yang tengah tertawa bersama Eun Ji.


Jenie mendorong tubuh Amel sehingga gadis itu terhuyung kebelakang. Amel menatap Jenie dengan tidak kalah belis.


"Ya apa yang kau lakukan" Amel membentak Jenie.


"Kau tidak merasa bersalah setelah menyebarkan semuanya"


Jenie membentak Amel dengan isak tangis. Amel sempat terdiam mencerna ucapan wanita yang berdiri dihadapannya.


Bukan, dia tidak menyebarkan apa pun, dia tidak pernah bercerita tentang Jenie kepada siapa siapa. Dia bersumpah demi cassing winnie the pooh di ponselnya, dia tidak pernah melakukan itu.


"Aku tidak melakukannya"


Plak


Sebuah tamparan mendarat dipipi Amel, gadis itu menatap Jenie dengan semburat kebencian. Dia fikir dia siapa berani seenaknya menampar Amel begitu saja.


"Kau kira rahasia mu bisa aman. Kau berkencan dengan Park Hoon kan"


Jenie setengah sadar mengatakan itu tapi dia masih bisa mengontrol bibirnya untuk tidak mengatakan apa apa tentang Park Hoon, kalau itu terjadi hal pertama kali yang buruk adalah dirinya.


Seluru siswa di koridor berbisik tidak percaya, menyadari itu Amel menatap Jenie dengan tatapan benci.


"Jangan menyebarkan berita sembarangan" tekan Amel pada Jenie


"Itu memang kebenarannya, kau dengan ku itu sama, sama sama pelacur"


Setelah mengatakan itu Jenie berlalu. Amel masih menegang, meski dia tahu berita ini akan segera hilang tapi melihat tatapan teman temannya terarah kedirinya membuat Amel gugup.


Sepertinya berita Amel dan Jenie sudah menyebar cepat di Sun Si bahkan Park Hoon yang tengah melakukan syuting MV sudah tahu akan berita itu. Dia mengetuk jari jarinya gusar, saat ini akan semakin mencurigakan bila dia tiba tiba pergi. Tapi Lee Chan, Kang Chul dan Zhan yang memang pernah bersekolah di sana dia sudah mendapat berita akan kedua berita itu.


Meski Park Hoon yakin anak buahnya akan segera menangani berita ini tapi tetap saja keadaan Amel yang paling membuatnya cemas.


Lekaki itu **** senyun, dalam hal ini dia pandai berakting.


"Hyung, kau mempercayai berita murahan seperti itu. Ayolah itu hanya berita yang dibuat buat ketika anak umur 17 tahun sedang emosi" kata Park Hoon menanggapi dengan santai.


"Bisa saja dia mengatakan kita berkencang dengan salah satu dari mereka, kau tahu kan Amel itu salah satu fans ku, jadi mudah saja orang menyebarkan rumor murahan"


Zhan mengangguk lega, diikuti helaan nafas dari Park Hoon setidaknya satu masalah bisa teratasi.


**


Jenie terisak didalam kamarnya, setelah kematian ibunya dan berita kehamilannya kali ini apa lagi. Dia tidak menyangka semuanya akan jadi serumit ini.


Pintu rumahnya diketuk seseorangan dari luar. Dia sudah tidak perduli pada ujiannya dan suara diluar.


Ketukan pintu itu seolah memaksa untuk dibukakan, Jenie berdiri dengan sisa tangisnya. Ketika pagar kayu itu dibuka Min Hyuk berdiri dengan seragam miliknya.


"Jenie" suaranya terdengar melembut tidak menuntut seperti pagi tadi. Meski dia sudah putus dengan Min Hyuk karena kesalahannya tapi lelaki itu tetap baik padahal dia sudah tidak menyukainya. Jenie menyeka air matanya.


"Kenapa kau disini, pergii" usir Jenie kepada Min Hyuk, lelaki itu menggeleng, dia tidak ingin meninggalkan Jenie disini.


"Aku hanya ingin bertanya?" Kata Min Hyuk melemas.


"Apa ini alasanmu memutuskan ku Natal tahun lalu?" Pertanyaan Min Hyuk membuat Jenie kembali teringat pada kejadian Natal tahun lalu. Kejadian yang membuatnya frustasi.


"Ya, kau benar aku memutuskan mu karena aku ingin menjadi pelacur. Apa kau puas?" suara Jenie naik satu oktaf, dia tidak perduli pada Min Hyuk lagi. Setelah dia kehilangan ibunya sekarang berita itu harus menyebar.


Jenie membanting pagar lalu berjalan memasuki rumah dengan menutup kunci. Dia masih sesegukan tapi suara pintu terbuka membuatnya berdiri.


Lelaki dengan perawakan gagah dan mengenakan jas menyungingkan senyum. Di memaksa Jenie untuk ikut dengannya. Dia adalah Alex anak buah Park Hoon yang tengah menyelesaikan masalah mereka.


Jenie menurut meski dia tahu dia akan mendapat konsekuen yang lebih besar saat ini. Tapi dihadapannya dia bertemu dengan Kevin dokter dengan tinggi semampai yang tampan. Jenie sempat mendengar ceritanya tapi tidak banyak karena dia harus bekerja disini. Selain terikat gadis itu juga tidak bisa menolak apapun yang akan dilakukan mereka.


Syasya berjalan kearah Jenie, gadis itu tersenyum.


"Kudengar kau sedang hamil?" Tanya Syasya kepada Jenie, gadis itu mengangguk dengan sisa tangisnya.


"Baiklah aku akan mengurusnya" kata Syasya, dia mendekati Kevin yang diam memaku.


"Dokter Kevin berikan dia suntikan yang sudah kita bicarakan tadi"


Kevin menatap Syasya dengan lipatan dahi, apa kata Syasya? , menyuntikan obat perontok janin. Demi Tuhan dia tidak akan melakukan itu, dia sudah melanggar kode etik kedokteran.


"Aku tidak mau" kata Kevin menolakĀ  dia hendak berlalu tapi sebuah hadangan dari anak buah Park Hoon membuatnya berhenti.


"Tunjukan dia keadaan Amel saat ini"


Salah satu anak Park Hoon memberikan handpone yang tengah melakukan video call. Disana Amel yang berdiri di pinggir jalan sudah di bidik dengan tembakan lanser. Kevin sempat menegang meski kali ini bukan Park Hoon yang melakukan tapi anak buahnya, pelatuk yang sudah ditarik itu membuktikan bahwa ucapan akan membunuh Amel tidak main main.


Kevin mengambil suntikan diatas meja dia berjalan kearah Jenie yang terduduk dilantai.


"Tolong jangan lakukan ini" pinta Jenie dengan isakan.


"Maaf kan aku sungguh maafkan aku"


Suntikan itu sudah mengenai kulit Jenie sehingga gadis itu mengernyit kesakitan. Jenie masih menangis dia benar benar tersiksa di sini di bumi ini.


"Kau akan merasakan sakit perut yang luar biasa setelah 24 jam. Setelah itu akan keluar bercakan darah dari area vaginamu, itu artinya bayimu sudah tidak ada"


Jenie menangis terisak isak mendengar kan kalimat itu, hatinya terasa sakit, Tuhan kenapa ada manusia sekejam ini dimuka bumi.