My Idol Is A Mafia

My Idol Is A Mafia
MAFIA Kasus terbaru



Park Hoon duduk di kantornya sambil mengangkat kaki, dia tak henti hentinya mengumpat. Pasalnya ada seseorang yang menyebar vidio saat dia keluar dari rumah kepala Kim


Berita itu langsung di unggah oleh situs online. Park Hoon dibanjiri komentar meski dia mendapatkan banyak semangat tapi dia ingin segera menemukan saipa dalang dibalik ini semua.


Park Hoon menatap Alex lebih tajam


"Urus masalah ini secepatnya"


Setelah mengatakan itu dia langsung berlalu begitu saja. Tujuannya adalah apartemen, sebelum dia dipanggil Manager Ji Wok, dia akan menyambangi Amel.


Sesampai disana, Amel tengah sibuk menatap televisi. Dia mengotak atik chanel yang isinya tentang Park Hoon semua.


"Untuk apa kau memutar televisi? "


Dia mendekati Amel dan mencumbu gadis itu, diremasnya payudara Amel dengen lembut, dikecupnya bibir ranum Amel.


"Lepaskan, aku bukan pelacurmu" ujarnya


"Harus bagaimana aku mendapatkanmu?"


Park Hoon menatap lekat wajah Amel. Ada ketulusan dalam binar matanya


"Dengan kelembutan" kata Amel.


"Baiklah aku akan berusaha"


Park Hoon berdiri lalu berjalan memasuki kamar. Dia merebahkan tubuhnya diatas kasur. Setelah perilisan album, dia merasa ada musuh yabg mengincar karirnya. Berita ini memang berita yang terlalu tidak penting tapi kalau dibiarkan akan membahayakan karirnya.


Pintu kamar terbuka, menampakan Amel yang berjalan mendekat


"Ada apa?"


Amel duduk disisi ranjang, sambil memandangi wajah Park Hoon dia mengelus rambut lelaki itu.


"Aku hanya sedikit pusing akhir akhir ini" tukasnya


"Kau terlalu banyak fikiran Park"


Amel mengelus pucak kepala Aprk Hoon ,lelaki itu memejamkan matanya.


"Makanya kau harus cepat cepat mencintaiku"


Amel menghentikan elusan, sebenarnya cinta seprti apa yang dimaksud Park Hoon. Selama ini hubungan Park Hoon dan Amel tidak lebih dari tahanan yang dipaksa memuaskan dirinya.


Setelah Park Hoon bosan lekaki itu akan menyiksa Amel.


"Aku akan berusaha"


Kalimat itu muncul begitu saja dari mulutnya. Semua lepas tanpa kendali. Amel akan mencoba memahami lelaki itu. Bagaimana pun lelaki itu pernah membuatnya memiliki keinginan kuat dalam sesuatu.


"Mau kubuatkan makan?" tawar Amel padanya.


Park Hoon menggeleng "sebentar lagi aku akan pergi"


Setelah mengatakan itu dia bangkit. Dia melepas pakaiannya hingga menampakan dada bidang, pemandangan biasa untuk Amel. Selepas mengganti pakaian, dia berjalan keluar.


"Aku akan ke drom"


Dia pergi begitu saja meninggalkan kekosongan pada Amel.


Amel terdiam mengamati punggung Park Hoon yang mebghilang. Dulu, kepergian lelaki itu hal yang dinantinya, sekarang kepergian lelaki itu hal yang di bencinya.


Amel tidak tahu reaksi apa yang diberikan dia pada Park Hoon. Yang jelas dia ingin memahami lelaki itu lebih baik. Meski kejahatan yang dia lakukan tidak akan pernah dia maafkan.


Amel mengambil ponselnya yang sedari tadi bergetar. Nama Kevin tertera dilayar.


Ada apa Kevin menelfonnya selarut ini.


"Halo" Amel menyapanya sedikit ragu


"Bisa temui kakak di depan? "


"Untuk apa?"


Bukankah aneh jika Amel bertanya sedemikian, seharusnya dia merasa senang akhirnya kakanya bisa menemui dia.


"Ada hal yang kakak ingin bicarakan"


Panggilan itu terputus. Amel langsung bergegas turun sebelum ketahuan Park Hoon. Sewaktu melihat mobil kakaknya tanpa pikir panjang Amel masuk kedalam


Kakaknya tersenyum sekilas sambil mengusap rambutnya.


"Kenapa menemui ku selarut begini?"


Kevin menarik sudut bibirnya


"Tidak boleh kakak menemui adiknya?"


Amel menarik senyum, meski sejujurnya pertemuan ini justru mencurigakan untuk Amel. Mereka terpisah sangat lama, bukankah mencurigakan jika tiba tiba Kevin mengajak bertemu.


