
Esoknya setelah ucapan Manager Ji Wok, media korea merilis seorang selebriti yang terkena skandal nenggunakan narkoba. Park Hoon tidak akan heran untuk itu.
Dia berjalan santai di setiap lorong club. Suara dentuman musik membuatnya **** senyum. Bisnis nya melonjak naik. Bahkan para investor asing sengaja mendatangi nya. Untuk bekerja sama.
Dia menatap Alex yang tengah menunggunya diruangan. Wajahnya tampak serius sambil membawa sebuah amplop ditangan.
"Ada apa?"
Park Hoon melepaskan masker, membuka penyamaran
"Saya tidak percaya untuk mengatakan ini"
Alex menyerahkan sebuah amplop ditangan Park Hoon.
Lelaki itu membukanya sambil menarik sudut bibir.
"Bodoh" tukas Park Hoon meremas amplop
"Ternyata bajingan itu mau main main dengan ku"
Dia menggeretakkan rahang. Berlalu pergi sambil melempar amplop yang diberikan Alex.
**
Min Hyuk menaruh curiga pada Sunsi club, yang dia tahu Jenie bekerja disana sebagai wanita penghibur, tapi kenapa wanita di bawah umur seperti Jenie bisa di terima bekerja disana? . Apalagi saat kematiannya pun seperti hal mencurigakan untuk Min Hyuk terima.
Dia memutuskan akan mencari siapa pemilik dari Sunsi club. Dia bertekad penuh. Malam ini dengan merubah gaya pakaian dan menggunakan identitas kakanya, Min Hyuk berjalan mendekati satpam penjaga club.
Dia menyodorkan kartu indentitas sambil menutup wajahnya dengan masker.
Dua Pria dihadapannya menilik penampilan Min Hyuk dari atas hingga bawah. Curiga.
"Kau benar benar kang Chul?"
Suara itu membuat Min Hyuk gelabakan. Dia tidak setinggi Kang Chul.
Dengan ragu ragu Min Hyuk mengangguk.
Srukk
Dua pria itu menarik masker Min Hyuk dengan paksa, menampakan wajah Min Hyuk.
"Kau mau menipu ku?"
Lelaki yang bertubuh kekar maju, sambil menarik kerah baju Min Hyuk. Dengan sigap Min Hyuk menepisnya.
"Apa maksudmu?"
"Jelas jelas kau bukan Kang Chul" tuding lelaki itu
"Sudah laporkan saja dia pada polisi" pria di sebelahnya langsung merogoh saku celana.
Selang dari sana, dua orang polisi datang. Mereka menatap Min Hyuk yang mati kutu, lebam lebam karena dipukul dua penjaga club
"Dia memalsukan identitas"
Tanpa babibu, polisi langsung membawa Min Hyuk ke kantor. Disana dia hanya diam, sambil memutar otak, dia bisa lolos dari masalah ini tapi tidak dengan kakaknya.
"Ada hubungan apa kau dengan Kang Chul?"
Polisi memulai introgasi dengan wajah masam.
"Tidak ada" jawab Min Hyuk mantap
"Kenapa kartu ini bisa ditanganmu"
Polisi mengangkat kartu identitas milik Kang Chul.
"Siapa namamu?" tanya nya lagi
Min Hyuk bungkam, dia tidak ingin menjawab.
"Ya, kau tidak ingin bebas dari sini"
Suara sentakan dari polisi membuat beberapa pasang mata menatap kearah mereka. Tidak ada ketakutan dari wajah Min Hyuk. Kalau saja dia seimbang lawan dua penjaga tadi sepertinya dia tidak akan berakhir disini.
"Hubungi saja orang itu"
Min Hyuk justru memberi titah untuk menghubungi Kang Chul ketimbang mengajaknya berdebat. Sesuai dengan kontak yang diberikan Min Hyuk, polisi berhasil menghubunginya.
Yang datang bukan Kang Chul melainkan seorang pengacara.
Pengacara itu duduk di sebelah Min Hyuk. Dia menatap lekat kearah polisi.
"Apa kau wali dari dia?"
Dengan tampan sombong Polisi mulai introgasi dengan pengacara Song.
"Saya pengacara keluara Min Hyuk"
"Apa namamu Min Hyuk?"
Polisi itu manggut manggut, dia mengetikan sesuatu pada komputernya, tidak mengundang penasaran justru membuat Min Hyuk muak.
"Ini bisa di katagorikan sebagai kejahatan" kilah polisi cepat
"Kang Chul tidak ingin memperpanjang masalah, lagi pula dia kenal baik dengan keluarga Min Hyuk"
Min Hyuk tersenyum kecut.
