My Idol Is A Mafia

My Idol Is A Mafia
MAFIA Toben



Park Hoon berdiri dengan segelas wine sambil menatap kaca hotel. Rasanya kata CA masih terngiang di kepalanya, apalagi seperti terdengar tidak asing. Agen rahasia memang banyak di Jepang, biasanya disewa oleh orang orang yang menjalankan misi khusus, tapi bagi mafia seperti Park Hoon menyewa seorang mata mata bukanlah ide bagus, dia justru memiliki anak buah dimana mana dengan keahlian diatas seorang mata mata. Segelas wine dia teguk hingga ludes, wine ini sisa dari Lee Chan dan Zhan yang sedari tadi mereka sudah meneguknya dan menyisakan untuk Park Hoon yang hanya terdiam. Dua lelaki itu memilih jalan jalan di Jepang sebelum nanti malam mereka kembali ke Korea, sedangkan Kang Chul entahlah lelaki itu ada dimana.


Park Hoon mendial nomor seseorang, beberapa saat suara seorang lelaki dengan aksen Amerika menyapa


"Mana Amel?" tanya Park Hoon tanpa basi basi.


Selang beberapa saat suara yang ditunggunya sudah menyapa


"Apa lagi, kau kemarin janji memberikan ku ponsel tapi sudah tiga hari aku tidak memegangnya" ucapan Amel membuat Park Hoon sedikit menjauhkan ponsel dari telinganya. Sebuah senyum terukir di bibir Park Hoon bahkan lelaki itu kesulitan untuk bersikap normal kepada dirinya.


"Tunggu sampai aku kembali" katanya berusaha datar


"Mana temanku?"


"Oohh teman, nanti akan kuberikan saat aku pulang"


"Lalu untuk apa kau berjanji" teriak Amel.


Park Hoon berdehem menyembunyikan tawanya


"Aku ingin bertanya?" katanya datar


"Apa?"


"Kau ini siapa? Tawananku atau apa? aku hanya mengingatkan sadarlah posisimu, jangan buat aku marah"


Tidak ada sahutan dari seberang, Park Hoon mengernyitkan dahinya, ucapannya barusahan adalah sebuah canda yang di buat untuk menggoda Amel, tapi diluar dugaan gadis itu justru merasa ketakutan dengan ucapannya yang terkesan mengancam.


"Kenapa diam?" tanya Park Hoon


"Tidak apa apa., ya sudah aku tunggu kau kembali" ucap Amel menutup panggilannya, lelaki itu berdecak. Sial dia salah bicara tadi, dia fikir Amel akan tertawa degan candaannya ternyata lelaki itu salah.


**


Setelah penerbangan, mereka sampai di bandara Korea Selatan dan langsung menuju ke gedung agensi. Adalah 30 menit disana akhirnya manager memberikan izin kepada mereka untuk beristirahat sebelum melakukan syuting MV. Park Hoon berjalan menuju mobilnya, supir yang menjemputnya sudah datang. Lelaki itu langsung berjalan memasuki mobil


"Saya ingin Mampir kesuatu tempat" ujar Park Hoon dingin.


**


Amel berguling diatas sofa dengan kaki terangkat, tubuhnya terasa gatal karena sedari tadi dia bermalas malasan untuk mandi, padahal sudah jam 12 malam. Ketika pintu terbuka Amel hanya melirik, palingan juga Alex lelaki blasteran Korea-Amerika yang dinginnya melebihi tuannya.


"Kau sudah makan?" suara itu terdengar dingin tidak memiliki aksen Amerika tapi kental dengan aksen Korea. Amel mendudukan tubuhnya menatap kearah sumber suara. Disana berdiri tegak lelaki dengan balutan jas yang rapi. Beberapa saat seorang lelaki yang belum pernah Amel temui masuk membawakan sebuah kandang berisi kucing dan koper. Lelaki itu undur diri sembari menuduk.


"Sejak kapan kau pulang?" tanya Amel terdengar ragu, karena didepannya ini adalah seseorang yang bisa membunuhnya


"Sejam yang lalu" ucap Park Hoon berjalan memasuki kamarnya, dia lekas mengganti dengan pakian santai.


Lelaki itu keluar dengan tersenyum bahkan jantung Amel terasa berhenti ketika menatap senyum dari lelaki itu. Rambutnya sudah berganti warna sedikit coklat membuatnya terlihat, ehem lebih tampan.



"Aku memberikan teman untukmu" kata Park Hoon berjalan dimana kucing yang didalam kandang berada. Amel berjalan mengikuti langkah Park Hoon.


"Kucing" ucap Amel merasa heran. Jadi teman yang di bicarakan Park Hoon adalah kucing.


"Kau kira apa? Manusia?" ucap Park Hoon dingin. Amel buru buru menggeleng takut ucapnnya nanti justru memancing kemarahan Park Hoon.


"Kau bisa menyiksanya jika bosan" tukas Park Hoon enteng tanpa rasa bersalah. Gadis itu menoleh melirik dengan tatapan tidak suka. Menyiksa, astaga binatang selucu ini mana bisa Amel siksa.


"Tentu tidak, aku akan menyayanginya. Namanya siapa?" tanya Amel sembari mengeluarkan Kucing mungil itu dari kandang. Mengeluskan dan meletakkan diatas pangkuan.


"Nama? Apa dia perlu nama?"