"Kau menyukai Park Hoon?"


Pertanyaan Kevin membuat Amel tertegun. Dia tidak tahu mesti menjawab apa pertanyaan itu. Suka? Seperti apa suka nya pada Park Hoon. Dia hanya mencoba memahami dan melakukan apa yang di inginkan lekaki itu supaya dia bisa kembali pada kehidupannya.


"Entahlah" suara Amel lemah.


"Kenapa kau ragu seperti itu menjawabny"


"Aku tidak tahu perasaan apa yang aku miliki padanya"


Amel membenarkan letak duduknya, dia menatap arah depan tanpa mengalihkannya ke Kevin.


Amel menoleh menatap Kevin yang malah mengalihkan pandangannya.


"Kau mengindap sindrom stockholm" Kevin mengulang kalimatnya


"Maksud kakak?"


Amel masih tidak paham, dia tidak mengerti arah bicara Kevin


"Kau menyukainya karena rekasi psikolog mu, bukan benar benar menyukainya"


Kevin menatap Amel lebih lekat. Amel terdiam, dia masih tidak bisa menjawab perkataan Kevin.


"Dengarkan kakak Amel, mungkin setelah ini Park Hoon akan benar benar menyukaimu" dia menghela nafas


"Manfaatkan kondisi itu untuk membuatnya semakin jauh mencintaimu, saat itu terjadi kita lebih mudah mengahacurkannya"


"Kaakkk"


Entah kenapa mendengar rencana Kevin hati Amel tersayat. Ada ketidak iklasan dari dirinya.


"Kau harus melakukan ini Amel, ini demi kita"


Amel mengangguk meski sebenarnya dia tidak ingin melakukannya, tapi reaksi Kevin benar benar membingungkan.


**


Kang Min Hyuk duduk di kantin sambil melamun, bahkan makanan itu belum dia sentuh sama sekali.


Amel memilih duduk didepannya, dia membukakan susu lalu disodorkan Ke Min Hyuk.


Lelaki itu mendongak menatap wajah cantik Amel.


"Minumlah"


Amel mengambil sumpit untuk mulai makan, pergerakannya terhenti kala air mata Min Hyuk menetes.


"Min Hyuk ' a" dengan suara lirih Amel memanggil Min Hyuk


"Ada apa?"


Dia mencoba mengusap air mata Min Hyuk.


"Aku hanya merasa bersalah pada Jenie"


Dia menunduk dan menyeka air matanya. Amel tidak tega melihat lelaki seperti Min Hyuk harus meneteskan air mata. Dia begitu periang tapi harus terpuruk karena kematian Jenie.


Sebenarnya kematiannya juga memukul Amel , apalagi orang terkahir yang ditemui Jenie adalah dirinya. Kenyataan yang membuat Amel semakin merasa bersalah.


**


Park Hoon duduk di ruangan latihan sambil mengeser layar ponsel, dia sudah tidak berselera melakukan apapun. Apalagi semua berita tengah menyorotnya.


"Bagaimana dengan rumor terbarumu?"


Kang Chul menatap ekspresi wajah Park Hoon dengan menggabungkan tangan nya sebagai jembatan


"Aa rumor itu, akan segera di urus oleh agensi"


Park Hoon masih terlihat santai tanpan sebuah ketakutan sama sekali


"Album telah dirilis dan kau malah membuat masalah"


Kang Chul mulai memancing kekesalan Park Hoon.


"Bukankah dengan begitu album kita akan naik"


Park Hoon menyungingkan senyum. Saat Kang Chul ingin membalas, Zhan dan Lee Chan membuka pintu dengan senyum merekah


"Hyung, apa yang membuatmu sesenang itu?" tanya Park Hoon


"Sesuatu yang tidak bisa kau bayangkan"


Lee Chan mendekati Park Hoon sambil memukul pahanya pelan


"Kalian tahu, album kita tembus 1 Miliyar coppy"


"Benarkah"


Wajah Park Hoon dibuat seantusias mungkin, dia menatap Lee Chan seolah benar benar tertarik pada berita itu.


Manager Ji Wok membuka pintu sambil bersiul, ketika hendak duduk dengan gestur menyuruh berhicara empat mata , manager langsung meminta Park Hoon menemui nya dirungan.


Mereka sama sama berdiri sambil menatap lukisan yang terpampang disana.


"Jangan bilang masalah ini tentang rumor mu"


Manager mulai mengeluarkan sebatang rokok


"Kau harus mengurusnya" kata Park Hoon


"Tenanglah, semua sudah di urus Alex"


"Maksudmu?"


"Sebentar lagi akan ada berita skandal seorang selebriti menggunakan narkoba"


Park Hoon menoleh sambil nyengir "tidak sia sia aku mempercayai mu"