Menyerah ,hanya itu yang bisa dilakukan seorang polisi kala korban dan terdakwa tidak memperpanjang masalah. Min Hyuk dibebaskan meski sebenarnya tidak dikatakan ditangkap.
Dia berjalan hendak menuju montornya tapi arahan dagu dari pengacara membuatnya masuk kedalam mobil sedan warna hitam. Di sana Kang Chul duduk sambil menyesap sebatang rokok.
Plak
Tamparan itu didapatkan Min Hyuk.
"Ya Kang Min Hyuk. Sudah kukatakan berapa kali. Jangan buat ulah, kau hanya akan merusak nama baikku"
Kang Chul menyesap rokoknya tanpa menatap wajah merah Min Hyuk.
"Apa peduli mu jika aku membuat masalah? "
"Apa? Kau baru saja membuat masalah menggunakan namaku"
Plototan dari mata Kang Chul membuat Min Hyuk justru geram. Dia membuka pintu mobil, belum benar benar keluar suara Kang Chul membuatnya berhenti
"Ya. Anak simpanan. Kalau aku dengar kau menggunakan masalah dengan namaku, siap siap kau dan ibumu akan ku usir dari rumah"
**
Park Hoon membuka pintu, menyaksikan Amel yang tengah bermain di dapur, dia memasak sambil menatap ponsel. Melihat cara memasak.
Park Hoon bertompang dagu disisi meja. Dia terus memusatkan perhatian pada Amel, tidak ingin kehilangan pusatnya.
"Aiiiss" Amel berdecak saat dia gagal mendadar telur dengan sempurna
"Perlu bantuan?"
Park Hoon berjalan mendekati Amel, dia memeluk Amel dari belakang, mencium tekuk Amel berulang ulang.
"Lapaskan, aku sedang belajar memasak" katanya
"Tidak usah belajar, kau tidak perlu membuatku berkesan"
Park Hoon mematikan kompor menggendong Amel lalu di dudukan diatas meja, sehingga tinggi mereka sejajar.
"Kita bercinta saja" bisik Park Hoon disamping telinga.
"Kau kan seperti itu" Amel mendegus.
Amel masih berniat melanjutkan memasak, lelaki jangkung bertelinga caplang ini duduk di sisi meja. Menatap wajah Amel yang sudah memerah. Entahlah akhir akhir ini senang saja melihat gadis itu memerah seperti ini.
"Kau sudah mencintaiku?"
"Heh" Amel menoleh, bingung
"Katanya kau akan segera mencintaiku, apa sudah mencintaiku?" ulang Park Hoon.
Amel menunduk, mengaduk masakannya tanpa menjawab perkataan Park Hoon.
Cinta, dia ragu sedangkan saat ini dia hanya mendengarkan perkataan Kevin untuk menjinakan Park Hoon. Apa cinta bisa membuat orang sejahat itu? Maksudnya dengan melukai orang lain untuk kepuasan hati.
"Kau belum mencintaiku ya?"
Park Hoon mendekat kearah mesin pendingin, membuka kaleng bir dan meneguknya
"Bukan begitu"
Amel mematikan kompor, menghampiri Park Hoon yang tengah memegang kaleng.
Dilihat lihat kaleng bir itu berukuran kecil jika ditangan Park Hoon. Apa memang ukurannya seperti itu?
Sedetik Amel terkesima melihat tubuh gagah didepannya, sejak kapan Park Hoon memiliki tubuh segagah ini, rahangnya juga kokoh. Astaga Amel benar benar baru menyadari sekarang, dan kenapa jantungnya berdetak begitu kencang.
"Ada apa? Kau mau bilang kau sudah menyukaiku"
Park Hoon menaik turun kan alis
"Tidak juga"
Buru buru Amel menyiapkan telur dadar hasil percobaannya, membasuh alat masak di wastafel, dia terlihat benar benar serius.
"Sudahlah, nanti ajuma yang akan membereskan, mari makan. Aku sudah lapar"
Park Hoon menarik tangan Amel dengan piring ditangan kirinya. Dia sudah duduk, langsung memasukan nasi kedalam mulut.
Rasa pertama yang dia temui hanya asin dan pedas.
"Uhuk" Park Hoon terbatuk. Lalu melanjutkan makannya lagi.
"Ada apa? Tidak enak ya?"
Park Hoon melempar senyum. Selebihnya dia memakan habis makanan yang disajikan oleh Amel, seolah benar benar memakan makanan yang enak.