"Kau ini bagaimana? , semua makhluk hidup itu punya nama"


"Ah namanya kan kucing" ujar Park Hoon tanpa rasa bersalah sembari berjongkok untuk mengelus kucing yang ada dipangkuan Amel. Seketika pacu jantung Amel berdecak, gadis itu terpaku dengan tubuh gemetar.


Park Hoon menatap Amel yang memaku lalu mengibaskan lima jarinya didepan mata Amel sehingga gadis itu segera tersadar


"Semua orang juga tahu kalau dia kucing" ucap Amel buru buru mengalihkan diri dari degupan jantung.


"Bagaimana jika Vivi" tambah Amel masih mengelus kucing diatas pangkuannya


"Vivi, itukan anjingnya Sehun"


"Sehun punya anjing?"


"Kau ini bagaimana, teman sekelasnya justru tidak tahu kalau lelaki itu punya peliharaan"


Amel berdecak kagum seolah baru saja mendengar sebuah berita besar yang belum pernah terjadi seumur hidupnya


"Aku tidak menyangka seorang iljin menyukai anjing"


Iljin adalah seorang geng sekolah yang menganggap dirinya no 1 dan suka menindas para siswa lain.


Park Hoon tertawa terbahak bahak, Merasa bahwa ucapan lugu Amel adalah sesuatu yang patut ditertawakan


"Kenapa tertawa apa ada yang lucu?" tanya Amel polos, bukan karena dia merasa aneh tapi dia tidak bisa mengendalikan getaran dalam dirinya, rasanya dia merasa senang melihat Park Hoon tertawa bahkan tidak terkesan kasar kepadanya. Tidak memperlakukannya layaknya seorang pelacur dan bersikap lembut seperti ini.


Park Hoon mengacak rambut Amel gemas, dia bangkit hendak berlalu.


"Bagaimana jika namanya toben" kata Park Hoon sembari menutup pintu kamar


**


Kevin terduduk lemas diatas sofa rumah sakit, setelah anak buah Park Hoon mengurus jenazah pasien yang gagal dioperasinya. Jhonatan membawa Kevin menuju markas dimana pasien itu dipaksa diculik sebelum dimakamkan.


Kevin menarik nafas perlahan, bayangan kejadian diruangan operasi serta di markas benar benar membuatnya frustasi. Apa melindungi Amel harus sejauh ini? Apa tidak ada cara lain yang bisa dia lakukan selain menyiksa dirinya sendiri.


Pintu ruangan nya diketuk menampakan Syasya yang tersenyum dibalik pintu, gadis itu berjalan mendekat lalu menyodorkan sekotak bekal makan malam.


"Sudah makan? Kudengar kau bekerja keras?" ujar Syasya yang tidak ditoleh Kevin sama sekali. Sya sya paham lelaki berpendidikan macam Kevin tidak akan jatuh cinta kepada Syasya yang hanya seorang pelacur. Tapi sungguh, demi apapun, gadis itu sudah jatuh hati pada pandangan pertama dengan Kevin. Rasa nya dia menemukan sesuatu yang membuat dirinya hidup dan berarti. Apalagi saat Kevin memberikan sapu tangan miliknya ketika Syasya menangis di belakang gedung club. Tidak ada yang tahu saat itu tapi melihat perlakuan Kevin membuat Syasya merasa dihargai.


Siapapun wanitanya dan serendah apapun dia jika melihat seorang lelaki memperlakukan nya dengan baik maka dia akan merasa menjadi orang yang beruntung. Seperti itu yang Syasya rasakan tiap kali berdekatan dengan Kevin


"Pulanglah, aku tidak ingin orang orang melihatmu ada disekitarku" ujat Kevin parau.


"Aku tahu, tapi makanlah, kau belum makan setelah itu aku akan pergi"


Kevin membenarkan duduknya lalu membuka bekal yang dibawakan Syasya. Dia hanya tidak ingin mengecwakan Syasya yang sudah bersusah payah menyiapkan makan malam untuk dirinya.


"Jangan frustasi, kau tahu di antaramu ada yang lebih buruk dibandingkan apa yang kau lakukan" kata Syasya melemah.


"Mungkin saat ini kau merasa hancur tapi ketahuilah kau sumber kebahagian orang lain. Kau tidak seburuk itu" tukasnya lagi.


"Apa kau pernah membunuh orang?" tanya Kevin sembari menunduk memperhatikan nasinya


"Ya, aku pernah membunuh seseorang dan itu menghancurkan duniaku dalam sekejap" ucapan Syasya melemah.


"Maksudmu?"


Syasya neneteskan air matanya, dia mulai sesegukan membuat Kevin menoleh kearah gadis itu. Dia setengah tidak menyangka gadis seceria Syasya bisa meneteskan air mata juga


"Pertama kali aku membunuh, aku tidak bisa melupakan wajahnya. Bahkan sudah 4 tahun ini wajah itu tidak bisa kuenyahkan" ujar Syasya menyeka air matanya. Dia tersenyum samar lalu bangkit


"Maafkan aku dokter Kevin, sepertinya aku tidak bisa menemanimu makan malam. Aku ada janji dengan clien" setelah itu Syasya berlalu.


Kevin tahu itu hanya alasan Syasya untuk menutupi rasa terlukanya. Entah kenapa justru lelaki itu merasa tertarik untuk mengenal Syasya lebih jauh.